Mohon tunggu...
Galih Nugroho
Galih Nugroho Mohon Tunggu... -

Mahasiswa jurusan Ilmu Politik. Sedang berusaha mencari sistem politik yang terbaik untuk Indonesia, agar tujuan utama dari negara ini dapat tercapai. (Ketua BEM FISIP UI 2011)

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pemikiran dan Strategi DN Aidit dari Bangkitnya PKI 1951 Sampai Gerakan 30 September 1965

5 April 2011   16:52 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:06 17932
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Dipa Nusantara Aidit adalah seorang tokoh komunis Indonesia yang sangat fenomenal. Masa mudanya diisi dengan membaca buku-buku berat karya Marx yang mempengaruhi pemikiran Aidit di masa depan. Setelah pindah ke Jakarta, D.N Aidit semakin mengenal dunia politik setelah bertemu dengan tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno, Bung Hatta, termasuk tokoh komunis seperti Mr Amir Syarifuddin. Pada umur yang masih muda Aidit telah menjadi anggota PKI dan telah menduduki posisi yang luar biasa di PKI. Pemikiran Aidit tentang komunis pun semakin matang ketika Muso datang ke Indonesia dan mengadakan perubahan terhadap strategi PKI. Aidit dapat melihat strategi kiri yang dipakai Muso gagal, sehingga peristiwa tersebut dapat menjadi pelajaran bagi Aidit di masa kepemimpinannya di PKI.

Pada tahun 1951, Aidit berhasil menjadi pemimpin PKI. Langkah-langkah yang digunakan Aidit pada awalnya adalah memperkuat PKI di dalam parlemen dan memperbesar jumlah anggotanya sehingga PKI dapat diperhitungkan di Indonesia. Tetapi, strategi Aidit mendapat kritik dari sesepuh Alimin sesepuh PKI dan tentangan dari lawan-lawannya terutama Angkatan Darat. Untuk mempermulus jalannya Aidit, mulai mendekati Sukarno dengan membuat “front persatuan nasional” dan terbukti gerakan tersebut berhasil mendongkrak citra PKI di masyarakat.

Aidit terkenal dengan kepemimpinannya yang pragmatis dan suka merubah-rubah strategi sesuai dengan kehendaklnya. Keputusan-keputusan yang Aidit buat dalam partai pun tidak ada yang berani menolaknya, karena Aidit disegani oleh kawan-kawannya. Kehancuran Aidit dimulai pada saat dia merubah strategi kanannya menjadi strategi kiri. Perubahan strategi tersebut karena Aidit sadar bahwa tidak mungkin Presiden Sukarno akan melindunginya lebih lama lagi karena kondisinya yang sakit dan umurnya yang sudah tua. Sehingga Aidit harus mengambil langkah-langkah menghadapi masa pasca-Sukarno kelak dengan menghancurkan lawan-lawannya terlebih dahulu. Rencana Aidit ini pun kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September PKI yang telah memakan 7 perwira Angkatan Darat. Tetapi karena salah strategi dan perhitungan ,Aidit dan PKInya dihancurkan oleh kekuatan militer Angkatan Darat yang sangat marah akibat G 30 S. Kemudian nasib Aidit pun berakhir di tangan perwira Angkatan Darat yang menghukum matinya.

I.2. Kerangka Konseptual

Negara dalam pandangan kaum komunis, sekedar dianggap sebagai “alat” untuk menciptakan perjuangan kelas (sampai ke sistem komunisme), dan bilamana perlu dengan menindas golongan yang lain.

Dengan cirri-ciri seperti itu, maka kaum komunis dan gerakan komunis internasional dengan Marxismenya mempunyai sifat sebagai berikut:

1.Merupakan gerakan internasional dan dengan demikian mempunyai jaringan internasional yang dapat saling membantu antar gerakan komunis. Didalam sejarah Indonesia, kenyataan ini dapat ditunjukan dalam beberapa sikap kaum komunis di Indonesia, misalnya ketika memegang Pemerintahan sekalipun, Amir Syarifudin sebagai Perdana Menteri RI bersedia berunding dengan Belanda (perjanjian linggarjati dan Renville). Hal ini disebabkan, karena US dan AS (dan Belanda) masih sebagai sekutu yang menang dalam perang dunia kedua. Tetapi kemudian, mereka merubah sikap dan kemudian menentang perjanjian Renville yang ditandatanganinya. Perubahan ini sejalan dengan garis komunis internasional dimana pada masa sebelum dan saat Perang dunia kedua, dengan AS, Inggris, Belanda, lain-lain untuk menghadapi kaum fasis dan nazi Jerman, Italia, dan Jepang. Garis ini dikenal sebagai “Garis Zhdanov” yang membagi dunia menjadi dua blok, yaitu blok komunis dan kapitalis. Demikian juga menjelang G.30.S./PKI, RRC banyak membantu PKI, termasuk informasi mengenai kesehatan Presiden RI Soekarno, meskipun ternyata informasi itu tidak benar. Di Indonesia, benih-benih berdirinya gerakan komunis dimulai oleh seorang Belanda, yang bernama Sneevliet, yang membawa ajaran arxisme dari negeri Belanda. Selain dari itu, di dalam pemberontakan Madiun 1926, PKI juga berusaha meminta izin dari Stalin untuk memulai gerakan.

2.Mempunyai kecenderungan radikal, doktriner dan tidak demokratis. Sifat-sifat ini juga melekat dalam diri Karl Marx, dimana dia mengalami pengusiran sebanyak 2 kali di tanah airnya sendiri. Pertama ke Perancis dan kedua ke Inggris. Di dalam perjuangannya kaum komunis menghalalkan semua cara, dengan kekerasan dan menindas golongan yang lain. Demokrasi bagi kaum komunis hanya bagi kaum proletar. Golongan yang lain tidak saja mempunyai suara, tapi bilamana perlu ditindas.[1]

PKI adalah partai yang selalu mengubah-ubah strategi politik mereka untuk menuju kekuasaan. Untuk mengetahui langkah-langkah PKI dalam berpolitik, maka perlu diketahui pedoman-pedoman-pedoman dasar komunisme yang mendasari partai tersebut. Pada momen tertentu komunis mengikuti suatu strategi “kanan” atau “kiri”. Strategi kanan (Right Strategy) merangkul dengan taktis kaum borjuis, kerjasama dengan musuh masyarakat, dan kolaborasi dengan imperialis, jika perlu. Strategi ini menampilkan sikap kompromi, negosiasi, dan konsiliasi. Secara berlebihan, strategi kanan ini bisa berganti menjadi apa yang orang digambarkan oleh komunis sebagai “revisionism”. Strategi kiri dilakukan dengan memutarbalikkan kenyataan, menggunakan sikao kasar, antikompromi, suka huru-hara, perselisihan, dan penentang. Juga suka menimbulkan kekerasan dalam skala kecil maupun besar. Pendeknya, strategi kiri menyukai konfrontasi dan kekerasan. Secara berlebihan, strategi kiri, dalam terminology komunis bisa mengarah pada “dogmatisme” dan “adventurisme”.[2]

I.3. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini adalah “Apa pemikiran dan strategi yang digunakan D.N Aidit untuk memperbesar kekuatan PKI sejak bangkitnya PKI tahun 1951 sampaiG.30.S/PKI?

BAB II

PEMBAHASAN

II.1. Biografi Singkat

D.N Aidit lahir pada tanggal 30 Juli 1923 di Belitung. Nama sebenarnya adalah Achmad Aidit. Ia lahir di dalam keluarga yang cukup baik pada saat itu, tidak miskin tetapi tidak juga kaya. Ayahnya adalah Abdullah Aidit seorang Boswezen (kehutanan), yang menduduki fungsi sebagai mantra kehutanan. Ibunya bernama Mailan yang berasal dari keluarga ningrat di Belitung. Sejak kecil D.N Aidit mempunyai sifat yang keras dan tegas. Dia juga menyenangi bermacam-macam olahraga, baik itu badminton, sepakbola, binaraga, dan tinju. Aidit bersekolah di HIS (Hollands Inlandse School) setelah itu dikirim ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah menengah pertamanya di MHS (Middenstand Handel School). Di Jakarta Aidit menjadi anggota Pertimu (Persatuan Timur Muda), yang didirikan oleh Mr. Amir Syarifudin. Selain terjun ke dunia politik, Aidit juga mempunyai beberapa usaha dengan teman-temannya seperti colporteur dan tempat jahit. Di tempat jahitnya itulah dia bertemu dengan Chaerul Saleh, Adam Malik, dll.

