Perempuan Tak Berguna

15 November 2011 01:10:28 Dibaca :

Kalau saja saya tahu dari semula awal pertengkaran mereka, mungkin saya tak akan menyesal sampai sekarang. Menyesal karena telah berlaku kasar pada buah hatiku sendiri. Ya pada gadis kecilku yang waktu itu masih kelas 2 SD.

Sore itu saya baru saja menidurkan anak bungsu yang rewel seharian. Tiba-tiba anak pertama teriak manggil, "Mamaa, tuh Neng ngatain mamanya Eris. Neng bilang mamanya Eris perempuan tak berguna!" Dengar teriakan seperti itu, saya begitu marah, kecewa. Dalam benak saya hanya terpikir betapa kurang-ajarnya anak perempuan saya. Neng, panggilan sayang  Gaby Nurmatami, anak kedua kami, gadis kecil yang sehari-harinya kami ajarkan kesantunan.

Dengan kemarahan diubun-ubun kepala, langsung saya keluar rumah. Saat itu Neng sedang bersama teman-temannya di depan rumah kami. Dia kaget waktu saya panggil namanya dengan keras. Saya tarik tangan kecilnya dengan tarikan sekuat tenaga, sekuat tenaga tangan perempuan dewasa. Dia hanya menatap dengan tatapan melongo tak mengerti apa yang terjadi. Mungkin karena kaget, sakit dan malu, air mata meleleh keluar merembes ke pipinya. Saya seret Neng masuk ke dalam rumah. Saya cengkram kedua lengannya sambil mengguncang-guncangkan badannya,

"Neeeng, ko' ga sopan sama orang tua, ayo tadi bilang apa sama mamanya Eris!"

Bukannya menjawab Neng malah nangis sesenggukan.

"Neeng, ayo jawab tadi bilang apa?!!" Emosi saya tambah memuncak.

"Tadi Neng bilang mamanya Eris perempuan tak berguna, Ma"  jawab Kakak, anak pertama kami.

Saya lihat ada sedikit senyum kemenangan dari sudut bibirnya.

Deg! Saya merasa ada yang ngga beres. Seketika saya sadar, ini pasti hanya pertengkaran anak-anak. Ada anak yang bertipe jika merasa lemah mengadu ke orang tua minta dukungan. Saya tarik nafas menenangkan hati.

"Tadi Neng bilang ke mamanya Eris begitu?" tanya saya pelan ke Neng.

Neng menggelengkan kepalanya.

"Terus gimana dong ceritanya.." Rasa bersalah mulai menyelimuti saya.

"Tadi kan main kata-kataan. Kakak ma temen-temennya bilang enakan jadi cowok. Terus kata temen-temen Neng  enakan jadi cewek. Terus Eris bilang 'Dasar, perempuan tak berguna'. Neng bilang aja  'Kalo perempuan tak berguna, nah nyokap lo' perempuan, ga berguna juga dong..'' Neng jelasin masih dengan linangan air mata.

Ya ampuun, betapa ga bijaksananya saya. Terlalu emosi, setan merajai perasaan saya. Ngga ada yang salah dari omongan Neng. Saya yang salah, sudah memarahi anak yang berpikiran kritis. Terlalu percaya pengaduan anak pertama. Harusnya saya tanya baik-baik dulu Neng bukannya malah berlaku kasar seperti tadi. Ahh kasian, betapa sakit tangannya waktu saya seret masuk rumah, betapa terluka hatinya kekasaran saya dilihat teman-temannya. Penyesalan memang selalu belakangan.

Kejadian tersebut sudah belasan tahun yang lalu. Sejak saat itu saya tak pernah lagi langsung percaya aduan anak-anak. Bulan november ini, Neng menginjak usia 21 tahun. Rasanya baru kemarin Neng masuk TK Mutiara Indonesia, SD 03 Cipinang Melayu, SMP 109, SMA 81, dan sekarang di FH UI. Terbayang gimana Neng protes setiap masuk ke jenjang sekolah berikutnya, karena Neng selalu punya pilihan lain dari sekolah tersebut diatas. Mungkin karena pengaruh dari teman-temannya. Di wilayah kami sekolah-sekolah tersebut sekolah favorit dan enaknya, kecuali yang TK, ada dilingkungan tempat tinggal kami.

Yang paling sulit waktu Neng pilih kuliah, selain di FH UI Neng diterima juga di Fikom Unpad. Neng ngotot mau ambil Fikom Unpad, saya punya pandangan lain. Saya ingin Neng masuk UI, karena rasanya hati saya belum bisa rela melepas Neng kost di Bandung. Saya merasa setelah lulus kuliah Neng akan nikah, terus dibawa suaminya, saat kuliahlah masih ada waktu bersama saya dan keluarga. Saya juga bilang ke Neng, 'di keluarga Mama belum ada yang kuliah di UI, betapa bangganya Mama dan Emih, Neng bisa kuliah di UI'  Akhirnya Neng  masuk UI dengan permintaan giginya pakai behel. Hehehe.

Sekarang Neng sudah besar,  bukan anak-anak lagi. Saya bilang Neng, 'waktu Mama umur segitu Mama udah punya Neng yang lagi lucu-lucunya.' Neng hanya tersenyum. Di kehidupannya, saya dan Papanya berusaha semampu kami beri yang terbaik buat Neng. Tak jarang saya dan Neng berbeda keinginan, beradu pendapat, biasanya salah satu harus ada yang mengalah.

Sebulan lalu tanpa sengaja saya baca tulisan Neng. Saya terharu membacanya: Anything. Everything. To make my mom proud. My goal for my entire life. I promise that. Dan tulisan waktu saya ulang tahun: Happy Birthday my dearly beloved mother. I love you, wholeheartedly. Stay young mom! ♥♥♥ Selamat ulang tahun Gaby Nurmatami. Semoga ALLAH selalu kasih yang terbaik buat Neng. Terima kasih sudah menjadi anak yang baik dan membanggakan Mama Papa. Mama doakan skripsi Neng lancar, tak terganggu, meski kita semua saat ini harus hadapi yang menyakitkan. Mama tau Neng pintar. Neng pasti kuat, pasti bisa. Mama sayang Neng. Papa juga sayang Neng. Apapun yang nanti terjadi, selamanya akan selalu sayang, ga ada yang berubah. Maafkan Mama...

Irma Rithin

/imarithin

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Hidup adalah pilihan.....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?