PILIHAN

Pilkada DKI, Ketokohan Anies, Kelompok Penekan dan Strategi Pemenangan

21 April 2017 05:50:38 Diperbarui: 21 April 2017 06:11:42 Dibaca : 829 Komentar : 3 Nilai : 2 Durasi Baca :

Pilkada DKI baru saja usai. Hasil hitung cepat semua lembaga survey menunjukkan Anies-Sandi unggul telak di kisaran 11 sampai 17%. Hasil ini tentu jauh dari prediksi banyak orang yang mengira bahwa hasil pilkada kali ini akan berselisih dalam margin angka yang sangat tipis. Tapi fakta menunjukkan lain, Anies-Sandi unggul jauh dari Ahok –Djarot.

Mengapa hasil akhir Pilkada ini begitu jauh dari prediksi banyak pengamat? Dalam hemat penulis, Secara sederhana dapat dijelaskan 3 hal pokok yaitu faktor ketokohan Anies, Kelompok Penekan dan Strategi Pemenangan.

Faktor Anies

Presiden Jokowi  sebagai kader PDIP (partai pengusung Ahok) mungkin akan sangat menyesali keputusannya melakukan reshufle kabinet terlalu cepat, yaitu 2 bulan sebelum batas akhir pendaftaran calon gubernur DKI. Pencopotan Anies yang tidak didasari alasan yang jelas menimbulkan tanda tanya publik. Pada saat menjadi menteri Anies merupakan figur yang sangat diapresiasi karena kinerjanya yang moncer. Gerakan mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah disambut positif di berbagai daerah. Kantor Kementerian  Pendidikan yang biasanya menjadi pusat birokrasi yang ribet dan mempersulit diubah menjadi kantor layanan publik yang cepat dan responsif. Gerakan literasi Nasional melalui gerakan membaca 15 menit sebelum kelas dimulai adalah langkah luar biasa  untuk mengatasi rendahnya minat baca siswa akibat pengaruh bermacam gadget dengan aneka permainan di dalamnya. Ajakannya untuk menghormati keragaman dalam berdoa sebelum kelas dimulai menunjukkan bahwa ia adalah tokoh yang sangat menghormati kemajemukan dan jauh dari faham-faham eksklusivitas kelompok dan golongan.

Lengsernya Anies dari jabatan menteri sebelum Pilkada DKI memberi cukup waktu bagi Anies sendiri untuk menghitung kembali langkah-langkahnya dan apa yang ingin dia lakukan selanjutnya. Bagi kelompok penentang Ahok lengsernya Anies merupakan sebuah berkah karena mereka punya kesempatan untuk menghadapkan Ahok yang begitu superior dengan tokoh yang tak kalah kualitasnya. Persepsi masyarakat yang positif menunjukkan bahwa Anies adalah figur yang mampu bekerja dengan baik sama dengan figur Ahok. Akan tetapi keduanya memiliki massage delivery yang berbeda. Anies mampu berbicara retoris, tegas  tanpa harus mengeluarkan umpatan dan makian. Sebaliknya Ahok memiliki kecenderungan stright to the point, kasar dan cenderung mendominasi.

Majunya Anies menyediakan pilihan bagi kelompok Muslim modern yang semula hanya punya pilihan pada Ahok. Pada titik ini suara dukungan pada Ahok mulai tergerus.  Di samping itu dukungan dua partai dengan kader yang tingkat militansinya tinggi yaitu PKS dan Gerindra juga sangat menentukan. PKS dan Gerindra memiliki model hierarkis kepemimpinan yang mengakar dan dikelola dengan sangat baik sehingga suara dari pucuk pimpinan menjadi suara kader tanpa kecuali. Maka secara head to head pertarungan menjadi seimbang. Dua orang dengan kinerja yang oke tapi memiliki value delivery yang berbeda. Kemunculan Agus Yudhoyono, meskipun akan memecah suara menjadi 3 kelompok, tapi pada dasarnya hanya akan menghasilkan peta suara antara yang memilih dan yang tidak memilih Ahok pada Pilkada ini. Agus yang masih sangat muda  memerlukan basis dukungan yang akan memastikan ia bisa ikut berkompetisi. Dukungan partai-partai secara formal memang bisa menjadi syarat untuk maju tapi ia memerlukan sesuatu yang lebih real. Untuk itulah kelompok Islam garis keras mulai digarap dan diarahkan sebagai pemilih dan sekaligus sebagai magnet  untuk menarik kelompok yang menentang Ahok.

Faktor Kelompok Penekan

Munculnya kasus Al Maidah 51 menjadi ajang bagi kelompok garis keras untuk menyuarakan penolakan terhadap Ahok secara lebih keras dan berani. Berbagai aksi untuk menuntut Ahok dipenjara digelar. Meskipun kelompok ini pelan-pelan digembosi aparat dengan berbagai kasus yang melibatkan tokoh-tokohnya , suara mereka tetap nyaring dan makin menguarkan solidaritas kelompok sebagai yang terzalimi oleh rezim. Jika dilihat secara lebih sungguh-sungguh suara-suara kelompok ini di media sosial, lebih banyak muncul dari mereka yang sama sekali tidak terlibat dalam Pilkada DKI. Artinya apa pun yang mereka buat tak akan menyumbang terlalu besar pada jumlah suara di kotak suara. Pada putaran pertama suara kelompok ini dominan kepada Agus Yudhoyono. Pasca Putaran pertama kelompok ini tidak punya pilihan lain selain menyalurkan suara mereka kepada Anies Baswedan.

Anies yang mendapat suara 40% pada putaran pertama sebenarnya sudah memenangkan suara kelompok swing voters, sebab jika dihitung berdasarkan  basis masa pendukungnya hanya akan ada disekitaran 30 saja. Jika dibandingkan dengan basis massa pendukung Ahok yang hampir mencapai 37% maka Anies menarik 10% dan Ahok hanya berhasil menarik sekitar 5% saja.

Kelompok garis keras memang menjadi warna tersendiri dalam Pilkada kali ini dan bahkan menjadi isyu sentral di tengah kompetisi di sebuah kota yang mayoritas penduduknya adalah orang yang bertindak rasional dan terukur.

Strategi Pemenangan

Inilah sebenarnya titik kunci kegagalan Ahok memenangkan kontestasi  ini. Sedari awal ada semacam sikap overconfidence pada Ahok sendiri dan juga figur-figur yang ada di sekelilingnya. Premis mereka adalah Masyarakat Jakarta rasional dan akan memilih yang terbaik yang sudah teruji kinerjanya. Sayangnya premis ini berbanding terbalik dengan strategi pemenangan di lapangan dan di media.

Jika pijakannya rasionalitas maka harusnya kampanye diarahkan untuk menarik sebanyak-banyaknya kelompok swing voters. Dalam kenyataannya kampanye Ahok justru banyak ditujukan pada kelompok radikal. Energi tim pemenangan habis untuk menghadang  isyu-isyu radikalisme dan bermain persis sama dengan cara yang dibuat oleh Jonru di masa Pilpres dulu. Fitnah berbalas fitnah. Kelompok garis keras punya Jonru sedang Ahok punya Ade Armando yang sama militan dan bersemangatnya.

Tim kampanye Anies menikmati situasi ini. Strategi firnah membabi buta dan laporan-laporan polisi yang dibuat untuk Anies tidak pernah ditanggapi dengan serius. Anies benar-benar mengedepankan sikap seorang negarawan yang tak mudah meledak dan pandai menjaga dan mengelola lisannya. Tweet-tweet jahat yang dibuat oleh tokoh figur-figur terkenal padanya ditanggapi sembari  bercanda. Yang paling membuat kagum adalah ketika fitnah penyelewengan selama ia menjadi menteri yang disebarkan secara masif oleh tim kampanye Ahok justru kemudian dibantah sendiri oleh mereka yang membuat  cerita. Penyelewengan di Frankfurt Book Fair yang dialamatkan kepadanya justru dibantah oleh pentolan pendukung Ahok sendiri, Goenawan Muhammad.

Situasi dimana Ahok sibuk dengan kelompok garis keras memudahkan Anies untuk menarik kelompok Swing Voter dengan program-program yang lebih terukur. Penawan DP rumah nol rupiah, program Okeoce dan janji politik untuk menjadi pemimpin yang mengayomi seluruh penduduk Jakarta termasuk akan melakukan penataan perkampungan kumuh dan bukan menggusur merupakan hal yang dengan cepat diterima kelompok menengah kota. Persoalan hunian dan terbatasnya lapangan kerja menjadi titik sentral kampanye yang dikemas dengan cantik dan tanpa intensi untuk menyerang apa yang telah dibuat Ahok sebelumnya.  Pemberian label plus, meskipun ditanggapi sinis oleh pendukung Ahok justru menunjukkan bahwa semua yang baik yang telah dilakukan Ahok akan dipertahankan dan ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya.

Sebaliknya Ahok justru mengabaikan kampanye dengan  program terukur ini. Energi tim pemenangan habis untuk menghantam kelompok radikal atau mencari kelemahan program yang diusung Anies-Sandi. Capaian yang telah dibuat dengan tingkat kepuasan publik mencapai 70% membuat tim pemenangan Ahok terlena. Selama masa kampanye tidak ada program baru yang bisa dikatakan sebagai suatu value yang unique and distinctive yang bisa mendorong kelompok swing voters tergerak mendukungnya di tengah kuatnya tekanan isyu-isyu agama.  Tidak mengherankan bahwa Anies mengambil porsi terbesar dari kelompok swing voters.  Di putaran kedua swing voters ini tidak berpindah karena tidak adanya satu penawaran yang menarik dan strategi pemenangan yang berbeda yang dmunculkan oleh tim pemenangan Ahok. Mereka diam di tempat dan memberikan suara mereka pada Anies.

Maka sangatlah tidak tepat dikatakan bahwa kemenangan Anies adalah kemenangan kelompok radikal dan intolerant. Kemenangan Anies adalah kemenangan ketokohan dan strategi kampanye yang tepat untuk memenangkan suara kelompok rasional. Kelompok radikal hanya bagian dari kelompok penyumbang suara tapi bukan kelompok yang dominan. Sebagaimana  sejarah pemilu di DKI yang menghasilkan pemenang yang berganti-ganti, 2004 PKS, 2009. Demokrat dan  2014 PDIP,  adalah penjelasan yang sangat terang tentang karakteristik pemilih Jakarta. Ibarat perang,  Ahok menghadapi beberapa front pertempuran tapi timnya gagal menentukan  mana pertempuran yang harus dimenangkan dan mana yang harus dilepas.  Dan hasil akhirnya baru saja kita ketahui beberapa saat yang lalu...

Junaidi Gafar

Pengajar Ilmu Marketing

Pengamat Politik dan Pendidikan


Junaidi

/junaidigafar

Lahir di Padang Panjang Sumatera Barat, Pendidikan Pascasarjana Ilmu Management FE UI. Menggeluti bidang riset di Indonesian Research dan mengajar di beberapa perguruan tinggi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana