Museum Benteng Heritage: Menyusuri Jejak Cina Benteng dan Menjaga Spirit Leluhur

07 Mei 2011 01:29:28 Diperbarui: 25 Juni 2015 22:59:16 Dibaca : 3244 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :

Cina Benteng. Saya sering mendengar sebutan itu tapi sungguh tak paham apa maksudnya. Dan, ketika pada suatu pagi di hari Sabtu, Andy F. Noya yang lebih dikenal lewat acara Kick Andy di Metro TV ngajak ketemu, saya setuju. Pertama, karena ia teman sekelas waktu kuliah dan sudah agak lama tak berjumpa. Kedua, karena ia akan mengajak saya ke Museum Benteng Heritage, Kota Tangerang, yang tak berapa jauh dari Jakarta. Ketiga, karena museum ini sedang dibenahi dan baru resmi dibuka untuk umum pada bulan November nanti.

Andy mengaku sudah beberapa kali ke sana tapi ternyata kami masih tersesat. Padahal, letaknya masih dalam kawasan Kota Tangerang, Provinsi Banten, sebelah Barat Jakarta. Tangerang sendiri merupakan kota terbesar di Provinsi Banten serta ketiga terbesar di kawasan perkotaan Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek), setelah Jakarta. Nama Museum Benteng Heritage ini adalah nama baru dan belum dikenal masyarakat Tangerang. Karena posisinya bersebelahan dengan Kelenteng Boen Tek Bio, maka patokan yang mudah untuk mencari lokasinya adalah dengan menanyakan kelenteng tersebut.


Maklum, Kelenteng Boen Tek Bio diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1750. Pada masa itu, para penghuni perkampungan Petak Sembilan secara gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah kelenteng yang diberi nama Boen Tek Bio. (Boen=Sastra, Tek=Kebajikan, Bio=Tempat Ibadah). Jadi, kecil kemungkinan, masyarakat Tangerang tak mengetahui lokasi kelenteng ini. Nah, lokasi Museum Benteng Heritage benar-benar persis bersebelahan dengan kelenteng tersebut.


Kelenteng dan museum ini berada di sebelah timur sungai Cisadane, daerah Pasar Lama sekarang. Nah, Pasar Lama ini juga bisa dijadikan patokan. Pasar ini ramainya pagi hari sampai siang, diapit rumah-rumah penduduk. Jadi, sebagaimana yang saya lakukan bersama Andy, kami memarkir kendaraan di jalan besar, di tepi sungai Cisadane. Lalu, berjalan kaki sekitar 5 menit ke lokasi. Sama sekali belum ada papan petunjuk arah. Yang paling aman ya melakukan sastra lisan: bertanya.


Setiba di sana, saya diperkenalkan dengan pemilik Museum Benteng Heritage, Udaya Halim. Lelaki bertubuh gempal ini dulu menghabiskan masa kecilnya di sana. Rumahnya dulu berhadapan langsung dengan museum ini. Kini, bekas rumahnya itu sudah jadi ruko dan sudah jadi milik orang lain. Ia sekeluarga, sekitar 15 tahun yang lalu, boyongan ke Australia. Mereka hidup dan berusaha di negeri Kanguru tersebut. Selama di Australia, ia kerap berlibur ke Malaka dan menyaksikan langsung kaitan Malaka dengan kerajaan di negeri ini pada masa lalu. Tentang hal tersebut, bisa kita baca catatan dierhanana.wordpress.com, 25 Maret 2008, Menyusuri Sejarah di Melaka: Bangunan Tua jadi Tempat Wisata:


Jika berkunjung ke Malaysia, sesekali datanglah ke Melaka. Kalau dari Kuala Lumpur, hanya perlu waktu lebih kurang 1,5 jam dengan mobil hingga sampai di kota itu. Perjalanan dari Kuala Lumpur International Airport lebih cepat, hanya 30 menit. Di Melaka, kita bisa mengetahui pertalian yang erat antara Malaysia dan Indonesia pada masa silam.


Sejarah Melaka dimulai pada tahun 1403 sejak kedatangan Parameswara, pangeran Hindu dari Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Parameswara merebut gelar Raja Iskandar ketika dia memeluk Islam dan menjadi penguasa pertama di kerajaan barunya yang menandai lahirnya Kesultanan Melaka.


Pada abad ke-16, Melaka terkenal sebagai pusat perdagangan laut. Para pedagang dari Arab, Cina, India, dan Eropa berlabuh di kota itu. Melaka pun berkembang menjadi daerah yang didambakan oleh pihak asing.


Dari berbagai kunjungan tersebut, Udaya teringat akan kampung halamannya di Pasar Lama, Tangerang. Di Malaka ia melihat bagaimana masyarakat setempat merawat peninggalan sejarah mereka, menjadikannya sebagai bentuk penghormatan akan jasa-jasa leluhur, mengolahnya menjadi aset, serta memberdayakannya sebagai salah satu tujuan wisata. Ia ingat tiga petak bangunan kokoh dengan arsitektur Cina di seberang rumahnya di Pasar Lama. Tiba-tiba ia rindu untuk pulang kampung, untuk melihat seperti apa kondisi pasar tempat ia bermain-main dulu semasa kanak-kanak.


Pada kepulangannya, Udaya melihat tiga petak bangunan berlantai dua plus setengah lantai itu, sehari-hari dijadikan tempat berdagang dan gudang ikan asin. Padahal, bangunan itu sangat bersejarah sebagai salah satu peninggalan Cina Benteng di Tangerang. Ia kemudian membeli bangunan bersejarah tersebut. Hanya dua petak yang bisa ia beli, karena pemilik yang satu petak lainnya tak berkenan untuk menjualnya. Toh, itu tak mengurangi spirit Udaya untuk merestorasi bangunan bersejarah tersebut, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur serta sebagai tempat studi perjalanan Cina Benteng di Tangerang.


Udaya menyebut dirinya sebagai salah seorang keturunan Cina Benteng. Bangunan bersejarah itu ia beli bukan untuk dijadikan tempat tinggal tapi untuk museum, untuk dijadikan tempat studi agar generasi ke generasi Cina Benteng tak kehilangan akar budayanya, tetap terhubung dengan para leluhurnya melalui museum ini. Dalam skala lebih luas, museum ini menunjukkan keberadaan Cina Benteng sebagai bagian dari perjalanan sejarah Indonesia, sebagai wujud nyata akan hakekat pluralisme.


Tentang kedatangan etnis Cina ke Tangerang, ada beberapa versi, sebagaimana dikemukakan Komunitas Historia Indonesia (KHI) dalam berita yang dilansirwartakota.co.id, Rabu, 24 Februari 2010 | 15:15 WIB, Heritage Trail ke Pecinan Tangerang:


Satu versi mengatakan, sebutan Cina Benteng tidak lepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun di pusat Kota Tangerang, tepatnya di tepi Sungai Cisadane, pada zaman kolonial Belanda itu, sekarang sudah rata dengan tanah. Pada saat itu, banyak orang Tionghoa Tangerang yang kurang mampu, harus tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul istilah "Cina Benteng".


Versi lain, dari kitab Sejarah Sunda, Tina Layang Parahyang, yang artinya Catatan dari Parahyangan, yang sudah menyebut daerah muara Sungai Cisadane, yang sekarang diberi nama Teluk Naga. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara Sungai Cisadane pada tahun 1407. Tujuan awalnya Jayakarta. Saat itu mereka menyebut wilayah Tangerang dengan nama "Boen-Teng". Berawal dari sebutan itulah mereka kemudian dijuluki Cina Boen Teng. Julukan itu lama-kelamaan berubah menjadi Cina Benteng yang mayoritas warganya menjalani kehidupan sebagai pedagang kecil, petani, buruh informal, atau pencari ikan di pinggir kali.


Restorasi bangunan ini menelan biaya yang tidak sedikit. Udaya melakukan semua ini dengan sepenuh hati. Berbagai ahli sejarah, khususnya Sejarah Cina, juga kalangan arsitek, ia libatkan dalam proses restorasi ini. Proses yang dilakukan adalah restorasi, dengan berusaha sesedikit mungkin melakukan perubahan terhadap bangunan bersejarah ini. Agar bangunan ini bisa bertahan dari generasi ke generasi, agar kelak tidak tergusur, kini Udaya tengah mengurus proses pendaftarannya ke lembaga internasional, The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), supaya Museum Benteng Heritage menjadi salah satu aset World Heritage. Saat ini, kekayaan bangsa kita yang sudah terdaftar di lembaga internasional tersebut: Borobudur Temple Compounds, Komodo National Park, Prambanan Temple Compounds, Ujung Kulon National Park, Sangiran Early Man Site, Lorentz National Park, dan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra.


Selain bangunan, benda-benda kuno yang ada dalam museum ini sungguh menakjubkan. Udaya terus berusaha menghimpun benda-benda serta sejumlah literatur yang ada relevansinya dengan Cina Benteng. Ia bahkan berburu sampai ke Universitas Leiden di negeri Belanda sana, demi penghormatannya serta terhubungnya dengan para leluhur. Juga, demi melengkapi bahan studi dari generasi ke generasi.


Dalam beberapa jam pertemuan dengannya, ia tak banyak bicara tentang dirinya serta aktivitasnya di luar urusan museum. Dari jawabannya terhadap pertanyaan seorang pengunjung museum tentang sebuah kursi yang ada di museum, sebagaimana saya temukan dalam blog bg440507.multiply.com, setidaknya kita mengenal sedikit mengenai apa-siapanya Udaya Halim ini. Jawaban ini sekaligus menjadi penutup catatan ini:


Bangku sekolah yang Bapak lihat di luar ini memang akan mendapatkan tempat di salah satu sudut Benteng Heritage. Karena tempatnya belum siap maka kami masih menaruhnya di bawah.


Bangku tersebut bukan bangku sekolah saya yang asli. Saya membelinya di Denpasar, Bali. Tapi, asalnya dari sebuah kota di Jawa Tengah. Sekolah saya (Baperki) sempat dibakar dan dijarah sewaktu kerusuhan tahun 1965. Spirit dari bangku tersebut, sebagai simbolik daritempat pembelajaran formal yang belum pernah seumur hidup sempat saya tuntaskan.


Jadi, makna bangku itu adalah representasi dari sekolah saya yang saya geluti sampai saat ini yaitu “UNIVERSITY OF LIFE”. Nah, bangku itulah simbolnya untuk mengingatkan saya pada masa lalu saya.

Isson Khairul

/issonkhairul

TERVERIFIKASI

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://v20106.kompasiana.com/issonkhairul Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://v20106.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://plus.google.com/+issonkhairul/posts dan https://twitter.com/issonisson Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana