Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann ibu rumah tangga

Ibu RT@Germany, a teacher@Volkshochschule,a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany", a Tripadvisor level 6

Selanjutnya

Tutup

Wisata highlight headline

Kenapa Ada Harga "Tiket Bule" di Wisata Indonesia?

13 September 2017   15:36 Diperbarui: 13 September 2017   18:40 2293 10 9
Kenapa Ada Harga "Tiket Bule" di  Wisata Indonesia?
tiket-59b8edc6ab12ae5598584f22.jpg

Seingat saya, waktu gabung LSM, kami selalu mengawinkan kegiatan sosial dengan wisata. Artinya, ada satu-dua hari yang kami jadwalkan untuk memperkenalkan obyek wisata di Indonesia. Banyak cerita seru yang tak terlupakan, salah satunya tentang harga bule atau tiket orang asing di tempat wisata kita.

Waktu itu, kami berdua puluh berangkat dari Semarang ke Magelang, menuju candi Borobodur. Pagi-pagi, kami menumpangi bus kecil. Ugh, sampai juga ke sana. Wahhh, sudah capek, panaaas pula.

Tiket bule (red: Wisatawan Asing)

Karena tahu bahwa harga tiket orang asing mahalnya nggak ketulungan dibanding harga wisatawan lokal, kami sarankan teman-teman untuk tutup mulut. Kalau ngomong, orang Jepun kan ngomongnya Nihongo. Hahaha ...

Mengapa kami mau agar relawan Jepang bayar sama dengan kami? Pertama karena mereka itu anak-anak SMA-mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan sosial di Semarang. Artinya, selain mereka sudah melakukan kegiatan kerelawanan tanpa dibayar, tidak ada sponsor selain uang saku dari orang tua saja, harus bayar sendiri tiket pesawat dan kehidupan selama kerja sosial, mereka belum punya penghasilan seperti orang kerja dan tak punya usaha. Istilah kami waktu itu, mereka masih rembol. Kasihan.

Selang beberapa menit, kami disetop petugas dan menyarankan untuk tetap membayar tiket asing. Hatahhhh.

"Mbak, meh ngapusi ora isa, lah wong sikile wong Jepang ono neon-ne." Sekretaris saya waktu itu bilang bahwa niat kami untuk membayar tiket lokal untuk teman-teman relawan tidak berhasil karena kulit orang Jepang sangat putih, kentara kalau bukan orang lokal. Hahaha ...

Nggak nyangka, harga bule itu juga ada dalam kehidupan saya pribadi, ketika sudah berkeluarga. Bukan, saya bukan ganti WNA tapi suami dan anak-anak itu lho.

"Kamu mau ke mana?" tanya seorang penumpang yang terkatung-katung karena pesawat delay di bandara Flores.

"Mau ke Semarang terus Magelang, Yogyakarta...." Jawab suami saya. Senang sekali ada bule yang sama-sama berbahasa Jerman

"Lihat apa di sana?" Si bapak yang sudah agak berumur mau tahu.

"Mau lihat Sangiran, candi Borobudur dan candi Prambanan." Memang kami pengen pamer Wonderful Indonesia pada anak-anak. Betapa negeri kita ini diberi keajaiban berupa keindahan alam dan peninggalan yang luar biasa.

"Gila kamu, mau ke sana sebatalyon? Tahu harganya berapa? Paling nggak kamu harus bayar 100 USD kali dua candi! Pasti kamu sudah lihat Komodo, satu orang asing Rp 325.000! Belum ke air terjun Cunca Wulang di Labuan" Mata si bapak yang kira-kira umuran 60 an itu memandangi kami. Ia terkekeh lalu geleng kepala gaya India.

Yup. Kalau dihitung, harus selalu 4 tiket asing yang harus dibayar. Dua dewasa dan dua anak-anak (di atas 6 tahun semua). Tinggal mengalikan saja di tempat-tempat wisata mayor yang dituju selama di Indonesia:

Untung, Sangiran belum memberlakukan tiket orang asing.

Begitulah, meski dihadang dengan harga bule, kami tetap saja memasuki tempat wisata yang sudah kami jadwalkan (sejak Januari lalu). Terlanjur basah, mandi sekali.

Sayang, pemandangannya jadi lucu karena kami harus misah, saya di loket lokal dan mereka di loket asing. Di sana, mereka agak lama karena rupanya dijamu dengan snack dan minuman. Halahhhh ...

"Pak, ya jangan diambil semua. Milih teh, kopi atau air mineral."

"Orapopo, sudah bayar mahal. Ekslusif," celetuk suami saya. Dasar ndableg. Ia tetap menghirup teh lalu kopi dan meraih sebotol air minum mineral. Saya yang diceritain melongo.

Begitu kami bertemu lagi di sebuah jalan menuju candi Borobodur, dia bersumpah

"Ini terakhir kali aku ke Borobudur. Sudah panas-panas, bayar mahal. Kamu aja murah."

"Kali cucu kita mau ke sini, pak," saya merayu.

"Biar mereka berangkat sendiri sama orang tuanya, jangan sama aku. Kesel," mulutnya menggerutu.

"Lah kalau ada tamu minta ditemani ke sini gimana?" Kalimat saya mengingatkan bahwa kadang ada rekan bisnis yang minta ditemani ke sana. Ia terdiam. Saya sadar, sejak 20 tahun, harga bule itu mengganggu pikiran saya dan teman-teman asing yang berkunjung ke Indonesia. Sekarang pun, ini masih terasa ngganjel. Memang dana segar yang penting untuk pengembangan wisata tanah air. Saya belum pernah survey tapi ... yang jadi korban kadang ada yang ngaku nggak rela, tuh.

Mencontoh Tiket Wisata di Jerman

Selama lebih dari sepuluh tahun keliling tempat wisata di Jerman (dari selatan ke utara, dari barat ke timur), harga tiket di tempat wisata tersebut saya pikir cukup masuk akal. Ini, nih:

Erwachsene Ticket

Biasanya untuk orang dewasa (orang tua) yang datang sendiri atau berdua (tanpa anak-anak).

Familien Ticket

Jerman termasuk keluarga yang mendukung prinsip banyak anak banyak rejeki, sehingga mereka mengenal yang namanya tiket keluarga. Adalah sebuah dukungan pemda yang memotivasi warga ketika tempat wisata menghitung diskon bagi sebuah keluarga beranak banyak yang mengajak ke tempat wisata. Misalnya kami berlima, kalau harga dewasa 5 euro dan anak 2,5 euro, ketika beli tiket keluarga bukan harus membayar 17,5 (2 dewasa dan 3 anak) tetapi cukup membeli tiket keluarga 12.

Schler/Studierende Ticket

Sepertinya tiket pelajar dan mahasiswa sudah berlaku di Indonesia, hanya saja harus ada formalitas surat dari sekolah. Jumlah orangnya pun harus ada minimal.

Di Jerman, tiket khusus untuk mereka berlaku single. Pelajar datang sendiri? Tinggal tunjukkan kartu pelajar, habis perkara. Nggak perlu cari teman buat beli tiket rombongan.

Behindert Ticket

Khusus untuk mereka yang cacat. Biasanya, harus menunjukkan ID khusus orang cacat.

Senioren Ticket

Bagi wisatawan yang telah pensiun (opa, oma). Ada ID nya juga.

Kinder Ticket

Banyak tempat wisata yang menggratiskan anak di bawah umur 12 tahun. Harga ini tentu mendorong keluarga muda untuk mengajak anaknya punya quality time. Sedangkan di Indonesia, anak yang mendapat diskon kebanyakan hanya berusia 6 tahun ke bawah. Artinya, tetap bayar. Tidak ada tiket gratis, kecuali bayi kali yaaaa.

Oh, ya. Selain tiket anak-anak Jerman itu sebenarnya tiap pemda sudah memikirkan kesejahteraan keluarga dengan memberikan kartu tahunan untuk mendapatkan kupon, diskon atau gratisan tempat wisata sepropinsi, misalnya kalau saya di negara bagian Baden-Wrttemberg, ya tempat wisata di area itu.

Indonesia layak punya kartu sejenis demi memajukan wisata Wonderful Indonesia. Sayang kalau tempat wisata nusantara hanya dinikmati orang yang berduit dan orang asing saja.

Nah, rupanya, Jerman tidak membedakan tiket lokal dan tiket asing seperti di Indonesia kan. Jadinya, saya pun yang orang asing (Auslnderin) di Jerman, tetap membayar harga tiket yang sama dengan mereka yang punya UMR lebih tinggi dari Indonesia. Sama halnya dengan kemudahan bagi keluarga, pelajar dan anak-anak dengan harga khusus tadi.

Eh, duluuuu, pernah lho saya harus bayar tiket murah atau tiket pelajar di Jerman karena tinggi badan saya hanya 150 cm atau ketika saya dikira masih umur belasan tahun. Saya yang untung. Hahaha.

Jerman memberikan pembedaan dengan kondisi masing-masing wisatawan (dewasa single, keluarga, pelajar, cacat, orang tua dan anak-anak.

Baiklah, sekarang saya berharap-harap cemas bahwa Indonesia memperbaiki harga tiket lokal (seperti tersebut di atas), dan khususnya bagi orang asing supaya nggak ada orang asing yang menikmati tempat wisata dengan bersungut-sungut melihat perbedaan harga tiketnya selangiiiiit.

Coba deh, di Borobudur, saya bayar Rp 40.000, asing bayar 25 USD. Itu berapa kali lipat? Barangkali kalau harganya dua--tiga kali lipat masih bisa diterima dengan lapang dada. Ini berapa kalinya? Jika memang peraturan nggak bisa dirubah, selayaknya ada penambahan pemberlakuan family ticket yang memberi diskon bagi keluarga asing hingga memperingan beban pembayaran wisatawan. Berharap mereka ketagihan datang lagi serta kasih rekomendasi tempat yang dikunjungi ke teman, saudara dan kenalan. Jangan sampai rusak susu sebelanga. (G76)