PILIHAN HEADLINE

Dilema Inovasi dan Kekalahan Sebuah Bangsa

20 Maret 2017 11:46:48 Diperbarui: 20 Maret 2017 14:37:54 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Dilema Inovasi dan Kekalahan Sebuah Bangsa
Ilustrasi Inovasi (Gambar: Pixabay - Jarmoluk)

"Stabilitas sudah mati. Gagasan bahwa anda bisa menciptakan bisnis yang tidak akan didisrupsi oleh teknologi, telah berakhir." (Don Tapscott)

Semua orang menuntut dan mendambakan inovasi. Namun inovasi hadir tidak sekedar meningkatkan nilai barang dan jasa. Yang ikut mengiringi inovasi adalah model bisnis baru. Sehingga, inovasi tidak sekedar mendisrupsi atau membunuh barang/jasa lama, tapi juga model bisnis lama. Disrupsi pada model bisnis inilah yang bisa membuat industri mapan dan market leader 'mati dalam semalam'.

PERUBAHAN SIFAT DAN MODEL BISNIS

Mari kita lihat contohnya di industri musik.

Dulu bila kita suka pada satu-dua lagu yang dipromosikan di televisi atau radio, maka kita harus beli satu kaset album. Isinya bisa 10 lagu atau lebih. Kita tak punya pilihan untuk beli satu-dua lagu yang kita suka saja. Padahal, harga satu kaset itu adalah harga 10 lagu. Dengan demikian kita 'dipaksa' untuk membayar sesuatu yang tidak kita butuhkan.

Model bisnis ini sangat menguntungkan bagi studio atau label rekaman, distributor atau toko kaset, dan artis. Kala itu kita kenal tangga lagu Billboard yang menunjukkan peringkat penjualan terbanyak, atau berbagai penghargaan berdasarkan jumlah kopi terjual.

Gelombang disrupsi pertama adalah teknologi encoding MP3 yang membuat lagu-lagu pada album bisa dipisah dan didistribusikan secara elektronik dengan sangat mudah. Model bisnis yang menjual satu album jadi tidak relevan lagi. Konsumen bisa memilih, membayar dan mendownload lagu yang mereka suka saja. Harganya jauh lebih murah.

Disrupsi pertama ini menghantam toko kaset dan produsen pita kaset, karena berjualan kaset album tak lagi relevan. Hantaman juga datang ke label, dimana mereka tak bisa lagi berjualan lagu yang 'tidak penting'. Secara kuantitas maka volume produk yang mereka jual jadi terkikis. Di sisi lain, lahir layanan penyedia MP3. Yang paling fenomenal adalah Napster yang membagikan membagikan musik MP3 secara gratis, dan akhirnya ditutup. Black market bermunculan yang kegiatan utamanya adalah pembajakan dan distribusi musik MP3 gratis. 

Model bisnis menjual lagu 'tidak penting' ke dalam satu album juga didisrupsi secara tradisional oleh pembajak CD yang mengkompilasi lagu-lagu top chart berbagai artis dari label berbeda ke dalam satu CD. Entitas-entitas baru ini membuat label, artis, dan toko kaset menderita bersama-sama.

Lalu kenapa orang mau repot dan mengambil risiko membajak lagu dan mendistribusikannya secara gratis lewat situs?

Karena ternyata black market ini ternyata melahirkan model bisnis online baru yang unik. Mereka memang tidak berjualan MP3 bajakan, tapi jadi tempat beriklan mitra agen iklan online atau afiliasi lain. Google Adsense contohnya. Dengan tingginya trafik atau kunjungan ke situs mereka, maka mereka bisa menghasilkan penghasilan besar dengan terlihat atau dikliknya iklan yang mereka pasang. Salah satu situs populer dengan model bisnis ini adalah Stafaband.

