Pentingkah Darah Wanita Ini?

18 September 2012 17:03:14 Dibaca :

Ada atau tidak adanya darah ini menentukan sah atau tidaknya shalat dan puasa serta ibadah wanita lainnya. Bahkan, ada atau tidak adanya darah ini menentukan pula boleh tidaknya hubungan intim antara suami-istri.

Jika muncul darah ini, wanita tidak perlu  puasa dan shalat. Bahkan, tidak boleh baginya puasa dan shalat.

Kalau ia tetap nekat melaksanakan puasa dan shalat, tidak sah  puasa dan shalatnya. Bahkan, ia berdosa karenanya!

Begitu pula jika muncul darah ini, wanita tidak boleh melakukan hubungan intim dengan suaminya. Jika ia tetap nekat melakukannya, ia harus siap menanggung dosa dan kemurkaan dari-Nya!

Darah apa sih ini? darah haid.

Apa itu darah haid?

Darah haid adalah darah kental, gelap dan  berbau tidak sedap yang keluar dari kemaluan wanita di waktu tertentu.

Berapa batasan waktu haid?

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata:

ليس لأقل الحيض ولا لأكثره حد بالأيام على الصحيح، لقول الله عز وجل : (وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذىً فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ) . فلم يجعل الله غاية المنع أياماً معلومة، بل جعل غاية المنع هي الطهر

"Tidak ada batasan waktu minimal dan maksimal dari haid berdasarkan pendapat yang benar, berdasarkan firman Allah عز وجل:  {Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita (tidak menggaulinya) di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. } (QS. Al-Baqarah: 222). Allah tidak membuat batasan larangan menggauli dengan hari tertentu akan tetapi membuat batasan larangan itu dengan kondisi suci. " (Majmu' Fatawa juz 11 hal. 203 Maktabah Syamilah)

Kalau memang haid tidak memiliki batas minimal dan maksimal, berarti perkaranya kembali kepada kebiasaan wanita.

Jika seorang wanita-misalnya- biasa mengalami haid 7 hari, maka selama 7 hari tersebut tidak boleh baginya shalat, puasa dan berhubungan intim.

tapi kalau darah terus mengalir setelah 7 hari yaitu melebihi waktu haid biasanya?

Ia harus melihat darah yang keluar. Apakah darah itu memiliki ciri yang sama dengan darah haid? Jika sama, berarti ia masih mengalami haid.

Jika tidak sama, berarti itu hanya darah istihadah. Bukan darah haid. Karena itu hendaknya ia mandi lalu shalat atau berpuasa atau melakukan ibadah yang lainnya. Dan boleh juga baginya melakukan hubungan intim dengan suaminya ketika ini.

Tapi kalau tidak bisa membedakan mana darah haid dan mana darah istihadah?

Hendaknya, ia tetap tidak shalat dan puasa dan tidak juga melakukan hubungan intim sampai suci.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya tentang seorang wanita yang biasa mengalami haid 6 hari lalu ternyata bertambah waktu haidnya. Beliau menjawab:

إذا كانت عادة هذه المرأة ستة أيام ثم طالت هذه المدة وصارت تسعة أو عشرة أو أحد عشر يوماً، فإنها تبقى لا تصلي حتى تطهر، وذلك لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يحد حداً معيناً في الحيض، وقد قال الله تعالى : (وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذىً ) (1) . فمتى كان هذا الدم باقياً ، فإن المرأة على حالها حتى تطهر وتغتسل ثم تصلي ، فإذا كان جاءها في الشهر الثاني ناقصاً عن ذلك فإنها تغتسل إذا طهرت وإن لم يكن على المدة السابقة، والمهم أن المرأة متى كان الحيض معها موجوداً فإنها لا تصلي، سواء كان الحيض موافقاً للعادة السابقة أو زائداً عنها أو ناقصاً ، وإذا طهرت تصلي.

"Jika kebiasaan waktu haid perempuan ini adalah 6 hari lalu memanjang waktunya sampai 9 atau 10 atau 11 hari, maka hendaknya wanita itu tetap tidak melaksanakan shalat sampai suci. Yang demikian itu karena Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak menentukan batas waktu tertentu dalam permasalahan haid sedangkan Allah telah berfirman:{ Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran. " }

Kalau begitu, selama darah ini masih ada, seorang wanita tetap masih mengalami haid sampai ia suci dan mandi lalu shalat. Jika haid datang di bulan kedua dalam waktu yang lebih sedikit dari bulan pertama, hendaknya ia mandi jika telah suci walaupun waktu haidnya ketika itu berbeda dengan waktu haid di bulan yang sebelumnya.

Yang penting, seorang wanita tatkala datang haid tidak boleh shalat. Sama saja apakah waktu haidnya ketika itu sama dengan waktu haidnya yang lalu atau lebih banyak atau lebih sedikit. Jika ia telah suci, hendaknya ia melaksanakan shalat. "(Majmu' Fatawa juz 11 hal. 208 Maktabah Syamilah)

Syaikh juga ditanya tentang wanita yang mengalami haid di awal bulan lalu ia melihat darah haid di akhir bulan.

Beliau menjawab:

إذا تأخرت عادة المرأة عن وقتها، مثل أن تكون عادتها في أول الشهر فترى الحيض في آخره، فالصواب أنها متى رأت الدم فهي حائض، ومتى طهرت منه فهي طاهر، لما تقدم آنفاً

"Jika seorang wanita terlambat haid dari waktu biasanya, misalnya ia biasa haid di awal bulan lalu ia melihat darah haid di akhir bulan. Maka yang benar adalah tatkala ia melihat darah haid, berarti ia sedang mengalami haid. Dan tatkala ia telah bersih dari darah, berarti ia telah suci sebagaimana telah berlalu penjelasannya. "(Majmu' Fatawa juz 11 hal. 208 Maktabah Syamilah)

Syaikh juga ditanya tentang seorang wanita yang mengalami haid di akhir bulan lalu ia melihat darah haid di awal bulan.

Beliau menjawab:

إذا تقدمت عادة المرأة عن وقتها، مثل أن تكون عادتها في آخر الشهر فترى الحيض في أوله، فهي حائض كما تقدم.

"Jika haid muncul dari seorang wanita lebih cepat dari biasanya, seperti seseorang yang biasa mengalami haid di akhir bulan lalu ia melihat darah haid di awal bulan, maka ia teranggap sedang mengalami haid, sebagai telah berlalu penjelasannya. " (Majmu' Fatawa juz 11 hal. 208 Maktabah Syamilah)

Demikian sedikit penjelasan tentang haid. Mudah-mudahan jelas dan bisa dipahami. Sehingga...

Jangan sampai seorang muslimah bingung menyikapi datangnya 'tamu bulanan' ini.

Jangan sampai seorang muslimah karena ketidakpahamannya tentang haid dan hukum-hukumnya, mengira darah yang keluar dari kemaluannya adalah darah haid, ternyata bukan, padahal ia telah meninggalkan shalat dan puasa selama beberapa hari lamanya!

Dan juga jangan sampai karena sedikitnya pengetahuannya terhadap agama, ia menyangka darah yang keluar dari kemaluannya adalah bukan darah haid, namun ternyata itu darah haid, padahal ia sudah mengerjakan puasa dan shalat selama beberapa hari lamanya!

Wallahul Musta'aan..

Abdullah al-jakarty

/imamfatahillah

TERVERIFIKASI (HIJAU)

santri biasa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?