HIGHLIGHT

Kesalahan Fatal Orang Islam tentang Ramadhan

20 Juli 2012 07:02:08 Dibaca :
Kesalahan Fatal Orang Islam tentang Ramadhan
Mengapa masjid hanya ramai di awal Ramadhan?

Waktu adalah harta paling berharga. Beratus-ratus juta uang digunakan orang untuk menebus kesehatan agar dapat menikmati waktunya. Tak peduli harus menjual barang berharga yang menjadi wasiat dan atau warisan leluhurnya. Satu tujuan itu: memiliki cukup waktu untuk menikmati hidup. Namun apatah keinginan kebanyakan orang, kemarin kampungku kehilangan 4 nyawa dalam setengah hari. Ada bayi baru lahir meninggal, seorang nenek renta juga meninggal, kecelakaan maut merenggut nyawa pengendara, dan sakit.

Berkenaan dengan waktu, saya terusik untuk berpendapat tentang waktu Ramadhan. Pendapat ini murni berasal dari sanubari tanpa memiliki tendensi karena saya pun beragama Islam. Dan tentang Ramadhan, saya menemukan lima kesalahan fatal yang dilakukan umat Islam.

Suka Membesarkan Perbedaan

Seperti telah kita ketahui bahwa saat ini orang Islam sedang berbeda pendapat tentang hari pertama bulan Ramadhan. Ada yang berpuasa hari ini dan ada yang berpuasa pada Sabtu besok. Terjadinya perbedaan itu ternyata menyulut beberapa pendapat yang terindikasi saling menyalahkan dan menganggap dirinya sebagai pihak yang benar. Orang yang memiliki anggapan fanatisme berlebihan cenderung menyerang perbedaan dan tidak meneliti penyebab terjadinya perbedaan. Yang lebih parah lagi, orang tersebut hanya mengikuti pendapat orang lain tanpa dasar.

Secara pribadi, hari ini saya sudah menjalankan ibadah puasa. Mengapa saya memilih sikap ini? Jawabannya sederhana. Jika jarum jam sudah menunjuk 00.01, itu berarti bahwa hari telah berganti. Besar kecilnya derajat bulan tidak terlalu menentukan jika memang perhitungan perjalanan bulan dapat dihitung secara tepat. Jadi, saya cenderung meyakini kebenaran perhitungan astronomi daripada alibi ketidakjelasan hilal.

Gemar Pesta

Saya menyebut pesta karena sajian itu teramat berbeda dan cenderung berenak-enak daripada hari-hari biasanya. Cobalah kita lihat meja makan rumah kita kala menjelang maghrib. Nyaris meja makan itu dipenuhi beragam makanan yang enak-enak secara berlebih-lebihan. Kebiasaan itu menunjukkan bahwa orang Islam gemar berbudaya hidup konsumtif.

Cobalah kita kaji lebih dalam hakikat puasa. Kita disuruh menahan makan, minum, berhubungan seks dan segala yang dapat membatalkan puasa. Itu berarti bahwa kita diminta Allah agar belajar menikmati hidup sebagai orang miskin. Kita diminta Allah agar tidak menjadi umat pendendam makanan. Begitu adzan maghrib berkumandang, sontak semua makanan dan minuman berganti tempat karena masuk ke perut kita. Dendam seharian tertunaikan dalam sekejab!

Pandai Cari Muka

Semalam, masjid kampungku penuh sesak. Bahkan, masjid pun dipenuhi jamaah pada sholat Jumat beberapa jam lalu. Semua warga berduyun-duyun menunaikan sholat jamaah ke masjid pada awal Ramadhan. Bahkan mereka rela datang lebih awal daripada jamaah lainnya. Itu menjadi sebuah kebiasaan yang baik jika dilakukan secara konsisten.

Namun, sungguh teramat ironis. Ternyata kebiasaan itu semata hanya bertujuan untuk mencari muka agar dianggap sebagai orang Islam yang taat. Ketika Ramadhan sudah memasuki paruh bulan, masjid mulai ditinggalkan para jamaah. Paling jamaah itu hanya terdiri atas beberapa baris. Kemanakah jamaah lainnya pergi?

Gemar Bersolek

Wah, kebiasaan buruk itu mulai terasa dan tampak menjelang Idul Fitri. Banyak orang Islam meninggalkan kewajiban karena memilih pergi ke tempat-tempat yang dapat memberikan kepuasaan hasrat. Di mana itu? Silakan Anda berkunjung ke pusat perbelanjaan, pasar, toko perhiasaan, serta pegadaian dan atau lembaga keuangan lainnya. Pusat perbelanjaan dipenuhi oleh pengunjung yang berebutan untuk membeli beragam keperluan demi terturutinya budaya bersolek. Tak lain adalah pakaian baru.

Sungguh ironis orang Islam yang demikian. Mereka rela menggadaikan sertifikat tanah, SK, BPKB dan surat-surat berharga lainnya agar dapat membeli beragam keperluan demi merayakan lebaran. Benar-benar kebiasaan yang tidak layak ditiru. Lebaran berarti dosanya dilebur. Namun, mengapa justru semangat ibadahnya yang dilebur?

Pelupa

Tidak menjalankan ibadah puasa tetapi ikut merayakan lebaran adalah pemandangan yang mudah ditemui di banyak tempat. Mereka – orang-orang yang tidak berpuasa - beralasan bahwa mereka bekerja keras. Bukankah orang yang bekerja keras boleh meninggalkan kewajiban berpuasa? Agama Islam memang membolehkan mereka tetapi mereka harus membayar fidyah atau berpuasa di bulan lainnya.

Namun, boro-boro membayar fidyah atau berpuasa, mereka seakan menyepelekan anggapan itu seraya tidak mengindahkan kewajibannya. Tak lain jawabannya adalah lupa ketika ditanyakan alasannya. Ya, banyak orang Islam tiba-tiba menjadi pelupa akan kewajibannya. Kalau memang lupa, ya sudahlah. Toh semua perbuatan itu akan dikembalikan kepada pembuatnya.

13427676061583740461
Mohon maaf atas segala kesalahan.

Sebelum saya menutup tulisan ini, saya ingin menyampaikan ucapan kepada rekan-rekan muslim:

Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan 1433 H

Sekiranya saya pernah berbuat salah dan khilaf kepada rekan-rekan, dengan segala kerendahan dan ketulusan hati, saya bermohon maaf.

Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai awal perubahan untuk menjadi peribadi muslim yang lebih baik.

Teriring salam,

Johan Wahyudi

Sumber gambar: sini

Johan Wahyudi

/johanmenulisbuku

TERVERIFIKASI (BIRU)

Direktur EDU Training Centre, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Kolumnis Guru Perlu Tahu Koran Solopos, serta Penulis Buku dan Penyunting Naskah. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Ikuti Fans Page (FP) GURU MENULIS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK JELANG PUASA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?