Pernikahan yang Menyiram Bunga

28 Juni 2012 05:38:11 Dibaca :

Ada aja alesan untuk merayakan sebuah hubungan. hubungan kesuamiistrian maksudnya. biar ada letupan biar ga terlalu monoton, bosen, dan atau melemparkan diri ke romantisme jaman dulu ketika emosi masih begitu berbunga. dan moment perayaan seperti merefresh bunga itu. kalau ada yg layu mungkin saja, ada yg tumbuh kurang optimal pasti ada, bisa karena treatment atau perilaku selama dlm pernikahan ini yg membuatnya kurang terawat..

yup, pernikahan, menjaga komitmen, seperti mengurus bunga.
musti dikasih air, dipupuki, dikasih matahari, yg layu dibuang daunnya, ya macam-macam perawatan itulah, biar tetap wangi dan tumbuh subur dan cantik.

dan seperti tanggal 8 maret 2012 ini, adalah perayaan hari dilamarnya nit. Hari Lamaran Nasional. dilamar di depan monumen bandung nol kilometer. simbol dr titik akan dimulainya sebuah perjalanan. walaupun waktu itu g langsung dijawab dgn 'i do' hehehe...

maka ada alasan untuk merayakan sebuah memori. pengennya sih ada sekuntum bunga dan acara makan batagor atau gehu di teras rumah pake lilin kayak tanggal 2 Januari lalu (Hari Jadian Nasional). tapi gatau nih, soalnya nit lg bete-betean..

Adalah KOMUNIKASI yg jadi biang keladi.
pernah baca buku2 atau artikel2 "how to" tentang sebuah kelanggengan hubungan? iya, tips yang first thing first adalah komunikasi.
padahal suami nit S1-nya Komunikasi loh dan nit Sarjana Bahasa, UPI (hehe.. entah nyambung atau engga).. Fakultas ilmu komunikasi, UNPAD + Fakultas Pendidikan Seni dan Bahasa UPI. tapi ternyata tidak menjamin tidak adanya masalah komunikasi.

nit maunya begini, suami nit nyangkanya begitu. yah secara general, seperti yg ada di buku Mars Venus itulah..

jadi setiap perayaan adalah juga dorongan/motivasi untuk mereview perkembangan apa sajakah yg telah dicapai dalam neraca relationship quality. bagaimana grafiknya.
tapi malesnyaaaa kalo lg bete..

nit leo, suami taurus, dua-duanya keras kepala. ego tinggi.

-

Kadang lucu, kalo lagi bete beraninya di HP. Kalo marah atau protes lewat kata2 tertulis kayaknya lebih tertata, terstruktur, bisa dijaga. itu nit. Nit justru khawatir kalo lg panas, diajak ngobrol, ngomongnya jadi ga paruguh. Maka media tulisan bisa jadi alternatif.
Tapi bagi yayah, ngomongin masalah itu idealnya face to face. Jadi kalau nit marah2 lewat sms atau bbm, reaksi yayah cuma berupa emoticon. Senyum, Meluk, Nyium.
Nit tambah greget aja..
Nit ; Nyebelin
Yayah ; ({})
Nit : "Yayah ini serius"
yayah : :-*
Nit : aaaarrrrghh...

Jadi buat Yayah, nit tuh harus berbicara dengan sejelas-jelasnya, sejelas idzhar dan qolqolah kubro tentang alasan kenapa nit marah.
Sementara nit, berharap hanya dengan ngomong, "Kenapa sih selalu keulang lagi??", he would know what i mean.. oh intensinya kesana, review yg waktu itu dengan kejadian yang sama.
But he's not.
Atau dgn bilang, "tuh kan yayah mah." we would come to the same context of locution.
Tapi tidak.

Dan tambah betelah sii aku. Bete karena masalah, Bete karena c yayah tidak menganggap itu masalah, atau bahkan tidak tau ada masalah itu..

Maka malemnya, bicara dengan lugaslah si aku.. Dan komentar c Yayah,
"Kalo ada apa-apa itu kordinasikan dulu yay.'
"Kan yayah udh ngomong ke bunda.'
"Yayah itu cuma ngomongin rencana akang, langsung eksekusi. Itu bukan diskusi yay, karena yayah gga minta pendapat nit.'
Terang benderanglah lampu yang ada diatas kepaala yayah yang langsung mafhum kenapa nit marah..

kalo udah gitu, baikan lagi.. hee.. at least from my opinion. karena menurutĀ  yayah adalah ga ngerasa ada berantem.

Dan ngobrol yang paling enak adalah setelah sholat berjama'ah.. masih di atas sajadah, masih pake mukena, duduk berhadapan, lalu ngobrol..

Tapi berantem-berantem kecil itu justru seperti hujan, nyiram.
Kalo kelamaan bisa banjirrrr...
Beruntunglah Yayah seperti memiliki tempat seperti bendungan katulampa. huaaa...
Seperti kombinasi garem+gula+merica, ngebumbuin. Tapi kalo kebanyakan, bisa giung..
yah namanya juga hubungan, pasang surutmah pasti ada..

akhir kata : rayakanlah setiap moment, meski dgn cara sederhana..

akhir kata kedua : ngobrollah..

8 dan 16 maret 2012

Husnun Nisa

/husnunisaiskandar

Ibu dari Alif Ali, Istri dari Dede Iskandar. Sedang belajar bisnis kecil-kecilan. Senang menulis sejak dulu. Senang membeli pengalaman, tapi kalo gratis juga boleh :D
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?