Gubuk dan Bu Lurah

22 Oktober 2011 03:01:16 Dibaca :

Semenjak tinggal di rumah dinas yang baru, Bu Lurah sering cemberut. Ia kecewa mendapatkan rumah yang tidak sesuai dengan harapannya. Tadinya ia senang suaminya dipindahtugaskan di kelurahan Petaka Jaya ini. Ia membayangkan akan menerima rumah yang lebih besar dari rumah dinas sebelumnya. Rumah berlantai dua yang indah dengan taman bunga, garasi untuk mobil, dan kamar tidur utama yang dilengkapi kamar mandi di dalamnya.


Tapi ternyata rumah itu biasa saja sebagaimana rumah penduduk lainnya, tidak punya keistimewaan. Jangankan taman bunga, untuk menyusun pot-pot saja tidak cukup. Garasinya pun terlalu sempit untuk menampung dua mobil. Mereka memiliki dua kendaraan, satu mobil dinas dan satu mobil pribadi. Mobil dinas terpaksa diletakkan agak menjorok ke luar. Rumah ini justru lebih sempit dari rumah sebelumnya. Kelurahan Petaka Jaya ini tidak lebih dari pemukiman padat yang perlu lebih banyak penataan.


Bu Lurah telah mengeluhkan rumah yang kekecilan itu kepada suaminya. Namun Pak Lurah hanya bisa menjawab bahwa rumah itulah yang disediakan uantuk mereka. Lurah sebelumnya juga tinggal di rumah itu. Bagi Bu Lurah, rumah itu tak layak untuk seorang lurah. Seharusnya suaminya mengajukan protes agar mendapatkan rumah yang lebih baik.


Satu hal yang paling dibenci Bu Lurah adalah gubuk-gubuk tempat tinggal para pemulung yang terlihat jelas dari kamar tidurnya. Rumah itu terletak di ujung gang. Namun tak jauh dari rumah itu ada bidang miring yang cukup luas sampai ke kaki sebuah jalan layang. Bidang miring itu terlihat agak kumuh karena sederet gubuk berdiri di sana. Pemandangan yang sangat menyebalkan, sehingga kalau membuka jendela setiap pagi, wajah Bu Lurah semakin masam.


“Lihat itu, Pak,” Bu Lurah menunjuk melalui jendela. “Gubuk-gubuk pemulung itu membuatku merasa tinggal di pemukiman kumuh.”


“Pak Lurah melongo,”Oh, itu. Warga kita mengatakan, kehadiran mereka tidak mengganggu.”


“Tidak mengganggu bagaimana ? Otak mereka sudah tidak normal. Aku merasa terganggu. Setiap hari aku harus memandang tumpukan sampah itu.”


“Itu bukan sampah, melainkan barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan oleh mereka,” jelas Pak Lurah.


“Asalnya kan dari sampah,” Bu Lurah bersikeras. “ Pokoknya aku tidak mau melihat mereka di rumahku.”


“Maksud Ibu ?”


“Bapak harus mengusahakan agar mereka digusur dari wilayah kita.”


“Tapi mereka membantu menjaga ketertiban lingkungan, menurut warga kita, sejak mereka ada, lingkungan menjadi aman. Dahulu banyak preman yang melakukan tindakan kriminal…..,”


“Soal menjaga ketertiban kan sudah menjadi tugas satpam. Buat apa menggaji satpam kalau tidak bisa mengamankan lingkungan. Tidak perlu ada pemulung !”


“Tapi…..,”


“Tidak ada tapi-tapi….. Aku mau mereka enyah dihadapanku. Terserah Bapak bagaimana caranya !”


Bu Lurah meninggalkan suaminya dengan menghentakkan kaki. Pak Lurah termangu. Ia menghadapi dilema. Di satu sisi, ia memperhatikan aspirasi warga yang tidak keberatan dengan adanya gubuk-gubuk itu. Apalagi para pemulung itu tidak pernah membuat persoalan. Mereka justru membuat sampah menjadi rapi dengan memilah-milahnya. Sedangkan malam hari, mereka ikut berpatroli untuk menjaga keamanan kampung.


Namun di sisi lain, Pak Lurah sangat mencintai istrinya. Maklumlah istrinya cantik bak peragawati. Bu Lurah adalah putri seorang kaya. Tidak sedikit lelaki yang berusaha mendapatkan dia. Pak Lurah bersaing ketat dengan beberapa lelaki lainnya. Ia merasa beruntung berhasil menyunting wanita idamannya tersebut.. Karena itu, Pak Lurah sangat memanjakan istrinya. Selama ini, ia selalu berusaha memenuhi segala keinginan Bu Lurah. Pak Lurah tidak ingin kalau istrinya menyesal telah menikah dengannya.


Persoalan gubuk-gubuk pemulung ini membuat Pak Lurah menjadi pusing tujuh keliling. Manakah yang harus di dahulukan, istri tercinta atau aspirasi warga. Namun desakan istrinya jauh lebih kuat. Setiap pagi Pak Lurah disuguhi keluhan panjang mengenai gubuk-gubuk itu. Telinganya menjadi pengang. Ia bosan mendengar keluhan-keluhan itu. Apalagi sikap Bu Lurah menjadi dingin di tempat tidur jika keinginannya belum terpenuhi.


“Kapan gubuk-gubuk itu akan dibongkar, Pak ?” Tanya Bu Lurah untuk kesekian kali.


“Sabarlah, Bu. Waktunya belum tepat.”


“Sampai kapan ? menunggu sampai aku mati berdiri ?” Mata Bu Lurah mendelik. “Bapak kan bisa mencari alasan.”


Pak Lurah termenung. Alasan apa yang bisa digunakan untk menggusur gubuk-gubuk itu. Warga setempat tentu harus diyakinkan dengan alasan yang tepat.


“Pak, sebentar lagi kan ulang tahunku. Kalau temen-temanku datang dan melihat gubuk-gubuk itu bagaimana ? Apa Bapak nggak malu ?”


Betul juga, istrinya akan berulang tahun di awal bulan. Biasanya teman-teman lama Bu Lurah yang berasal dari golongan elite itu berdatangan. Tentu istrinya tak mau dihina karena tinggal di pemukiman seperti itu. Pak Lurah menghela nafas. Berarti gubuk-gubuk itu harus dibongkar sebelumnya. Pak Lurah mendapat akal. Penghijauan kota bisa dijadikan alasan untuk melakukan penggusuran. Pemerintah Daerah toh selalu melakukan penertiban dengan alasan agar kota tampak bersih dan indah.


***


Akhirnya, Pak Lurah mengadakan rapat untuk membicarakan hal itu. Selain staf kelurahan, ketua-ketua RT dan RW, Ia juga mengundang tokoh masyarakat.


“Pak Lurah, tidak bijaksana melakukan penggusuran terhadap pemulung itu. Kita justru harus mengayomi mereka. Rasulullah bersabda bahwa kita harus menyantuni fakir miskin. Mereka toh tidak meminta uang kepada kita, mereka hanya membutuhkan tempat tinggal,” ujar seorang kyai.


“Betul, Pak Lurah. Lagipula, dalam UUD 1945, dikatakan bahwa fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara. Saat ini negara belum mampu memberikan perumahan kepada masyarakat miskin ataupun memberi subsidi. Mereka hanya minta diijinkan tinggal di tanah itu, mengapa disingkirkan ? Kita tidak berhak Pak Lurah !” tambah seorang tokoh pemuda.


“Pak Lurah lupa dengan sila kedua Pancasila ? Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kalau kita melakukan penggusuran, kita bersikap biadab terhadap mereka.” Teriak seorang veteran.


Diserang seperti itu Pak Lurah terdiam. Meski anak buah dan para stafnya berusaha membela, percuma saja. Tokoh-tokoh ini sangat vokal. Mereka mempunyai pengikut dan jamaah yang cukup banyak jumlahnya. Rapat itu hanya menghasilkan keputusan yang menggantung. Kepala Pak Lurah seperti ditimpa sebongkah batu. Ia terpekur sendiri di depan meja kerjanya sampai tak melihat langit yang berubah menjadi gelap.


Setiba di rumah, ia tercengang melihat ada beberapa buah mobil mewah terpakir. Siapa yang datang ? Ketika memasuki ruang tamu ia melihat istrinya tertawa gembira bersama dua orang tamu yang bermata sipit. Bu Lurah sedikit berlari menyambut suaminya.


“Pak, ini kenalkan Pak Wijaya dan saudaranya. Mereka berniat membeli tanah miring itu untuk dijadikan supermarket.”


Pak Lurah tercengang,”Tapi Bu, tanah itu…..”


“Hush, jangan bodoh Pak. Aku telah menerima uang mukanya. Bapak tinggal tanda tangan.”


Seperti kerbau dicocok hidung tangn Pak Lurah ditarik untuk menandatangani surat perjanjian jual beli tanah miring yang dipermasalahkan. Wajah kedua tamu itu tampak puas. Bu Lurah tersenyum ceria. Ia mengantarkan tamu-tamu itu keluar dengan kerlipan genit di matanya.


“Sekarang beres bukan ?. Bapak harus bangga punya istri pintar. Uang ini bisa kita belikan rumah di real estate itu, sisanya akan ku belikan perhiasan. Bapak tak usah membelikan kado lagi di ulang tahunku.”


Pak Lurah terduduk lemas di kursi. Ia tak bisa berpikir.


***


Dan penggusuran pun berlangsung. Memang bukan petugas Pemda yang melakukannya. Cukong-cukong itu telah membayar orang untuk membersihkan tanah itu. Sebuah traktor besar mondar-mandir menghantam tumpukan barang bekas dan gubuk-gubuk yang ditinggali pemulung. Tak urung para pemulung yang tidak diberi pemberitahuan itu menjadi kocar-kacir. Masing-masing berusaha menyelamatkan barang miliknya yang tidak seberapa itu. Perempuan-perempuan berteriak histeris menyaksikan kompor yang tergilas dan boneka bekas yang menjadi mainan anak-anak mereka hancur lebur. Beberapa pemulung mencoba melawan, tetapi orang-orang itu menyeramkan, dengan wajah bengis menghalau mereka dengan kayu atau mengacungkan senjata api.


Beberapa pemulung nekad menyelamatkan gerobak yang berisi barang-barang pulungan, tetapi ia kejar-kejar oleh para penjaga yang bertubuh besar. Mereka pontang-panting ketakutan. Tetapi lari mereka terhambat beratnya gerobak. Sebagian berhasil ditabrak buldoser sehingga gerobak-gerobak itu terguling berantakan. Seorang anak perempuan yang tadinya ikut naik dalam gerobak untuk melarikan diri, terjatuh. Sebelum sempat ia bangkit, buldoser telah menerjangnya. Terdengar jeritan yang menyayat hati.


***


Di pemakaman, air mata mengalir tidak hanya dari sang ibu yang terluka menyaksikan kekejian yang menimpa putrinya. Tetapi masyarakat pun ikut berduka, diam dan beku sebagaiman batu-batu nisan di pemakaman itu. Ini bukan soal kematian anak, melainkan kematian hati nurani.


Sementara itu, Bu Lurah sedang melihat-lihat rumah yang baru dibelinya di bilangan real estate yang mewah. Rumah itu betul-betul sesuai dengan yang diidam-idamkannya. Ruang tamunya yang luas, cukup untuk menampung sekian ratus orang. Begitu pula dengan kolam renang yang berbentuk oval, sangat menyenangkan duduk-duduk di tepian sambil makan dan minum. Kalau ia mengadakan pesta di sini, pasti akan menjadi sangat meriah. Ia memutuskan memperingati hari ulang tahunnya di rumah ini, bukan di rumah dinas yang sempit itu, meskipun gubuk-gubuk pemulung itu telah tiada.


Di kantor, Pak Lurah mondar-mandir di ruangannya. Halaman kantor kelurahan telah dipenuhi oleh massa. Masyarakat memprotes Pak Lurah yang telah merestui penggusuran di tanah miring itu. Mereka berteriak-teriak menuntut keadilan. Sampai malam, mereka tidak beranjak meninggalkan tempat itu. Pak Lurah kebingungan. Akhirnya ia menelepon aparat keamanan untuk mengawalnya keluar. Massa tak bisa berbuat apa-apa karena Pak Lurah dikelilingi petugas bersenjata.


Pak Lurah berpesan kepada sekretarisnya,”Buatkan surat pengunduran diri. Aku mau minta dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Tulis saja alasannya bahwa masyarakat telah terkena provokasi pihak tertentu.”



muthiah alhasany

/empuratu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?