Sisi Lain Masyarakat Dayak Iban: Sudah Beragama, Masih Juga Lapar

02 Agustus 2012 05:07:19 Dibaca :
Sisi Lain Masyarakat Dayak Iban: Sudah Beragama, Masih Juga Lapar
Ilustrasi: Wanita Dayak Iban dalam Balutan Busana Adat (dokpri)

Baru sehari aku tiba di tempat tugasku yang baru. Badan masih terasa pegal, tulang-tulangku masih terasa linu, rasanya mau remuk. Semuanya karena perjalanan darat panjang menerobos hutan-hutan Borneo yang diselingi perkotaan dan perkampungan-perkampungan penduduk di sepanjang Pontianak-Putussibau. Dari Kota Putissibau, Ibu Kota Kapuas Hulu, aku harus melanjutkan perjalanan menuju utara-lintas perbatasan Malaysia menuju tempat di mana aku akan membaktikan hidupku di tengah masyarakat Dayak Perbatasan. Setelah beberapa kali terbenam berjam-jam di jalanan berlumpur bak kubangan kerbau, akhirnya bus yang kutumpangi sampai juga di Pastoran Paroki Santo Martinus pada sore hari menjelang malam.

Di pastoran, aku disambut seorang rekan pastor paruh baya yang akan menjadi rekan kerjaku. Pria campuran Flores-Ambon, kelahiran Bandung ini telah bertugas di tempat ini selama 7 tahun. Dia sudah paham benar tentang medan perjalanan yang kutempuh. Dia hanya menyambutku dengan sebuah pelukan selamat datang dan mempersilahkanku menikmati secangkir kopi seduhannya. Dari ekspresinya, aku tahu dia paham bahwa aku sangat kelelahan. Dia menujukkan sebuah kamar yang akan menjadi istanaku selama bertugas di wilayah pedalaman-perbatasan ini. Sebuah ranjang berkelambu tipis dan transparan, sebuah almari coklat buatan zaman pastor Belanda, sepasang meja-kursi kayu tua tampak di pojok ruangan. “Inilah kamarku,” gumamku sambil meletakkan ransel eiger 50 kg yang berisikan beberapa potong pakaian dan oleh-oleh dari kampung halamanku.

Malam harinya, setelah makan malam, pastor seniorku langsung memberikan tugas. “Besok, nuan (engkau- Bahasa Iban) harus ke Laukrugun, pemukiman orang Iban. Sekarang mereka sedang membuka ladang baru. Mereka meminta seorang pastor untuk memberkati ladang dan benih-benih padi yang akan mereka tanam. Karena itu, saya menugaskan engkau ke sana, sekaligus berkenalan dengan mereka.”

Tanpa ragu, meski masih terasa lelah, aku menyanggupi permintaannya. Keesokan harinya, setelah sarapan pagi ala kadarnya, aku menyiapkan tas dan perlengkapan untuk peribadatan pemberkatan ladang dan benih. Ini pengalaman pertama kali berjumpa dengan orang Iban. Untuk pertama kalinya juga aku akan memberkati ladang dan benih padi mereka. Kuhidupkan mesin motor win keluaran lama yang bunyinya sudah kongkor (julukan anak-anak muda di paroki untuk tungganganku itu). Dengan tertatih-tatih karena mesinnnya yang tua, motor Win melaju membawaku menuju daerah Laukrugun.

Tiga jam perjalanan melewati hutan-hutan alam, aku pun tiba juga di kampung yang dituju. Lebih tepat aku tidak menemukan sebuah perkampungan, melainkan hanya sebuah rumah panjang yang berbentuk menyerupai bangunan sekolah dengan bilik-bilik keluarga sebesar ruangan kelas. Rupanya inilah yang disebut orang Dayak Iban dengan rumah panjai atau Betang menurut orang Dayak Tamambaloh. Aku parkirkan motor di halaman rumah panjai tersebut. Perlahan tapi pasti aku langkahkan kaki menuju pelataran rumah panjang, dengan niat mencari bilik pemimpin umat di sana. Tiba-tiba seorang ibu menghampiriku dan berujar: “mas, nisi ada orang di rumah panjai. Orang semua ke ladang. Tidak ada yang mau beli perhiasan emas yang dibawa Mas!”

“Apa?” Apes benar, aku dikira tukang mas yang sering mampir ke rumah panjai mereka. Aku jelaskan dengan Bahasa Indonesia yang sesederhana mungkin siapakah aku dan maksud kedatanganku. Langsung terasa perubahan ekspresi di wajahnya yang semakin ramah dan bersahabat. “Oh, pastor baru ya, minta maaf ya. Nisi nemu aku, kalau nuan pastor baru kami. Mari, aku antar ke rumah Bapuk (pemimpin umat).”

Aku disambut seorang pria paruh baya, Pak Jhon. Dialah pemimpin umat di Stasi Laukrugun. Dia menerimaku dengan ramah, mempersilahkanku masuk ke dalam biliknya yang seukuran sebuah ruangan kelas. Aku memperkenalkan diriku. Dia mengucapkan selamat datang dan mempersilahkanku meminum suguhan khas Iban untuk menyambut tamu. Aku mengangkat cangkir, mendekatkannya ke bibirku. Langsung tercium aroma alkohol. Karena harus diminum, aku pun mencoba tetap menghirup beberapa teguk. Rasanya manis. Rupanya itulah beram, minuman berakohol yang difermentasi mereka dari beras ketan.

Setelah berbasa-basi sejenak, aku pun diajaknya menuju lokasi perladangan penduduk. Perjalanan menuju lokasi perladangan memakan waktu 2 jam. Kami harus mendaki beberapa bukit, menuruni beberapa lembah, menyebrangi 2 sungai yang masih jernih, menerobos hutan alam sebelum sampai di lokasi perladangan penduduk. Terlihat dari atas bukit, kayu-kayu sisa terbakar dengan asap hitam yang masih mengepul. Di salah satu titik, tampak pria dan wanita bergerombol, ada yang mengayunkan sebatang kayu untuk melubangi tanah, ada yang menunduk memasukan sesuatu ke dalam lubang-lubang yang ditinggalkan.

Dari Pak Jhon aku mendapatkan penjelasan bahwa yang tampak mengayunkan kayu secara vertikal ke dalam tanah adalah kaum pria. Merekalah yang menugal, atau melubangi tanah dengan sebatang kayu yang ujungnya telah ditajamkan. Sedangkan yang tampak menunduk dan mengikuti dari belakang kaum pria adalah kaum wanitanya. Merekalah yang memasukan benih-benih padi ke dalam lubang yang ditinggalkan kaum pria. Oh rupanya mereka telah memulai menanam sambil menunggu pastornya sampai.

Dari jauh aku telah disambut dengan sapaan ramah. Rupanya mereka sangat senang, ada pastor yang mau memenuhi undangan mereka dan mau ke ladang. Satu per satu mereka menyalamiku. Ada yang sempatkan diri menuju kali kecil di tengah ladang, membersihkan arang dari tangan mereka sebelum menyalamiku. Aku katakan, tidak perlu sungkan, karena aku juga ingin merasakan hitamnya arang bersama mereka.

Ketua suku menyiapkan segala hal yang perlu untuk upacara pemberkatan ladang dan benih. Di tengah hamparan ladang yang siap ditanami, ada sebuah batu dan ditengahnya ada kayu yang dibuat menyerupai salib. Rupanya itulah pusat peribadatan mereka. Mereka berdiri melingkar di sekitar batu dan kayu silang tersebut. Aku dan kepala suku berada di tengahnya. Sebagai pengantar, kepala suku mendoakan sesuatu dalam bahasa setempat yang dijelaskannya kemudian sebagai ungkapan meminta restu pada seluruh leluhur untuk menyampaikan doa mereka kepada Tuhan agar memberkati ladang mereka pada musim itu. Kemudian ia mempersilahkanku memimpin doa pemberkatan ladang dan benih menurut tata cara Katolik. Semua hening ketika aku memberkati ladang dan benih. Didampingi kepala suku dan Bapuk, aku  mulai mengelilingi hamparan ladang nan luas tersebut sambil mereciki pinggirannya dengan air kudus yang telah kuberkati. Setelah semuanya diperciki, kami kembali ke pusat upacara. Aku mendoakan doa penutup dan memohon berkat Tuhan atas ladang mereka termasuk kesehatan bagi mereka semua. Upacara ditutup dengan sambutan berupa ucapan terima kasih dari kepala suku dan pemimpin umat atas kesediaanku untuk memberkati ladang mereka.

Sampai sore aku tetap menugal dan menanam bersama mereka dalam suasana kekeluargaan. Ketika aku salah menjatuhkan benih padi di lubang, aku diledeki ibu-ibu dan gadis-gadis Iban bahwa aku harus kawin biar bisa mahir memasukan benih ke dalam lubang. Aku hanya tergelak mendengar maksud godaan mereka. Mereka juga bergurau, kenapa mau menjadi pastor? Apakah gak laku? Masa cakep-cakep, gak laku? Lagi-lagi aku hanya tersenyum simpul mendengarkan gurauan mereka. Rupanya, orang Dayak Iban suka bergurau juga dan aku langsung merasa akrab di hari pertamaku bertugas di wilayah mereka.

Sore harinya aku kembali ke pastoran. Pastor seniorku menyambutku dan menanyakan perasaanku setelah bertugas di sana. Aku katakan aku bahagia dan sangat menikmati serta langsung merasa betah karena orang Iban sangat ramah dan suka bergurau. Bahkan aku diberi nama Iban juga oleh mereka.

Mendengar ceritaku, dia tersenyum dan mengisahkan pengalamannya. “ Dulu aku juga pernah  diundang mereka untuk memberkati ladang dan benih padi. Namun itu yang pertama dan terakhir kali aku diminta memberkati ladang mereka. Rupanya, mereka gagal panen pada musim itu, sehingga mereka menarik kesimpulan bahwa berkat dariku tidak mujarab, malahan membawa sial untuk ladang mereka. Sejak itu, mereka kembali ke agama leluhur mereka. Jarang yang mau sembayang bersama pada hari Minggu. Bahkan ada yang berkata, sudah beragama masih juga lapar. Jadi, berkatmu hari ini dipertaruhkan..hahahahaha” dia menutupi curhatnya sambil tertawa.

Sepanjang malam aku sulit tidur, karena memikirkan kemungkinan terburuk yang bakalan diterima orang Laukrugun dari hasil ladang mereka. Aku pun berdoa kepada Tuhan agar memberikan mereka hasil panen yang berkecukupan, agar mereka tidak kembali lagi mempraktikkan agama asli mereka dan meninggalkan Gereja. Sepanjang  malam aku berdoa sampai tubuhku lelah dan aku pun tertidur saat subuh.

***

Beberapa bulan kemudian, sebuah bus berhenti di depan pastoran. Kondekturnya menurunkan beberapa karung yang isinya seratus kilogram. Aku tanyakan ke sopirnya apa isinya dan dari siapa? Sopir memberitahuku bahwa isinya beras dari umat di Laukrugun. Mereka menitipkannya untuk pastor baru dengan pesan terima kasih karena berkatnya telah membuat panenan mereka berhasil pada musim ini. Aku tersenyum bahagia dan sirnalah kecemasan yang menggerogotiku selama beberapa bulan di tempat tugas yang baru ini.  Ternyata Tuhan mengabulkan doaku dan doa mereka, sehingga alam pun berpihak pada mereka.

Fajar

/fajarbaru

TERVERIFIKASI (HIJAU)

menulis untuk melawan proses amnesia sejarah
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?