Karya Mahasiswa UB: Alat Sanitizer dan Preservation Room

19 Mei 2017   12:06 Diperbarui: 19 Mei 2017   15:05 5 1 0
Karya Mahasiswa UB: Alat Sanitizer dan Preservation Room
koleksi pribadi

Selama ini produksi dan pemasaran buah-buahan di Indonesia masih terkendala pada aspek mutu dan keamanan pangan yang tidak diperhatikan. Padahal jaminan keamanan pangan menjadi hal yang sangat penting karena pangan merupakan hal paling mendasar dalam kehidupan manusia. Menurut data BPOM tahun 2015, sebanyak 37% produk pertanian dari 170 notifikasi produk pangan Indonesia mendapat penolakan oleh Uni Eropa karena masalah keamanan pangan. Upaya yang telah dilakukan untuk menjaga mutu dan keamanan pangan pada buah-buahan adalah penggunaan sanitizer. 

Penggunaan sanitizer penting dilakukan setelah proses pencucian buah, bertujuan menghilangkan kotoran, pestisida dan berbagai kontaminan lainnya. Sanitizer digunakan karena tuntutan konsumen terhadap komoditas buah- buahan segar yang ASUH yaitu aman, sehat, utuh dan halal. Sanitizer yang umumnya dipilih yaitu sanitizer kimia karena harganya murah dan kerjanya cepat. Selama ini, metode yang umum digunakan untuk menjaga mutu dan kemanan pangan buah-buahan yaitu Penggunaan klorin, High Pressure Processing,edible coating,Pulse Electric Field

Namun, beberapa metode tersebut masih memiliki banyak kelemahan, misalnya dapat membentuk trihalometana yang bersifat karsinogenik dan mutagenik, tidak mampu menginaktivasi spora bakteri serta perlu dikombinasikan dengan metode  pre-treatmentlain untuk membunuh mikroba, menghilangkan pestisida serta memperpanjang umur simpan buah.

Berawal dari keprihatinan tersebut yang melatarbelakangi lima orang mahasiswa Universitas Brawijaya dalam menciptakan inovasi alat pencuci buah dan penyimpanan buah. Lima mahasiswa tersebut adalah Dimas Triardianto (Keteknikan Pertanian, FTP, 2014), Bagus Wisnu Wardhani (Keteknikan Pertanian, FTP, 2014), Singgih Mahardika Nugroho (Keteknikan Pertanian, FTP, 2013), Casilda Aulia Rakhmadina (Teknologi Hasil Pertanian, FTP, 2014), dan Faidiatul Andika Nuriah (Teknologi Hasil Pertanian, FTP, 2014). 

Dibawah bimbingan Ibu Dewi Maya Maharani, STP., M.Sc., lima orang mahasiswa tersebut menggagas alat (MAZTER) Automatic Ozone Sanitizer. Alat ini mengkolaborasikan teknologi Dielectric Barrier Dischargesecara otomatis, yang dapat menghasilkan ozon serta terdapat preservation room untuk mengoptimalkan kerja MAZTER dalam mempertahankan kualitas mutu pada buah. Keunggulan lain dari alat ini diantaranya prosesnya yang dapat diatur secara otomatis, energi yang digunakan rendah, mengurangi penggunaan zat-zat kimia dan dapat memperpanjang umur simpan buah-buahan serta menghilangkan bakteri, jamur, dan cemaran pestisida yang ada pada buah-buahan.

“Secara teori, teknologi  DBD (Dielectric Barrier Discharge) digunakan  untuk menghasilkan O3yang digunakan sebagai sanitizerdan preservation room. Kemudian oksigen dilewat kan melalui celah sempit dengan beda tegangan listrik bolak-balik orde kilo volt pada elektrodanya sehingga dapat mengubah O2menjadi O3. Teknologi ini juga dilengkapi dengan preservation room, O3akan memenuhi ruangan dan menekan udara lain keluar dari ruangan tersebut. Suhu pada ruangan tersebut akan bertambah dingin di sebabkan O3 yang menekan udara yang lain, O3akan bereaksi dengan isi dalam roomtersebut sebagai sanitizer” Ujar Dimas, ketua tim MAZTER.

Kelompok mahasiswa tersebut juga telah melakukan pengujian secara kualitatif dan kuantitatif dari ozon yang dihasilkan. “Pada uji kualitatif, ozon terdeteksi dengan menampung gas keluaran pada generator ozon pada gelas kimia yang terisi campuran larutan aquades dan larutan kalium iodida. Bila warna larutan tersebut berubah menjadi kuning, maka gas keluaran tersebut mengandung ozon. Pengujian kuantitatif dilakukan menggunakan  sampel (larutan penyerap) yang hendak dikontaminasi oleh keluaran gas ozon dari generator ozon. Sampel yang telah terkontaminasi ozon dalam waktu tertentu, selanjutnya dianalisa dengan bantuan alat spektronik-20 untuk ditentukan jumlah (berat) produksinya menggunakan metode absorbsi. 

Metode absorsi digunakan karena ozon mempunyai sifat menyerap terhadap sinar ultraviolet (UV) dan juga dapat memisahkan yodium dari larutan potassium yodida, maka jumlah produksi keluaran gas ozon dari pembangkit ozon dapat ditentukan. Pada percobaan ini digunakan sinar UV yang berpanjang gelombang 352 nm dari lampu cadmium (Cd) yang dipasang pada alat spektronik-20 untuk menyinari sampel (larutan) yang telah terkontaminasi gas ozon. Kalau nilai absorbsi (serapan) sample telah diketahui maka dengan menggunakan metode absorbsi jumlah (berat) ozon yang diproduksi dapat ditentukan.” Ujar Singgih, salah satu penggagas alat MAZTER.

Lima mahasiswa tersebut mengklaim bahwa alat MAZTER mampu menghasilkan ozon untuk diaplikasikan pada pencucian buah dan penyimpanan buah.

Setelah melakukan pengujian hasil, tim ini akan melakukan penstabilan terhadap sistem kontrol pada generator ozon yang dihasilkan untuk meningkatkan perfomansi dari alat MAZTER. Selain itu, untuk keberlanjutan dari alat MAZTER, kelompok mahasiswa ini juga akan melakukan pengujian terhadap bahan yang diberikan ozon serta mengikuti konferensi Nasional maupun Internasional sebagai langkah publikasi.

Menurut kelompok mahasiswa ini, MAZTER dibuat untuk mengembangkan teknologi dibidang produksi buah-buahan berbasis teknologi Dielectric Barrier Dischargesebagai solusi efektif pada masalah maraknya kontaminasi mikroba pada buah yang menyebabkan buah mudah rusak dan busuk. Selain itu, diharapkan MAZTER dapat membantu pemerintah untuk meningkatkan mutu dan keamanan pangan, khususnya pada buah-buahan di Indonesia.