PILIHAN HEADLINE

Makin Tua, Makin Kuat

16 Februari 2017 21:15:25 Diperbarui: 17 Februari 2017 10:34:02 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Makin Tua, Makin Kuat
Sejak pagi sudah ditemani Sang Moka, FOTO: lavazza.com

Jika Amerika Latin dikenal sebagai penghasil kopi, Italia sebaliknya adalah penghasil minuman kopi. Italia menghasilkan minuman yang enak tanpa harus bertani.

Inilah uniknya Italia. Dari tiada menjadi ada. Tanaman kopi bukan termasuk tumbuhan yang populer di Italia. Bahkan, kopi—tidak beda dengan tanaman cokelat—tidak ada di Italia. Tetapi, anehnya, Italia justru termasuk penghasil minuman kopi paling top di dunia. Di mana-mana, kopi Italia selalu terdepan. Meski banyak yang suka kopi a la Amerika, kopi Italia tetap mempunyai nama populer di kalangan pecinta kopi.

Minuman yang enak itu tidak terlepas dari sejarah cara meraciknya. Dalam hal ini, Italia bisa diibaratkan tukang lukis. Tukang lukis mampu menghasilkan gambar yang bagus padahal hanya bermodalkan kertas putih dan pensil. Dua benda terakhir bisa ditemukan di mana-mana tetapi pelukis tidak sepopuler dua benda itu. Pelukislah yang menggunakan jasa dua benda itu untuk sesuatu yang besar dan mengagumkan.

Kopi tidak beda dengan kertas dan pensil. Kopi bisa ditemukan dimana-mana. Dari Amerika Latin sampai Asia. Tetapi, peracik kopi tidak bisa ditemukan di mana-mana. Petani kopi tidak otomatis menghasilkan minuman kopi yang enak. Kalau sekadar meracik untuk minum sendiri, siapa pun bisa. Tetapi, meracik sampai enak dan menjadi minuman yang digemari banyak orang, ini yang tidak ditemukan di mana-mana.

Gelas kopinya kecil, FOTO: ilgiornaledelcibo.it
Gelas kopinya kecil, FOTO: ilgiornaledelcibo.it

Meracik menjadi minuman enak rupanya butuh seni tersendiri. Italia sebagai negara penghasil seniman menaruh perhatian pada cara meracik kopi. Konon, alat peracik kopi pertama a la Italia ditemukan pada 1933. Saat itu adalah masa setelah perang dunia pertama. Akhir perang rupanya menjadi tonggak penting bagi Alfonso Bialetti(1888-1970), sang penemu mesin peracik kopi.

Sampai tahun 2017 ini, mesin tradisional itu masih eksis. Terhitung sekitar 105 juta mesin peracik telah diproduksi. Ini tidak lepas dari Putra Alfonso, Renato Bialetti (1923-2016) yang melanjutkan pekerjaan sang ayah untuk mengembangkan Mokaini sehingga sejak 1950, mesin ini makin berkembang. Nama yang diberikan Bialetti yakni la Moka pun menjadi familiar hingga saat ini. Dalam bahasa Italia modern, nama lainnya adalah la caffettiera.Kata ini berkaitan tentu saja dengan caffèyang berarti kopi.

Renato Bialetti,sang penerus, FOTO: english.offmedia.hu
Renato Bialetti,sang penerus, FOTO: english.offmedia.hu

La Moka bertahan selama ini bukan saja karena seninya. Kualitas mesin juga turut berpengaruh. Mesin tradisional ini tidak membutuhkan perawatan seperti mesin peracik kopi modern. Karena perawatannya tidak berat, mesin ini pun bisa ditemukan di mana-mana. Di setiap rumah orang Italia, pasti ada la Moka ini.

Orang Italia tahu benar rahasia mesin ini agar menghasilkan kopi yang enak. Ini bukan rahasia a la perusahaan besar yang tidak boleh bocor kepada publik. Rahasianya adalah tidak boleh mencuci dengan sabun. Setelah dipakai, mesin ini cukup dibilas dengan air. Serbuk kopi yang tersisa cukup dikeluarkan dengan bilasan air. Jika terkena sabun, otomatis kopinya nanti berasa sabun. Rasa ini bertahan lama sehingga butuh waktu untuk menghilangkannya.

Selain itu, mesin ini rupanya berbanding terbalik dengan mesin kopi modern. Mesin modern punya hukum alam, makin tua makin lemas. Mesin tradisional ini sebaliknya, makin tua makin enak. Maksudnya, kopi yang dihasilkan dari Mokatua rasanya enak ketimbang Mokabaru. Itulah sebabnya, orang Italia menjaga baik-baik mesin ini agar makin awet. Usia pakai-nya pun terhitung lama. Ada yang 20-30 tahun atau lebih. Tak jarang jika, Moka yang dimiliki teman saya yang saat ini berumur 40-an tahun adalah Moka yang mereka pakai saat ia masih kecil.

Sejak awal kehadirannya, mesin ini menjadi sesuatu yang berharga. Mesin ini menjadi sarana yang efisien di kalangan keluarga Italia. Bayangkan, dalam tempo 10 menit, 2-3 gelas kopi sudah tersedia. Kopi Italia bukan seperti kopi a la Amerika atau Indonesia yang berisi segelas penuh. Kopi seperti ini di Italia disebut caffè lungo alias kopi yang isinya sampai penuh gelas. Kopi Italia sebaliknya dijamu dalam gelas kecil. Mereka bilang, makin sedikit makin keras. Makin keras makin enak juga.

Macam ukurannya, FOTO: greatgiftsforcaffelovers.com
Macam ukurannya, FOTO: greatgiftsforcaffelovers.com

Ukuran mesin beravriasi. Ada yang berukuran 1 liter air. Air berukuran ini bisa menghasilkan kopi untuk 10 orang atau lebih. Ada juga berukuran ½ gelas Indonesia. Ini pun bisa menghasilkan kopi untuk 5-6 orang.

Kopi Italia dengan demikian betul-betul memeras air itu sampai menghasilkan minuman kopi yang keras. Ya, kadar zat kopinya memang tinggi. Bayangkan, dari air 1 liter plus serbuk kopi 15-20 sendok, hanya menghasilkan kopi 1-1,5 gelas ukuran Indonesia. Betapa kerasnya zat kopi yang dihasilkan. Ada yang berguyon, orang Italia banyak minum kopi, sehingga banyak juga yang—maaf—hilang rambutnya. Entah benar atau tidak. Ini hanya guyon non akademik.

Cara kerja mesin ini amat sederhana. Bagian bawah berisi tabung air. Di dalam tabung ini ada tabung serbuk kopi. Tabung serbuk kopi dimasukkan dalam tabung air sehingga tabung kopi tampak berada di permukaan air. Bagian atas mesin berisi tabung minum kopi. Di tengahnya ada sumbu kecil tempat mengeluarkan air yang naik dari tabung air dingin paling bahwah. Air mendidih yang ada di bawah akan naik, melewati tabung kopi, naik lagi lewat sumbu air, dan keluar memenuhi tabung minuman kopi bagian atas. Jadi, sederhana kan? Makanya setiap pagi, biasanya Moka ini selalu jadi teman sebelum sarapan.

3 bagian Moka, FOTO: iconeye.com
3 bagian Moka, FOTO: iconeye.com

Moka yang eksis sejak abad 20 ini rupanya menjadi lirikan para pecinta seni juga. Entah mungkin karena tergusur oleh mesin-mesin kopi modern yang bekerja lebih cepat lagi, Moka kini menjadi benda etalase. Hanya menjadi penghuni ruang pameran dan juga museum. Situasi ini membuat Mokaharus terbang jauh dari Italia ke Amerika. Di kota New York, Museum Seni Modern(MoMa) menjadi rumah baru bagi Moka. Di meseum ini, Moka memamerkan ‘tubuhnya’ yang memikat mata. Tubuh Mokarupanya menjadi objek seni modern. Lantas, lenyapkah peredaran Moka saat ini?

Moka tidak seperti anggota partai politik. Moka hanyalah anggota partai rumah tangga yang bekerja sejak pagi hari saat pemilik rumah bangun dan siap bekerja. Beda dengan anggota partai yang jika kalah akan diabaikan, Moka selalu ada di hati orang Italia. Janji yang diberikan bukan sekadar obral a la calon gubernur atau presiden. Moka mampu memenuhi janjinya untuk memberikan minuman kopi yang enak bagi orang Italia. Itulah sebabnya, Moka tidak ada matinya. Viva caffè.

Sekadar berbagi yang dilihat, ditonton, didengar, dirasakan, dialami, dibaca, dan direfleksikan.

PRM, 16/2/2017

Gordi


Gordi

/gordi

TERVERIFIKASI

Anda bisa menghormati agama lain jika Anda sudah menghormati agama Anda sendiri. Lainnya: http://www.kompasiana.com/15021987
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana