Menuju Universitas Berkelas Dunia: Sebuah Peluang dan Tantangan Bagi Kompetensi Pustakawan Indonesia

09 Februari 2010 00:50:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 18:01:48 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Perguruan Tinggi sesuai namanya adalah sebuah jenjang pendidikan tertinggi yang menghasilkan ilmuwan dalam berbagai bidang keilmuan. Sejalan dengan itu, produk ilmiah seperti Skripsi, Tesis, Disertasi, Karya Penelitian, Jurnal, dsb dari 2.945 Perguruan Tinggi Negeri dan swasta di Indonesia (berdasar Data Ditjen Dikti untuk thn ajaran 2007/2008) sangat melimpah. Produk ilmiah ini merupakan kekayaan intelektual yang akan terus berkembang baik secara kuantitas maupun kualitas. Walaupun bila dibandingkan dengan negara lain, pendidikan tinggi di Indonesia masih banyak ketinggalan. Berdasarkan data Dikti Tahun 2007, Porsentase jumlah mahasiswa dengan penduduk usia 19-24 tahun sebesar 4.375.505 banding 25.350.900. sehingga APK pendidikan tinggi di Indonesia baru mencapai 17,26% jauh dibanding Malaysia yang sudah mencapai 32,5%. Belum mengenai kualitas SDM.


Ketika trend universitas berkelas dunia muncul, keinginan untuk menjadi bagian terbaik dalam dunia pendidikan dipacu oleh program pemerintah yang berupaya mendorong minimal 25 Perguruan Tinggi masuk dalam deretan Universitas Bertaraf Internasional. Kemudian kita mulai mengenal beberapa metode pemeringkatan yang saat ini masih sering dijadikan acuan yakni Academic Ranking of World Universities (ARWU) dari Shanghai Jia Tong University, Times Higher Education Supplement (THES) QS World Univeristies Rankings (THES=QS), Webometrics Ranking of World Universities (WRWU), dan Performance Ranking of Scientific Papers for World Universities (SPWU) dari National Taiwán University.


Untuk pemeringkatan berdasarkan SPWU dan ARWU tahun 2007, tidak ada perguruan tinggi di Indonesia yang masuk nominasi. Berdasar peringkat Peringkat dunia versi THES QS menyebutkan hanya tiga PT di Indonesia yang masuk Top 400 tahun 2007 yaitu Universitas Gadjah Mada (posisi 360), Institut Teknologi Bandung(posisi ke-369),dan Universitas Indonesia (posisi ke-395). Sementara untuk metode pemeringkatan berdasar WRWU, relatif lebih banyak memasukkan perguruan tinggi di Indonesia yaitu sebanyak 17 perguruan tinggi yang masuk Top 5000 yang tergolong world class university. WRWU menggunakan basis web sebagai indikator atau media pengukurannya, yang diantaranya berpijak pada kinerja masing-masing perguruan tinggi dalam menghasilkan output akademis yang dipublikasikan melalui web. Namun tidak hanya itu Indikatornya secara umum berkaitan erat juga dengan keberhasilan proses pendidikan yang mencakup kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat.


Dengan melihat beberapa metode pemeringkatan untuk penentuan Universitas Berkelas Dunia, telah terbuka wawasan bagaimana perpustakaan harus berperan dalam mewujudkan universitas berkelas dunia. Salah satu contohnya adalah bagaimana perpustakaan bisa memberikan kontribusi dalam penyebarluasan produk ilmiah, yang memang selayaknya bisa terpublikasi dengan maksimal. Tujuannya tentu tidak hanya untuk memenuhi kriteria perpustakaan berkelas dunia, tapi lebih penting dari itu adalah bagaimana hasil-hasil penelitian ini bisa dimanfaatkan oleh tidak hanya civitas akademika tapi juga masyarakat pada umumnya. Dengan demikian upaya keras yang diinginkan Pemerintah untuk mendorong minimal 25 Universitas bertaraf Internasional harus disambut sebagai peluang dan tantangan bagi seluruh Perpustakaan Perguruan Tinggi untuk meneguhkan eksistensinya sebagai salah satu unit Penunjang yang juga harus memiliki kualifikasi berkelas dunia.




Perpustakaan Berkelas Dunia


Bisa dipastikan semua Universitas bertaraf internasional juga memiliki Perpustakaan yang berkualitas dunia. Sebut saja Harvard University yang berdasar Performance Ranking of Scientific Papers for World Universities (SPWU) dari National Taiwán menduduki peringkat pertama dunia, juga memiliki perpustakaan yang menduduki ranking pertama perpustakaan kelas dunia berdasar jumlah koleksi.


