Wilayah Kekerasan di Jakarta

17 Juli 2012 21:50:00 Dibaca :
Wilayah Kekerasan di Jakarta

Judul Buku :

Wilayah Kekerasan Di Jakarta

Penulis :

Jerome Tadie

Penerbit :

Masup Jakarta

Cetakan :

Cetakan Pertama, Februari 2009

Tebal :

324 Halaman

Les territories de la violence a Jakarta adalah judul asli dari buku wilayah kekerasan di Jakarta karya Jerome Tadie. Jerome Tadie adalah seorang penulis perancis yang melakukan penelitian dan survey tentang kekerasan di Jakarta selama kurun waktu 1997 – 2000. Penulis melakukan penelitian dengan metode turun langsung ke lapangan. Salah satunya dengan tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. “ saya memilih Tanah tinggi sebagai wilayah hunian karena sejumlah alas an. Dekat dengan pasar dan stasiun Senen, bercitra buruk sejak Indonesia merdeka.” Ujarnya dalam buku tersebut. Terbagi dalam 3 bagian, buku ini membahas geografi kerawanan Jakarta, wilayah penindasan, serta premanisme. Diawali dengan analisa mengenai 3 kerusuhan politis yang melanda ibukota setelah 1965 yaitu : malapetaka 15 Januari 1974 ( Malari ), kerusuhan 27 Juli 1996 ( Kudatuli ), dan huru hara Mei 1998. Dari berbagai unsur yang di analisis memperlihatkan bagaimana 3 kerusuhan tersebut di organisasi, dengan tujuan untuk mendiskreditkan gerakan mahasiswa. Kemudian ada juga pembahasan mengenai tempat kekerasan sehari-hari di Jakarta, baik di tempat umum atau pun kawasan perumahan. Dan juga mengenai tawuran-tawuran antar kelompok dan tawuran antar siswa yang kerap terjadi di era 90-an. Sementara di bagian ke 2, penelitian lebih banyak membahas mengenai kinerja polisi sebagai pengendali kota yang tidak popular di mata masyarakat. Pengaruh militerisme pun melekat kuat di instansi kepolisian dan pemerintah kota. Sejarah doktrin dwifungsi ABRI dan penerapannya sejak era Nasution di Orde lama hingga kepemimpinan Soeharto di Orde Baru turut diungkap di bagian ini. Selain itu juga membahas pengeroyokan dan penghakiman spontan yang di lakukan masyarakat terhadap para penjahat dan “ main hakim sendiri “ ala FPI dan Front Hizbullah.

Yang paling menarik dari buku ini ada di bagian ke 3 yang berjudul kota di balik kota : preman dan kendali informal. Di bagian ini banyak menceritakan mengenai para preman yang ikut mengendalikan kota di beberapa wilayah Jakarta hingga sejarah dan kehidupan para Jago dan kelompoknya termasuk mitos-mitos kekuatan yang dimiliki sang Jago. Mulai dari kisah legendarisnya Ken Arok ( atau Ken Angrok ) hingga si Pitung yang menjadi pahlawan nasional. Juga Entong Tolo dan Entong Gendut, pahlawannya orang Betawi dari Pondok gede dan Condet. Kisah-kisah para jago tempo dulu hingga yang modern seperti kisah Haji Darip, orang kuat dari Klender dan Imam Syafe’I, Bos Senen, salah satu tokoh Jago yang paling mencengangkan sepak terjangnya. Bermula dari Pasar Senen, Ia mendirikan perhimpunan, Kumpulan 4 sen yang menguasai beberapa pasar di Jakarta. Kemudian ia membentuk Oesaha Pemuda Indonesia ( OPI ) yang kemudian bergabung dengan kaum nasionalis di masa revolusi ’45. ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Setelah melihat kelompok laskar yang lain menjadi ekstrimis. Ia juga berperan serta dalam pemadaman revolusi komunis di Madiun tahun 1948. Ketika perang berakhir, ia menjadi anggota TNI berpangkat Kapten (bukan Mayor seperti komandan batalion yang lain karena ia buta huruf). Di tahun 50-an ia membentuk organisasi yang berisikan veteran perang, organisasi tersebut di beri nama Cobra. Tujuannya mendirikan organisasi tersebut agar rekan seperjuangannya tidak menjadi penjahat, seperti Kusni Kasdut atau Bin Ali. Cobra menghimpun jagoan dari berbagai tempat di Jakarta : dari Senen hingga Tanah abang, Pasar rebo, Jembatan lima ( di sebelah barat Glodok ), Meester cornelis (Jatinegara), sampai Kebayoran lama. Sebagian besar anggotanya orang Betawi, namun etnik lain terwakili : Batak, Ambon, Makasar, dsb. Organisasi tersebut di bubarkan pada 1959 atas permintaan Komando Militer Jakarta karena persaingan dengan kelompok “keamanan” lain, seperti pembantu keamanan kota atau keamanan ular belang. Meskipun demikian, Imam Syafe’I tetap merupakan tokoh penting di lingkungan Jakarta sampai akhir pemerintahan Soekarno. Ia mencapai puncak karirnya pada 1966 ketika di angkat sebagai menteri urusan keamanan dalam kabinet seratus menterinya Soekarno. Ia ditangkap pada 18 maret 1966 sebagai komunis. Tapi di bebaskan beberapa bulan kemudian karena terbukti bukan komunis.

Tak banyak buku yang mengupas kekerasan di Jakarta. Kehadiran buku ini bisa menambah wawasan pembaca, khususnya masyarakat Jakarta, seputar dunia kekerasan dan premanisme di ibukota. Tentu tak perlu harus jadi preman, apalagi penjahat, untuk bisa mengetahui peta premanisme di Jakarta.

Fahmi Arfiandi

/fahmi_arfiandi

friendly ones.. love music | travelling | photography | books | and many lovely things
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?