Kini Aku Tahu Kenapa Ada Suami yang Takut Istri

01 Oktober 2011 17:22:12 Dibaca :

Pernah lihat sinetron di Trans TV : suami-suami takut istri? Sinetron ini mengisahkan beberapa orang suami yang takut sama istrinya karena beberapa alasan. Dalam kehidupan nyatapun banyak suami yang takut dengan istrinya. Dulu aku punya teman yang sudah berkeluarga (waktu itu aku masih bujangan) yang takut sekali dengan istrinya. Apapun kata istrinya pasti dipatuhinya, bahkan ia tahu apa yang diinginkan oleh istrinya cukup dari raut wajahnya. Jadi sebelum istrinya mengatakan sesuatu dia segera melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Padahal pekerjaannya adalah komandan satpam di sebuah bank swasta. Bisa saja dia menggunakan kekerasan dan tenaganya untuk melawan istrinya. Sebelum istriku melahirkan anakku yang kedua aku termasuk orang yang sangat galak pada istriku. Kalau istriku salah masak, kurang garam, kebanyakan garam, terlalu pedas atau apapun yang tidak pas di lidahku aku pasti akan marah. Begitu juga soal pakaian, sepatu, dan semua peralatan pekerjaanku, kalau ada yang tidak beres pasti aku marah (oh ya istriku ibu rumah tangga biasa). Pernah suatu ketika adikku yang masih bujangan bertandang ke rumahku agak lama kemudian pas pulang dia mengadukan perbuatanku pada ibuku. Tentu saja aku dinasehati habis-habisan karena perlakuanku pada istriku. Dalam sex akupun sering marah pada istriku kalau dia melakukannya malas-malasan. Aku sering mengancamnya dengan ancaman : kalau kamu menolak melayani suami atauĀ  malas-malasan akan dikutuk oleh malaikat sampai pagi. Kalau berhubungan yang penting aku "mencapai klimaks", aku tak perduli istriku yang uring-uringan. Dan kini aku baru tahu kalau itu adalah efek dari KB suntik, tidak menikmati sex secara penuh. Maka ketika kami memutuskan untuk mempunyai anak lagi, setelah anakku yang pertama berusia 4 tahun, dengan berhenti KB suntik istriku mulai menikmati sex. Di sini aku mulai kewalahan. Nafsu sex istriku begitu tinggi ketika dia mulaiĀ  menstruasi lagi. Oh ya dia tidak pernah mensturasi sejak menikah denganku sampai dia memutuskan untuk berhenti suntik KB untuk program anak yang kedua. Saat itu aku mulai minder dengan istriku. Ketika baru pemanasan kadang aku justru sudah mencapai klimaks. Dulu ketika masih KB aku sering memarahinya karena malas-malasan melayaniku, kini aku yang tak sanggup melayaninya. Tetap aku masih suka memarahi istriku karena siklus mensturasinya yang tidak teratur. Mungkin setelah suntik memang seperti itu siklus menstruasinya. Setelah satu tahun tidak ada tanda-tanda dia hamil, aku memarahinya lagi. Aku mulai sadar kenikmatan seks tanpa kehadiran anak untuk pasangan suami istri ternyata kurang sempurna. Tadinya aku berharap minimal ketika anakku berulang tahun yang kelima dia sudah punya adik. Aku tak sabar menunggu kabar dia hamil. Akhirnya kukatakan padanya : kalau akhir bulan ini kamu ga mens, aku kasih duit satu juta. Namun dalam hatiku aku mulai sadar bahwa anak itu adalah pemberian Tuhan. Walaupun suami istri subur tapi jika Tuhan belum berkehendak maka tidak akan ada yang bisa memaksanya. Akhirnya kabar gembira itu datang ketika tak sengaja aku membawa istriku ke rumah sakit untuk suatu pengobatan penyakitnya. Dokter yang memeriksanya mendapatkan bahwa istriku telah hamil 6 minggu. Aku senang bukan kepalang, kucium tangan istriku sebagai tanda terima kasih. Aku mulai "tunduk" dengan kata-kata dan keinginannya, bukan karena aku penurut tapi sebagai tanda terima kasihku padanya karena akhirnya dia hamil lagi. Apapun keinginannya pasti kuturuti ketika dia mengandung muda. Aku juga mulai mengurangi marah-marahku karena hal-hal yang sepele. Bulan September kemarin istriku melahirkan anak kami yang kedua dengan cara operasi Cesar. Aku tidak tahu kenapa posisi anakku yang kedua beresiko untuk lahir normal, padahal anakku yang pertama terlahir normal. Proses persalinanya sungguh menegangkan. Aku bisa merasakan betapa seorang ibu harus berjuang hidup atau mati untuk menghadirkan manusia baru di dunia ini. Sungguh enak kaum lelaki, tidak merasakan hal seperti ini. Karena efek obat bius dan jahitan di perutnya istriku tidak bisa bergerak selama tiga hari. Pernah ia menangis karena tak kuat dengan rasa sakitnya itu. Sungguh aku tak tega melihatnya. Kini bayiku yang kedua sudah berusia 1 bulan. Pengorbanan istriku belum berakhir. Karena dia memberikan ASI ekslusif sampai enam bulan maka dia harus makan makanan yang cocok untuk ibu yang menyusui. Dia rela tidak makan sambal dan santan untuk masa enam bulan ini. Padahal makanan kesukaanya adalah bakso dengan sambal yang pedas. Setiap malam dia tidak pernah tidur pulas karena si bayi selalu bangun menangis minta disusui, diganti popoknya atau sekedar digendong digoyang-goyang. Pengorbanan istriku sungguh luar biasa untuk anak kami ini. Aku sekarang akan menuruti apapun yang dia inginkan dan aku berjanji untuk tidak mengedapankan marah-marahku.

Mister Hadi

/hadienglish

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Bagi Anda yang tinggal di Bogor/Depok dan sekitarnya dan ingin belajar privat Bahasa Inggris dengan saya, add pin BB saya di foto profile
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?