Warisan Idiom Khas dari Bahasa Belanda

07 April 2012 01:38:20 Diperbarui: 24 Juni 2015 23:55:54 Dibaca : 3604 Komentar : 7 Nilai : 3 Durasi Baca :
Warisan Idiom Khas dari Bahasa Belanda
1333787753768074621

isapan jempol (ilust childcareandbabies.blogspot.com)

Katakan ‘Itu cuma isapan jempol saja’, maka Anda sudah memakai ungkapan (idiom) khas warisan dari bahasa Belanda. Dikatakan khas, karena idiom ini tak akan bisa dijumpai dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Dalam bahasa Belanda idiom ini berbunyi ‘iets uit zijn duim zuigen’ (duim = jempol, zuigen = mengisap). Permaknaannya adalah ‘mengarang-arang, mengada-ada, atau merekayasa (make something up, fabricate). Ungkapan ‘isapan jempol’ saya anggap sebagai salah satu warisan ekspresi jempolan dari bahasa Belanda, karena begitu lugas dan tandas mengejawantahkan apa yang mau dikatakan oleh si pembicara.

Namun ‘isapan jempol’ bukanlah satu-satunya warisan idiom ‘cantik’ bahasa Belanda yang masuk dalam wacana bahasa Indonesia. Tengoklah ungkapan yang lain berikut ini: ‘hitam di atas putih’. Dalam bahasa Belanda idiom ini berbunyi ‘iets zwart op wit zetten’ (zwart = hitam, wit = putih, zetten = menaruh). Maknanya ‘dibuat secara tertulis’ (put in writing). Atau ungkapan penuh warna berikut ini: ‘benang merah’. Ini pun kita serap dari bahasa Belanda ‘de rode draad’ (rood = merah, draad = benang). Permaknaannya adalah ‘unsur kesinambungan dari suatu cerita atau kejadian’ (element of continuity in a story). ‘Benang merah’ bisa dipastikan bukan diadopsi dari idiom bahasa Inggris ‘red tape’, karena ‘red tape’ bermakna ‘birokrasi atau keberbelit-belitan dalam urusan pemerintahan’.

Anda sering mendengar atau membaca ungkapan ‘penumpang gelap’? Ini pun disadur dari idiom bahasa Belanda ’zwarterijder’ (zwart = hitam, gelap, rijder = penumpang). Arti secara harfiah tentunya ’penumpang pada suatu kendaraan (bus, trem, kereta api) yang tidak membayar’ dan secara kiasan adalah ’orang yang menyamar’. Mereka dari keturunan ningrat atau bangsawan biasa kita katakan dengan ’berdarah biru’. Dalam idiom bahasa Belanda disebut dengan ’blauw bloed hebben’ (blauw = biru, bloed = darah, hebben = mempunyai). Mendengar kata ‘blauw’ saya jadi teringat dengan zat padat berbentuk kotak kecil warna biru yang dalam artikulasi lidah orang Indonesia disebut ‘blau’. Blau ini memang sudah menjadi benda langka dan dahulu kala dipakai dalam cucian untuk memutihkan pakaian yang berwarna putih.

Ada ungkapan lucu yang terlontar kalau kita mengalami serbuan pekerjaan yang datang bertubi-tubi yaitu ‘Matang aku!’ Rupanya ungkapan jenaka ini kita contek juga dari bahasa penjajah kita. Dalam idiom bahasa Belanda dia berbunyi ‘Ik ben helemaal gaar’ (helemaal = sama sekali, gaar = matang) mengesankan masakan yang digodok sampai tanak. Kita juga sering mengucapkan ‘Mati kamu!’ kepada orang yang kepergok melakukan kesalahan fatal. Orang Belanda akan mengucapkannya dengan ‘Dat zal jij dood zijn!(secara harfiah bisa dipadankan dengan bahasa Inggris ‘That’s be the death of you’).

Anda pernah mendengar kata ‘pemutihan’? Istilah ini juga diserap dari kata ‘witwassen’ (wit = putih, wassen = mencuci). Namun kata ’witwassen’ kini lebih populer dimaknai sebagai ’pencucian uang’ atau ’money laundering’. Dan dalam wacana politik Indonesia yang selalu hingar bingar dewasa ini sering kita mendengar istilah ’wilayah abu-abu’. Harap dicamkan bahwa ini pun peninggalan dari bahasa Belanda yang berbunyi ’grijze zone’ (grijs = abu-abu, zone = wilayah). Masih banyak lagi ungkapan unik yang kita pungut dari bahasa Belanda, namun untuk kali ini saya cukupkan sampai di sini dulu. Tabik.

Gustaaf Kusno

/gustaafkusno

TERVERIFIKASI

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a beauty lover, but not a beautician; a joke lover, but not a joker ! Married with two children, currently reside in Palembang.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana