Kisah Mualaf (Jatuh Cinta Pada Islam Sejak di Perantauan)

19 Februari 2012 12:56:58 Dibaca :
Kisah Mualaf (Jatuh Cinta Pada Islam Sejak di Perantauan)
-

KISAH MUALAF

JATUH CINTA PADA ISLAM

KETURUNAN

Aku terlahir dalam keluarga yang memiliki perbedaan agama. Ayahku memiliki garis berketurunan Tionghoa, sedangkan ibuku, wanita berketurunan Jawa tulen. Perbedaan suku dan agama, tak lagi menghalangi cinta di antara mereka. Buktinya, kematianlahlah yang memisahkan rumah tangga orangtuaku selama berpuluh-puluh tahun.

Dari hasil pernikahan, mereka dikaruniakan 7 orang anak. Ditambah 1 anak, hasil pernikahan ayah sebelum menikah dengan ibuku. Jadi, keseluruhan anak ayah ada 8 orang, termasuk aku, anak (ragil) yang berjenis kelamin wanita.

Walaupun ayah dan ibu berbeda agama, namun mereka tak pernah mempermasalahkannya. Ibu diberikan kebebasan untuk tetap menganut agama Islam, sedangkan ayah, tetap pada ajaran agamanya. Mereka saling menghargai kepercayaan masing-masing, sehingga rumah tangganya tak selalu berselisih.

Setelah anak-anak terlahir, ayah dan ibu memberikan dua nama untuk kami, yaitu nama Thionghoa dan nama Indonesia. Namun pada kelahiranku, ayah tak memberikan nama China. Beliau hanya memberikan nama Indonesia saja. Entahlah, aku sendiri pun tak tahu mengapa. Mungkin karena anak ragil, sehingga tak perlu memakai nama Tionghoa.

Hingga abang-abangku besar, mereka diberikan kebebasan untuk menganut agama. Dan kesemua abang-kakakku, memilih agama ibuku, yaitu Islam sebagai agama yang dianutnya sejak kecil. Namun beda pula dengan kakak pertama, (Anak dengan istri pertama) dia justru mengikuti jejak ibu kandungnya. Yaitu nasrani.

Walaupun ibu dan abang telah memeluk Islam, namun aku tidak. Aku tak peduli dengan agama, (Mungkin karena masih kecil) jadi belum terpikir, agama apa yang harus aku pilih. Yang namanya anak-anak, mikirnya hanya bermain dan bermain. Lagipula, keluargaku tak begitu fanatik dengan agama. Makanya, jika di sekolah sedang ada pelajaran agama Islam, aku akan keluar kelas. Dengan begitu, aku tak pernah mengenal Islam lebih detil. Apalagi saat kecil, aku dekat dengan kakak pertamaku, yang bukan penganut agama Islam. Bahkan ketika duduk di bangku SD, aku telah diikrarkan untuk masuk ke agama nasrani.

Walaupun kami berketurunan Tionghoa, namun ekonomi keluarga kami biasa-biasa saja. Lingkungan kami beragam, ada orang Jawa, China, Sunda, dan  orang batak, dan penganut agama Islam. Mungkin karena itu, ibu dan abang-abangku tak pernah memaksaku untuk memeluk agama yang dianutnya. Katanya, demi kenyamanan hati. Mungkin ibu faham, agama tak bisa dipaksakan. Maka setiap hari Minggu, aku akan diajak oleh kakak pertamaku untuk sembahyang. Ibu di rumah juga shalat. Sedangkan ayahku, akan membakar dupa setiap harinya. Ya, walau kami memiliki keberagaman agama, namun kami hidup dalam keadaan aman-aman saja. Kami tak pernah mempermasalahkannya.

Namun begitu, aku pun tak pernah khusuk memeluk agama itu. Bebas. Kadang datang ke tempat sembahyang itu hanya untuk main-main dengan teman-teman saja. Jika sedang bermain dengan teman yang beragama muslim pun sama, aku keluar masuk masjid, (maklum, rumah dekat masjid, tapi juga bukan untuk mengaji. Ya, sekedar main-main. Hingga aku remaja, dan sekolah di SMEA.

Teman-teman di sekolah juga saling menghargai. Walaupun aku berteman dengan orang-orang muslim, baik di sekolahan, maupun dilingkungan kota kecil kami, mereka tetap menghargai agama yang aku anut. Mungkin karena mereka faham, keluargaku berketurunan Tiongha. Tak seorangpun mengucilkan kepercayaan kami. Semua orang di sekelilingku baik-baik. (Maklum, aku hidup di antara orang-orang Jawa asli) Mungkin karena semua agama mengajarkan untuk saling mengormati manusia lain. Pikirku. Berbeda dengan berita-berita yang sering aku lihat atau baca di Koran-koran, mereka sering merasa didiskriminasikan karena perbedaan kepercayaan. Ya, nasib aku beruntung, karena hidup di  lingkungan yang indah damai.

AWAL MULA TERTARIK PADA ISLAM

Lulus sekolah SMEA, keluargaku tak mampu lagi membiayai pendidikanku lagi. Akhirnya aku berpamitan pada orangtua untuk merantau ke luar negeri. Aku berproses ke Negeri Singapura. Kembali aku dihadapkan dengan perkumpulan orang-orang muslim di penampungan (PT). Ya, hidup di penampungan, banyak warna-warni ke hidupan yang sudah aku saksikan dan kupelajari. Sering aku melihat teman-teman di penampungan shalat malam. Namun begitu, aku belum memiliki rasa apa-apa pada agama ini.

Akhirnya, aku terbang juga ke Negara tujuan, Singapura. Boss kami mengerjakan 3 pekerja di rumahnya. 2 dari Indonesia, dan 1 dari Negara Pakistan. Temanku yang sesame Indonesia berasal dari Lampung. Ia muslimah yang lumayan taat. Terlihat dia sering shalat. Baik shalat siang, maupun shalat malam. Dia juga menghindari masakan yang berbaur babi. Dari sini, aku merasa heran. Mengapa dalam agama islam, babi tidak boleh disentuh, apalagi dimakan? Ada apa sebenarnya. Aku benar-benar penasaran dengan hal yang satu ini.

4 tahun lamanya aku berada di Negara tersebut bersama temanku itu. Dan kami tak pernah bermasalah. Sering kami ngobrol, atau diskusi masalah agama masing-masing. Aku bertanya soal babi, mengapa dilarang disentuh, bahkan dinajiskan. Bertanya soal shalat, apa yang diucapkan dalam shalat. Soal puasa sebulan sewaktu bulan ramadhan, dan lain-lain. Terus terang, walau keluargaku orang islam, namun aku tak pernah peduli dengan kegiatan keagamaan mereka. Aku tak peduli dengan shalat atau puasa mereka. Aku lebih dekat dengan kakak pertamaku, daripada dengan abang-abangku. Apalagi setelah mereka berkeluarga, tak ada yang tinggal bersama ibu. Semua misah. Dan aku rasa, apa yang diajarkan oleh agama ini, jauh berbeda dengan agama yang aku anut sebelumnya. Tapi bukan aku memburukkan agamaku sebelumnya, mungkin juga karena aku tak pernah konsisten pada agama. Istilahnya, agamaku itu, hanya sebatas embel-embel di KTP saja.

Dengan sabar pula, sahabatku ini menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku tentang Islam. Pada suatu malam, di tahun ke tiga, aku merasakan kegelisahan yang membuatku bingung. Berawal dari suara Takbir di Hari Raya Idul Fitri di tahun 2002, aku merasakan keanehan tersendiri. Aku merasakan ada getaran lembut yang menyentuh hatiku kala suara takbir berkumandang di gendang telinga. Padahal takbir tersebut hanya mengalun dari salah satu stasiun Radio di Malaysia. Namun entah mengapa, aku seolah merasakan kemeriahannya. Apalagi saat takbir tersebut, mengalun terus menerus, lama kelamaan bulu kudukku merinding mendengarnya. Subbhanallah….! Sungguh, inilah untuk pertama kali, lafaz ‘Allahu Akbar’menyentuh jiwaku.

Temanku menangis karena mendengar takbir dan faham arti dari lafaz itu. Ia juga rindu pada keluarga, karena pada hari itu, adalah hari special bagi agamanya. Namun berbeda denganku, yang justru merinding karena seolah ikut merasakan kedahsyatan kalimat tersebut. Aku sendiri heran, mengapa jiwaku merasa terpanggil, untuk mencari tahu tentang agama ini, agama yang membuat bulu kudukku merinding jika mendengar takbirnya. Akhirnya, perlahan aku mulai tertarik dengan Islam.

MENGUCAPKAN KALIMAT SYAHADAT.

Bermula dari sanalah, ketertarikkanku dalam Islam mulai menggebu. Aku semakin gencar bertanya ini dan itu pada teman serumahku. Dan dengan pengetahuannya, ia menjawab semua pertanyaan-pertanyaan seputar Islam dengan senangnya. Namun sayang, kontrak kerja memisahkan kami berdua. Setelah finish kontrak, aku pulang ke Tanah Air. Aku pernah berkata padanya, Insya Allah, aku akan memeluk Islam kelak jika aku telah di rumah. Mulai saat itu pula, perlahan aku menghindari makanan yang diharamkan islam. Khususnya babi. Dan belajar membaca buku-buku islami.

Sesampainya di tanah kelahiran, aku disambut hangat oleh keluarga. Tak satupun yang tahu tentang perubahanku. Setelah 3 bulan di rumah, mulai kutata hati untuk mengutarakan keinginanku, untuk memeluk islam pada keluarga. Subbhanallah, ayah dan ibu, beserta abang-abangku menyetujuinya. Mereka menyambut keinginanku dengan senang hati. Terlebih ibuku, beliau sangat bersyukur, dan gembira mendengar kabar ini. Ayah menasehatiku, jika benar-benar ingin memeluk Islam, harus konsisten. Jangan seperti dahulu, sewaktu masih kecil. Aku mengiyakan nasehat ayah. Bahkan sangat berterima kasih pada beliau, atas dukungannya.

Memang, tadinya ada perasaan takut sebelum aku mengutarakan keinginan itu pada ayah. Sebagai anak ragil, aku lumayan disayang oleh beliau. Sekolahku hingga SMEA, dan abang-abangku tak semua mendapatkan hak sepertiku. Mungkin ayah berharap, salah satu anaknya harus mengikuti jejaknya. Namun kenyataan berkata lain. Aku justru mengikuti jejak abang-abangku, menganut agama ibuku.

Walau begitu, beliau tak berkecil hati. Beliau faham, soal agama memang tak bisa dipaksakan. Yang terpenting bagi ayah, adalah saling menghormati. Sebab semua agama mengajarkan ummatnya untuk saling menghormati orang lain. Begitu juga dengan kakak pertamaku. Beliau tak memarahiku. Walau aku yakin, mungkin ada rasa kecewa dalam hatinya, namun begitu beliau tetap mengembalikan segala keputusan di tanganku.

Berbekal sedikit ilmu tentang Islam selama di Singapura, dan tekad yang kuat, akhirnya aku meminta pada Ustadz di masjid di daerah kami, untuk mengikrarkanku menjadi seorang muslim. Subbhanallah, akhirnya, setelah melalui pemikiran yang lumayan panjang dan rumit, di akhir tahun 2003 aku mengucapkan kalimat dua syahadat dengan lancar di dalam masjid, yang dulu sering untuk bermain-main semasa kecil.

Tak terasa, airmata bercucuran deras dari pipiku, begitu juga orang-orang di sekelilingku. Terutama ibuku. Wanita yang melahirkanku, yang mulai renta itu, menangis bahagia melihat putrinya mendapatkan hidayah.

Sungguh ada perasaan tenang tersendiri setelah mengucapkan kalimat itu. Entahlah, aku tak mampu membayangkan perasaan itu. Tenang, yang menenangkan jiwaku. Juga masih tak percaya, antara senang, dan bangga, karena akhirnya kutemukan juga pencarianku selama ini. Mereka yang menyaksikanku mengucapkan kalimat dua syahadat itu terharu dan mengucapkan selamat atas pilihan hidupku. Mereka menyalamiku, sambil memeluk erat tubuhku. Airmata kami tumpah di sana. Ya, didalam Masjid, meleleh bersama Pak Imam dan para saksi. Terutama saksi yang abadi, Allah, Tuhan yang Esa.

BELAJAR MENGENAL ISLAM SECARA OTODIDAK

Mulai saat itu, resmi sudah aku menjadi seorang mualaf. Saudara baru bagi kaum muslim. Entahlah, jiwaku merasakan ketenangan tersendiri setelah memeluk agama baru ini. Apalagi jika telinga mendengarkan suara adzan. Dadaku seolah bergelombang-gelombang halus. Ayah juga akan mengingatkan aku untuk shalat jika seruan adzan terdengar.

Walaupun aku belum mengerti sepenuhnya tentang shalat, namun cukup aku mengikuti gerakkan imam. Dulu sewaktu di Singapura, temanku mengajarkan bagaimana cara berwudhu dan shalat padaku. Jadi, walaupun belum faham benar, aku shalat hanya dengan gerakan-gerakan fisik saja.  Terus terang, aku lebih suka belajar sendiri. Aku tak mau merepotkan oranglain, terutama pada ibu, beliau terlalu tua untuk mengajariku.  Sedangkan abang-abangku tak tinggal bersama kami.

Setelah 4 bulan di kampong  halaman, aku kembali ke penampungan. Kali ini ingin mencoba nasib ke Negara Beton, Hong Kong. Selama lima bulan lebih, aku hidup di penampungan. Dua bulan pertama, aku sudah mulai belajar bacaan-bacaan shalat dari teman-teman yang sama-sama hidup di penampungan. Bahkan saking bahagia dan semangatnya, aku hafal ayat kursi. Aku tak malu bertanya ini dan itu, dan minta di ajarkan doa-doa lainnya. Alhamdulillah, teman-teman se PTku lumayan baik-baik. Hingga aku bisa menyesuaikan diri dengan mereka.

Teringat bagaimana dulu ketika shalat berjamaah di PT. Wudhunya itu harus antri, sambil menunggu giliran, kuamati gerakan-gerakkan wudhu teman-teman. Dari mengucapkan basmallah, mencuci kedua telapan tangan, berkumur, membersihkan hidung, membasuh muka, mencuci kedua tangan, mebersihkan pangkal rambut di dahi, membersihkan telinga, dan yang terakhir mencuci kaki. Ya, aku perhatikan setiap gerakan mereka. Alhamdulillah, karena sering mempraktekkanya, akhirnya aku mulai bisa dan hafal.

Begitu juga dengan shalat, senang rasanya bisa shalat berjamaah dengan teman-teman di PT. Orang-orang bilang, shalat berjamaah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian. Waktu itu aku belum faham benar soal pahala. Yang kutahu, imam membaca bacaan dengan keras, sementara kami hanya mengaminkan jika mendengar surat alfatihah. Ya, aku hanya berdiri, lalu ikut mengamini imam, dan mengikuti gerakan-gerakan teman-teman. Waktu itu, aku baru bisa membaca surat Al-Fatihah saja. Jadi shalatku, ya hanya berisikan surat Alfatihah. Namun begitu, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa dengan shalat itu.

Dan seiring berjalannya waktu, aku makin rajin menghafal bacaan-bacaan shalat. Baik bacaan-bacaan niatnya, maupun bacaan-bacaan lainnya di dalam shalat. Seperti ketika ruku, sujud, duduk tahyat awal dan akhir, dan lain-lain. Sungguh, walaupun aku baru mengerti sedikit tentang islam, namun aku benar-benar jatuh hati, dan makin termotivasi untuk terus mempelajarinya.

Setelah 5 bulan lebih di penampungan, akhirnya aku terbang juga ke Hong Kong. Alhamdulillah, mendapatkan majikan yang lumayan baik. Bisa mengerjakan shalat, dan menghindari masakan babi. Karena kebaikkan majikan pula, mempermudahkan langkahku untuk terus mendalami islam.

Setelah satu tahun di Hong Kong, aku mulai mengenal berbagai organisasi keagamaan. Demi memperdalam agama yang kucintai, akhirnya aku masuk ke salah satu organisasi Islam. Di sana, aku berbaur dengan teman-teman yang agamanya lebih bagus. Dan ini kesempatanku untuk terus menggali ilmu dari mereka. Apalagi, organisasi ini juga memiliki sebuah perpustakaan. Banyak buku-buku islami yang bisa aku baca dan ku bawa pulang.

Aku termasuk orang yang suka membaca buku sejak kecil. Makanya, setelah melihat buku-buku materi islami, hidayah, novel, nonfiksi atau buku-buku lainnya, di perpustakaan, aku langsung tertarik untuk memasukinya. Datang ke organisasi paling awal, lalu duduk di pojok, sambil khusuk melahap buku-buku tersebut. Terkadang, teman-teman pun heran dengan hobbyku yang satu ini.

Dari sanalah, aku banyak-banyak belajar tentang dunia islam yang indah ini. Subbhanalah….aku benar-benar merasa bahagia, telah memeluk agama yang paling diridhai Allah ini. Karena dari buku pula, aku banyak memahami hadist-hadist rasul, dan tuntunan islam lainnya. Bahkan bisa dibilang, sebelum aku mengenal islam lebih jauh, buku-bukulah yang mengantarkanku untuk lebih dulu memahaminya.

Terus terang, aku banyak belajar islam secara otodidak. Baik dari membaca buku-buku maupun bertanya pada teman-teman. Maklum, hidup dalam perantauan yang negaranya non muslim. Lagipula, aku tak mau menyusahkan teman-teman yang sama-sama bekerja sebagai TKW di negeri perantauan ini. Pertemuan kami hanya seminggu, maka waktu sehari itu, aku isi dengan belajar dan banyak bertanya ini dan itu.

Dan kendala yang terasa berat, adalah belajar membaca Al-Qur’an. Aku kesusahan untuk belajar iqra, apalagi membaca Al-Qur’an. Mungkin karena aku bukan anak-anak lagi, usiaku sudah tergolong tua untuk belajar dari awal. Pikiran telah bercabang-cabang, sehingga tak bisa lagi konsentrasi belajar. Seperti memikirkan pekerjaan, orangtua, mikir masalah ini dan itu, dan lain sebagainya. Maka dari itu, kuakui, belajar membaca A-Qur’an terasa agak berat. Berbeda dengan anak-anak, mereka yang belum memikirkan kebutuhan hidup, akan lebih cepat mengingat huruf-huruf atau nahafan-hafalan lainya. Namun begitu, aku tak pernah mengaku kalah untuk belajar. Karena setiap minggunya, aku akan belajar iqra di organisasi tersebut.

COBAAN HIDUP

Hingga kini, 11 tahun sudah aku menjadi seorang muslimah. Suka dan duka, silih berganti mewarnai kehidupanku. Alhamdulillah, perlahan hidupku mulai tertata. Bisa shalat, puasa, zakat, dan lain-lain seperti muslimah lainnya.

Dan seiring bergulirnya waktu, selama 11 tahun pula, coaan demi cobaan telah kulaui dengan sabarnya. Walau kuakui, terkadang aku merasa lelah karena cobaan-cobaan tersebut, namun aku sadar, Allah tak akan memberikan cobaan pada hambanya melebihi dari kemampuan hamba itu sendiri.

Bukan pula aku mengatakan, cobaan datang setelah memeluk agama Islam. Bukan…!. Aku yakin, bukan karena pergantian agama, cobaan itu datang karena semua mahluk hidup itu pasti akan merasakan suka dan duka. Itulah yang di sebut pelangi kehidupan. Adakalanya kita terlihat merah, biru, dan lain-lain. Karena pelangi itu memiliki keindahan warna. Tanpa warna, langit akan terlihat pucat. Begitu juga dengan kehidupan, tanpa adanya suka dan suka yang silih berganti, pasti akan terasa hambar.

Pernah seorang ustadz berkata, semalang-malangnya orang, adalah mereka yang belum pernah kecurian, atau terkena musibah. Terus terang, aku mengernyitkan dahi, mengapa demikian? Kembali beliau berkata. Karena dengan kecurian (kemalingan/kehilangan) kita hakikatnya sedang diperingatkan. Ada hak orang lain dalam diri harta tersebut, yang sudah seharusnya berbagi. Yaitu dengan sodakoh, atau infaq untuk para yatim dan kaum dhuafa.

Begitu juga dengan musibah. Dengan adanya musibah, misalkan kita sakit, hakikatnya kita sedang di ingatkan pula, bahwa tubuh perlukan hak-nya. Jangan berlebihan dalam memakan makanan yang tidak baik bagi badan, misalkan sambal, atau rokok, apalagi minuman yang di haramkan. Selama sakit, kita sedang di suruh untuk intropeksi diri, agar sehat kelak, kita pandai-pandai menjaga tubuh dan lain sebagainya. untuk menghargai waktu sehat kita.

Dan cobaan yang paling besar adalah ketika aku telah menikah. Sebagai seorang mualaf, tentunya aku inginkan seorang pendamping yang mampu membimbingku dalam mengerjakan ibadah. Pernikahanku dengan suami di landasi cinta. Kami berpacaran 8 tahun lebih lamanya, sebelum aku memeluk islam. Ya, kami berpacaran ketika kami sama-sama duduk di bangku sekolah SMEA. Akhirnya, setelah aku pulang dari Hong Kong, kami melangsungkan pernikahan.

Namun sayang, pernikahan tak langsung lama. Suamiku ternyata tak mampu membimbingku. Dia tak mampu menjadi seorang imam bagi keluarga kecilnya. Dia yang kuanggap orang islam yang baik, justru sebaliknya. Ia tak pernah melakukan shalat, puasa, ataupun ibadah lainnya. Setelah kami menikah, ia bahkan tak ubahnya seperti lelaki yang tak menikah. Sebagai seorang istri, ingin sekali aku shalat berjamaah bersama suamiku. Mungkin damai rasanya. Namun sayang, ketika aku ajak shalat, dia selalu mengelak. Bukan sekali dua kali, namun setiap kali. Ya, setiap kali aku ingatkan dia untuk shalat, dia justru mengataiku kalimat-kalimat yang tak baik, yang tak seharusnya kutuliskan di lembar yang sempit ini. Masya Allah…!

Walau begitu, aku tetap sabar dengan kekurangannya. Hingga lama. Dia tak berubah. Dia yang kukenal selama 8 tahun lebih lamanya, dari sekolah hingga ke Singapura dan Hong Kong, justru tak berlangsung lama kebersamaanya. Demi Allah, aku memahami, bahwa perceraian itu sangat dibenci oleh Allah, namun demi kelangsungan hidup kami, maka aku putuskan untuk  berpisah. Yang lebih menyakitkanku lagi, suamiku ternyata memiliki wanita simpanan lain di hatinya. Tiada kuduga, wanita itu adalah sahabatku sendiri yang telah mengenalkan islam dari Singapura. Pendek kata, selama 4 tahun lebih, kami telah berbagi kasih. Suamiku telah memadukan aku dengan sahabatku di Singapura.

Ya, sangat terasa menyakitkan, cinta jarak jauh membuatku trauma. Akhirnya, aku kembali ke HK, dengan harapan baru. Yaitu ingin konsentrasi beribadah, dan mencari modal sebelum memiliki keturunan. Kuakui, cobaan setelah memeluk Islam itu, bukan dari orang lain, namun justru dari suamiku sendiri.

HIKMAH BESAR SETELAH MEMELUK ISLAM

Setelah aku sampai di Hong Kong, kembali aku menata hidup yang pernah tercecer. Kuakui banyak hikmah yang bisa kuambil dari musibah-musibah yang pernah kualami. Dulu, sebelum aku memeluk Islam, aku jarang menangis. Mungkin bahkan tak pernah menangis. Namun setelah aku memeluk agama yang Indah ini, aku jadi sering menangis. Sering merasa bersalah, bahkan berdosa, hingga harus memohon ampunan pada Allah.

Dulu, aku tak pernah mengenal kalimat istighfar, sehingga ketika hati di landa gundah gulana, jiwa terasa hampa, karena tak tahu harus kemana kuadukan masalah tersebut. Namun setelah aku memeluk Islam, dan memahami banyak kalimat serta doa, maka aku akan segera beristighfar, memohon ampunan pada Allah semata. Ketika senang, dengan spontan akan berucap Subbhanallah, atau Alhamdulillah. Ketika akan memulakan aktifitas, akan berucap basmallah. Ketika mendengar orang terkena musibah, bibir segera beristirja. Ya, dengan kalimat-kalimat ini, jiwa akan terasa tenang. Bahkan terasa dekat dengan Sang Khaliq. Itulah perbedaan yang terasa bagiku.

Jika bingung untuk menentukan sikap, aku akan shalat malam, dan berlama-lama mengadukan kerisauaku pada Allah. Sungguh, semakin aku mengenal tatacara dan kehidupan Islam, aku benar-benar semakin jatuh cinta pada agama ini.  Di Islamlah aku mengenal kesabaran, tanggung jawab, dan kebersihan. Karena dalam islam, kebersihan adalah sebagian dari iman.

HARAPAN BERSAMA ALLAH KE DEPAN

Tak muluk-muluk harapanku dalam hidup ini. Ingin memperkokoh, dan mendalami pondasi iman. Menjauhi semua larangan-laranganNya, dan mematuhi setiap aturan-aturanNya. Menyadari bahwa nyawa bisa di cabut kapan saja, maka aku ingin kembali padaNya, dalam keadaan khusnul khotimah. Aku ingin seperti muslimah lainnya. Istiqomah dalam melakukan shalat, dan belajar membaca Al-Qur’an hingga khatam. Hidup apa adanya, karena mensyukuri nikmat dariNya.

Ingin menutup semua masa lalu, dan menjadikannya ia sebagai pelajaran ke depan. Memaafkan, dan mengiklaskan masa lalu, dan menjelang masa depan dengan pikiran yang iklas karena Allah Ta’ala. Dan sebagai muslimah, aku ingin memiliki suami yang baik, yang taat pada agama, serta bertangung jawab. Karena kelak, aku ingin melahirkan generasi yang baik, sebagai penerus agama.  Anak-anak yang shaleh, keluarga yang sakinah, mawadah warrahmah, dan iman yang kuat. Jika Allah perkenankan, aku ingin melakukan ibadah Haji ke tanah suci, kelak. Amin (*)

Bayu Insani

/insani

Mantan BMI HK. Ibu rumah tangga yang tak mau diam. aktif apa saja.....:)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?