HEADLINE

Menulis dan Menjual Buku yang Menyelamatkan

27 Mei 2012 17:24:07 Dibaca :
Menulis dan Menjual Buku yang Menyelamatkan
Ilustrasi/Admin (Kampret/Stefanus Leba)

Berhenti memutar otak berarti mati. Memalukan, kalau seorang mahasiswa mati karena kelaparan, bukan?

Kerap kali dalam keadaan bingung tak punya uang, teman-teman semasa kuliah (termasuk saya) di Jogja pada 1994-an acap memplesetkan syair lagu hampir malam di Jogja ketika keretaku tiba.... remang-remang cuaca terkejut aku tiba-tiba....dengan kata-kata hampir mati di Jogja ketika wesel belum tiba..... kunang-kurang mataku karena perut ini kosong.... Keadaan ini riil. Ketika wesel belum datang karena orangtua memang kesulitan mendapatkan uang, saya harus putar otak. Berhenti memutar otak berarti mati. Memalukan, kalau seorang mahasiswa mati karena kelaparan, bukan? Ketika itu saya sudah mulai sesekali menulis di majalah HIDUP di Jakarta dan majalah PRABA di Jogja. Tapi honor dari kedua majalah ini sulit diharapkan memenuhi kebutuhan. Tidak setiap tulisan yang saya kirim dimuat. Kadang, dari 6 tulisan yang saya kirim hanya satu atau dua yang dimuat. Itu pun honornya tak seberapa. Paling tinggi Rp33.000,- Pernah hanya mendapat Rp13.000,- Uniknya, saya menulis dengan mesin ketik pinjaman.

13381392971625776452
Menulis dengan mesin ketik pinjaman......

Dan kalau ada wesel honor yang tiba-tiba muncul ke kos, biasanya saya tidak makan sendiri. Saya ajak beberapa teman (senasib) untuk sekadar makan gorengan di warung nasi kucing yang hanya sepelempar batu jauhnya dari kos. Sekali lagi, honor tersebut tidak pasti, sebab pemuatan tulisan juga tidak pasti. Meski begitu saya terus menulis. Tulisan saya berupa berita, profil kecil atau tulisan "kesaksian". Lantas, bagaimana menutup kebutuhan hidup? Antara lain saya menghadap ke Penerbit Kanisius untuk menawarkan jasa menjual buku. Beruntung penerbit ini menaruh rasa percaya sebab beberapa staf mengenal saya karena sering meliput acara di Kanisius, bahkan Direktur Utamanya pernah saya wawancarai. Saya meliput hanya modal nekat. Tak punya media yang jelas. Tentu saja tak punya kartu pers. Kalau ditanya kartu pers, saya tunjukkan tulisan yang sudah dimuat. Dengan itu saya selamat.....! Kembali ke soal menjual buku. Dari setiap buku yang terjual, saya mendapat 20%. Saya mendatangi setiap keluarga yang saya kenal dengan sepeda othel untuk menawari buku. Beruntung saya cukup mengenal dan dikenal oleh beberapa keluarga di sekitar Monumen Jogja Kembali sampai ke Jl. Magelang. Ada juga keluarga di sekitar selokan Mataram ke arah Pringwulung yang saya kenal. Mereka inilah yang membeli buku-buku saya. Sering kali, selain membeli buku-buku saya, mereka menawari saya makan bersama. Karena malu, saya seringkali mengaku sudah makan saat ditanya sudah makan atau belum. Rupanya sebuah keluarga heran, setiap kali ditanya, saya selalu mengaku sudah makan. Suatu malam sekitar jam 7 malam, saya datang ke keluarga itu membawa beberapa buku pesanan. Ibu pemilik rumah "menjebak" saya. Dia bertanya begini, "Mas, baru dari mana tadi?" Saya jawab, "Tadi sore dari kos, terus main bola dulu biar segar...". Dia bertanya lagi, "Jam berapa ke mari?" Jawabku, "Oya, setelah main bola, saya mandi di kos teman dan langsung kebut sepeda ke sini". "Nah! Kalau begitu Mas belum sempat makan kan? Sekarang mari kita makan.....". Saya tak bisa menolak lagi. Dari berjualan buku, selain bisa mengisi uang saku pribadi, saya juga bisa berbagi untuk adik saya yang juga kuliah di sebuah universitas. Dengan upaya semacam itu, akhirnya saya menyelesaikan kuliah. Benar! Menulis dan menjual buku menyelamatkan saya.

Emanuel Dapa Loka

/emanueldapaloka

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Suka menulis dan membaca... Suami dari Suryani Gultom dan ayah dari Theresia Loise Angelica Dapa Loka. Bisa dikontak di dapaloka@hotmail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?