Saat Jepang memasuki Indonesia, D.N Aidit bersama kelompok pemuda lainnya berjuang melawannya dengan gerakan bawah tanah. Gerakan bawah tanah ini bertujuan agar rakyat Indonesia tidak terlena dengan kedatangan Jepang. Setelah beberapa lama Jepang di Indonesia, dia berhasil menjadi pegawai PUTERA berkat teman-temannya. Dia juga terpilih untuk ikut kursus-kursus yang diadakan para pemuda “Angkatan Indonesia Baru” yang dilaksanakan di Jalan Menteng 31. Di Menteng 31 golongan muda diajar oleh Bung Karno, Bung Hatta, Amir Syarifuddin, Mr. Subarjo, dan Mr. Sunaryo.

Setelah meredeka pada tahun 1945, Bung Hatta memperkenankan rakyat Indonesia untuk membuat partai-partai politik. Pada November 1945, PKI muncul kembali dan diketuai oleh Mr Yusuf,Aidit pun turut bergabung di dalam partai tersebut. Tidak lama setelah itu kader-kader komunis Indonesia yang dipenjarakan di Australia dipulangkan ke Indonesia. Kader-kader tersebut membawa buku-buku tentang teori Marxisme, yang membuat D.N Aidit berkesempatan memperdalam pengetahuannya tentang Marxisme[3]. Di tahun 1948, kedatangan Muso bisa dibilang menggemparkan Indonesia dan PKI pada khususnya. Dia membuat suatu Jalan Baru untuk Indonesia yang dikenal dengan “Jalan Baru Muso”. Muso melakukan otokritik untuk partainya dan menyuruh semua partai-partai kiri untuk melebur ke dalam PKI. Setelah Muso datang dan menjadi ketua partai, D.N Aidit mendapat tugas di departemen pertanian. Aidit merupakan kader yang sangat menyetujui adanya koreksi Muso ini dan bersedia menjalankannya di masa yang akan datang[4]. Tiga bulan setelah kedatangan Muso, PKI melakukan pemberontakan yang dikenal dengan “Pemberontakan Madiun”. Pemberontakan tersebut berhasil ditumpas oleh Kolonel Gatot Subroto dan pemimpin-pemimpinnya dihukum mati seperti Muso dan Amir Syarifuddin. Strategi yang Muso lakukan setibanya di Indonesia adalah “strategi kiri”[5], karena dia melakukan provokasi-provokasi terhadap pemerintah lewat pidato-pidato dan rapat-rapat besar yang diadakannya di Madiun dan sekitarnya. Setelah pemberontakan Madiun, PKI bisa dibilang mati suri, karena dihancurkan tetapi tidak dilarang[6]. D.N Aidit yang selamat pada peristiwa tersebut langsung melarikan diri ke Jakarta dan berusaha membangun kembali PKI[7].

II.2. Bangkitnya PKI

Pada 7 Januari 1951 PKI melakukan kongres, dimana agenda-agendanya adalah pembahasan strategi partai dan pemilihan ketua PKI. D.N Aidit bersama golongan muda berhasil mengisi Politbiro PKI. Komposisinya adalah Aiditmenduduki ketua I, Lukman ketua II, dan Nyoto ketua III. Golongan-golongan tua hanya diberi tempat sebagai anggota CC PKI yang tidak memiliki fungsi strategis apapun, itu pun tidak permanen.[8] Aidit menyingkirkan golongan tua karena menganggap mereka terlalu lembek, elitis, dan pragmatis. Langkah awal yang dilakukan Aidit adalah membangun partai melalui konsepsi “Jalan Baru”. Tujuan dari konsep tersebut adalah adalah menunjukkan kepada rakyat bahwa PKI berjuang melalui garis pelembagaan negara (Perjuangan Parlemen) yang lebih menggunakan cara aman, damai, dan demokratis[9]. Jadi pada permulaannya, Aidit menggunakan strategi kanan untuk membangun kembali kekuatan PKI.

Aidit berusaha untuk memuluskan jalannya dengan menjalin kerjasama dengan partai politik yang non-komunis dan anti penjajahan. Aidit juga menyatakan bahwa kaum komunis dapat bekerja sama dengan kaum borjuis kecil-kecilan dan kaum borjuis nasional melawan kelas borjuis komprador dan kelas feodal. Aidit berpendapat PKI bisa bekerjasama dengan PNI karena memandang mereka sebagai partai kaum borjuis nasional, selain itu partai tersebut juga mengimplementasikan teori-teori Marxis-Leninis sebagai salah satu strateginya. Sehingga di dalam pemikiran Aidit, hanya PNI yang bisa bekerja sama dengan partainya tanpa harus mengkompromikan ideologo secara berlebihan[10]. Aidit juga mendekati Nahdatul Ulama, karena dia memandang NU adalah sebuah partai borjuis setelah memisahkan diri dari Masyumi. Strategi Aidit dalam mendari sekutu di antara aliran-aliran politik lainnya mengandung arti bahwa sebenarnya PKI menyesuaikan diri dengan struktur sosial yang di dalamnya kesetiaan budaya, agama, dan politik lebih bersifat vertical atau komunal (apa yang disebut aliran) daripada horizontal seperti dalam suatu masyarakat yang sadar kelas[11].

Pada zaman kabinet Sukiman (April 1951-Februari 1952) terjadi peristiwa di Medan yang dimulai oleh orang-orang bersenjata yang berlencana palu arit. Pemerintah menetapkan yang bersalah pada peristiwa tersebut adalah PKI. Setelah itu pemerintah langsung mengadakan operasi penumpasan terhadap PKI. Aidit yang menyangkal bahwa peristiwa tersebut adalah perbuatan PKI, tidak bisa menghentikan kehendak pemerintah. Akhirnya, Aidit, Lukman, dan Nyoto menyembunyikan diri dan mengatur kembali strategi mereka. Akibat peristiwa tersenbut, Aidit menyimpulkan bahwa politisi Jakarta tidak akan membiarkan PKI memainkan politik atas dasar yang sama dengan partai-partai lainnya[12]. Maka, Aidit mengganti langkah mereka dengan strategi jangka panjang untuk membentuk suatu basis massa yang bebas dan besar sehingga PKI tidak dapat diabaikan dan untuk sementara waktu paling tidak seimbang dengan partai-partai non-komunis. Untuk memuluskan jalannya, Aidit membuat kebijakan “front persatuan nasional” dan mengutamakan slogan-slogan nasionalis terutama membesar-besarkan Sukarno daripada tuntutan kelas, sehingga PKI berhasil meningkatkan jumlah anggotanya.

Aidit yang merasa tidak pasti terhadap PNI sebagai sekutunya, merasa sudah saatnya PKI mencari dukungan yang lebih kuat lagi, yaitu Sukarno. PKI tidak lagimenyebut Sukarno sebagai kolaborator Jepang atau fasis , dan tidak lagi menyalahkannya memancing peristiwa Madiun; uraian mereka kini melemparkan semua kesalahan dari episode itu kepada Hatta, Sukiman, dan Natsir (yang pada waktu itu duduk di kabinet)[13]. Aidit mengambil hati Sukarno dengan cara mendukungnya dalam masalah Irian Barat. Strategi “front persatuan nasional” Aidit untuk mendekati Sukarno terbukti berhasil dan kekuatan PKI meningkatpesat. Selain kebijakan untuk menambah anggotanya, Aidit juga mengadakan kursus-kursus umum pemberantasan buta huruf dan kursus-kursus pendidikan dasar sebelum partai ini dapat mengungkapkan gagasan-gagasan Marxis-Leninis kepada sebagian besar pengikutnya yang dengan cepat bertambah banyak itu[14].

Strategi Aidit untuk mencapai kekuasaan dengan mencari jalan damai lewat parlemen ini sangat berhasil, sehingga Aidit tidak memikirkan jalan yang lain. Beberapa kendala PKI untuk mencapai puncak kekuasaannya adalah para politisi sipil yang non-komunis dan militer (PKI mempunyai citra buruk yang tidak bisa dilupakan oleh militer karena pemberontakan Madiun). Pada tahun 1955 keberhasilan strategi Aidit terlihat dengan menduduki peringkat keempat dalam Pemilu pertama (PKI berhasil mendapatkan 6.176.914 suara).

Pada 1956 Aidit dikritik oleh Alimin sesepuh PKI. Alimin mengatakan kepemimpinan Aidit lunak, oportunis, dan menyimpang dari garis politik yang benar, mematikan kesadaran kelas dan membawanya menjadi partai borjuis. Alimin juga mengatakan Aidit telah memborjuiskan diri[15]. Tetapi karena pengaruh Aidit terlalu kuat bagi PKI, maka Alimin menarik kembali ucapannya tersebut. Di tahun yang sama Presiden Sukarno meminta agar partai-partai dibubarkan dan mempunyai konsepsi baru yakni “demokrasi terpimpin. Aidit yang sangat membutuhkan perlindungan Sukarno mendukung konsepsi barunya tetapi berharap agar partai-partai tidak dibubarkan, karena PKI telah begitu berhasil di dalam parlemen. Pada tahun 1957, Sukarno menyatakan bahwa partai-partai tidak wajib membubarkan diri, sehingga Aidit semakin mendukung kebijakan Sukarno tersebut.

Keinginan Belanda untuk membentuk negara meredeka di Irian, membuat Sukarno memasukan Aidit dan Nyoto menjadi anggota Front Nasional untuk memperjuangkan Irian Barat. Sukarno memasukkan mereka karena kemampuanPKI yang selalu berhasil mengadakan gerakan-gerakan massa untuk memperjuangkan Irian Barat. Keadaan ini membuat Aidit memanfaatkan kampanye Irian Barat untuk meningkatkan pengaruh PKI dan memperbanyak jumlah anggotanya sendiri[16]. Permasalahan Irian Barat ini berhasil diselesaikan pada 15 Agustus 1962.

Pada tahun 1963 Aidit mengadakan perjalanan ke Peking dan Moskow karena pada waktu itu terjadi perselisihan ideologi antara keduanya. Aidit pulang pada bulan September 1963dan menegaskan bahwa dirinya netral dalam perseteruan Peking-Moskow. Strategi Aidit tersebut menghasilkan keuntungan yang luar biasa bagi dirinya dan PKI[17]. Tetapi, pada akhirnya Aidit menerima nasehat dari Cina untuk meningkatkan ofensif politik di dalam negeri[18]. Sikap Aidit yang berubah ini dikarenakan PKI mendapat tekanan dari dalam maupun luar negeri (AS). Dalam urusan luar negeri, Aidit mengikuti strategi kiri dengan bekerja sama dengan Peking untuk melawan dominasi AS. Di dalam negeri PKI mendesak untuk mendapat kekuasaan lebih besar, karena pada masa itu strategi ofensiflah yang merupakan cara terbaik.

II.3. Perubahan Strategi D.N Aidit

Perselisihan dengan Malaysia semakin membesar ketika Malaysia diangkat menjadi anggota dewan keamanan tidak tetap. Sukarno yang sangat membenci Malaysia mengadakan seruan “ganyang Malaysia”, hal ini dimanfaatkan Aidit dengan member usul kepada Sukarno agar dibentuk angkatan kelima yang teridiri dari kaum tani dan buruh yang sudah diketahui sebelumnya bahwa yang dimaksudkan adalah front petani dan front buruh revolusioner yakni BTI, SOBSI, dan pemuda rakyat (organisasi-organisasi di bawah PKI). Rencana Aidit untuk mempersenjatai kaum buruh dan tani ini mendapat dukungan dari Cina. Cina segera mendesak rezim Sukarno untuk menyetujui rencana Aidit. bahkan Menlu Cina Chou En-Lai menawarkan akan membantu persenjataan untuk angkatan kelima ini. Dengan adanya dukungan ini Aidit dengan penuh semangat mendesak agar proposal angkatan kelima tersebut disetujui. Tetapi, proposal tentang angkatan kelima ini tidak disetujui oleh Nasution dan Ahmad Yani kalangan militer yang takut proposal tersebut adalah usaha Peking dan PKI untuk memisahkan tentara dengan rakyat.

Aidit yang menyadari “ada pihak-pihak yang merasa cemas akan perkembangan ini dan mempunyai kesan bahwa Indonesia sedang menuju militerisme dan semua jenis kejahatan. “Tetapi,”katanya, “pada sisi lain, pelatihan militer yang tengah kita lakukan tidak dimaksudkan untuk menjadi ekspansionis, melainkan, membebaskan bangsa dari segala bentuk penindasan dan pemerasan dan member bantuan sebesar mungkin perjuangan bangsa lain dalam usaha-usaha membebaskan bangsa sendiri.”[19] Akhirnya, tanpa menunggu persetujuan resmi dari pemerintah, PKI yang sudah berhasil mendekati angkatan udara mengadakan pelatihan militer di Halim terhadap anggota-anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat.

II.4. D.N Aidit membangun kekuatan

Strategi politik yang Aiditlakukan selalu mendapat rintangan dari lawan-lawannya yang takut akan berkembangnya PKI terutama militer. Sehingga yang selalu menghantui pikiran Aidit adalah bagaimana menghindari tindakan penumpasan oleh musuh-musuhnya yang bersenjata[20].Untuk mengatasi angkatan darat, Aidit membuat suatu Biro Khusus yang langsug berada di bawahnya untuk mematangkan situasi bagi perebutan kekuasaan dan melakukan infiltrasi ke dalam tubuh ABRI dan beberapa partai politik. Di samping itu Biro khusus bertugas untuk mengumpulkan kekuatan bersenjata dengan melatih anggota PKI maupun anggota organisasi massanya seperti Pemuda Rakyat dan Gerwani dalam bidang kemiliteran[21]. Biro Khusus tersebut diketuai oleh Syam Kamaruzman yang langsung diinstruksikan untuk mengadakan persiapan-persiapan. Syam Kamaruzman berhasil mendekati Letkol Untung (Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa Pengawal Presiden), Kolonel A. Latief ( Komandan Brigade Infanteri I Kodam V/Jaya), dan Mayor Udara Sujono ( Komandan Pasukan Pengawal Pangkalan Halim Perdanakusuma).

Aidit dan PKI yang selama ini berada di bawah perlindungan Presiden Sukarno, menyadari bahwa suatu saat sang pemimpin tersebut akan tua dan meninggal. Oleh karena itu Aidit harus bersiap-siap menghadapi masa pasca-Sukarno. Langkah yang diambil Aidit selaku pimpinan PKI adalah:

1.Memperbaiki pengaruh dan kekuasaan mereka di Angkatan Bersenjata;

2.Bersiap-siap menghadapi saat-saat Presiden Sukarno tidak berkuasa lagi;

3.Meneruskan usaha menyebarkan pengaruh mereka di semua sektor masyarakat.

Di dalam tugas pertama Aidit telah cukup berhasil melakukan kasak-kusuk di angkatan Udara, karena Panglima Angkatan Udara Omar Dhani cenderung bersimpati terhadap PKI[22]. Menurut Aidit Angkatan laut dan Kepolisian tidak dianggap berbahaya, sehingga hanya angkatan darat saja yang menjadi ganjalannya. Langkah kedua tugas Aidit berkesinambungan dengan tugas pertamanya. Yaitu, bersiap-siap menghadapi situasi pasca-Sukarno, dan mencegah kemungkinan PKI dihancurkan oleh Angkatan Darat.

II.5. Perencanaan G. 30.S/PKI

Pada tanggal 5 Agustus 1965 secara mengejutkan Presiden Sukarno jatuh rebah, setelah menghadiri rapat umum[23]. Dengan adanya peristiwa tersebut, persoalan politik yang sedang hangat pada masa itu adalah bagaimana keadaan negara pasca-Sukarno. D.N Aidit yang sedang berada di Cina dipanggil pulang ke Indonesia membawa tim dokter yang dulu pernah mengobati Presiden. D.N Aidit yang mendapat kabar dari tim dokter bahwa keadaan Presiden sangat rapuh dan akan gawat bila terjadi serangan sekali lagi langsung mengadakan rapat-rapat dengan partainya untuk membahas kebijakan selanjutnya.

Di dalam salah satu rapat, Syam Kamaruzman melontarkan isu adanya “Dewan Jendral” yang siap mengkudeta Presiden Sukarno. Melihat keadaan yang seperti itu D.N Aidit menyatakan 3 hal pokok di dalam rapatnya, yaitu:

1.Kesehatan Presiden/Pemimpin besar Revolusi yang makin memburuk, dengan akibat apabila datang serangan lagi dapat menyebabkan kelumpuhan atau kematian;

2.Adanya suatu “Dewan Jendral” yang sudah siap melancarkan perenbutan kekuasaan, segera setelah Presiden tidak berdaya lagi (belakangan ia menyatakan, bahwa “Dewan Jendral”akan menyerang sebelum Presiden Sukarno wafat, yang diperkirakan pada atau sekitar tanggal 5 Oktober 1965).

3.Kesetiaan segolongan perwira progresif dalam Angkatan Darat untuk mencegah serangan kup “Dewan Jendral.[24]

Melihat keadaan tersebut, D.N Aidit mengusulkan untuk mengatasi ancaman serius itu terhadap PKI dengan cara dilakukannya gerakan dari perwira-perwira progresif angkatan darat terhadap “Dewan Jendral”. Dengan menganalisa kemungkinan terlaksananya gerakan semacam itu, Aidit melihat dua masalah:

1.Dukungan pada “Dewan Jendral” yang kuat di ibukota, sedangkan dukungan kepada PKI serta kepada “perwira-perwira progresif” sangat lemah.

2.Mereka harus memperoleh dukungan Presiden Sukarno untuk “gerakan” itu.

Setelah mengemukakan itu pendapatnya di dalam rapat rahasia dengan Politbiro PKI, Aidit mempunyai dua opsi untuk diputuskan bersama, yang pertama adalah menunggu sampai “Dewan Jendral” bergerak terlebih dahulu dan kemudian melawan mereka atau menyerang terlebih dahulu. Aidit sendiri menyatakan kalau dia akan memilih opsi untuk mengadakan serangan mendahului kudeta “Dewan Jendral”.

Di dalam rapat rahasia tersebut Politbiro PKI membicarakan kesepakatan akan adanya rencana tersebut dan mengatur taktik pelaksanaan gerakan, terutama masalah organisasi dan pengendalian kesatuan-kesatuan yang akan digunakan dalam gerakan maupun pembagian tugas dan penunjukan calon pimpinan pasukan[25]. Setelah itu rapat memutuskan bahwa Aidit sendiri melalui Biro Khususnya (Sam Kamaruzman dan Pono) yang akan memimpin percobaan kekuasaan tersebut. Kup itu akan dibuat seolah-olah merupakan suatu masalah internal di Angkatan Darat.[26] Letnan Kolonel untung yang telah dipengaruhi oleh Sam Kamaruzman menjadi pemimpin operasi lapangan dalam gerakanyang dinamakan G 30 S/PKI.

Pada dinihari tanggal 1 Oktober 1965 gerakan tersebut dimulai dengan melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama Angkatan Darat, dan kemudian merebut gedung RRI dan Telekomunikasi untuk pagi hari itu mengumumkan “deklarasi” G 30 S. Para perwira yang telah dibunuh oleh gerakan tersebut adalah Letnan Jendral Ahmad Yani, Mayor Jenderal Soeprapto, Mayor Jemdral Haryono, Mayor Jendral Parman, Brigadir Jendral Izacus Panjaitan, dan Brigadir Soetoyo. Tetapi target utama mereka Jendral Nasution tidak berhasil dibunuh karena dapat melarikan diri. Kemudian Jendral Nasution bersama Mayor Jendral Soeharto langsung menumpas gerakan tersebut dengan kekuatan militer. Gerakan 30 September pun dengan mudah dapat dihancurkan sehingga kudeta D.N Aidit tidak dapat berhasil. D.N Aidit yang mengetahui bahwa kudeta gagal dengan dikuasainya RRI oleh Soeharto langsung melarikan diri naik pesawat ke Yogyakarta. Namun, tidak lama setelah itu D.N Aidit beserta pimpinan-pimpinan PKI lainnya berhasil ditangkap dan dihukum mati.

BAB III

Kesimpulan

Pada awalnya langkah yang dibuat oleh D.N Aidit untuk membangun PKI sudah benar. Aidit menggunakan strategi kanan yang mau berkompromi dengan kaum-kaum borjuis nasional, selain memperbesar massa partainya. Aidit telah mengambil pelajaran dari “Pemberontakan Madiun” ketika dia masih muda. Aidit yang merasa partainya masih rapuh, berusaha mendekati Sukarno dengan menarik simpatinya. Aidit membuat suatu “front persatuan nasional” untuk memuluskan jalannya dan terbukti berhasil meningkatkan kekuatan PKI. Tetapi, Angkatan Darat yang telah “sakit hati” akibat peristiwa Madiun selalu mengawasi PKI dan menghalangi perkembangan PKI.

Mendapat rintangan dari Angkatan Darat, Aidit merasa harus mengambil langkah pasti. Aidit yang telah mengetahui isu tentang“Dewan Jendral” dan terdesak oleh keadaan Sukarno yang sakit, merubah strateginya dari strategi kanan menjadi strategi kiri. Aidit langsung mengadakan rapat dengan pimpinan-pimpinan PKI lainnya dan sepakat untuk menghabisi perwira-perwira Angkatan Darat yang termasuk di dalam Dewan Jendral. Tetapi, karena perencanaan yang terburu-buru dan kurang matang, rencana kudeta ini pun berhasil ditumpas oleh Nasution dan Soeharto. Perubahan strategi Aidit ini bisa dibilang adalah keputusannya seorang, karena tak ada seorang pun di dalam Politbiro yang berani menentang analisis Aidit. Aidit terlalu percaya diri bahwa pengikutnya sudah banyak, padahal perlu waktu yan lebih lama lagi untuk meyakinkan dan menanamkan ajaran-ajaran komunis kepada masyarakat. Karena kesalahan analisis dari pemikiran Aidit inilah PKI sangat mudah dihancurkan.



[1] LSIK, Rangkaian Peristiwa: Pemberontakan Komunis di Indonesia, Jakarta: LSIK, 1988, hal. 4-5.

[2]Arnold C. Brackman, CORNELL PAPER: Di Balik Kolapsnya PKI, Yogyakarta: elstReba, 2000, hal. 7-8.

[3] Aidit juga berguru langsung kepada Alimin tokoh PKI tua yang sudah memakan asam garam kehidupan komunis. LSIK, op. cit., hal. 38.

[4] Murad Aidit, Aidit: Sang Legenda, Jakarta: Panta Rei, 2006, hal.111.

[5] Kiblat Muso pada waktu itu adalah Moskow, di bawah pimpinan Stalin. Dari Stalin Muso menyerap ajaran-ajarannya yang berisi doktrin baru komunis, lihat LSIK, op. cit., hal. 43.

[6] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakata: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS, 1991, hal. 361.

[7]Murad Aidit, op. cit., hal. 115.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun