Mengapa Kamu Berjilbab...??

16 Juni 2012 17:47:55 Dibaca :

Dua tahun sudah saya tinggal di Paris. Suka duka tinggal di negara yang terkenal dengan minyak wanginya ini tentu sudah saya dapatkan. Namun pengalaman saya sebagai muslimah berjilbab di Paris tentu yang paling membekas dalam pikiran. Kali ini bukan tentang pengalaman  berinteraksi dengan orang lain, tapi pengalamanku mendapatkan pertanyaan yang sama setiap kali berkenalan dengan kawan baru yang berasal dari agama atau latar belakang negara yang berbeda. Mengapa harus pakai Jilbab ?

_________________________________________

Setelah mengantri dan membayar makanan saya memilih tempat duduk tepat di depan seorang kawan dari Cina, sebut saja Xi. “Berapa kamu harus bayar?”, dia bertanya penasaran. ” Ya, seperti yang kamu bilang, aku bayar 3 eouro”, aku menjawab sambil ku pamerkan tiga jariku di depan matanya. Tiba tiba Miung, seorang kawan dari Korea menyela, “Waaaah, kok bisa… aku harus membayar 4,5 euro… lebih mahal”. Sambil menggeleng gelengkan kepala dan mulut menganga serta ekspresi tidak percaya khas orang Korea Miung menepuk nepuk pundak saya. “Kamu memang beruntung…padahal menu yang kita makan sama”. “Tidak, kamu mengambil satu telur dan satu mangkuk salad lebih banyak dari punyaku…”, saya membela diri. “Waaaaaa, oui oui… kamu benar sekali… penyebabnya telur ini… oh la la la…”, begitu dia merespon sambil diikuti senyum tipisnya yang membuat matanya yang sipit semakin tak nampak saja.

Kali pertama bagi saya menikmati hidangan makan siang di Cite Universite. Kantin besar yang khusus disediakan untuk mahasiswa ini menyajikan menu murah meriah. Tapi ternyata yang makan di sini tak hanya pelajar. Saya juga melihat ada pengunjung umum yang turut mengantri di belakang kami. Hanya 3 euro untuk tiga menu , yaitu pembuka, menu utama dan penutup. Walaupun demikian ada aturannya. Satu jenis pilihan menu memiliki satu poin. Dan 3 euro hanya berlaku untuk 4 poin makanan saja, satu poin untu pembuka, dua poin untuk menu utama dan satu poin untuk menu penutup. Jika lebih dari itu maka akan dekenakan poin tambahan alias harus bayar lebih besar.

Siang itu kantin cukup ramai pengunjung. Kesimpulan ku tentang besarnya peminat pelajar dari kawasan indocina ternyata menemukan faktanya di kantin ini. Ya, tak sulit menemukan orang Cina, Korea dan Jepang di Perancis. Cina dan Jepang, bagi ku sudah biasa. Karena mereka memang ada di mana mana. Tapi para pelajar Korea bagi ku adalah hal yang baru. Saking banyaknya keberadaan mereka di Paris, saat ini mudah bagiku membedakan mana orang Cina, orang Korea dan orang Jepang. Termasuk peserta kursus bahasa Perancis di dalam kelasku yang rata rata di dominasi oleh pelajar dari Korea.

Sambil menyantap makan siang kami saling berbagi cerita. Saya dikejutkan dengan pertanyaan Xi tentang jilbab yang aku kenakan. Maklum, di sini orang jarang sekali bertanya tentang hal hal yang sifatnya berbau prinsipal. Terlebih tentang cara berpakaian atau tentang keyakinan. Mungkin Xi sudah terlalu lama memedam tanya tanpa ada kesempatan untuk mendapatkan jawaban. “Ima, mengapa kamu pakai ini…?”, katanya sambil menunjuk pada jilbabku. Memang sih, saya satu satunya pelajar di kelas yang mengenakan jilbab. Itu juga yang menjadikan aku tampak berbeda dibanding yang lainnya. “Saya pernah membaca berita bahwa “ini” harus dipakai oleh wanita Islam, bahkan aku juga seringkali mendengar berita tentang perempuan yang memakai… apa itu… sesuatu yang menutup muka mereka… yang katanya biasanya dipakai untuk melakukan bom bunuh diri…. sesuatu yang berhubungan dengan terorisme”.

