HIGHLIGHT

Kesalahan Fatal Seorang Master of Ceremony

11 Juni 2012 08:35:43 Dibaca :

Seorang Master Ceremony atau biasa disingkat MC bagaikan seorang pawang dalam suatu acara. Bisa dibilang ia adalah seorang kuncen dalam acara yang dibawakannya.


Master ceremony bagaikan tuan rumah yang memperlakukan tamu-tamunya. Tamu seorang master ceremony adalah mereka yang menjdi pendengar atau orang yang mengisi acara.


Penampilan seorang MC haruslah sopan, sebagai tanda penghormatan kepada audiensinya. Karena  penampilan seorang MC sangat bernilai.


Suatu hari saya dan teman-teman mengikuti suatu acara yang berlokasi di suatu mal dibilangan Jakarta. Kami akui kami bukan guests star dalam acara itu. Kami hanya sekedar pengembira dalam acara tersebut. Namun yang sangat kami sayangkan−bukannya kami hitung-hitungan−kami tidak mendapat perlakuan hormat dari sang MC.


Dalam acara itu kami menampilkan band asal sekolah yang bernama The Bikops. Petama yang kami sesalkan adalah missed communication antara kami dan panitia. Mereka tidak mengatakan sebelumnya bahwa musik yang harus dipentaskan bergenre akustik. Sedangkan The Bikops  beraliran band pada umumnya dengan seperangkat drum, gitar, bass dan vokalis. Informaisi itu baru kami dapatkan pagi hari sekitar 2 jam sebelum keberangkatan.


Mereka tidak menyediakan alat yang kami butuhkan, alhasil kami harus membawa alat sendiri dari studio sekolah ke mal itu. Kami membawa gitar, bass dan seperangkat drum ke lantai 3 sebuah mal dari tempat parkir. Bayangkan sesaknya saat kami harus menaii lift. Semua kami lakukan karena niat.


Karena The Bikops yang lebih banyak memerlukan alat kami melakukan cek sound lebih dulu. Kami menunggu penampilan para guests star bergantian menaiki panggung dan pastinya punya porsi yang jauh lebih lama dibanding kami. Awalnya seorang MC laki-laki yang membawakan acara dengan fun. Namun, ditengah acara MC tiba-tiba diganti oleh sosok perempuan yang keliatan masih kikuk.


Tibalah saat The Bikops unjuk kebolehan. Salah satu lagu yang dibawakan The Bikops adalah Indonesia Tanah Air beta dengan instrumen blues. Lagu itu dinyanyikan karena mengingat tema acara iadalah tentang Indonesia timur. Tepuk tangan pun bergemuruh dari para penonton setelah penampilan usai. MC pun langsung mendatangi kami dan menanyakan, apakah ada yang ingin disampaikan behubung dengan acara kali ini. Setelah Sang vokalis menyampaikan simpatinya kepada Indonesia Timur sang MC yang seorang perempuan pun berkata “the Bikops masih mau nyanyi?” mereka pun bingung karena semua lagu yang direncanakan telah kami nyanyikan. “Soalnya masih duduk disini”


Sindiran yang tak mengenakan itu bagaikan petir disiang bolong. Saya yang duduk sebagai audience langsung kontak dengan para pemain band itu tanpa harus menunggu mereka segera meninggalkan panggung. Tanpa kata ucapan terimakasih atau apapun sang MC langsung membuka pertanyaan untuk membagikan tiket gratis sebuah wahana. Keadaan hening seketika tidak ada timpalan atas pertanyaan sang MC. Kami tambah kecewa lagi setelah sertifikat yang dijanjikan hampir batal diberikan karena suatu alasan yang belum pasti kebenaraannya.


Itulah pelajaran moral buat kami. Pelajaran yang sangat berharga….

Gina Mardani Cahyaningtyas Sugino

/ginginagie

Collegian of humaniora | Amateur Writer
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?