Gelombang disrupsi kedua adalah kemunculan music streaming on-demand. Beberapa yang populer adalah Spotify, Joox dan iTunes. Bisnis ini secara revolusioner mengubah sifat kepemilikan dalam pasar musik. Kita hanya bayar biaya langganan dengan per bulan tarif yang rendah di bawah Rp 50.000, tapi kita mendapatkan akses memutar puluhan juta lagu lama dan baru dari seluruh dunia termasuk Indonesia yang bisa didengarkan dimanapun kita berada. Seperti bayar tiket masuk ke toko kaset mahabesar dimana kita bebas mau dengarkan lagu apa saja. Bahkan Joox bisa digunakan secara gratis meski tidak untuk mengakses semua lagu. Saya sendiri sudah hampir dua tahun ini berlangganan Spotify yang bisa diputar di smart phone, komputer, laptop, tip mobil, dan smart tv rumah.

Inilah revolusinya. Dulu, kita bisa memiliki sebuah musik lewat kaset, CD atau MP3. Dokumen musik itu kita beli dan simpan. Padahal musik itu life cycle dan popularitasnya singkat, kita tak dengarkan terus-menerus. Lalu, apakah konsumen merasa harus memiliki dokumen musik? Apakah kalau dokumen musik itu tidak kita beli, maka harganya bisa lebih murah? Bisakah kita hanya membeli 'waktu dengar' saja agar harganya lebih rendah?

Ternyata bisa! Musik bisa jadi sesuatu yang tidak harus dimiliki.

Bisnis ini menjadi mungkin ketika ekosistem yang mendukung untuk bisnis ini telah terbentuk. Antara lain penetrasi penggunaan smart phone, teknologi smart phone, penetrasi dan kecepatan internet, rendahnya tarif data selular, dan kecepatan di dunia teknologi aplikasi. Music on-demand langsung menyerang ke titik paling lemah industri musik lama, yakni model bisnis dan sifat kepemilikan. Kerjasama antara penyedia platform dan label adalah: label memasukkan semua lagu yang dia punya ke dalam platform. 

Label akan dibayar oleh penyedia platform sebanyak per musik diputar oleh pelanggan. Makin banyak musik itu diputar, makin besar pula setoran penyedia platform kepada label. Sebaliknya, musik yang tidak diputar pelanggan maka tak harus ada setoran. Tak ada lagi model bisnis beli musik satuan dalam bentuk MP3 kepada label. Dengan cara ini, maka pelanggan akan mendapatkan harga lebih murah.

Penyedia platform juga melakukan monetize kepada penyedia label. Dimana platform membuat playlist yang direkomendasikan kepada pendengar, dan label harus membayar agar bisa masuk ke playlist tersebut dengan harapan musik itu akan lebih banyak didengar.

Mengapa label rela ikut aturan main baru seperti ini?

Karena mereka tak punya pilihan lain di saat musik MP3 mereka terus dibajak dan didistribusikan secara gratis. Mendistribusikan lagu lewat situs resmi penyedia file MP3 seperti sebelumnya ternyata juga sudah didisrupsi oleh model bisnis streaming on-demand.

Model bisnis ini langsung menghantam semua yang pernah ada di masa lalu: label, artis, toko kaset/CD, situs penyedia MP3 resmi dan bajakan, pembajak MP3 serta penjualnya.

Yang akan segera populer dan jadi konsumsi umum adalah movie steraming on-demand. Penyedianya antara lain Netflix, Iflix, Catchplay, Hooq, Google Movie, dan Hulu. Saya berlanganan Iflix dan Catchplay dengan biaya langganan masing-masing di bawah Rp 50.000/bulan. Bahkan dapat promosi gratis sampai 6-12 bulan. Ribuan film bioskop baru dan serial tv ada di sana. Nonton sampai jelek! Yang kelak terdisrupsi oleh model bisnis ini adalah studio film, bioskop, penjual CD film bajakan, dan situs-situs film bajakan. Sementara toko penyewaan film sudah lama punah.

Dengan kata lain, model bisnis itu mendisrupsi dengan bengis dan kejam. Tak pandang bulu. Ia menghantam yang besar dan kecil, kaya dan miskin, mapan dan baru, resmi dan ilegal.

Ilustrasi membunuh inovasi. Sumber: gruposcooperativos.wordpress.com
Ilustrasi membunuh inovasi. Sumber: gruposcooperativos.wordpress.com

INVESTOR YANG 'TAK MAU UNTUNG'

Yang berada di balik  keperkasaan model bisnis perusahaan teknologi adalah model pendanaan, serta perilaku investor. Secara tradisional, umumnya pelaku usaha yang hendak memulai dan mengembangkan usaha akan pergi ke bank mencari kredit. Tak hanya harus punya jaminan seukuran jumlah uang yang dipinjam, tapi kewajiban membayar cicilan dan bunga. 

Bila mereka pergi ke investor, mereka harus menjanjikan imbal hasil dalam waktu singkat. Dengan kewajiban-kewajiban ini maka pelaku usaha tradisional tidak bisa mengelak dari keharusan menciptakan pendapatan, laba, dan kelancaran cash flow. Di hari pertama mereka berbisnis, bisnis tradisional sudah harus bisa menghasilkan pendapatan (monetize).

Tapi tidak dengan perusahaan teknologi. Haram hukumnya bagi perusahaan teknologi, khususnya berbasis jasa, untuk pinjam uang ke bank. Karena bisnis teknologi adalah bisnis jangka panjang. Sebuah teknologi inovasi perlu waktu tidak singkat untuk proven (terbukti) di pasar. Sebagai teknologi baru, ia perlu diadaptasikan ke banyak orang. Proses pertumbuhannya pasti berjenjang. Seperti halnya Facebook tidak mendapatkan 2 miliar user dalam waktu 1 tahun. 

Untuk mengadaptasikan dan menjalani pertumbuhan berjenjang agar proven, maka semua barrier (penghalang) harus dihapus di masa-masa awal. Barrier paling besar adalah tarif di sisi user. 

Sehingga pada umumnya perusahaan teknologi berbasis jasa tidak mengenakan tarif kepada konsumen maupun mitra bisnis. Karena yang dikejar di masa awal bukanlah pendapatan, tapi membuat teknologi itu diadaptasikan ke banyak orang dan proven. Setelah proven, barulah proses monetize dimulai secara bertahap. Karena banyaknya pengguna, maka monetize-nya bisa dilakukan dari sisi manapun. Tak hanya dari sisi user, tapi juga mitra bisnis atau pengguna afiliasi.

Karena itulah investor dalam hal ini venture capital (VC) juga akan melarang perusahaan yang dimodalinya untuk segera menciptakan revenue dan profit dengan segera; karena tarif adalah barrier. Investor menuntut perusahaan untuk menciptakan adaptasi dan bauran teknologi itu secara luas. Dengan demikian, kelak valuasi bisnis perusahaan akan naik nilainya yang otomatis nilai saham mereka juga akan meningkat di ronde pendanaan/investasi selanjutnya. Anda bisa bayangkan berapa banyaknya uang yang didapat oleh para pemegang saham awal Whatsapp setelah dibeli Facebook senilai Rp 222 triliun pada 2014. Meski sejak berdiri dari 2009 sampai dijual, WA tidak pernah punya pendapatan.

KELENTURAN TINGGI DALAM SEKUP GLOBAL

Bisnisnya yang berbasis teknologi juga membuat mereka punya kelenturan sangat tinggi dalam mengeskalasi market dengan biaya sangat rendah dan kecepatan tinggi. Spotify atau Joox contohnya. 'Toko' mereka ada dimanapun di seluruh dunia di setiap ponsel yang terhubung dengan internet. Perusahaan musik streaming on-demand ini tak perlu sewa toko, bayar gaji pegawai dan biaya operasional seperti halnya toko kaset tradisional yang melakukan ekspansi wilayah untuk mendapatkan market baru.

Lalu, apakah produk Spotify/Joox sebenarnya? Yang pasti bukan produsen musik. Mereka distributor yang bekerja dengan cara-cara baru. Namun model distribusi ini dilakukan secara less ownership dimana mereka tak perlu beli musik lebih dulu dari label sebelum didistribusikan ke konsumen seperti halnya toko musik tradisional. Mereka menyediakan sebuah platform teknologi yang menjebatani antara label dan konsumen agar musik bisa dinikmati secara on-demand. Dengan model bisnis less ownership seperti ini, mereka bisa berhemat biaya sangat banyak sehingga mampu menghadirkan tarif yang sangat kompetitif.

DILEMA INOVASI DAN MUSUH BARU

Di sinilah muncul dilema inovasi. Satu sisi pelaku usaha, masyarakat dan pemerintah membutuhkan inovasi-inovasi baru untuk meningkatkan kualitas peradaban. Di sisi lain, ia tak hanya bisa membunuh produk mainstream lama yang menjadi revenue center bagi produsen dan suplly chain. Tapi kehadirannya dengan model bisnis baru juga membuat lansekap ekonomi dalam skala luas tergoncang. 

Dilema ini utamanya hinggap pada market leader yang memiliki kegiatan riset dan pengembangan (research & development, R&D) dengan anggaran besar. Inovasi-inovasi itu lahir di tubuh R&D perusahaan. Namun ia tak bisa diimplementasikan karena akan mengkanibal produk dan model bisnis perusahaan itu sendiri. Contohnya: betapa gamangnya perusahaan media surat kabar ingin berinvestasi besar di bisnis media online karena itu akan ikut mengkanibal produk surat kabar mereka.

Dilema yang tak kalah besarnya adalah: bila perusahaan mencegah merilis inovasi yang bisa mengkanibal produk dan model bisnisnya sendiri, maka hanya persoalan waktu muncul pihak lain yang melakukannya.

Pihak lain itu tak hanya kompetitor, tapi juga entitas bisnis baru di luar industri. Siapa yang menyangka bahwa konglomerasi bisnis raksasa taksi se-Indonesia terancam bangkrut oleh seorang Nadiem Makariem (founder Go-Jek) yang namanya tidak pernah dikenal sebelumnya dalam industri transportasi? Siapa mengira ojek yang tak pernah diperhitungkan keberadaannya dalam kompetisi bisnis transportasi tiba-tiba bisa membuat industri taksi bernilai triliunan gonjang-ganjing?

MEMBONGKAR ATURAN MAIN

Ada pula paradoks lain dalam inovasi: mereka yang berdiri di puncak dan orang-orang lama adalah pihak terakhir yang bersedia berubah. Karena mereka berhasil terus-menerus menciptakan keuntungan dari barang/jasa dan model bisnis lama. Perubahan secara drastis mampu membuat syok organisasi mereka yang masif. Sehingga, tak jarang kecepatan inovasi itu dikelola secara cermat dengan menjalankannya begitu lambat di tingkat pasar.

Kita perlu waktu puluhan tahun menikmati televisi berwarna dari hitam-putih. Belasan tahun hingga punya remote tivi. Belasan tahun pula beralih dari televisi tabung ke layar datar plasma. Hingga seseorang mengubah wajah lansekap industri dengan cara merombak aturan mainnya seperti yang dilakukan Samsung dan LG. Mereka memahami bahwa saat ini konsumen lebih mementingkan kecepatan dibanding revolusi; seperti revolusi tivi hitam putih ke warna, atau dari tabung ke plasma. 

Tak apa perubahannya sedikit, yang penting cepat dan disenangi. Sekarang, teknologi televisi di pasar terus diperbaharui tiap tahun. Bahkan belum sempat kita beli, televisi 3D yang rilis sekitar 3-4 tahun lalu sudah disebut produk gagal. Perubahan model bisnis yang dilakukan Samsung dan LG yang mengutamakan kecepatan ini berhasil mendisrupsi raksasa-raksasa lama seperti Sony, Toshiba,  Phillips, Panasonic, National dan Sharp. Merk-merk yang membuat kita harus menunggu begitu lama agar bisa menikmati inovasi baru.

Begitu pula dengan industri ponsel. Bertahun-tahun Nokia membuat kita hanya bisa menikmati ponsel yang berubah cuma casing atau bentuknya saja. Teknologinya hanya yang itu-itu saja. Kalaupun ada yang disebut revolusioner, itu adalah kamera dan pemutar musik di ponsel. Nokia tak mampu menghadirkan inovasi yang lebih cepat karena mereka terikat pada sistem operasi Symbian yang dikembangkan secara tertutup dan dijalankan dengan model bisnis yang terbatas.

Hingga akhirnya wajah industri ponsel diputar 180 derajat oleh Google lewat Android. Gratis, open source, bisa dikembangkan siapa saja, memiliki ekosistem pengembangan aplikasi yang masif, dan punya model bisnis yang ajaib. Meski Nexus-nya Google bukan market leader, namun Android berhasil tertanam di lebih dari 70% ponsel di muka bumi ini. Berkat Android kita bisa menikmati harga ponsel di bawah Rp 1 juta. Karena sebelumnya lisensi sistem operasi ponsel mengambil porsi hampir 50% dari harga produksi. Tingginya demand terhadap smart phone juga menciptakan pemain-pemain baru dalam supply chain sehingga harga komponen lebih rendah secara alami karena kompetisi dan jumlah supply.

Dengan begitu banyaknya pengguna Android di dunia, Google melancarkan model bisnis yang belum pernah ada sebelumnya: memanfaatkan data user untuk dijual ke pengiklan, Admob, Play Store, dan layanan cloud untuk mobile device. Dengan meningkatnya pengguna smart phone, otomatis membuat ekosistem di internet makin gemuk. Dan itu artinya memompa trafik dan user bagi layanan-layanan Google yang lain seperti Adwords, Firebase, G Suites dll. Tahun 2016 lalu Google berhasil menciptakan pendapatan $ 89,5 miliar atau Rp 1.163 triliun, dimana $ 79,8 miliar dihasilkan dari produk iklan.

***

Kita tengah berada dalam gelombang industri keempat dan era mesin kedua. Gelombang ini ternyata memiliki kekuatan disrupsi sebegitu besar sampai tingkat struktur ekonomi dunia. Kebengisan inovasi tak hanya tak hanya menghantam para pemilik modal dan pengelola usaha, namun juga ribuan atau jutaan pekerja di industri lama atau yang terhubung dalam rantai pasokannya. 

Dampak langsung ini harus ditanggulangi, utamanya oleh pemerintah. Tapi tidak ada jalan yang mudah. Karena di sisi lain inovasi itu hadir dan terserap karena mampu menyelesaikan masalah lama di tingkat pasar, memiliki demand tinggi, meningkatkan produktivitas masyarakat, dan berdampak positif pada ekonomi dalam skala luas. Pemerintah yang tak mau berkeringat hanya akan mengambil langkah mudah: tutup, bubarkan atau hambat adaptasi dan bauran inovasinya.

Relevankah pemerintah membendung adopsi teknologi di pasar?

Tidak. Karena dengan kecepatan pertukaran informasi yang menyebabkan percepatan perkembangan ilmu pengetahuan, munculnya model-model bisnis dan pembiayaan baru, membuat tak ada satu orang pun bisa menebak kecepatan perkembangan inovasi yang akan hadir di pasar. Internet membuat inovasi itu bisa secepat kilat didistribusikan, diadaptasikan dan direplikasi dalam skala global.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah, perusahaan, dan pekerja terdampak.

MENGUBAH BENCANA MENJADI KESEMPATAN

Pemerintah memiliki 3 perangkat kuat: regulasi, pajak, dan anggaran. Pemerintah memainkan peran penting menggunakan 3 perangkat itu mengadaptasikan dan membaurkan inovasi sehingga mampu mengubahnya dari bencana menjadi kesempatan. Sebagai enabler, pemerintah mesti menggunakan otoritas dan perangkatnya untuk menciptakan sebuah standar, menfasilitasi kolaborasi, menyediakan infrastruktur, dan menata ulang keahlian (reskilling) kelas pekerja. Kemampuan mitigasi oleh pemerintah juga tak kalah penting, lewat penyediaan jaminan sosial, perlindungan konsumen, dan penataan ulang sektor tenaga kerja. Secara jangka menengah-panjang, pemerintah wajib mempersiapkan generasi yang siap bersaing di dunia baru melalui kebijakan dan fasilitas pendidikan.

Tapi hal itu tidak kita lihat dari pemerintah Indonesia, baik di pusat maupun daerah. Terutama dalam hal mengadaptasikan dan membaurkan inovasi untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Dalam kasus konflik Gojek dan ojek pangkalan contohnya. Pemerintah hanya sibuk melerai dan kebingungan mau memihak yang mana. 

Padahal kalau pemerintah berpihak kepada kemajuan dan produktivitas dalam struktur ekonomi masyarakat di era modern ini, pemerintah tak mesti bingung. Toh pada akhirnya para pengojek pangkalan yang bergabung ke Gojek, Grab atau Ubermoto. Mereka belajar dan beradaptasi sendiri secara alami dibantu ekosistem yang dibentuk oleh Gojek cs. Pemerintah dan negara tidak hadir. Bahkan mantan Menhub Jonan sempat mengeluarkan Permenhub yang melarang operasi Gojek cs, yang untungnya kemudian dibatalkan oleh Presiden Jokowi.

Begitu pula dalam ekosistem e-commerce Indonesia yang pada tahun 2016 lalu perputaran uangnya ditaksir mencapai $ 27 miliar atau Rp 351 triliun. Ekosistem e-commerce kita terbentuk secara alami didorong oleh para startup marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Blibli dsb. Jutaan orang Indonesia yang kini menjadi pedagang online beradaptasi secara mandiri. 

Tak ada peran apapun pemerintah dalam membantu adaptasi dan pembauran inovasi yang mampu menciptakan perputaran uang ratusan triliun pada ekonomi kemasyarakatan model baru ini. Road map untuk ekonomi digital Indonesia saja baru selesai akhir tahun 2016 kemarin, dan masih di atas kertas.

KOMPETENSI ADALAH KUNCI

Sementara, perusahaan harus berhenti merengek, meminta proteksi, dan mengerahkan pekerjanya untuk membuat konflik. Tak ada gunanya menunda kekalahan. Kita tidak pernah melihat karyawan PT Pos demo karena bisnisnya sekarat oleh SMS dan email. PT Pos tak pernah menuntut pengirim email beli prangko supaya kompetisinya adil. 

Tak pernah juga dengar pengemudi becak dan delman konflik dengan taksi dan bus. Bahkan pada suatu masa di Orde Baru pemerintah menyita semua becak dari Jakarta karena dianggap merusak keindahan kota dan mengacaukan lalu lintas. Becak-becak itu sebagian besar ditenggelamkan dan dijadikan rumpon di Teluk Jakarta, tempat Soeharto kerap memancing. Perusahaan-perusahaan lama ini harus belajar soal apa yang akan terjadi pada mereka yang lamban atau tak mau berubah: Kodak, Nokia, Blackberry, Sharp dsb.

Inovasi sebenarnya membuat perusahaan bisa mendistribusikan barang/jasanya secara lebih luas dan cepat, serta pengadaan modal tak berwujud (intangible capital). Masalah-masalah yang terpecahkan oleh perusahaan teknologi mesti bisa membuat mereka mengkoreksi diri dan mengimplementasikan nilai-nilai baru (value added) dalam produk. Dan inilah yang terpenting: memberi tempat baru bagi kompetensi perusahaan.

Seringkali perusahaan mengajukan pertanyaan yang salah: "Apa jalan keluar agar usaha kita bisa bertahan di saat orang tak lagi memakai produk kita?"

Harusnya mereka bertanya: "Produk baru apa yang bisa kita hadirkan di pasar berdasarkan kompetensi kita?"

Budi Darsono, founder Detik, adalah salah satu contoh idealnya. Budi adalah seorang wartawan di Tabloid DeTik yang dibredel Soeharto tahun 1994. Budi dan kawan-kawannya yang tak ingin meninggalkan pengabdian kepada dunia jurnalistik, meluncurkan situs portal berita Detik.com tak lama kemudian. Detikcom berevolusi menjadi perusahaan teknologi bidang media terdepan di Indonesia yang pada 2011 dibeli oleh Transcorp milik Chairul Tanjung senilai Rp 521 miliar. 

Pensiun tahun lalu sebagai CEO Detik, Budi kemudian mendirikan lagi perusahaan teknologi bidang media bernama Kumparan dimana ia duduk sebagai presiden komisaris. Atau seperti Pepih Nugraha, wartawan Kompas yang mendirikan dan memimpin social blog terbesar di Indonesia, Kompasiana. Januari 2017 Pepih meninggalkan Kompas Group mendirikan Selasar, perusahaan teknologi bidang media tanya-jawab dan jurnal.

Dari situ kita tahu bahwa kompetensi, terutama kompetensi dasar, akan tetap vital dalam ruang-ruang baru industri. Namun ada pertanyaan: Mengapa bukan Detikcom yang mendirikan Kumparan? Mengapa bukan Kompas yang mendirikan Selasar?

Karena perusahaan dengan kredo industri lama didesain dengan birokrasi yang gemuk, hierarkis dan kompleks, sehingga membuat mereka kesulitan bergerak cepat. Sedangkan perusahaan-perusahaan baru khususnya di bidang teknologi seperti Google, Facebook, atau Tesla, menganut kredo dan kultur baru yang membuat mereka tetap lincah dan cepat meski memiliki organisasi  berukuran besar. Kemungkinan lain adalah dilema inovasi pada korporasi besar atau menolak untuk menggeluti niche (ceruk) baru.

Sedangkan bagi para pekerja dan masyarakat, inilah saatnya untuk menataulang keahlian (reskilling) dan menambah kompetensi baru. Tidak serumit yang dibayangkan sebenarnya. Tidak seperti semua orang harus jadi programmer. Pengojek pangkalan yang sebelumnya menggunakan ponsel lama, beralih ke smart phone dan mengembangkan kompetensinya menggunakan perangkat itu untuk produktivitas lewat Gojek cs. 

Bahkan sebelum ada Gojek, tidak sedikit dari mereka yang sudah menggunakan smart phone. Begitu pula halnya pedagang toko. Mereka bisa menggunakan smart phone yang sudah sejak lama mereka punya dan gunakan sehari-hari, untuk kegiatan produktivitas berjualan online di banyak marketplace yang tersedia. Tahun 2020 nanti, perputaran uang di e-commerce Indonesia mencapai $ 180 miliar atau Rp 2.340 triliun, lebih besar daripada APBN Indonesia saat ini. 

Kecepatan pertukaran informasi turut menjadi peluang bagi peningkatan usaha atau pendayagunaan kompetensi. Bila anda seorang terapis, montir, penata rias, atau pembersih rumah, Gojek akan mencarikan pelanggan bagi anda lewat layanan Gomassage, Goauto, Goglam, dan Goclean. Bila kompetensi anda bisa menghasilkan produk atau jasa yang bisa didistribusikan secara digital, maka sudah tersedia banyak marketplace tenaga kerja di internet untuk para freelance.

***

Menghambat, mengancam dan membredel inovasi hanya langkah sementara untuk menunda kekalahan. Semua hanya soal waktu. Sementara di dunia internet dan teknologi yang tak lagi punya batas negara, perpindahan dan replikasi teknologi itu bisa terjadi dalam sekejap. Bila kita tak memanfaatkannya, maka orang lain yang akan melakukannya. Setelah Alibaba membeli Lazada Rp 13 triliun tahun lalu, hari ini kita melihat begitu banyak seller dari China yang berjualan di Lazada. Tahun ini kabarnya Amazon akan rilis di Indonesia, dan kita akan segera lihat seller dari Barat ikut mencicipi manisnya triliunan uang kita. Kekalahan itu bukan lagi soal satu-dua pelaku usaha, tapi kekalahan sebuah bangsa.

Bila kita semua berpikir sama dengan cara lama, maka sebenarnya tak ada satupun dari kita yang berpikir.(*)

Hilman Fajrian

/hilmanfajrian

TERVERIFIKASI

Wordsmith. Digital media for business and commerce developer. www.soclab.co
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana