PILIHAN

Berkunjung ke Tambang Emas Freeport: dari Atas Awan hingga Perut Bumi

29 Maret 2017 08:20:52 Diperbarui: 29 Maret 2017 11:16:26 Dibaca : 94 Komentar : 0 Nilai : 1 Durasi Baca :
Berkunjung ke Tambang Emas Freeport: dari Atas Awan hingga Perut Bumi
Pegunungan Jayawijaya - dipotret dalam penerbangan helikopter dari Mimika ke Tembagapura (dokumentasi pribadi)

Beberapa bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi kawasan tambang emas Freeport di Tembagapura, Mimika, Papua. Meskipun perjalanan kali ini dalam rangka kunjungan kerja menyisir geliat proses penambangan logam mulia itu dari dekat, namun bagi saya sendiri ini perjalanan yang lain dari sebelumnya.

Pertama, provinsi paling timur ini belum pernah saya kunjungi sebelumnya ini. Dari 34 provinsi, Papua merupakan salah satu dari lima daerah yang belum saya sambangi. Dan, pertamakalinya datang, langsung ke Freeport. Semoga lain waktu saya bisa ke Jayapura, Merauke atau Raja Ampat di Papua Barat.

Kedua, pulau dan provinsi Papua sendiri merupakan magnet abadi bagi saya sebagai orang Indonesia. Selain menyimpan pesona alam di tiap lekuk bentangnya, sebuah titik di Papua menjadi salah satu idiom kebangsaan : Sabang - Merauke.

Ketiga, terkait Tembagapura, kawasan pertambangan ini begitu melekat pada provinsi sebagai penghasil emas dan tembaga. Sedangkan Freeport, siapa sih yang belum mendengar nama perusahaan besar ini lantaran rajin diberitakan dan diperbincangkan terkait soal produksi, konsesi dan negosiasi dengan Pemerintah Indonesia.

Itu semua yang membuat saya begitu bersemangat sekaligus penasaran dalam perjalanan ke perut Bumi Cenderawasih. Kapan lagi kan bisa melihat dari dekat tambang logam mulia yang harga per tanggal 28 Maret 2017 mencapai Rp 590 ribu per gram (berdasar harga emas PT Aneka Tambang Tbk).           

Berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta pukul 20.00 WIB, pesawat Airfast Indonesia membawa kami terbang selama 6 jam tanpa transit. Ketika pintu dibuka usai roda pesawat menjejak aspal Bandara Mozes Kilangin, Timika, Mimika, angin dingin dini hari segera menerjang. Maklum saat itu waktu di Papua pukul 04.00 WITA, ada selisih wilayah waktu 2 jam antara Jakarta dengan Papua.

Setelah menghangatkan diri dengan teh, kopi dan sarapan, saya salat subuh di mushola bandara sambil menunggu hari terang. Saat itu pula, dibagikan jaket tebal. "Siap-siap untuk udara yang makin dingin," kata staf penjemput dari Freeport. Satu jam kemudian, kalau tidak salah ingat, pukul 06.00 tiga helikopter bergantian mendarat untuk menjemput kami. Dimulailah perjalanan inti ke Freeport.

Sejak heli Mi 171 buatan Rusia itu mengudara, tak henti shutter kamera ditekan merekam kabut pagi dataran rendah hingga mengabadikan selimut kabut dataran tinggi sejurus helikopter menelusuri punggung pegunungan Jayawijaya.

Setelah terbang 45 menit, tibalah kami di landasan heli Tembagapura, helipad Mile 66. Sebenarnya titik landasan berada di atas kota Tembagapura dan mesti melanjutkan dengan bus serta kendaraan operasional 4x4. Bus yang digunakan sejatinya berbasis truk, bermerek Western Truck, yang memang memiliki spesialisasi beroperasi di medan berat. Sedangkan mobilnya ialah Land Rover 4000 cc.


MOUNTAIN SICKNESS

Di titik ini, mulailah serangan mountain sickness menerjang saya. Syukurlah "hanya" berupa sakit kepala dan itupun tertutup oleh adrenalin yang dipicu antusiasme. Sedikit reda berkat teh panas di komplek penginapan tamu, dengan kepala mulai berdenyut kami segera melanjutkan perjalanan ke Grasberg.

