PILIHAN

Pelajaran Berharga dari Pilkada DKI 2017

22 April 2017 00:28:09 Diperbarui: 22 April 2017 02:11:14 Dibaca : 588 Komentar : 3 Nilai : 4 Durasi Baca :

Pemilihan gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta telah berakhir tanggal 19 April 2017 yang dimenangi pasangan Anis-Sandi (Anis Baswedan-Sandiaga Uno) yang mengalahkan pasangan Ahok-Djarot (Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Darot  Saiful Hidayat.

Menurut Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) atau real count Komisi Pemilihan Umum (KPU) berdasarkan data real count KPU tanggal 20 April 2017, dari 2.850.674 suara yang sudah masuk pasangan Anies-Sandi sementara ini masih unggul dengan perolehan 56,00% suara yang masuk dan mendapatkan1.596.488 suara. Sementara pasangan Ahok-Djarot memiliki 1.254.186 suara atau 44% dari data suara yang sudah masuk ke KPU.

Walau sudah berlalu, namun ada banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik untuk menjadikan kota Jakarta dan Indonesia lebih baik di masa mendatang.

Pelajaran pertama bahwa kalah menang merupakan hal biasa dalam pemilihan umum dan yang menang akan menerima tanggung jawab baru dan yang kalah seharusnya menerima dengan lega hati karena sudah melakukan yang terbaik selama masa kampanye untuk meyakinkan para pemilihnya.

Pernyataan gubernur petahana Basuki Tjahja Purnama (Ahok) seusai mengetahui hasilnya yang mengucapkan selamat kepada pasangan Anis-Sandi dan berharap akan lebih memperbaiki kota Jakarta yang merupakan rumah bersama merupakan contoh yang baik. Selama ini jarang sekali calon yang kalah di Indonesia melakukan itu, bahkan banyak hasil pilkada yang harus diselesaikan oleh Mahkamah Konstitusi.

Pasangan Ahok-Djarot saat jumpa pers dengan para wartawan tanggal 19 April 2017 di Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Ahok mengatakan "Kami harap ke depan kami ingin semua lupakan persoalan selama kampanye dan pilkada karena Jakarta rumah bersama.” berwarna biru. Djarot juga mengatakan bahwa hasil penghitungan quick count, Pak Anies dan Pak Sandi unggul. “Oleh sebab itu, saya mengucapkan selamat kepada beliau."

Padahal ada juga selentingan yang mengatakan adanya kecurangan dan itu pasti sampai ke telingan pasangan Ahok-Djarot; dan di semua pemilu hal itu lazim terjadi.

Pelajaran kedua yakni arti sesungguhnya hasil pilkada itu. Kemenangan itu bagi pasangan Anis-Sandi merupakan kesempatan bagi pemimpin muda untuk memperbaiki ibu kota negara dengan penduduk sekitar 12 juta jiwa. Pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno merupakan pemimpin muda hebat yang mau turun ke tingkat DKI. Anies Baswedan merupakan pendiri gerakan Indonesia Mengajar yang berhasil menyandang segudang penghargaan tingkat dunia. Majalah Foreign Policy terbitan Amerika Serikat menyebut nama Anies Baswedan sebagai salah satu dari 100 Tokoh Intelektual Publik Dunia pada 2008 lalu. World Economic Forum (WEF) juga menyebut pakar, pengamat dan peneliti muda ini sebagai satu dari Pemimpin Muda Dunia Global pada 2009.

Sandiaga Salahudin Uno juga masih muda kelahiran Rumbai, 28 Juni 1969 merupakan salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Sandiaga Uno pernah menjadi seorang pengangguran ketika perusahaan yang mempekerjakannya bangkrut. Sandiaga Uno kemudian bangkit dan memulai usaha bersama rekannya dengan mendirikan sebuah perusahaan di bidang keuangan yaitu PT Saratoga Advisor. Usaha tersebut terbukti sukses dan telah mengambil alih beberapa perusahaan lain. Pada tahun 2009, Sandiaga Uno tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut majalah Forbes.

Visi mereka juga menjanjikan yakni “Jakarta kota maju dan beradab dengan seluruh warga merasakan keadilan dan kesejahteraan.” Kalau Anies-Sandi bisa mewujudkan mimpi ini berarti warga Jakarta akan bisa melihat kota Jakarta yang lebih baik dari sekarang dalam lima tahun mendatang.

Pelajaran ketiga, kegagalan Anies-Sandi dalam lima tahun mendatang akan berdampak kepada seluruh warga DKI, bukan hanya kepada pasangan itu dan pendukungnya. Memang sudah banyak yang langsung meminta janji kepada Anies-Sandi seperti rumah tanpa Down Payment (DP). Sebenarnya permintaan itu sah-sah saja dalam dunia demokrasi. Namun ada yang lebih penting yakni arti kemenangan itu sendiri yakni adanya tanggung jawab baru yang diemban oleh Anies-Sandi dan itu tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan seluruh warga DKI. Kegagalan Anies-Sandi menjadikan Jakarta lebih baik selama lima tahun mendatang bukan hanya kegagalan pasangan Anies-Sandi dan pendukungnya tapi juga akan dirasakan oleh seluruh warga DKI.

Menunjukkan kekurangan pasangan Anies-Sandi tidak bermanfaat bagi pelaksanaan tugas Anies-Sandi untuk lima tahun mendatang; bahkan itu bisa mengganggu konsentrasi mereka dalam menjalankan tugasnya. Lebih baik enegri yang digunakan untuk menunjukan kekurangan pasangan Anies-Sandi itu digunakan untuk memberikan masukan atau peringatan agar mereka jangan sampai gagal. Namun cara penyampaiannya juga harus tetap sesuai aturan yang ada agar efektif atau tepat sasaran. Untuk itu pendukung pasangan Ahok-Djarot perlu menunjukkan dukungan penuh kepada pasangan Anies-Sandi sebagaimana telah ditunjukkan oleh Ahok-Djarot sendiri selama kampanye hingga hasil pemilu 17 April 2017 lalu.

Pelajaran keempat, para pendukung Anies-Sandi jangan terlalu banyak menuntut balas. Pendukung Anies-Sandi harus diakui berperan penting menjadikan Anies-Sandi menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI 2017-2022, namun juga jangan terlalu banyak menuntut yang pada akhirnya akan dapat mengganggu konsentrasi pasangan Anies-Sandi. Tentu banyak pihak yang berkonstribusi untuk membantu pasangan Anies-Sandi memenangi pemilu ini, termasuk PKS dan Partai Gerindra. Namun dari pelaksanaan demokrasi di berbagai negara jika ada yang meminta balas jasa atas kontribusi itu menjadi tidak sehat bahkan tidak jarang akhirnya hal itu dapat menimbulkan kekagagalan pemenang pemilu tersebut.

Pelajaran kelima,yakni pejabat petahana punya kesempatan untuk melakukan yang terbaik hingga Oktober 2017 sehingga pejabat baru dapat langsung memulai tugasnya dengan baik tanpa harus memulai dari awal lagi. Di banyak negara ada praktik kurang baik di mana pemerintahan baru seolah harus memulai segalanya dari nol. Hal-hal positif yang sudah dilakukan Ahok-Djarot selama ini tidak salah ditindaklanjuti dan yang belum dapat diwujudkan selama ini dapat dilanjutkan oleh pasangan Anies-Ahok. Tentu hal baru diharapkan dari pasangan Anies-Sandi.

Walaupun demikian, bukan berarti pilkada DKI sudah sempurna, di sana sini mungkin ada kekuranganya. Kiranya itu menjadi pelajaran penting bagi pelaksanaan pemilu di Indonesia agar di waktu-waktu mendatang pelaksanaan pemilu di tingkat nasional maupun daerah dapat berlangsung lebih baik lagi.

Jimmy Haryanto

/jimmy1962

TERVERIFIKASI

Pecinta Kompasiana. Berupaya menjadi pembelajar yang baik, namun sering merasa malu karena belum bisa berbuat yang berarti untuk bangsa dan negara. Walau negara sedang dilanda wabah korupsi, masih senang sebagai warga. Cita-cita: agar Indonesia bisa kuat dan bebas korupsi; seluruh rakyatnya sejahtera, cerdas, sehat, serta bebas dari kemiskinan dan kekerasan. Prinsip tentang kekayaan: bukan berapa banyak yang kita miliki, tapi berapa banyak yang sudah kita berikan kepada orang lain.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana