FEATURED

Menelusur Makna "Masa Tenang Kampanye"

06 April 2014 18:32:23 Diperbarui: 14 Februari 2017 08:35:52 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Menelusur Makna "Masa Tenang Kampanye"
ilustrasi: kyprisnews.com

Mulai hari minggu ini, sampai menjelan Pileg tanggal 9 April nanti kita memasuki masa tenang kampanye. Hingar bingar konvoi parpol dan riuh rendah panggung kampanye Caleg kini sudah tidak ada lagi. Kehidupan kembali seperti semula. Tenang. Walau di sana-sini masih banyak atribut kampanye (baliho, spanduk, dan bendera parpol dan Caleg), namun intinya adalah masa kampanye telah usai. Masa Caleg dari parpol mengobral dan memaniskan kampanye mereka dengan janji-janji untuk lima tahun ke depan. Hari pencoblosan yang semakin dekat, tentunya menjadi masa 'tenang kampanye' ini menyiratkan beragam tanda.

Petandaan (signification) ini bermain-main dalam tiap fikir kita. Tanda-tanda ini begitu samar (subtle) bermain dalam fikiran. Sehingga yang sejatinya istilah 'masa tenang kampanye' menjadi rancu. Berikut saya coba uraikan petandaan yang terjadi pada istilah 'masa tenang kampanye' ini. Oposisi Biner Istilah 'Tenang' Pernahkah Anda merasa sedih? Tentunya pernah. Saat kita merasa sedih kita ingin kembali merasa bahagia. Sehingga, bahagia dapat dirasakan saat kita pernah merasa sedih. Jadi terdapat binaritas (dua kutub) dalam istilah sedih. Sehingga, binaritas sedih ini beroposisi atau berlawanan dengan bahagia. Sehingga, mustahil kita merasakan bahagia jika kita tidak pernah sedih. Simbolisme ini disebut sebagai oposisi biner. 

Begitupun dengan kata 'tenang' dalam istilah 'masa tenang kampanye'. Ada sebelum 'ketenangan' sebuah ketegangan, bahkan ketakutan. Oposisi biner yang terjadi adalah, masa tenang ini terjadi karena terjadi masa yang tegang atau menakutkan. Namun apa kaitannya dengan kampanye? Masa kampanye secara faktual memang masa yang tegang bagi kita orang non-parpol. Salah paham yang terjadi karena sensitifitas warna kaus parpol saja bisa menimbulkan tawuran. Seperti yang kemarin terjadi di Yogyakarta pada masa kampanye PDI-P. Muncul isu tewasnya simpatisan PDI-P yang kemudian menyulut tawuran. Chang Wendryanto, Anggota Komisi A DPRD Kota Yogyakarta, mengatakan, peristiwa tawuran dipicu adanya kabar perusakan alat peraga kampanye milik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di daerah Ngabean, Kecamatan Ngampilan Koto, Yogyakarta, oleh oknum berkaos merah yang diduga dari simpatisan PDIP. 

"Ada isu perusakan, lalu ketika ada massa PDIP yang pulang dari kampanye lewat di Selatan perempatan Ngabean langsung diserang oleh beberapa orang  berjaket hitam," kata Chang saat ditemui di lokasi, Sabtu. (berita: tribunnews.comBelum lagi konvoi kendaraan motor yang sangat bising dan urakan. Bagi pengendara dan warga kota, konvoi urakan dan kadang anarkis ini menjadi hal yang harus dihindari. Bahkan ditakuti. Suara bising knalpot yang dicopot woofer-nya ditambah pengendara yang kadang mabuk. Membuat konvoi kampanye parpol lebih baik tidak didekati. Bisa-bisa malah membawa masalah. Sehingga, masa 'tenang kampanye' memang masa untuk melepas ketegangan dan ketakutan publik. Semua konvoi uraka di jalan dan panggung dangdut yang bisa ricuh kini tidak ada lagi. Kehidupan buat kita semuua kembali ke sedia kala. Seumpama hari-hari biasa tanpa terkesan masa kampanye. 

Intertekstualitas 'Masa Tenang Kampanye' Kalau oposisi biner diatas membahas sudut pandang kita sebagai orang non-parpol. Ada tanda lain yang terjadi dalam konteks 'masa tenang kampanye'. Karena petandaan masa tenang pun terjadi dalam pelaku kampanye itu sendiri. Dalam hal ini para Caleg dan parpol. Mereka sejatinya memiliki pemaknaan tersendiri atas masa tenang kampanye'. Intertekstualitas-lah yang terlibat dalam istilah 'masa tenang kampanye' untuk para Caleg. Dimana petandaan (signification) yang terjadi menjadi bias. Saat kita, orang non-parpol, yang memaknai 'mas tenang' ini dengan oposisi biner. Tanda-tanda yang mungkin terjadi dalam fikir Caleg mungkin berbeda. Sehingga kekacauan tanda (chaos) pun terjadi, atau intertekstualitas yang muncul. Caleg berfikir tegang, bahkan ketakutan dalam 'masa tenang' ini. 

Jadi, seperti kebalikan dari oposisi biner diatas. Caleg yang menanti hari pencoblosan nanti, memahami 'masa tenang' sebagai 'masa tegang'. Masa dimana kelelahan berkampanye dan kekhawatiran tidak mendapat suara berakumulasi. Stress dan ketegangan (anxiety) memenuhi kepala Caleg. Mereka khawatir dan memunculkan syak wasangka liar pada hari pencoblosan nanti. Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), MS Kaban, sangat percaya diri dengan peluang partainya dalam menembus ambang batas suara untuk pemilihan legislatif. Dia mengaku tanpa adanya kecurangan, PBB dapat meraih ambang batas dalam pemilihan legislatif. "Jujur kalau memang dilakukan secara transparan maka kita akan mendapatkan suara secara mutlak, kami ini punya 4-5 juta suara di Pulau Jawa, butuh 8 juta untuk lolos electoral threshold dan ini menjadi bagian kami untuk mengawal proses pemilu, jaga TPS, ikutin saksi-saksi itu," ujar Kaban di Jakarta, Sabtu (5/3/2014). (berita: tribunnews.com) Ucapan MS Kaban yang saya bold, memperlihatkan betapa tegang dan takutnya pemikiran petinggi parpol. Petingginya saja bersyak wasangka liar seperti ini. Apalagi para Caleg DPR/DPD/DPRD yang turut dalam Pileg tahun ini. Tidak heran kiranya banyak juga Caleg yang gagal lolos Pileg menjadi stress, bahkan gila. Sehingga pemberitaan tentang Rumah Sakit Jiwa (RSJ) pun menjadi hal yang menarik. Petandaan dalam fikir Caleg atau orang parpol dalam masa tenang ini berbeda dari kita, orang non-parpol. Mereka takut dan tegang melihat dan membayangkan hari pencoblosan nanti. 

Tanda yang bermain dalam makna 'masa tenang kampanye' adalah 'masa tegang bahkan ketakutan.' Karena kelelahan berkampanye. Pun juga habis-habisan dana yang dikuras untuk tetek bengek kampanye. Simpulannya, istilah 'masa tenang kampanye' yang terjadi memiliki beragam petandaan. Sebuah proses yang sangat samar, namun terlihat jelasa secara faktual. Dalam hal ini, fakta (output) yang terjadi akibat proses petandaan istilah 'masa tenang kampanye' dirasakan bersama. Sehingga, perlu kita telusur bersama tanda-tanda yang bermain dalam istiliha tersebut. Ternyata melingkupi hal-hal yang penuh intrik dan terkait perspektif. 

Salam, 

Solo 06 Maret 2014,11: 26 am

Giri Lumakto

/girilu

TERVERIFIKASI

Pensadora, a thinker | Pemerhati pendidikan literasi digital, teknologi, bahasa, dan budaya | Solo - Wollongong | Personal blog: lumakto.blogspot.co.id | tweet: @lumaktonian |email: lumakto.giri@gmail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana