JepretPotret
JepretPotret

Facebook-Twitter-Instagram=>@JepretPotret Mail=>JepretPotret.ID@gmail.com Youtube=>JepretPotret.ID

Selanjutnya

Tutup

Humaniora headline

Yoga Adiwinarto Berharap Kota Masa Depan Dirajai oleh Pejalan Kaki dan Pesepeda

17 April 2017   12:17 Diperbarui: 18 April 2017   11:08 144 2 2
Yoga Adiwinarto Berharap Kota Masa Depan Dirajai oleh Pejalan Kaki dan Pesepeda
Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia

"30 years from now, I hope cities have no highways and no flyovers. Cyclists and pedestrians will rule the streets". 

Begitulah kira-kira harapan besar Yoga Adiwinarto (Country Director ITDP Indonesia) keadaan di berbagai kota pada ke depannya. Untuk terwujudnya harapan tersebut , ternyata dibutuhkanlah suatu konsep yang dikenal dengan TOD. Konsep Transit Oriented Development (TOD) akhir-akhir ini mengemuka seiring pengembangan transportasi massal seperti BRT, MRT, LRT. Lalu bagaimanakah penataan kawasan perkotaan berbasis TOD itu yang sesuai ekspektasi?

Yoga Adiwinarto memaparkan "Penataan Kota melalui Konsep Transit-oriented Development" dalam Bincang Santai Media bertemakan "Pengembangan Kawasan TOD Menggerakkan Perekonomian Jabodetabek" yang diselenggarakan pada 6 April 2017 lalu di Galeri Pemasaran Synthesis Jakarta Selatan. Wilayah Jakarta yang berkembang pesat hanyalah di kawasan pusat kota pada era tahun 1960-an hingga 1970-an seperti Tebet dan Kebayoran. Sekitar tahun 1990-an pihak pengembang perumahan berusaha mendekatkan lokasi propertinya dengan akses tol. Kini pembangunan telah jauh menjangkau hingga Purwakarta di Timur Jakarta serta Maja & Rangkas di Barat Jakarta. 

Mobilitas warga Jakarta Raya ini semakin mendapatkan perhatian penuh dengan pengembangan light rail transit (LRT) Jabodebek oleh Kementerian Perhubungan RI bersama konsorsium BUMN, Mass Rapid Transit (MRT), kereta cepat, kereta bandara plus APMS (Automatic People Mover System), CommuterLine oleh KCJ yang telah menjangkau Rangkasbitung, hingga bus rapid transit (BRT) oleh Transjakarta. Ini nampak di berbagai kota dunia lainnya, dengan pengecualian kota di Eropa yang telah memiliki sistem transportasi baik. Aktivitas kehidupan seperti bekerja, bermain, beristirahat, berbelanja, bergerak dan mengakses wilayah (Live, Work, Play, Recreate, Shop, Move, Access) merupakan satu bagian terpusat yang semakin menjadi tuntutan kebutuhan oleh masyarakat di area tempat tinggalnya.

Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia
Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia
Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia
Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia
Pembangunan berkonsep TOD itu akan fokus pada peralihan dari yang berorientasi pada penggunaan jaringan jalanan kendaraan bermotor menuju orientasi pada kebutuhan masyarakat (people oriented). Ada permasalahan terkait TOD di Jakarta seperti hirarki jalan yang timpang serta penggunaan damija yang tidak maksimal.

Untuk fasilitas pejalan kaki terdapat diskontinuitas & diskonektivitas jalur, inkonsistensi ketinggian trotoar, serta tidak tersedianya peneduhan. Kemudian muka bangunan pasif dengan adanya pagar muka gedung, setback parking, pagar pemukiman, dinding mati/pagar menerus. Adanya ketidak efisienan pemanfaatan ruang kota seperti tata guna lahan non-TOD, koefisien dasar Bangunan (KDB) rendah & koefisien luas bangunan (KLB) tidak optimum, garis sempadan bangunan, persyaratan ruang parkir pada gedung, pembiaran terhadap parkir liar badan jalan.

Beberapa permasalahan lainnya adalah pembatas persil yang membentuk gated-community, blok panjang, driveways serta parkir gedung. Pembangunan infrastruktur bus rapid transportation (BRT) yang dikenal dengan busway, hanya terfokus pada jalur dan halte namun tak memperhatikan (abai) akses trotoar untuk pejalan kaki. 

Dicontohkan jalan raya yang sama-sama memiliki lebar 65 meter di kota Jakarta dan Paris, dapat diperbandingkan penataannya. Jalan raya di kota Paris ini menerapkan garis sempadan bangunan yang benar tanpa menggunakan pagar persil serta dapat diakses oleh para pejalan kaki.

Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia
Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia


Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia
Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia
Gang kecil di pusat kota dapat dimaksimalkan sebagai sarana konektivitas menuju stasiun angkutan umum. Ini akan menyingkat waktu tempuh perjalanan menuju stasiun terdekat. Selain itu penataan gang kecil tersebut yang akan meningkatkan lalu lintas pejalan kaki, juga akan membuka peluang kesempatan perekonomian bagi warga sekitar untuk memasarkan produksi rumahan mereka sendiri seperti kuliner, fesyen. 

Pengembangan infrastruktur BRT sesuai konsep TOD seperti yang dilakukan di Lanzhou dan Yichang (Tiongkok), haruslah juga mengikutsertakan perubahan zona kawasan dan kebijakan parkir.

Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia
Foto: Materi Presentasi ITDP-Indonesia
Gambar: Materi Presentasi ITDP-Indonesia
Gambar: Materi Presentasi ITDP-Indonesia

Konsep standar dari TOD meliputi:

Walk; terdapatnya fasilitas berjalan kaki di seluruh ruas jalan dalam area TOD, dengan muka bangunan yang aktif & permeabel serta terlindungi dari hujan dan teriknya matahari. Termasuk juga dibukanya akses antargedung. 

Cycle; adanya jalur sepeda yang terproteksi dari kendaraan bermotor serta akses sepeda pada bangunan. Kemudian disediakannya parkir sepeda di stasiun angkutan umum. 

Connect; memiliki panjang blok ideal 110-190 meter, dengan penambahan akses khusus pesepeda dan pejalan kaki serta peniadaan pagar & perimeter dinding (wall). 

Transit; stasiun angkutan umum massal harus mudah dijangkau dengan aktivitas berjalan kaki. 

Compact; di dalam area TOD tak terdapat lahan tidur / kosong, serta memiliki lebih banyak layanan rute angkutan umum. Pembangunan difokuskan di bukan daerah pinggiran, namun pada area yang telah terbangun. 

Shift; lebih sedikit luas jalan diperuntukkan bagi kendaraan bermotor, serta lebih sedikit luas lahan diperuntukkan bagi parkir kendaraan bermotor. Relokasi driveaway dari jalan utama, juga pelarangan setback parking & pembatasan garasi pribadi. 

Mix; tata guna lahan mixed use, bukan sekedar zoning code namun form-based code, lingkungan sosial yang mixed income. 

Densify; angka KLB dan KDB yang lebih tinggi dari daerah non-TOD, penerapan KLB & KDB minimum, peniadaan Garis Sempadan Bangunan (GSB).

Bincang Santai [Foto:JEPRETPOTRET]
Bincang Santai [Foto:JEPRETPOTRET]

Sementara itu Julius Warouw (Managing Director Synthesis) yang turut menjadi narasumber, menyatakan bahwa pihak pengembang perumahan harus dapat memberikan nilai manfaat lebih bagi para pembeli property-nya. Para penghuni tak hanya sekedar mendapatkan hunian, namun juga adanya kemudahan berbagai akses memenuhi kebutuhan hidup yang lebih baik. Konsep TOD itu bukan saat ketika di depan perumahan tersedia jalur moda transportasi umum seperti angkot dan bus kota, namun harus dilihat secara holistik.