Free Idea
Free Idea lainnya

Suka membaca dan lalu menulis. Berpikiran terbuka, tanpa sekat. Bebas berpikir, tetapi tidak menjadi liar berwacana

Selanjutnya

Tutup

Absennya Pakde

16 Januari 2012   17:01 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:48 85 0 0

Hari ini tidak biasanya Pakde tidak nampak batang hidungnya. Supir-supir angkot yang biasa ngetem didepan pabrik saling bertanya tentang absennya Pakde. Akibat ketidakhadiran Pakde, lalu lintas didepan pabrik kacau balau. Angkot-angkot yang hendak mengantarkan atau menjemput buruh pabrik jadi kesulitan keluar atau masuk tempat mangkal depan pabrik. Para pengendara kendaraan lain juga merasa terganggu. Suara klakson bersahut-sahutan. Semua minta diberi jalan. Akibat semua mau menang sendiri dan berusaha saling mendahului, macetlah jalanan. Semua jadi jengkel. Buruh banyak yang terlambat dan terancam terkena pemotongan upah. Buruh yang hendak pulang dan sudah kelelahan, senewen karena perjalanan pulang terhambat. Sopir angkot terancam tekor bensin. Belum lagi pengguna jalan lainnya yang tentunya punya kepentingan sendiri-sendiri.

Disaat seperti inilah keberadaan Pakde terasa penting dan sangat dibutuhkan. Pakde sebenarnya bukan siapa-siapa. Hanya seorang pria tua yang sering mengatur arus lalu lintas didepan pabrik besar itu. Istilah kerennya polisi lalu lintas swasta. Yang unik dari Pakde adalah saat bertugas, ia mengenakan seragam polisi betulan dan lengkap dengan topinya. Seragam itu sudah tua dan luntur warnanya. Namun karena itulah sosok Pakde tak terlupakan oleh para pengguna jalan. Saat bekerja, Pakde mengatur lalu lintas dengan tegas dan penuh penghayatan seolah polisi lalu lintas sesungguhnya. Entah karena faktor seragam polisi yang dikenakan atau hal lainnya, para pengguna jalan patuh dengan isyarat Pakde. Lalu lintas pun lancar dan tertib. Atas jasanya, pengguna jalan dengan suka rela memberi uang receh seribu rupiah atau - walau jarang, kadang lebih dari seribu rupiah.

Setelah kasak kusuk sana sini, beberapa sopir angkot dan buruh pabrik berinisiatif mendatangi rumah Pakde. Mereka hendak mencari tahu alasan absennya Pakde menjalankan tugas. Kebetulan rumah Pakde tak terlalu jauh dari lokasi pabrik.

Pakde ada di rumah. Terlihat sehat-sehat saja. Tidak sakit. Sopir dan buruh tanpa basa-basi langsung mempertanyakan alpanya Pakde dari tugasnya. Pakde dengan lesu menyodorkan tumpukan potongan koran. Saat dibaca satu per satu, semua isinya menyorot perilaku buruk polisi. Rupanya Pakde mogok dari pekerjaannya karena malu mengenakan seragam polisi lagi. Satu per satu para sopir dan buruh meninggalkan rumah Pakde. Mereka paham perasaan Pakde. Perasaan yang sama, perasaan sesama rakyat kecil.