Sebagaimana kriteria Universitas berkelas dunia, kriteria perpustakaan berkelas dunia pun memang berbeda-beda. Berikut ini pendapat berbagai kalangan di Amerika yang menggunakan beberapa kriteria dalam mengukur kualitas suatu perpustakaan, yakni: Services  and collection (pelayanan dan volume koleksi), Acessibility (aksesibilitas), Variety of literary offerings (keanekaragaman literatur yang disediakan), Comfort and availability of reading/ studyng spaces (kenyamanan membaca),dan User Satisfication (kepuasan pengguna).


Dengan demikian, jelas bahwa diantara kompetensi SDM perpustakaan seperti tenaga administratif dan non pustakawan, kompetensi pustakawan menjadi suatu keniscayaan bagi terwujudnya Perpustakaan berkelas dunia. Peranannya sangat penting karena sebagai tenaga profesional, Pustakawan adalah SDM utama di Perpustakaan yang memungkinkan setiap jenis pekerjaan dapat dilaksanakan dengan optimal, efektif dan efisien.


Namun tidak kita pungkiri sampai sekarang profesi perpustakaan masih dilihat sebelah mata oleh sebagian masyarakat, bahkan oleh kalangan terpelajar sekalipun. Walaupun Pustakawan merupakan jabatan karir dan jabatan fungsional yang telah diakui keberadannya oleh Pemerintah dengan terbitnya surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur negara (Menpan) nomor 18 tahun 1988 dan diperbaharui dengan SK Menpan Nomor 132 tahun 2002. Stereotif tentang sosok Pustakawan masih digambarkan sebagai sosok yang kaku, ‘tenaga buangan', tidak menyenangkan, dan tidak lepas dari image book custodian' atau penjaga buku saja. Bisa jadi stigma ini menguat karena pustakawan dengan tanda-tanda tersebut masih banyak ditemukan dibandingkan dengan Pustakawan yang well inform, menyenangkan, menarik, komunikatif, dan lebih dikenal sebagai penyaji informasi daripada penjaga buku. Dipandang rendahnya profesi Pustakawan bisa jadi ditimbulkan oleh beberapa faktor antara lain:


Faktor eksternal, Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya perpustakaan mengakibatkan kurangnya penghargaan terhadap perpustakaan dan pustakawan.


Faktor internal, faktor ini bisa disebabkan oleh kelemahan Pustakawan, lembaga perpustakaan, serta koleksinya. Pustakawan seringkali kurang dapat memenuhi kebutuhan pemustaka dalam layanannya. Prinsip right man on the right place belum diterapkan di perpustakaan, bahkan perpustakaan sering menjadi tempat buangan bagi staf di unit lain yang bermasalah. Kelemahan lain adalah dengan pendanaan yang terbatas, koleksi yang disediakan perpustakaan sudah out of date, atau tidak mengakomodasi kebutuhan pemustaka, sehingga mereka kesulitan menemukan informasi yang aktual dan sesuai dengan kebutuhannya.


Menyadari kenyataan ini, tidak ada pilihan lain bagi Perpustakaan Perguruan Tinggi yang memimpikan Perpustakaannya berkelas dunia selain membenahi seluruh SDM Perpustakaan terutama Pustakawan sehingga memiliki kompetensi unggul dan mampu bekerja secara profesional.




Kompetensi Pustakawan Profesional


Untuk melakukan pekerjaan secara profesional yang perlu diperhatikan tidak hanya kompetensi profesional tapi juga kompetensi individual. Menurut US Special Library Associations, kompetensi profesional terkait dengan pengetahuan pustakawan di bidang sumber-sumber informasi, teknologi, manajemen dan penelitian, serta pengetahuan kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut sebagai dasar untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi. Sementara kompetensi individual menggambarkan satu kesatuan keterampilan, perilaku dan nilai yang dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatkan pengetahuan, dapat memperlihatkan nilai lebih serta dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya.


Sementara pada Lokakarya Pengembangan Kurikulum Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Ikatan Pustakawan Indonesia, The British Counsil dan Perpustakaan Nasional di jakarta pada tanggal 9-11 Agustus 1994, merumuskan Profil Pustakawan Indonesia sebagai berikut :


Pertama, aspek Profesional. Bahwa Pustakawan Indonesia memiliki pendidikan formal ilmu perpustakaan. Pustakawan juga dituntut gemar membaca, trampil, kreatif, cerdas, tanggap, berwawasan luas, berorientasi ke depan, mampu menyerap ilmu lain, objektif (berorientasi pada data), generalis di satu sisi, tetapi memerlukan disiplin ilmu tertentu di pihak lain, berwawasan lingkungan, mentaati etika profesi pustakawan, mempunyai motivasi tinggi, berkarya di bidang kepustakawanan, dan mampu melaksanakan penelitian serta penyuluhan.


Kedua, aspek Kepribadian dan Perilaku. Pustakawan Indonesia harus bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, bermoral Pancasila, mempunyai tanggung jawab sosial dan kesetiakawanan, memiliki etos kerja yang tinggi, mandiri, loyalitas tinggi terhadap profesi, luwes, komunikatif dan bersikap suka melayani, ramah, dan simpatik, terbuka terhadap kritik dan saran, selalu siaga dan tanggap terhadap kemajuan dan perkembangan ilmu dan teknologi, berdisiplin tinggi dan menjunjung tinggi etika pustakawan Indonesia.


Dari gambaran paparan di atas, penulis berpendapat bahwa ada beberapa kompetensi pokok yang harus dimiliki pustakawan dalam mewujudkan perpustakaan berkelas dunia. Antara lain:


1. Menguasai sumber informasi


Informasi dalam berbagai bentuknya adalah materi yang dilayankan oleh Perpustakaan, maka dalam hal ini pustakawan selain memiliki keahlian khusus yang mungkin di dapatkan dari latar belakang pendidikan yang menguatkannya sebagai subject specialist, juga dituntut sebagai generalis yang memahami sumber-sumber informasi di Perpustakaan. Minimal seorang Pustakawan memahami kemana harus mencarikan infromasi ketika pemustaka membutuhkannya.


2. Memiliki keterampilan teknis


Tidak mungkin bagi pustakawan untuk melayani pemakainya, kalau tidak mengetahui subjek yang dilayaninya. Di luar tugas rutinnya pada satu bidang, seorang pustakawan minimal memahami secara umum proses pengadaan bahan pustaka, bagaimana pengolahan bahan pustaka, bagaimana proses peminjaman bahan pustaka, dan kegiatan pengembangan lainnya di perpustakaan.


3. Menguasai teknologi


Kehadiran teknologi baru di perpustakaan terkadang masih ditanggapi negatif oleh pustakawan yang cenderung resisten dengan perubahan. Namun sebesar apapun resistensinya, proses pengenalan teknologi terhadap pustakawan harus dilakukan secara intensif dan persuasif. Karena perkembangan teknologi informasi dunia akan berdampak secara langsung terhadap perpustakaan. Salah satunya melalui teknologi internet, Pustakawan bisa berperan penting meningkatkan webometrik Universitas melalui disseminasi atau publikasi produk ilmiah universitas. Sehingga memiliki peluang besar untuk masuk dalam top 5000 Universitas berdasar Webometrics Ranking of World Universities (WRWU), yang pada tahun 2007 telah memasukkan perguruan tinggi di Indonesia sebanyak 17, jumlah yang lebih banyak bila dibanding berdasar Times Higher Education Supplement (THES) QS World Univeristies Rankings yang hanya memasukkan tiga Perguruan tinggi di Indonesia.Tujuan WRWU tidak hanya mendorong komunitas akademik mengenai pentingnya publikasi melalui web, tetapi juga mengukur kegiatan ilmiah, kinerja dan dampaknya.


4. Fokus pada pemustaka


Pemustaka adalah objek pokok kepada siapa layanan perpustakaan ini didedikasikan. Perpustakaan tanpa pemustaka, layaknya Rumah sakit tanpa pasien. Sehingga sudah seharusnya pustakawan memberikan layanan terbaiknya dengan kualitas layanan yang prima. Perbaikan mutu layanan dengan merujuk pada standar internasional yang dikenal Sistem Manajemen Mutu (quality management system) berdasar ISO yang akhir-akhir ini menjadi fokus perhatian banyak organisasi publik, seharusnya juga diterapkan di perpustakaan. Apalagi bila perpustakaan ingin menjadi penunjang Universitas Berkelas Dunia. ISO adalah Internasional Standar organization yang hadir dalam beberapa seri. Untuk pelayanan publik seperti perpustakaan bisa menggunakan ISO 9001-2004 series, yang pada bulan November 2008 sudah keluar seri terbaru yakni ISO 9001:2008. Dengan menerapkan SMM ISO, akan memberikan banyak dampak positif terutama bagi Pemustaka, karena salah satu hal terpenting dalam SMM adalah fokus pada pengguna. Sebagai Perpustakaan yang berusaha memberikan pelayanan terbaik, Perpustakaan Universitas Jember sejak tahun 2007 sudah mulai memperbaiki mutu layanan sesuai standar ISO 9001:2000, yang sejak November 2008 diperbaharui dengan menggunakan seri terbaru ISO 9001:2008 sebagai acuan. Implementasi dimulai tahun 2008, dan sedang dalam proses sertifikasi di tahun 2009. Berkait dengan penerapan standar ISO, pustakawan memang seolah dituntut banyak, namun sesungguhnya semua aturan dibuat untuk menjamin mutu, dan efektifitas dalam bekerja sehingga bisa terukur dan terpantau secara maksimal, dan bisa dilakukan perbaikan yang terus menerus, untuk mencapai kualitas yang memuaskan pemustaka pada umumnya.


5. Memiliki kecerdasan emosi



Kecerdasan emosi adalah kemampuan mengombinasikan pemikiran dan emosi. Tolok ukur kecerdasan emosi bahkan sudah menjadi suatu tolok ukur utama yang dicari oleh perusahaan pada
pegawainya dan sering merupakan karakteristik penentu kesuksesan dalam kerja. Perkembangan ilmu kontemprer self development, mengemukakan bahwa keberhasilan seseorang baik dalam pekerjaan maupun kehidupan peribadinya, tidak hanya bergantung pada IQ (intelegensi) bahkan IQ hanya menyumbang kesuksesan 20%, dan sisanya banyak dipengaruhi oleh SQ dan EQ. Dengan memiliki kecerdasan emosi tidak sukar bagi Pustakawan untuk bersikap luwes, suka melayani, ramah, simpatik, serta terbuka terhadap kritik dan saran,

6. Memiliki kemampuan komunikasi yang baik (Good communicator)


Persepsi masyarakat mengenai perilaku profesi pustakawan sering ditentukan bukan saja seberapa jauh kebutuhan mereka terlayani secara profesional tapi juga ditentukan oleh cara berkomunikasi terbaik yang didapatkannya. Karena seorang pustakawan pada hakekatnya juga seorang komunikator, maka ia harus pandai berkomunikasi baik dengan pemustaka, maupun rekan kerjanya. Dalam hal ini kemampuan penguasaan terhadap bahasa asing terutama bahasa internasional mutlak harus dimiliki.


7. Kreatif


Berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi informasi, sarana penelusuran, dan semakin terbukanya informasi membuka banyak kesempatan bagi pemustaka untuk mendapatkan informasi dengan sangat mudah. Dengan media internet misalnya, mereka bisa mendapatkan limpahan informasi dengan mudah. Bila Pustakawan sebagai penyaji informasi tidak memiliki kreatifitas baik dalam penyajian maupun mempromosikannya, maka kemungkinan informasi ataupun layanan yang disediakan Pustakawan tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal atau bahkan sama sekali tidak menarik perhatian pemustaka.



Penutup


Upaya Pemerintah mendorong Perguruan Tinggi di Indonesia untuk mencapai kelas dunia adalah peluang dan tantangan bagi Pustakawan, ditengah pencitraan yang terkadang negatif dan terkadang bertolak belakang dengan tuntutan ideal seorang Pustakawan. Namun saat ini bukan saatnya fokus pada kelemahan dan sibuk memikirkan apa yang dicitrakan kepada pustakawan ataupun perpustakaan. Inilah saatnya kita berprestasi, berupaya mencapai kompetensi pustakawan yang terbaik, dan memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan Indonesia.



Daftar Pustaka


Pudjiono, 2007. Membangun citra: Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia Menuju Perpustakaan Bertaraf Internasional. Buletin Perpustakaan Airlangga Vol II No. 2 Juli-Desember 2007


Dwijati, Siti. 2007. Meningkatkan Kualitas Pustakawan di Era Teknologi informasi. Buletin Perpustakaan Airlangga Vol II No. 2 Juli-Desember 2007


Noorikaahmad. Profesi dan Profesionalisme Pustakawan. http://noorikaahmad.multiply.com/journal/item/8/Profesi_dan_Profesionalisme_Pustakawan


Hermana, Budi. Perpustakaan Indonesia Menuju Peringkat Dunia?. http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana/2008/05/10/perguruan-tinggi-indonesia-menuju-peringkat-dunia/


___. World Class University, Pemicu Peningkatan Kualitas Pendidikan di IPB . http://visakana.wordpress.com/category/uncategorized/

ida widiastuti

/ida_hasan

lahir di Garut, Sejak 2002 bekerja sebagai Librarian (pustakawan) di Perpustakaan Universitas Jember.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana