HIGHLIGHT

Belajar CJ dari Pendiri Kompasiana

04 Juni 2012 11:25:06 Dibaca :

Wah, Pepih Nugraha lagi-lagi menginjakkan kakinya di Kota Daeng, Makassar ini. Kali ini ia datang bukan membawakan blogshop seperti yang selalu ia bawakan. Ia datang sebagai pembicara dalam workshop bertemakan Citizen Journalism di UIN Alauddin. Ringkas, workshop ini merupakan salah satu rangkaian wvent yang digelar oleh media Kompas, KompasKampus.

Tentu, saya tak ingin melewatkan momen ini. Sebisa mungkin saya harus bertemu "lagi" dengan Pepih Nugraha. Berdiskusi dengannya sangat interest dan mencerdaskan. Pernah saya melakukan sedikit wawancara dengannya usai membawakan materi di event Blogshop Kompasiana. Kesan saya: orangnya ramah. Hehe...^_^

Jauh hari malah saya berencana untuk mengundangnya sekadar berkunjung ke redaksi lembaga jurnalistik kampus kami, Profesi UNM. Akan tetapi, jadwal seharinya dengan agenda yang padat tidak membebaskannya untuk bisa berkunjung kesana. Yaa...padahal saya ingin memperkenalkan Kompasiana lebih jauh kepada teman-teman saya di redaksi.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Tidak di redaksi, maka sedari awal saya sudah berniat untuk mengikuti workshop Citizen Journalismnya Bang Pepih. Dimana ada Pepih Nugraha, disana harus ada saya. Hehe...

KompasKampus Sepi Audiens

Pukul 1 siang lewat, saya dan seorang teman saya sudah sampai di lokasi workshop, berbekal navigasi dari teman saya karena saya lupa-lupa ingat dengan jalanan ke kampus ini. Suasana yang kami temui di lokasi kegiatan KompasKampus ini, bisa dibilang sangat sepi. Malah, saya sempat ragu-ragu, "Apa benar disini ada acaranya Kompas?". Hanya umbul-umbul dan booth sponsorlah sebagai penanda adanya kegiatan. Suara-suara MC juga hanya terbang melayang-layang di udara. Sepi audiens.

Jika menilik acara Kompas di event Kompas MuDA Creativity, masih kalah jauh kemeriahannya. Event kali ini jauh lebih (sangat) sederhana. Tidak ada embel-embel hujan voucher tiket bioskop. Ya, untung lah ada sertifikatnya. Hehe..yang penting dapat ilmunya, kok.

Sebenarnya, jika berpatok pada jadwal, saya dan teman saya sudah terlambat. Namun, untuk materi Bang Pepih, saya tidak terlambat. Saya juga bertemu dengan kakak saya di Profesi UNM, Ilham Arsyam. Setahu saya, saat ini dia bertugas sebagai reporter salah satu media anaknya Kompas, Tribun Timur. Beruntung pula, saya bisa mengikuti materi sampai selesai. Bahkan saya bisa sekadar nimbrung melontarkan pertanyaan padanya. Lagi-lagi saya harus berbekal keberanian.

Apa saja yang disampaikan Pepih Nugraha?

Kali ini bukan tentang bagaimana caranya menulis. Ataupun perihal Kompasiana dan blog-blognya. Ia lebih fokus pada tema yang telah ditentukan sejak awal, citizen journalism (CJ). Meskipun salah satu wahana untuk CJ itu adalah Kompasiana.

Sebelum memulai pemaparannya, beberapa slide berganti dari scenenya. Beberapa memperlihatkan peristiwa-peristiwa yang menurut Pepih merupakan kejadian yang diliput oleh warga untuk pertama kalinya. Salah satunya, kejadian Tsunami di Aceh. Ia kemudian terus bertanya, "Dimanakah wartawan-wartawan profesional itu?" setiap kali ia usai menceritakan kejadian-kejadian yang diliput eksklusif oleh warga. Maka, itulah pentingnya CJ.

Menurut teori, CJ itu merupakan peristiwa yang sedang atau telah terjadi diliput, dilaporkan, disebarluaskan warga melalui beragam media yang dapat diakses oleh publik. Begitu yang ditampilkan oleh slide milik Bang Pepih.

Untuk menulis laporan CJ pun tidak begitu rumit. Kita bisa menggunakan bahasa sendiri, selama bahasa itu masih dianggap sopan di kalangan dunia nyata. Karena, menurut Pepih, kode etik menulis CJ itu tidak jauh berbeda dengan etika di dunia nyata. Jadi, kesopanan di dunia nyata, kesopanan itu pula di dunia maya. Meskipun demikian, tidak memungkinkan seorang jurnalis warga disamakan dengan seorang wartawan resmi.

Media-media pers resmi tidak perlu takut dan khawatir dengan menjamurnya CJ. Karena kategori CJ tidak sama dengan berita-berita mainstream. Ada berita yang bisa dituangkan dalam wawasan jurnalisme warga, adapula berita yang hanya bisa dilaporkan melalui media-media mainstream. "Yang dibutuhkan untuk membedakan peristiwa-peristiwa mana yang bisa dilaporkan sebagai CJ atau bukan adalah dengan insting jurnalistik," ungkap jurnalis Kompas ini.

Sayang sekali, Bang Pepih harus mengakhiri paparannya setelah hampir dua jam. Beberapa lontar pertanyaan dari mahasiswa juga dijawabnya. Padahal, saya masih ingin banyak berbagi dengannya. Apalagi dia juga belum sempat berkunjung melihat-lihat redaksi kami. Kapan-kapan kalau ke Makassar lagi, datang ya, Bang Pepih!

Saya juga banyak berbincang dengan orang di sebelah saya yang ternyata Kompasianer juga, Pak Irwan. Saya ingat, dia pula yang pernah hadir di Blogshop Kompasiana tempo lalu. Saya pun banyak belajar dari Pak Irwan, yang juga sangat bersemangat dan bisa dikatakan sangat ambisius. Tapi, saya akui usahanya memang sungguh luar biasa. "Yang penting kita berani saja," ujarnya dengan logat Ambonnya.

Ya, kita harus jadi orang berani.... <selanjutnya postingan mengenai obrolan dengan Pak Irwan>

Salam Kompasiana!

Notes: yang saya sesali, kok bisa-bisanya saya tidak memotret workshop hari ini? Waduh....



--Imam Rahmanto--

Imam Rahmanto

/imamr

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Cappuccino-addict | Es Tontong-addict | Writing-addict | Freelance
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?