“Waaaaaa, ya ya ya… betul betul… saya juga pernah dengar itu Ima, dan apakah kamu tidak gerah dengan menggunakan “ini” apalagi hari panas seperti ini…”, Miung ikut nimbrung sambil sesekali mengangguk angguk kepala.

Bagi saya ini adalah pertanyaan standar. Walaupun pada awalnya saya menganggap pertanyaan seperti ini sebagai pertanyaan yang harus aku jawab dengan serius. Namun lama kelamaan saya mulai memahami cara berfikir mereka yang pada prinsipnya bukan tidak suka, tapi selalu berfikir dengan menggunakan norma umum : KENYAMANAN dan KEAMANAN.

“Ya, di dalam ajaran agama kami Tuhan memang mewajibkan wanita untuk tidak memperlihatkan bagian bagian tubuhnya, termasuk rambut. Tujuannya untuk keamanan wanita itu sendiri”, begitu saya menjawab dengan diplomatis.

“Hm, tapi jika rambut kamu ditutup terus menerus nanti akan rontok, itu tidak baik untuk kesehatan rambut”, Xi mencoba mencari tahu. “Ya, benar… tapi kita mengenakan ini hanya di luar rumah. Ketika di dalam rumah, saya membiarkan rambut saya terbuka. Sama seperti kalian”.“Lalu bagaimana dengan perempuan yang menutup mukanya?”, Xi mengingatkan. “Ya, bagaimana mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan orang lain jika mukanya ditutup seperti itu. Dan mengapa kamu tidak menggunakannya…?”, Miung ikut nimbrung sambil menikmati ice creamnya.

Dengan keterbatasan bahasa yang saya miliki terasa sangat sulit menjelaskan semuanya secara panjang lebar. Tapi pada intinya saya mencoba untuk menjelaskan bahwa setiap orang menutupi tubuh mereka dengan cara yang berbeda beda. Tergantung latar belakang budaya dan keberadaan mereka.  Ada yang memilih berpakaian seperti saya, ada juga yang berpakain dengan cara yang lainnya. Dan mengenai teroris, itu sudah masuk masalah politik. Sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan cara berpakaian.

“Bagi ku tetap saja tidak MASUK AKAL, aku bisa mati kegerahan. Walapun begitu aku senang dengan kain di kepalamu ini… indah, karena  bergambar bunga. Aku pikir ini hanya hiasan kepala”, begitu Miung berpendapat.

________________________________________

Lain orang lain pula cara pandangnya. Pertanyaan yang sama juga saya dapatkan ketika dalam jamuan makan di KBRI. Kebetulan saat itu aku menemani suamiku menerima penghargaan Prix Mahar Schützenberger. Penghargaan yang diberikan oleh warga Perancis yang memiliki kedekatan emosional dengan warga Indonesia ini selalu di berikan setiap satu tahun sekali. Alhamdulillah, suami saya mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu bagian dari pelajar Indonesia di Perancis yang mendapatkannya.

Seperti biasanya, acara makan makan dilakukan sambil mengobrol dengan  berbagai kalangan. Kebetulan aku  bertemu dengan salah seorang kawan suamiku yang tampak antusias mengamati semenjak kami berkenalan di awal sesi penyerahan penghargaan. Rupa rupanya beliau memiliki suami yang berasal dari Belanda. Latar belakang inilah tampaknya merekatkan hati kami. Nenek berusia sekitar 70 tahun ini masih terlihat bugar dan segar.

“Saya memang ingin berkenalan dengan kamu sejak lama, karena suamimu tak pernah bilang sebelumnya kalau ternyata dia sudah punya istri dan anak yang juga tinggal di Paris”.

Aku hanya tersenyum senyum mendengar ucapannya. “Ya, saya juga. Suami saya sering sekali membicarakan Anda. Tapi saya mengerti kok mengapa dia tidak memperkenalkan saya kepada Anda. Karena pada umumnya memang orang di Perancis ini akan berubah sikap ketika tahu jika lawan bicaranya telah berkeluarga. Ya, setidaknya itu pengalaman kami”, bagitu saya menjelaskan dengan berbahasa Inggris. Karena pada saat itu saya memang masih belum bisa berbahasa Perancis.”Tapi sekarang kita sudah bertemu”, saya melanjutkan sambil menepuk nepuk bahunya.

“Ya, walaupun saya agak terkejut karena ternyata kamu memakai ini”, dia menjawab sambil menunjuk pada jilbab saya. “Apakah Ayang yang meminta kamu untuk memakainya…?”, dia bertanya penasaran. Saya hanya tersenyum saja. “Tidak, dari sejak awal suami saya meminta saya untuk melepaskan jilbab ini. Walaupun pada awalnya saya tidak terlalu paham maksudnya. Tapi sekarang saya paham. Karena memang tidak mudah berjilbab di Paris ini”, saya berusaha menjelaskan.

“Lalu mengapa kamu tetap memakai jilbabmu…?”.

“Hm, ini cerita panjang. Saya mengalami pengalaman pribadi. Yang kemudian mendorong saya untuk menggunakan jilbab. Jadi, jilbab bagi saya ada perjalan hidup. Ada cerita yang mungkin akan sulit Anda pahami walaupun saya jelaskan dengan terinci”, begitu saya menjawab dengan sedikit berdiplomasi untuk menghindari polemik. Jujur, saya sebenarnya malas memeberikan penjelasan tentang hal ini.

“Ya, tapi setahu saya di al-Quran tidak ada aturan untuk menutup kepala seperti ini”, dia mencoba masuk lebih dalam.

“Ya, memang demikian, tapi rambut menjadi bagian dari tubuh wanita yang paling menarik. Jadi harus ditutup dengan tujuan untuk melindungi wanita itu sendiri”, saya mencoba memberi penjelasan. “Ya, saya tahu… tapi itu mungkin akan berlaku di negara atau di tempat di mana lelaki di sana sangat berbahaya. Tapi kamu tinggal di Perancis. Tempat dimana setiap hak hak kamu akan dilindungi. Kamu tak perlu takut akan disakiti. Karena hukum di sini akan memberi perlindungan pada perempuan. Saya pikir, di sini, kamu tidak perlu menggunakannya lagi”. “Kamu harus bisa beradaptasi”, begitu dia menambahkan.

“Kamu tahu, saya sudah melakukan banyak perjalan. Mengunjungi berbagai negara muslim. Pengalaman masa kolonialisasi Perancis di beberapa negara muslim pada umumnya kita menemukan bahwa jilbab ini hanya bagian dari kebudayaan masyarakat saja. Apalagi tidak sedikit dari perempuan yang kemudian terkurung di dalam pakaiannya tanpa bisa bersosialisasi. Hanya tinggal di dalam rumah tanpa bisa bebas berekspresi. Ketika saya berkunjung di negara di wilayah Arab dan Afrika saya juga mengenakan pakaian yang sama dengan penduduk setempat. Termasuk memakai kerudung bahkan hingga menggunakan penutup muka (cadar).Saya lakukan itu karena memang kondisi geografisnya yang mengharuskan saya menggunakan itu. Karena debu dari pasir di gurun pasir yang sangat berbahaya untuk kesehatan. Jadi, itu tidak ada hubungannya dengan aturan agama. Itu hanya kebudayaan.

“Tapi di sini, di Perancis, mengapa kamu harus mengurung diri kamu sendiri sementara negara menjamin kebebasan kamu untuk menampilkan dirimu sendiri ?”, kembali dia menekankan.

Aku hanya mengangguk angguk kepala sambil mencari cari cara agar tidak  masuk dalam persoalan esensial tetang PILIHAN dan  tentang KEYAKINAN yang tampaknya sulit menemukan titik temunya jika saya jelaskan. Karena pola berfikir saya dan dia yang berbeda.

“Lalu bagaimana dengan orang orang Yahudi?”.

Saya mencoba memperluas perspektif tanpa harus mengarah pada persoalan pribadi. “Di lingkungan tempat tinggal saya banyak sekali orang Yahudi yang hidup dengan cara mereka sendiri. Anda tahu, mereka tidak mau bersosialisasi. Sering sekali saya diacuhkan oleh mereka. Dan mereka juga menggunakan simbol simbol keagamaan  yang tak kalah banyaknya. Seperti topi, peci kecil di atas kepala mereka, ikat pinggang yang menjuntai juntai, bahkan mereka memiliki sekolah dan bahkan toko kebutuhan sehari hari tersendiri. Mengapa mereka tidak pernah dipertanyaakan?”, saya berbalik bertanya.

“Bagi saya  masyarakat dunia  kini menilai  jilbab ataupun cadar sudah dalam kontek yang tidak objektif lagi”, saya mencoba membela diri. “Oh tidak, di Perancis semua sama saja. Baik orang Kristen, Budha atau Yahudi dan yang lainnya DILARANG menggunakan simbol simbol agama di area umum. Bahkan saat ini tengah dirancang peraturan tentang pelarangan penggunaan simbol simbol agama di halaman sekolah, di dalam sekolah dan di dalam taman. Jadi kalau kamu mengantarkan anak ke sekolah maka jilbab kamu harus dilepas terlebih dahulu. Demikian juga jika kamu mengajak anak anak main di dalam taman”, dia menjelaskan.

“Dan mengenai orang Yahudi setahu saya mereka berusaha untuk beradaptasi. Di antaranya adalah bagi kaum perempuan Yahudi mereka menggunakan rambut palsu untuk menutupi rambut aslinya. Itu lebih baik. Dan prianya mereka memakai pakaian jas pada umumnya”.  Alasan yang masuk akal gumamku dalam hati tapi tetap saja, cara mereka beradaptasi pada akhirnya menjadi simbol keberadaan mereka. Mudah sekali mengenali mereka, siapapun laki laki bertopi ala koboy, berjas dan celana serba hitam dan berjenggot lebat plus ikat pinggang yang merumbai rumbai dan kopiah kecil di kepalanya... entah apa namanya, dapat dipastikan itu adalah laki laki keturunan Yahudi.  Demikian dengan kaum perempuannya. Mereka berpakaian tertutup seperti layaknya orang Muslim. Bedanya tutup kepala mereka lebih menyerupai topi, dengan rok di bawah lutu dan stoking berwarna hitam. Jadi, apa bedanya...??? Akhirnya itupun menjadi simbol yang membedakan mereka dengan lingkungan sekitarnya.

” Ya, tapi tahu kah Anda madame sikap mereka setiap berpapasan dengan saya?”. Suatu kali saya pernah memberanikan diri masuk ke dalam toko mereka. Hanya untuk mengetahui. Dan ternyata mereka TIDAK MELAYANI saya. Saya bertanya pun tak mereka dengarkan. Seolah olah tak mendengar perkataan saya hingga akhirnya saya pergi. Tapi mengapa tidak ada satupun orang yang protes terhadap sikap mereka?”, saya mencoba sedikit provokasi.

Mendengar penjelasan saya dia sedikit terkejut. Dia tak menyangka jika saya tinggal di lingkungan yang juga dihuni oleh orang orang Yahudi. Walaupun sering kali dikecewakan tapi bagi saya ini pengalaman berharga. Karena sekarang saya tahu. Ternyata justru mereka lah yang terkurung di dalam komunitasnya.

“Ya,saya paham maksudmu… tak adil memang, saya setuju akan hal itu… tapi sekali lagi saya berharap kamu bisa beradaptasi dengan semua ini. Saya tidak memaksa kamu untuk melepas jilbabmu, tapi demi kebaikan mu. Karena pengalaman saya berinteraksi dengan para imigran yang datang ke Perancis membuktikan bahwa diskriminasi karena jilbab ini kerap sekali terjadi. Saya hanya tak ingin kamu mendapatkan kesulitan selama tinggal di sini. Justru sebaliknya, sayang sekali jika hanya karena jilbabmu itu kamu kemudian menjadi sulit mengembangkan diri. Sulit untuk di terima di lingkunganmu sehingga kamu tidak dapat bersosialisasi”, dia tampak berusaha mencari cara untuk tidak salah paham.

Kembali saya hanya tersenyum. “Ya, Anda benar. Saya jujur, pernah mengalami hal tersebut. Tapi dibanding kesulitannya justru saya merasakan lebih banyak kelebihanya. Karena saya tinggal di daerah di mana sebagian besar pendatang dari Magreb tinggal di sana. Bahkan di tempat tinggal saya bahasa Arab digunakan sama seringnya banding bahasa Perancis”. Dia hanya mengangguk angguk.

“Anda tahu madame, justru dengan jilbab ini saya bisa mencoba menjelaskan Islam yang saya pahami kepada orang lain”, saya mencoba meyakinkan. “Oh ya? Bagaimana mungkin…?”, dia bertanya penuh rasa ingin tahu. “Ya, karena jika saya tidak berjilbab saya akan lebih dikenal sebagai orang Cina, Jepang dan Vietnam… dibanding seorang Muslim. Justru mereka menjadi heran melihat saya dengan muka Asia tapi berpakaian ala Magreb. Itu juga yang membuat mereka yang rata rata berasal dari Asia berani untuk bertanya banyak hal tentang Islam kepada saya. Karena pada umumnya orang keturunan Asia dan keturunan Magreb di tempat saya tinggal tidak akur. Mereka jarang sekali bertegur sapa. Penampilan muka saya yang mirip dengan ras Asia membuat mereka berani untuk mendekat.

Mendengar penejalasan saya yang terakhir ini tampak sekali mukanya berubah menjadi lebih cerah, lebih tenang dan lebih… sumringah.

____________________________________

Daun daun musim semi mulai menyembul. Sementara bunga bungnya sudah lebih dahulu mekar. Pemandangan indah musim semi terasa lebih kental ketika kita berada di bawah pohon seri. Satu dahan pohonnya yang menjulur ke area bermain anak anak menaburkan mahkota bunganya yang mulai berguguran. Area bermain yang biasa saya kunjungi selepas sekolah di sore hari. Di sana pula saya bertemu, sebut saja Lan, kawan baru yang berasal dari Cina. Salah satu orang tua dari teman anak saya.

Sudah lebih dari lima tahun dia tinggal di Paris. Ibu beranak satu ini tinggal di sebuah apartemen di depan jalan raya La Chapelle. “Saya harus membayar 970 euro setiap bulan”, begitu dia memberi tahu saya. Ya, harga yang cukup mahal.  Untuk menutupi kebutuhan hidup sehari hari dia bekerja di dalam rumahnya, yaitu memasang helai demi helai rambut untuk kemudian di buat wig. Selain itu dia juga bekerja mengasuh anak anak keturunan Cina di rumahnya. “Lumayan, bisa membantu suami saya membayar uang sewa apartemen”, bagitu dia menjelaskan.

Sore itu Lan memang agak aneh. Dia tiba tiba berdiri di hadapan saya. “Bonjour, vous allez bien…?”. Saya terkejut karena biasanya kami hanya angguk angguk kepala saja. Rupanya dia ingin bertanya tentang tempat kursus saya. Dia mengamati kalau bahasa Perancis saya sekarang lebih baik. Dia merasa perkembangannya kurang begitu memuaskan. Akhirnya saya beritahukan alamat tempat kursus saya yang terdahulu. Tempat kursus murah meriah, hanya 45 euro/ tahun.

Namun tak hanya itu. Dia pun menanyakan tentang latar belakang saya. “Kamu orang Singapura atau dari mana…?”. Saya jelaskan bahwa saya dari Indonesia. Dia bertanya juga kepada saya tentang jilbab yang saya gunakan. “Mengapa saya melihat di sini perempuan perempuan Muslim menutup kepala mereka, seperti kamu?”.

Ya, ya, ya… pertanyaan stanadar lagi. Tapi kali ini yang bertanya memiliki latar belakang yang berbeda dengan dua orang yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Lebih sulit bagi saya. Karena mereka pada umumnya tidak mengikuti perkembangan politik dunia. Walaupun sebagian besar mereka adalah orang cerdas dan pekerja keras. Tentu saja saya sedikit terkejut dengan pertanyaannya ini. Karena pada umumnya juga mereka sangat tidak perduli dengan urusan orang lain. Yang mereka perdulikan hanya  : BEKERJA dan UANG.”

“Ya, kebetulan kami di Indonesia sama juga dengan perempuan Arab yang lainnya menutup kepala kita. Tapi dengan cara yang berbeda”, saya mencoba mencari cara yang paling mudah. “Anda lihat, cara saya menutup kepala berbeda kan dengan cara yang mereka gunakan…?”. Dia mengangguk angguk kepala. “Ya, bahkan ada juga yang menutup ini nya…”, katanya sambil menunjuk muka. “Ya, itu tergantung keinginan masing masing. Tak ada keharusan menutup muka seperti itu. Saya memilih begini saja. Karena lebih mudah berkomunikasi”.

“Mengapa…?”, dia kembali bertanya.“Ya salah satunya untuk menjaga rambut dan kepala agar tetap bersih. Karena udara kotor. Bahkan jika musim dingin ini sangat peraktis. Saya merasa lebih hangat”, saya berusaha mencari cari alasan.

Mendengar penjelasan saya dia tersenyum senyum saja. “Ya, tapi cara  kamu menutupi kepala memang berbeda. Dan kamu juga berbeda dibanding mereka (pendatang dari magreb). Saya tidak berani bertanya kepada mereka. Karena mereka selalu berbicara pakai bahasa mereka… Arab…???!!”. Apakah kamu bisa, berbahasa seperti mereka…?”. “Tidak, saya bisa membaca tulisan Arab tapi tidak bisa berbahasa Arab”.

_______________________________________

Sungguh, tidak mudah berjilbab di Luar Negeri. Namun satu hal yang saya pelajari bahwa sesungguhnya bukan persoalan masalah agama yang mereka butuhkan sebagai penjelasan. Tapi lebih pada argumentasi logis yang bisa mereka terima dengan nalar dan dengan cara berpikir mereka. Seringkali saya berusaha menjelaskan menggunakan konteks agama tapi saya selalu gagal memberi mereka pemahaman. Malah sebaliknya. Kontra produktif, karena agama Islampun kini memang sudah identik dengan stigma terorisme. Sedih memang. Tapi ini adalah kenyataan dan tantangan yang harus kita hadapi.

Ada banyak pilihan untuk menjawabnya. Di antara berbagai kemungkinan itu, saya mungkin memilih untuk tetap mengenakan jilbab saya. Bukan untuk sok sok an. Tapi saya justru mengamati bahwa untuk merubah paradigma masyarakat dunia terhadap jilbab hanya dapat dilakukan dengan cara memperkenalkan jilbab itu sendiri kepada dunia. Bukan dengan cara meninggalkannya. Walaupun saya tetap menghargai dan menghormati pilihan setiap perempuan muslim untuk memilih menutupi atau membiarkan kepalanya tanpa penghalang.

ima rahmani

/ima_rahmani

Ibu rumah tangga dengan dua anak. Untuk sementara meninggalkan pekerjaan guna menemani suami belajar di Perancis. Kembali pada jalur utama mengurus anak dan suami sambil sesekali jalan jalan cuci mata mencari hal hal yang baru. Hobi memasak, tanpa resep tentunya hehehe... yang penting enak. Saat ini sedang mencoba menyenangi jalan jalan, karena selama ini lebih senang tinggal di dalam rumah sambil menikmati musik, buku buku, kasur empuk, sambil bercanda dengan kedua anak saya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?