#Indonesiajujur : (Mungkin) Karena Kita Yang Menjaganya.

13 Juni 2011 10:56:00 Dibaca :

Suatu hari, tercium bau busuk yang sangat menyengat dari halaman tetangga sebelah. Tentu saja ini sangat mengganggu tetangga-tetangga yang lain. Apalagi saat pagi menjelang, belum banyak aroma yang menguar ke udara yang dihirup. Semua tetangga mengeluh, protes, marah, menegur pemilik halaman bahkan ada yang memaki.


Kebetulan, tetangga yang halamannya bau busuk itu sudah sepekan tidak pulang ke rumah itu. Ajaibnya, semakin hari sampah semakin bertumpuk di halamannya. Darimana kah asalnya?


Ah, selidik punya selidik, ternyata pagi atau sore hari ada yang dengan ringan ‘meletakkan’ isi tempat sampahnya ke halaman rumah itu. Toh, rumahnya seperti tidak ada penghuni. Kebetulan yang lain, tidak hanya satu yang melakukannya, sehingga sampah menggunung tinggi dan menyebar aroma yang tidak disukai.


Sementara di tempat lain. Hujan mengguyur dengan deras dan banjir tidak terelakkan. Masuk ke banyak rumah, membuat banyak kendaraan mogok, membuat jalanan tersendat bahkan putus. Sedih dan miris rasanya.


Belum kering banjir yang menyusahkan itu, saat dengan mudahnya ‘pluk’ plastik-plastik, kertas dan berbagai sampah dibuang ke sungai, got, dan tempat-tempat yang seolah menjadi Tempat Pembuangan Akhir. Bahkan, ketika ditanya tahukah akibatnya, semua mengatakan tahu.


Selalu ada sebab yang menyebabkan akibat. Saat itu terjadi dan akibatnya menimbulkan kesulitan, protes, cacian, makian dan semua amarah diluapkan ke pihak-pihak yang bisa dijadikan sasaran. Selalu berulang…


Siang menjelang sore, dia mengendap-endap masuk rumahnya. Dipegangnya erat tas yang disandangnya, seolah tak mau melepaskannya. Ada sesuatu yang berharga di dalamnya. Perlahan-lahan langsung masuk kamar dan sebisa mungkin tidak meninggalkan deri di pintu. Terbayang wajah-wajah yang akan memarahinya,


“Kenapa bisa dapet nilai segini?” ibu yang pertama kali bertanya.


“Kamu belajar enggak sih? Gitu aja ga bisa?!!” ayah kali ini yang meradang.


Padahal tadi di sekolah dia sudah sangat malu dengan teman-teman karena nilainya masuk jajaran Top Ten terendah di kelas. Padahal juga dia sudah berusaha memaksa si Pintar untuk memberi tahu jawaban dari soal-soal yang diujikan. Arggghhhh!!!


Terbayang juga ujian akhir yang sebentar lagi akan datang. Membayangkan deretan-deretan angka minimal yang harus didapatkan. Agar tidak malu, agar orangtua juga tidak malu dengan tetangga, saudara dan teman-teman kerja mereka. Agar bisa melanjutkan sekolah lagi, tidak berhenti karena angka minimal saja tidak bisa diraih. Agar biaya yang keluar tidak sia-sia, apalagi sekolah sudah menjadi barang mewah, yang dipamerkan seperti barang-barang di etalase. Rasanya kata pendidikan sudah menjadi barang langka.


Lalu bagaimana? Semua sudah ditetapkan. Angka-angka pada nilai lah yang menjadi rajanya. Terserah dengan apa yang terjadi selama tahun-tahun menempuh pendidikan. Itu menjadi tidak penting lagi baginya.


Ah ya, dia teringat saat kakak-kakak kelas ujian akhir tahun lalu. Semua mendukung agar kakak-kakak kelas lulus, tanpa ada tersisa satu pun. Berbagai macam dukungan. Termasuk ‘saling membantu’ antar sesama teman. Itu efektif! Pertanyaannya, “Boleh kah?” Hmmm…Bukan kah di sekolah lain juga begitu? Semua juga tahu.


Ouw, tapi tahun ini semua rencana ‘baik’ membantu kelulusan itu buyar! Al, anak ibu Siami itu sok suci! Mengadu ke ibunya karena dia diminta untuk ‘membantu’ agar ujian berjalan lancar oleh wali kelas. Bahkan Al sudah diplot sejak 3 bulan sebelum UNAS. Al bersikeras tidak mau. Kenapa sih?


Ibunya Al, Ibu Siami malah datang ke sekolah, bertanya ke kepala sekolah, bertanya ke komite sekolah, mengadu ke Diknas dan akhirnya ke media. Tentu saja ini menjadi pemberitaan yang luas.


Memangnya kenapa kalau ada desain tentang contek-mencontek? Semua anak sekolah juga ingin lulus.


Begitu lah akibat ‘penentangan’ Ibu Siami. Warga mengusirnya sambil mencaci makinya. Kemudian memaksa Ibu Siami untuk meminta maaf atas apa yang diperbuat.


Dengan tangan gemetar dan ketegaran yang dipaksakan, Siami kembali berucap, “Saya tidak menyangka permasalahan akan seperti ini. Saya hanya ingin kejujuran ada pada anak saya. Saya sebelumnya sudah berusaha menyelesaikan persoalan dengan baik-baik.” (Surya Online. Red)


=@=


Mungkin kah kita yang melahirkan, memelihara, membesarkan dan menjaga para pembohong yang menimbulkan begitu banyak bencana di negeri ini? DI NKRI yang (katanya) kita cintai ini?


Sejak kecil kita yang mendidik agar jauh dari JUJUR, agar tidak JUJUR.


Kita hanya bisa menuntuk hak, tapi tidak mau (tahu) menjalankan kewajiban. Seperti lingkaran setan yang tidak ada celah untuk memutuskannya.


Oksimoron?


Apapun pilihannya, JUJUR YANG MENJADI RAJANYA.




mona ^_^

/inimona

Chocolate lover | Travelling holic | Lovely alone
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?