Oya sebagai gambaran bagaimana saya mengalami mountain sickness level ringan, sepertinya disebabkan perbedaan ketinggian yang terbilang mendadak dan cepat. Dari Mimika yang merupakan dataran rendah tak jauh dengan tingginya permukaan air laut, saya dibawa menuju ketinggian 2000 meter (Tembagapura) dalam waktu kurang dari 1 jam. 

Lantas, selama 1,5 jam diantar ke Overlook Bunaken di Grasberg pada ketinggian 4285 meter di atas permukaan laut, alias lebih tinggi dibanding puncang Mahameru Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Total jenderal, hanya dalam waktu 2,5 jam saya "loncat" dari 0 meter ke 4000an meter. Tak heran jika pening kepala.


Di Grasberg, 4.285 mdpl (dokumentasi pribadi)
Di Grasberg, 4.285 mdpl (dokumentasi pribadi)

"BERTEMU" SALJU CARTENZ

Tiba di Bunaken, sebelum turun dari mobil, kami diingatkan untuk selalu mengambil napas dengan pelan dan melangkah serta bergerak dengan lambat. "Ini karena oksigennya tipis. Secara prinsip, kita berada di puncak gunung. Dan, jika merasa tak kuat, napas sesak, pusing dan lain-lain, segera istirahat," begitu kami diwanti-wanti.

Benar saja, baru berjalan lima langkah, kaki saya terasa berat. Seperti berjalan di bulan. Dada seperti sempit dan gerakan terasa sekali terbatas. Alhamdulillah, dua cangkir bandrek panas membantu melegakannya.

Di kawasan gardu pandang yang berupa hamparan luas ini, saya menyempatkan berfoto maupun memotret lanskap cekungan raksasa tambang Grasberg. Secara khusus pula saya bertanya kepada rekan pemandu tentang arah pandang ke Puncak Cartenz. 

Meski awan putih lumayan melingkupi pegunungan, puncak tertinggi di Indonesia masih dapat dilihat dengan mata telanjang. Lagi-lagi, lensa sapujagad 18-270mm pada kamera DSLR membantu "pertemuan" saya dengan salju abadi yang  makin menipis itu.

Masjid bawah tanah - Al Munawwar - 1700 di bawah permukaan tanah (dokumentasi pribadi)
Masjid bawah tanah - Al Munawwar - 1700 di bawah permukaan tanah (dokumentasi pribadi)

MASJID BAWAH TANAH

Kini, beralih dari atas tanah berganti ke perut bumi. Masih di Grasberg, saya dan rekan-rekan diajak memasuki area tambang bawah tanah deep mile level zone (DMZ).

Paling berkesan adalah ketika salat dhuhur dan ashar di Masjid Munawwar yang bersebelahan dengan Gereja Oikumene Soteria. Tempat ibadah ini berhak menyandang status istimewa lantaran berada di kedalaman 1700 meter di bawah permukaan tanah. 

Rekor MURI pun direngkuh oleh PT Freeport Indonesia bersama Rekor Dunia Masjid di Elevasi Tertinggi" di ketinggian 3.730 mdpl, Masjid Al A'raf. Salut!

Esok harinya, kami turun gunung kembali Mimika dan menuju Kuala Kencana. Kawasan ini merupakan kompleks perumahan untuk karyawan Freeport. Dari jendela bus Western Truck bongsor, terpapar aspal membujur mulus yang diapit pepohonan asri.

Rumah-rumahnya juga cantik berhalaman luas dengan rerumputan menghijau rapi. Hawa udara bersih, hembusan angin sejuk meski tetap terasa gerah di tengah hari. 

Setelah rehat makan siang di salah satu sudut Kuala Kencana, kami berkemas menuju Bandara Mimika untuk kembali pulang. 

Perjalanan ini yang singkat ini sangat berkesan. Rekan seperjalanan bahkan menyebut kesempatan seumur hidup, belum tentu dapat berkesempatan lagi menyusuri lipatan Papua, menggelanyut hingga negeri atas awan dan menyerusuk ke perut bumi Papua. ***  

Inung Gunarba

/inung_gunarba

Suka lari, seneng renang, demen jalan-jalan, doyan makan. Suami dari bundanya bocah laki-laki :). Lahir dan besar di Jogja, tinggal di Jakarta.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana