Fungsi Sebagai Manusia Adalah Menjalin Persahabatan

29 April 2012 10:40:50 Dibaca :

Berbagai macam pengalaman sangatlah berharga, mengingat kita adalah makhluk yang diciptakan untuk belajar. Pengalaman membuat kita berpikir dan megambil cara untuk tidak jatuh pada kesalahan yang sama. Dari pengalaman saya belajar berinteraksi degan manusia lain, dari itupula saya belajar untuk bersahabat.


Persahabatan menurut saya adalah menjalin interaksi antar dua orang manusia atau lebih dengan tujuan meningkatkan keharmonisan dalam hidup.  Sahabat meurut artian yang aaya simpulkan dari buku , artikel di internet yang pernah saya baca bahkan beberapa sinetron di televisi adalah orang-orang yang tidak mempunyai hubungan darah namun punya rasa kepedulian tinggi terhadap kita.


Misalnya ada cuplikan yang pernah saya dengar ditelevisi kurang lebih bunyinya seperti ini, “Gue kan sahabat lo, sahabat itu saling peduli,”atau “Gue kira selama ini kita itu  sahabat, tapi ternyata kita engak sejalan. Sorry mungkin persahabatan kita sampai disini” bahkan “Gue enggak nyangka, orang yang udah gue anggap sahabat selama ini ngerebut pacar gue


Waduh kok bisa gitu ya?


Sebenarnya siapa sih sahabat itu? Mengapa orang yang selama ini sudah kita anggap sebagai sahabat tetapi tidak meghargai kita? Saya ingin berbagi segelintir pengalaman tentang kisah persahabatan saya.


Di sekolah saya punya seorang sahabat perempuan yang sangat saya sayangi, saya tulis F. saya menganggap F lebih dari seorang teman biasa bahkan saya rasa sudah seperti sepupu. Saya dan F adalah dua pribadi yang berbeda, namun itulah fungsi sahabat. Saling melengkapi.


F berbakat di bidang olahraga, belum lama ini dia mencetak prestasi sebagai juara di bidang silat tingkat kota. Di sekolah F adalah atlet silat putri kelas fight kebanggan sekolah. Sedangkan saya, penulis amatir yang hanya coba-coba ikut lomba menulis dan jurnalistik yang hanya kebetulan “disenggol” dewi fortuna.


Orang-orang disekitar kami pun merasakan perbedaan antara saya dan F. Mereka juga mengenal kedekatan kami. Sesekali kami bisa dibilang tim yang solid, namun jika terjadi pertegangan diantara kami atmosfer permusuhan itu sungguh terasa. Saya mengakui kami sama-sama gengsi untuk meminta maaf dan saling egois. Namun perlahan-lahan kami memperbaiki itu.


Kejadian unik dan hampir mirip yang secara kebetulan menimpa saya dan F.  Tempo lalu F mengalami kecelakaan berkendara tidak lama kemudian saya juga mengalami kecelakaan bermotor. Hanya perbedaan kronologi namun nasib yang kami alami sama: harus ganti rugi.


Selanjutnya sakit yang di derita saya, tiba-tiba F juga menderita penyakit yang sejenis. Lalu kerusakan pada handpone saya dibagian LCD. Kini dialami F pada hanponenya dibagian yang sama juga. Hal diatas adalah bagian tidak penting yang saya ingin tunjukan. Karena saya merasa mempunyai kedektan batin dengan F.


Namun saya begitu sedih ketika F sedang fighting silat dalam sebuah perlombaan saya begitu antusias di luar lapangan menyemangati dan berdoa untuknya. Saat itu saya merasa jantung saya berdebar-debar, padaha hari itu bukan saya yang harus melakukan fighting tapi F. Saya dan teman-teman lainnya tidak lelah menyemangati F sampai akhirnya ia berhasil memenangkan pertandingan itu dan melaju ke tingkat yang lebih tinggi.


Besoknya saya yang giliran lomba, saya megikuti lomba di bidang bahasa. F tau saat itu saya akan lomba dan dia berjanji akan hadir. Namun sampai sampai lomba berlangsung ia belum juga datang. Pada akhirnya ia datang ketika saya telah tampil, dengan alasan lomba yang saya ikuti dimulai sekitar jam delapan pagi dan baginya itu masih terlalu pagi. Tidak ada semangat dari seorang sahabat seperti kemarin saya menyemangati sahabat saya. Malangnya dalam perlombaan itu F pulang dengan riang menggondol sebuah tropi sedangkan saya hanya tersenyum ikut merasakan kebahagian F. ya saya belum beruntung.


Pertandingan selanjutnya, sekolah mengirmkan tim futsal, tenis meja dan silat. Kebetulan final silat dan futsal berbarengan harinya. Jelas saya lebih memilih meliha final silat karena F, saya ingin menyemangati dia. Karena saya teringat pertandingan tempo lalu yang megantarkan F menjadi  juara. Saya dan teman-teman sudah heboh, menyemangati dia dan dua orang teman lainnya yang saat itu juga tanding silat. Sampai-sampai ami membawa sner drumband untuk menyemangati mereka. Sayangnya dalam pertandingan itu kaki F terkena sapuan lawan dan membuat tulang keringnya cidera, bahkan seorang  juri berpendapat kaki F hamp[ir patah F yang lupa memakai pelindung tulang kering meringis menahan rasa sakit. Tim medis menangani F.


Saya yang saat itu ada didekatnya turut merasakan betapa sakitnya itu, karena saya juga pernah merasakan luka di bagian kaki paska kecelakaan tempo lalu. Saya turut prihatin melihat F yang meraung kesakitan sambil mengeluarka air mata. Mulai saya rasakan mata saya memanas menahan sedih yang dirasakan F. saya berusaha memberikan motivasi untuknya,”hei  katanya pendekar! Masa gitu doing sakit…” namun bukannya  senyuman yang saya harapkan sesuai harapan saya malah sebuah kata lain “Gue kan manusia biasa yang bisa sakit, sakit tau” kata F. memang ada rasa sakit luar biasa saat itu dalam batin saya, tapi saya mencoba maklum dengan kondisi seseorang dalam keadaan seperti itu mungkin emosinya tidak stabil. Yang membuat saya sedih adalah dia seperti tidak menghiraukan keberadaan saya yang setiap hari berusaha menjadi pendengar untuk masalahnya, membantunya memberikan solusi  tempat dia berbagi.


Rasa ikhlas di hati saya untuk bersahabat dengan F mulai luntur oleh pikiran-pikiran negatif tentangnya, buatapa saya mengalah? Toh dia juga egois? Buatapa saya minta maaf, selama ini dia enggak pernah sadar kesalahnnya, “Dia sering banget ninggalin gue kalo udah ketemu pacarnya atau  ketemu baru, sedangkan gue enggak pernah kayak gitu.”


Akhirnya saya berkonsultasi dengan guru BK, mendengar cerita saya beliau langsung menajukan sebuah pertanyaan untuk saya, "belajar ikhlas itu sulit ya?" Lalu beliau melanjutkan, "mencari seseorang sahabat itu sulit, mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan orang itu karena kita ditugaskan sebagai pedengar dan membantunya meghadapi masalah. Namun ketika dia tidak ada untuk kita saat kita punya masalah, berpikirlah bahwa Tuhan tau kalau kita mampu. Kita mampu menghadapi itu sendiri."


Dari sekian pengalaman saya dalam bersahabat, saya belajar bahwa seorang sahabat yang baik adalah sahabat yang selalu mendukung sahabatnya dalam keadaan apapun, belajar mengalah dan belajar memahami, sehingga sahabat itu nantinya akan belajar dari kita. Kita senang jika sahabat kita senang, dan itulah sahabat yaitu ia yang turut merasakan kesedihan ketika sahabatnya sedang dalam kesedihan pula. Mencintai dan menyayangi harus dengan ihklas, sahabat sejati adalah sahabat yang tidak penah memperhitungkan materi atas upaya kebaikannya selama ini.


Perlahan-lahan hubungan persahabatn saya dan F mulai harmoni kembali. Saya berharap kisah persahabat saya dengan F bisa langgeng hingga kami punya kehidupan sendiri-sendiri nanti. Dan saya  hisa membagi pengalaman ini kepada anak-anak saya sebagai suatu pelajaran. Semoga saja…

Gina Mardani Cahyaningtyas Sugino

/ginginagie

Collegian of humaniora | Amateur Writer
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?