Dari Kesalahpahaman, Realitas menjadi Tidak Bermakna

18 Juli 2012 03:37:38 Dibaca :

Saya sama sekali tidak memerlukan hal ini


Saya kurang bijaksana,


Saya seharusnya menjaga mulut besar saya tetap tertutup


Maka bacalah bibir saya.



Kembali lagi saya bernostalgia dengan kebiasaan saya, yaitu menulis apa saja yang itu menurutku menarik untuk saya tulis, eemm seminggu yang lalu saat sedang asik-asiknya browsing, baca-baca artikel-artikel menarik, sambil buka kawan sejati yaitu “Facebook”, kebetulan salah satu aktivitas saya saat buka facebook pasti mengunjungi group2 yang di buat di FB, ntah itu group komunitas saat sma, komunitas rekan kerja, dan juga komunitas sains dll. Di saat yang sama aku masuk di satu group yang itu adminya hampir aku kenal smua karena itu adalah teman-teman aku juga yang ada di dalamnya kebetulan basis group ini adalah komunitas pelajar/ mahasiswa. Di group itu aku sengaja melempar bola api untuk bisa di jadikan diskusi yang menarik bunyinya seperti ini (Komunitasnya tak beregenerasi dengan baik), tapi sayangnya status pendekku itu di pahami keliru oleh beberapa teman, mereka berkomentar seolah-olah aku memojokkan komunitas tersebut. Padahal maksud yang sesungguhnya adalah di sana kita bisa tau apa yang menjadi kelemahan termasuk saya ingin tahu juga apa yang perlu di benahi, ironisnya mereka berdebat dengan kemampuanya mereka, tpi apa yang terjadi mereka berdebat di atas kekeliruan interpretasi. Aku pun berusaha mengembalikan keadaan agar ini tidak berlanjut tapi mereka sudah terperangkap dalam keseriusan dalam kekeliruan, tapi aku dalam hati saja bilang yahh ini hal yang wajar-wajar saja, Cuma aku bingung aja tentang mereka, bahwa apakah mereka benar-benar sadar kalau ia ada dalam lingkaran akademis. Padahal jika status tersbut di maknai dengan kritis analitis paling tidak mereka mengungkapkan apa kendalanya, apa yang tak tercapai tapi yah begitulah kita bagaikan cacing yang selalu meninggalkan kotoranya dari tubuh tampa ada niat untuk melemparnya keluar.



Komentar-komentar terus terupdate di bawa status tersebut, hingga akhirnya ada yang bilang jangan melihat komunitas ini dari segi negatifnya masi ada sisi-sisi yang lain, kita tak butuh kritikan yang seperti itu yang kita butuhkan adalah realitas, jelasnya seperti ini (generasi dari para kaum intelejensi dari sbua organisai untuk saat ini blm bisa qt nilai hanya dari 1 arah sja... mereka msi dlm tahap proses,, apalah arti argumen mengkritik sbua aergumen,, , “Realitas” yg membuktik bung..... ungakapan seperi yang bung paparkan tanpa u sadari akan mengukung kreatif2 junior,, sbab bung haxa menilai dari sisi negatifx sja......)


Lalu aku membalasnya seperti ini (ky trimksh atas keslah pahamanya terlalu cepat mengklaim sisi positif dan negatif...tpi ingat adik bahwa tak ada orang yang mampu menjelskan secara totalitas dari sebuah sistem..mau tidak mau itu harus berurut 1 persatu...tpi paham 1 hal bahwa manusia diciptkn dng punya mulut..bukan hanya tangan dan kaki,,,maka tampa anda mengunkn hakikat mulut itu maka apalh artinya sebuah realitas...dan aq tak paham ttng realitas yg adik maksud, realitas jangn hanya dimaknai sbgi sebuah kenyataan seperti yg ada dlm KBBI...sungguh kliru rasnya jika realitas di lihat dari perspektih kenyataan...tpi lihat realitas sebagai sesuatu yg utuh dlmi....lalu apa yg menjadi alasnmu mengtkn bahwa aq menilainya dari sisi negatif,,,dan aku jg mau bilang bahwa sy bagian dari sistem trsbt kok...jdi jangn menklaim sembarang bahwa aq sedang bersandiwara ttng sisi negatif  organisasi tersbt........spongbob bilang.. petrik gunakan sedikit imajinasimu biar kita tdk menciderai apa yg disebut sains.....)


hehe aku Cuma tersenyum membacanya aku cuma bilang terimakasih atas komentarnya kesan yang pertama aku maknai di koment tersebut adalah dia siapa?, apa yang mereka kembangakan dalam organisasi tersebut, aku bilang mending kalian keluarkan nama daerahnya saja cukup organisasi pelajar gak usah bawa nama daerah kalau ini hanya di jadikan sebgai wadah gerakan otodidak. Organisasi kok masi bicara mengukung senior dan junior, tapi kembali aku mengingat bahwa hukum manusia memang hanya senang untuk di puji meskipun tak seharusnya hehehe, memang benar sedang dalam proses tapi proses apa dulu? Di saat itu juga aku terganggu dengan kata realitas, apa yang mereka maksudkan realitas, aku Cuma balas koment mereka bahwa jangan realitas di maknai seperti yang ada di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bahwa ia yang nyata itulah realitas, pertanyaanya adalah apa kaitanya bagaiman kalian mau menerima relaitas, status yang begitu simple saja tak bisa di maknai bahwa ini sebuah realitas bahwa memang benar-benar kita harus membuat sesuatu agar tak tak lagi ada yang membuat status yang sama. Sungguh mengherankan, “Realitas” saat di maknai sebagai yang nyata berarti ada yang utuh itulah kenyataan maka jika mereka hanya terukur di kenyataan saja aku kembali bertanya apa yang utuh dan apa yang di pertanggung jawabkan. Dalam hati aku Cuma bilang jangan berdiri kalau gak ingin duduk lagi karena itu sebuah kepastian. Realitas adalah ketika prosesnya terukur, sistematis dan akhirnya sampai pada apa yang disebut aksiologis keputusan akhirnya benar adanya bahwa ia bisa dijelaskan dan dipertanggung jawabkan.



Terlepas dari semua ini aku kembali bertanya pada diriku, sesungguhnya aku juga belum bisa benar-benar paham tentang realitas ini itu alasanya mereka keliru memahmi produk pikiranku, tapi paling tidak aku sadar bahwa itu hal yang etis. Dan aku bisa pertanggung jawabkan.






Fandi Darra

/fandidarra

Dilahirkan di mamasa, sulawesibarat, putra ke 2 dari 4 bersaudara, saat ini saya menempu pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana (SLATIGA), S1 Jurusan Fakultas Ilmu Sosil dan Ilmu Komunikasi. aktiv di organisasi internal ekstenal, saat ini menjabat Ketua Jaringan Mahsiswa Sosiologi se_Jawa, Korwil II, Jateng. dan Humas
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?