Mengakhiri Krisis Identitas dan Jati Diri

18 Maret 2017 09:47:24 Diperbarui: 18 Maret 2017 10:49:53 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Bangsa dan negara ini telah sekian lama mengalami krisis identitas. Sejak awal merdeka, bangsa ini terus mencari bentuk dan jati dirinya sebagai bangsa dan negara. Ketika jaman Orde Baru, bangsa ini dilanda krisis kepribadian yang akut, hingga hilang kepercayaan diri, bahkan kepercayaannya kepada Tuhan seolah berada di ujung tanduk. Di jaman Orde Baru itu, segala yang berbau tradisional dan religius yang merupakan identitas bangsa seolah diyakini sebagai kemunduran dan penghambat kemajuan bangsa dan negara, sementara kehidupan modern yang seolah berada di depan mata, hanya fatamorgana yang hanya bisa dinikmati keindahannya dalam angan-angan dan mimpi semata. Lalu, di masa Reformasi, masyarakat baru sadar kalau krisis sudah merembet ke mana-mana. Tak hanya krisis ekonomi, krisis moral, krisis pemahaman, krisis tokoh dan panutan, serta krisis identitas dan jati diri sebagai bangsa dan negara juga melanda dan menempa. Dan kemarin, ratusan ribu umat Muslim, dipimpin oleh orang-orang yang selama Reformasi dianggap sebagai pemuka dan panutan, ternyata menunjukkan cangkangnya yang rapuh, baik sebagai anggota bangsa dan negara maupun sebagai Umat Muslim yang benar dalam pemahaman agamanya.

Bangsa dan negara ini kini, tengah berada di ujung tanduk. Meneruskan menggelinding berarti bunuh diri, kembali ke belakang berarti harus melewati lagi jalan dan rintangan yang amat terjal yang telah ditempuh selama ini. Untuk saat ini, yang bisa dilakukan bangsa dan negara ini hanya menjaga keseimbangan saat tengah berada di ujung tanduk. Entah kapan bila saatnya tiba, ketika ada guncangan dan goyangan cukup telak, bangsa dan negara ini pasti akan kehilangan keseimbangan, bahkan mungkin akan jatuh dan hancur. Naudzubillahimindalik bila itu sampai terjadi.

Karena itu patut disadari bahwa, sesungguhnya untuk saat ini dan sampai kapanpun, orang atau sebuah bangsa dan negara, harus terus berjalan. Tuhan Yang Maha Esa pasti dan telah Memberi jalan untuk dilalui. Tapi memang ada kalanya orang atau bangsa dan negara menemukan jalan buntu, ada kalanya menemukan jalan sulit, dan ada kalanya pula jalannya begitu sempit dengan beberapa bahaya yang siap mengancam. Untuk bisa melampaui itu semua, orang atau sebuah bangsa dan negara harus memiliki keyakinan, keteguhan, ketegaran di masa-masa sulit, dan kepercayaan diri.

Keyakinan dibutuhkan agar orang atau suatu bangsa dan negara tetap tidak kehilangan harapan di kala krisis. Keteguhan untuk sampai ke tujuan dibutuhkan untuk terus memacu agar giat berjuang dan berusaha. Ketegaran dibutuhkan untuk pantang menyerah, meski ujian dan cobaan, bahkan krisis menempa secara bertubi-tubi. Dan kepercayaan diri dibutuhkan untuk tetap nyaman dan siap siaga menjalani semua ujian dan rintangan, serta segala kemungkinan yang terjadi.

Tapi kesemuanya itu, tak akan bisa dimiliki hanya dengan menanamkan dan mengajarkannya saja. Kesemuanya itu harus ditumbuhkan melalui proses yang perlu usaha dan perjuangan. Seumpama fotosintesis dan asimilasi, semua perangkat dan bahan telah ada dan tersedia, tinggal orang atau bangsa dan negara itu mau mengolahnya atau tidak. Kalau dirasa ada bahan atau alat yang kurang, orang atau bangsa dan negara itu harus segera beradaptasi dan mencarinya. Hal itu seperti yang terjadi pada tumbuhan, saat dia tumbuh di tempat teduh yang tak ada sinar matahari, maka dia akan berjuang dan berusaha membelokkan tubuh dan daun-daunnya menuju ke arah yang bisa mendapatkan sinar matahari. Membelokkan diri dan tumbuh ke arah tempat yang ada sinar mataharinya, bagi tumbuhan pasti butuh proses dan kerja keras.

Orang atau bangsa dan negara pun harus begitu. Setiap waktu harus selalu sadar akan diri, dunia sekitarnya, Petunjuk dan BimbinganNya, juga harus sadar akan apa yang baik, yang musti dilakukan. Kesadaran menyeluruh atas semua itu, bila dilakukan terus-menerus secara konsisten dan konsekwen, kemudian disatukan dan diterangi cahaya ilmu yang benar, pasti akan melahirkan satu sosok untuh yang disebut jati diri. Bila orang atau suatu bangsa dan negara tahu jati dirinya, kemudian nyaman dan selalu tenang, maka dia akan percaya diri. Bila orang percaya diri, juga tidak lupa akan perlunya keyakinan dan tetap percaya kepada Tuhan, serta tidak sombong, maka dia akan senantiasa bisa melampaui setiap kendala dan kesulitan, juga siap menghadapi setiap kemungkinan.

Bagi yang Muslim, yang seagama dengan saya, amalkan dan tebarkan kesadaran terus-menerus, di manapun berada. Atur dan koordinasikan buah kesadaran yang terkumpul di dalam diri dengan sholat dan mengamalkan semua Rukun Islam sesuai keadaan dan kemampuan. Lalu terus gali dan cari Cahaya Petunjuk dan PeneranganNya di Al Quran sampai tampak dengan jelas sosok jati dirimu sebagai sosok manusia yang sempurna, selalu tenang, dan giat menebar kebaikan dan kebajikan, serta selalu menjauhi keburukan dan kejahatan. Awali kesadaran itu dari diri sendiri, agar sekitar terterangi oleh bias-bias cahayanya. Yang ikut sadar dan mau tahu IlmuNya tunjukkan jalannya. Yang mau sadar, tapi tidak mau tahu IlmuNya, cukup diajak berjalan bersama. Yang tidak mau, biarkan saja dia asyik dengan dirinya. Dalam beragama tak perlu dipaksa dan harus dilandasi kesadaran. Kesadaran itu sendiri, baru bisa muncul, jika sudah ada bukti-bukti yang pasti. Maka daripada memaksa orang lain untuk beragama, lebih baik biarkan mereka mendapati bukti-buktinya, agar bisa sadar.


Ivan Jayadi

/ivanpsi

TERVERIFIKASI

Penulis Yang Aktif Berpartai Di PSI sebagai Sekretaris DPC Sukun
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article