Mohon tunggu...
Jilal Mardhani
Jilal Mardhani Mohon Tunggu... Administrasi - Pemerhati

“Dalam kehidupan ini, selalu ada hal-hal masa lampau yang perlu kita ikhlaskan kepergiannya.”

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

One Liner Syndrome

18 Juni 2016   03:15 Diperbarui: 7 Juli 2016   19:38 160
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Media. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Free-photos

Setiap kali ada berita yang muncul, cobalah baca seksama isi lengkapnya. Jangan berhenti pada judul yang disodorkan! 

Contohnya berita Kompas Group ini. 

Ditengah 'teror' yang dilancarkan terhadap pilihan Ahok maju Pilkada 2017 yad, judul berita ini sangat bisa mempengaruhi persepsi pembacanya. Seolah Ahok 'menyatakan cocok dan ingin dengan Jarot sehingga jalur parpol adalah sebuah pilihan yang masih terbuka!'.

Tapi coba telisik isi beritanya! 

Dijelaskan dengan terang-benderang bahwa hal itu adalah keinginannya semula yang tak disambut Megawati sehingga akhirnya dia memilih dan memutuskan berpasangan dengan Heru. Jelas pula tersirat bahwa pilihan itu adalah sesuatu yang 'sudah final'!

Hal yang sama juga berkembang setelah pemberitaan KPK yang akan menelisik lebih jauh pernyataan Junimart Girsang soal informasi dana 30 miliar dari pengembang reklamasi kepada Teman Ahok. Salah satu dilansir Tempo

Ketika dicermati lebih lanjut, berita sesungguhnya adalah tentang sikap yang akan dilakukan KPK paska dengar pendapat dengan DPR yang mempertanyakannya. Disebutkan juga upaya konfirmasi yang dilakukan terhadap aktor yang katanya menyerahkan uang dan Teman Ahok yang diduga menerima. Sebuah standar jurnalisme yang jamak. 

Tapi begitu banyak pihak yang segera bereaksi setelah Tempo menurunkan berita berjudul 'KPK Usut Rp 30 Miliar ke Teman Ahok'. Nuansa yang berkembang seolah media itu 'turut menyudutkan' kelompok anak muda yang selama ini telah berjuang mati-matian menggalang dukungan bagi Ahok agar dapat maju melalui independen. 

Media memang tidak boleh berpihak pada salah satu kubu, meski kelompok malaikat sekalipun! Ia harus tetap menjaga jarak tanpa membenci dan juga tidak ikut-ikutan kesengsem. Hal yang semestinya kita maklumi. 

Tapi karena di negeri ini prilaku media yang berpihak terhadap kekuasaan, kepentingan pemilik atau kelompok tertentu yang mensponsori telah menjadi hal jamak yang cenderung dibiarkan, maka kita pada umumnya terbiasa bersakwa sangka demikian. Ketika sebuah media memunculkan (judul) berita yang 'tak bersesuaian di hati' maka tudingan berpihak, punya 'agenda jahat', dsb segera merebak. 

'Jangan hakimi buku dari sampulnya!'

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun