Ngabuburit dan Rudat

11 Agustus 2012 18:35:46 Dibaca :



Gema Ramadhan begitu menghangatkan. Subhanallah saya suka suasana ini. Ingin rasanya sepanjang tahun merasakan kehangatan ini. Mesjid-mesjid yang lebih penuh dari biasanya oleh jemaah, lantunan ayat suci yang lebih sering terdengar, orang-orang yang dirasa lebih bersahabat, makan dan minum yang terasa lebih nikmat dari biasanya.


Yang paling saya suka dari efek ramadhan yang hubungannya dengan manusia lainnya adalah bisa menjalin kedekatan dan kebersamaan.


Meski tak jarang orang karena dengan pertimbangan waktu memilih berbuka ditempat kerja, tapi lebih banyak yang ingin menyempatkan saat-saat berbuka puasa berada ditengah-tengah keluarga. Ingin segera pulang sore, agar menjelang berbuka nanti sudah duduk manis mendengarkan tausyiah, atau menyimak adzan magrib yang paling dinanti.


Mesjid-mesjid yang biasanya hanya dikunjungi segelintir orang saja, pada bulan puasa terlihat lebih penuh. Tadarus lebih sering dan lama dilantunkan. Wirid dan pujian yang biasanya hanya pengantar beberapa menit menjelang dan sesudah sholat, kini lebih lama diperdengarkan.


Ada beberapa fenomena yang saya rekam dalam ingatan, rentang-rentang ramadhan sewaktu saya kecil sampai sekarang. Tradisi warga dalam menyambut dan mengisinya. Kegiatan negative dan positifnya. Terutama yang ada kaitannya dengan remaja.


Kegiatan negatifnya, terkadang masih ada saja remaja yang mengisi hari-hari ramadhan dengan balapan liar. Balapan liar ini akan lebih ramai dari hari biasanya pada sore hari menjelang magrib. Karena biasanya jam-jam segini, remaja atau istilahnya ABG, melakukan aktivitas ‘ngabuburit’ diluar rumah. Sekedar nongkrong-nongkrong, bermain gitar, mendengar music, atau ber-hp ria. Tak jarang juga terlihat berpasangan dengan teman dekatnya. Yang lebih ngerinya lagi, akhir-akhir ini, menjelang terawih, dilingkungan saya tinggal, beberapa remaja terlibat gontok-gontokan. Pencetusnya karena main petasan yang maikn menjamur pada bulan ramadhan ini.


Tapi ada disisi lain yang lebih positif dari sikap remaja menyikapi bulan penuh berkah ini. Menjelang bulan ramadhan, biasanya para santri kecil dan anak pengajian diarahkan oleh guru pembimbing dan ustadz dimesjid setempat untuk mengadakan pawai keliling komplek. Penuh ceria mereka belajar menyambut ramadhan dengan suka cita, membawa spanduk dan berpakaian muslim. Ada juga beberapa anak yang usianya lebih besar, remaja putra dan putri keliling dengan membawa obor dan bermacam tetabuhan. Seperti rebana, bedug, sampai galon kosong. Sepulangnya, mereka akan sholat isya berjamaah dan terawih.


Ramadhan juga terus merekam ingatan saya pada beberapa tahun silam, ketika saya masih kecil. Menjelang sahur, sekitar jam dua sampai jam tiga pagi, ada acara ‘rudat’. Rudat adalah aktivitas yg biasanya digelar jika ada acara khitanan, dilakukan oleh beberapa orang laki-laki berjajar pasangan, lengkap dengan seragamnya. Menjelang sahur tiba, rudat ini dilakukan tiap hari oleh para orang tua pelopor kegiatan ini. Kenapa dipilih rudat? Karena dalam rudat, terdapat music pengiring dari gerakan-gerakan semacam pencak silat. Alat yang biasa dipakai adalah bedug, gitar, seruling bambu dan rebana bermacam ukuran. Instrumentnya memang sederhana, tapi dimainkan dengan apik dan semangat. Tujuannya tentu saja membangunkan orang untuk sahur, terutama untuk para ibu yang harus bangun lebih awal karena harus mempersiapkan hidangan sahur. Saya sangat suka dengan irama khas dan gerakannya. Namun bedanya, jika saya kecil dulu aktivitas ini dilakukan oleh para tetua, sedangkan sekarang oleh para remaja. Biasanya mereka akan berdiam diri di mesjid sampai kegiatan rudat ini dimulai.


Ditempat saya tinggal sekarang, rudat ini memang tidak ada, tapi ada kesamaan sedikit dari cara remaja membangunkan sahur. Dengan rebana, bedug dan gallon kosong. Lumayanlah mengobati kerinduan saya pada suasana ramadhan beberapa tahun silam.


Interaksi ini lebih memberikan manfaat untuk warga dan dirinya sendiri, dibanding dengan bermain petasan, balapan liar, atau tawuran yang menimbulkan keresahan.


Semoga akan lebih banyak lagi kegiatan-kegiatan kreatif yang bermanfaat lainnya dalam mengisi ramadhan. Tentu saja dengan tidak mengesampingkan definisi dan aktivitas wajib dalam ramadhan itu sendiri.



salam ramadhan


KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?