HIGHLIGHT

Usia 40 Tahun Menulis 61 Buku

04 Agustus 2012 01:04:54 Dibaca :
Usia 40 Tahun Menulis 61 Buku
Anak gembala semasa kecil

Terlahir sebagai anak kelima dari lima bersaudara dengan nama Wahyudi Prasetyo di sebuah desa di ujung paling barat Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Berganti nama menjadi Johan Wahyudi ketika duduk di bangku SD kelas 1 hingga sempat dimarahi gurunya karena dipanggil dengan nama baru itu, tetapi anak laki-laki kecil itu tak juga mengangkat jarinya. Ayah berprofesi sebagai guru SD dan ibunya menjadi petani. Masa kecil sering digunakan untuk membantu orang tua dengan menggembala sapi, mencari rumput, mencari ikan di sungai kecil di pinggiran desa, tidur di langgar atau surau kampung hampir saban malam.

Menginjak besar, mengenyam pendidikan di IKIP Yogyakarta dan lulus pada tahun 1997 meskipun masuk 1991. Hampir di-DO karena waktu studinya hampir mendekati batas toleransi. Semata karena sibuk mencari nafkah sendiri dengan menjadi pedagang asongan di Malioboro, Pantai Parangtritis, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Kebun Binatang Gembiraloka Yogyakarta. Di kampus inilah, saya mengenal dunia menulis dengan mendirikan majalah kampus, Ekspresi, yang konon masih eksis hingga kini.

Begitu lulus dari IKIP Yogyakarta, orang tua memintaku agar pulang dan menemaninya karena keempat kakakku sering merantau. Saya mematuhi perintahnya. Pada tahun 1998, saya mengikuti ujian CPNS dan bersaing untuk dapat meraih 2 tiket CPNS dengan 428 peserta tes CPNS. Alhamdulillah, saya menjadi peraih peringkat 1. Pada 1 Maret 1999, saya menerima SK CPNS di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah tanpa dipungut biaya sepersenpun. Bahkan saya justru diberi biaya penempatan sebesar Rp 241.800.

Mulai Menulis

Saya mulai mengenal dunia menulis ketika masih kuliah di IKIP Yogyakarta. Waktu itu, saya menjadi anggota Dewa Redaksi Majalah Ekspresi. Dari jabatan ini, saya sering dikirim untuk mengikuti pelatihan jurnalistik ke berbagai kampus di Pulau Jawa. Sekitar tahun 1993, iseng-iseng saya mengirim naskah ke Kedaulatan Rakyat, tulisan perdanaku dimuat dan mendapat honor Rp 35.000. Honor perdana ini menjadi penyemangat untuk menekuni dunia menulis.

Gayung bersambut karena Ikatan Alumni (IKA) IKIP Yogyakarta memiliki Majalah Matras. Oleh pembina yayasan yang menerbitkan majalah tersebut, pada tahun 1997, menjelang kelulusanku, saya diminta menjadi Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Redaksi untuk menggantikan pegawai lama karena diangkat menjadi PNS. Dari profesi sebagai wartawan majalah itu, akhirnya saya menjadi paham tentang dunia jurnalistik yang sebenarnya. Majalah itu bangkrut pada tahun 1998 karena badai krisis moneter akibat tak sanggup menutup biaya produksi dan operasional.

Menjadi Penulis Buku

Pada tahun 1999, saya ditempatkan sebagai guru bahasa Indonesia di SMA Negeri Tangen Kabupaten Sragen. Saya harus menempuh jarak 55 km pulang-pergi atau sekitar 110 km setiap harinya. Jalanan belum begitu baik sehingga saya sering mengalami kecelakaan. Atas kondisi itu, pada tahun 2004, saya mengajukan mutasi atau pindah dan dikabulkan sehingga kini saya dapat bekerja di sebuah lembaga pendidikan di dekat rumah. Karena telah bekerja di dekat rumah, akhirnya saya memiliki banyak waktu. Di sinilah, saya mulai melirik hobiku menulis.

Suatu hari, saya membaca iklan koran Solopos yang berisi tentang kebutuhan naskah Lembar Kegiatan Siswa atau LKS. Karena telah memiliki naskah, saya berusaha mencari alamat perusahaan penerbitan LKS tersebut. Tak disangka, penerbit itu berada di Klaten yang berjarak sekitar 40 km dari rumahku. Saya menawarkan naskah perdanaku tetapi penerbit belum memberikan jawaban pasti. Saya diminta menunggu hingga pada tahun berikutnya, saya diberitahu bahwa naskahku diterima. Dari penerbit itu, saya berhasil menulis modul sebanyak 24 buah, yaitu modul Pakar Bahasa Indonesia SMP kelas 7, 8, dan 9 (6 semester x 3 tahun = 18 buah), modul Maestro Bahasa Indonesia SMK kelas X, XI, dan XII (6 semester x 1 tahun = 6 buah), dan modul Master Bahasa Indonesia SMA kelas X, XI, dan XI (6 semester x 2 tahun = 12 buah). Pada awalnya, satu naskah LKS dihargai mulai dari Rp 700.000. Karena naskahku dinilai bagus, harganya naik menjadi sekitar Rp 1.500.000 setiap naskahnya. Jadi, saya berhasil menulis LKS sebanyak 36 buah.

Tahun 2007, saya menjadi anggota klub tenis di Gemolong bersama dengan beberapa pengusaha dan pejabat. Suatu hari, saya membawa naskah ke lapangan karena saya akan pergi ke penerbit usai bermain tenis. Seorang pejabat melihat dan meminjam naskahku. Setelah membolak-balik dan meneliti naskahku, pejabat itu berkata, “Ubah saja naskah ini menjadi buku. Satu buku bisa bernilai satu mobil.” Karena tidak percaya, saya diminta mencari penerbit buku. Akhirnya, saya mendapat kabar dari sebuah penerbit buku di kawasan Gentan Sukoharjo.

Dari perbincangan dengan penerbit, naskahku diterima dengan revisi. Melalui diskusi yang lumayan akrab, akhirnya saya diminta menulis naskah buku bahasa Indonesia SMP kelas 7, 8, dan 9. Satu naskah buku dihargai Rp 8 juta. Bagiku, harga itu teramat fantastis karena saya akan menerima Rp 24 juta untuk tiga naskah. Jumlah uang yang lumayan besar untuk penulis pemula macam saya hingga saya bertemu dengan pejabat yang pernah menegurku di lapangan tenis. Saya pun mengabarkan naskahku yang akan dibeli penerbit. Namun, lagi-lagi menyuruhku agar mencari penerbit yang lebih besar karena naskahku dinilai sangat bagus.

Atas nasihat pejabat itu, saya memberanikan diri untuk mengajukan naskahku ke Penerbit Buku Tiga Serangkai (TS) Solo. Konon TS adalah penerbit besar yang teramat sulit ditembus oleh para penulis. Boro-boro penulis pemula macam saya, konon TS sering menolak naskah yang dikirim oleh penulis-penulis profesional. Oleh penerbit, saya diminta menunggu satu minggu sejak penerimaan naskahku. Tak disangka, naskahku dinyatakan diterima. Sejak saat itulah, saya mulai menekuni dunia menulis buku.

134404214391108100
Satu dari tiga buku terbaruku.

Sejak tahun 1998 hingga kini, saya telah menghasilkan puluhan buku teks dan pengayaan. Berikut adalah buku-buku yang pernah diterbitkan, yaitu Cakap dan Kreatif Berbahasa Indonesia SMP Kelas 7, 8, dan 9 (PT Wajatri, Solo), Model Pengembangan Silabus Bahasa Indonesia SMP kelas 7, 8, dan 9 (PT TS), buku Pendidikan Budi Pekerti SMP Kelas 7, 8, dan 9 (Diknas Sragen), Bahasaku Bahasa Indonesia SMP 7, 8, dan 9 (Platinum TS), modul Pengayaan Bahasa Indonesia SMP (Primagama), Juara Pidato (Juara 1 Nasional), modul Calistung Budi Daya Rambutan (Balai Pustaka), buku pengayaan Terampil Menulis Surat (TS), Mahir Berpidato (TS), Panduan Menjadi Juara (TS), Menjadi Cerpenis (TS), Menjadi Penyair (TS), buku Mencetak Generasi Bertinta Emas (Yayasan Solo Peduli), buku Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Kontekstual SMP Kelas 7, 8, dan 9 (Quadra Inspira, Jakarta), buku Bahasaku Bahasa Indonesia SMP 7, 8, dan 9 Platinum versi baru (TS, Solo). Total saya telah menghasilkan 25 buku. Ada satu naskah dibeli putus dari Rp 15 20 juta hingga Rp 25 juta per naskah, tetapi saya lebih suka menggunakan jalur royalti. Jumlah itu belum termasuk tulisan-tulisan ilmiah lain (jurnal, esai, feature, atau artikel) yang pernah dimuat media cetak.

Hasil Menulis

Pada awalnya, saya tidak pernah menyangka bahwa profesi menulis akan menghasilkan banyak keuntungan, baik materi maupun nonmateri. Saya menulis sekadar untuk menyalurkan hobi menulis. Saya sangat menyukai menulis karena saya bebas mengekspresikan jiwa melalui tulisan. Seakan-akan saya sedang berdialog dengan diri untuk membebaskan belenggu pikiran. Jika sudah duduk dan menulis, saya bisa betah semalaman tanpa tidur untuk sekadar menyalurkan hobi menulis itu.

Melalui tulisan, saya telah mulai memanen hasilnya. Secara nonmateri, saya sering mendapat penghargaan dari para pejabat di banyak tempat. Bukan penghargaan berbentuk materi atau piagam melainkan kemudahan-kemudahan jika saya memerlukan kemudahan untuk menulis. Selain itu, saya pun mengalami lonjakan karier yang lumayan pesat dengan beberapa kali lolos seleksi beragam kegiatan. Namun, entah kok tiba-tiba saya kurang menyukai kompetisi itu karena saya tidak mendapatkan penghargaan yang layak. Bukan materi yang saya inginkan, tetapi perhatian dari pihak-pihak terkait. Maka, kini saya enggan mengikuti beragam seleksi lagi meskipun sering ditawari dan didukung teman-teman. Saya lebih menyukai menulis naskah buku daripada mengikuti beragam kompetisi.

Tidak hanya mendapatkan keuntungan nonmateri, saya pun mendapatkan keuntungan materi yang luar biasa banyaknya. Dari buku, saya bisa membangun rumah, ruko, naik haji, membeli tanah dan menjadikannya hutan jati, membeli mobil, dan menabung. Bahkan, saya bisa meneruskan pendidikan ke jenjang S3 yang awalnya tak pernah terbayangkan bahwa saya bisa mengenyam pendidikan formal paling atas itu.

Ulang Tahun ke-40

Hari ini, saya genap berusia 40 tahun. Sama sekali tak menyangka bahwa saya telah berusia lumayan tua. Rambut mulai memutih yang menandakan bahwa saya harus tahu diri. Namun, sungguh saya tak pernah menyangka bahwa saya bisa menulis buku hingga 61 buah. Bagiku, bilangan buku itu teramat banyak. Maka, atas dasar itulah, saya harus bersyukur kepada Allah atas segala rahmat-Nya. Sungguh Allah begitu bermurah hati kepadaku.

1344042104510145785
Menebarkan virus menulis.

Namun, saya pun perlu menyampaikan ucapan terima kasih kepada para sahabat, teman, dan kolega. Pagi ini, saya terkejut ketika menengok dinding Facebook-ku. Beragam ucapan dan doa telah disampaikan oleh banyak sahabat dan teman. Untuk semua kebaikannya, saya hanya dapat mendoakan kebaikan yang sama kepada teman-teman. Semoga Allah memberikan umur panjang dalam kesehatan dan kelapangan kepada kita. Amin ya rabbal ‘alamin.

Teriring salam,

Johan Wahyudi

Johan Wahyudi

/johanmenulisbuku

TERVERIFIKASI (BIRU)

Direktur EDU Training Centre, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Kolumnis Guru Perlu Tahu Koran Solopos, serta Penulis Buku dan Penyunting Naskah. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Ikuti Fans Page (FP) GURU MENULIS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?