Petualangan 24 Jam

21 Agustus 2012 11:08:00 Dibaca :

Biasanya untuk perjalanan Solo - Jakarta, saya suka menggunakan moda transportasi udara, menikmati 50 menit perjalanan, menjalankan segala keperluan lalu kembali lagi ke Solo dalam beberapa hari. Aktifitas seperti ini bisa berulang dalam beberapa bulan sekali. Namun tidak seperti biasanya hari itu 10 November 2010 ada satu keperluan sehari di Jakarta yang tidak dapat ditunda. Sebenarnya untuk keperluan tersebut dapat ditempuh dengan cara berangkat di pagi hari, menjalani pertemuan siang hingga sore atau malam hari, lalu kembali ke Solo dengan penerbangan pagi keesokan harinya. Namun apa daya, rencana harus berubah. Dikarenakan ketidakpastian kondisi Gunung Merapi yang lagi meletus, jadwal penerbangan sering tertunda karena hujan abu, jadilah kemudian rencana berubah menggunakan kereta api. Pertimbangan sederhananya, kereta api mestinya lebih lancar daripada naik mobil atau bus.

Jadilah, 9 November pukul 20.00 kereta api Argo Dwipangga bergerak dari  Solo menuju ke Jakarta. Perjalanan tampak lancar, sekalipun was-was karena adanya berita kereta api Cireks yang anjlok di sekitar Indramayu siang harinya. Namun selepas stasiun Tugu Jogja, pada akhirnya mata tak kuasa menahan kantuk dan tertidur dengan sukses.

Singkat cerita, waktu itu sekitar pukul 02.00 atau 03.00 pagi saya terbangun mendapati kereta api sudah sampai di stasiun Cirebon. Hmm.. sepertinya perjalanan berjalan dengan lancar. Namun apa yang terjadi selanjutnya, sungguh tidak terduga dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Kereta Api tidak juga bergerak dari stasiun Cirebon hingga matahari terbit. Rupanya dampak anjoknya KA Cireks sehari sebelumnya masih terasa, dikarenakan upaya perbaikan masih juga berlanjut. Dalam situasi seperti ini, apa yang bisa dilakukan selain pasrah ? Namanya juga kecelakaan.

Sekitar pukul 07.00 - 08.00 akhirnya kereta bergerak maju. Ah, akhirnya jalan juga pikirku. Tapi kelegaan itu tak berlangsung lama. Kira-kira 30 menit kemudian, kereta api kembali berhenti. Rupanya perjalanan ini belum juga menunjukkan tanda-tanda lancar. Beberapa penumpang mulai gelisah, sambil menikmati mi instant yang disajikan oleh PT KAI sebagai pengganjal perut yang sudah mulai keroncongan. Beberapa lagi mulai turun dan menggunakan bus atau mencarter kendaraan menuju Jakarta. Kegelisahan mulai menyelimuti, bagaimana ini, pertemuan yang dijadwalkan jam 14.00 sudah tidak mungkin terkejar.

Akhirnya sekitar pukul 11.00 atau 12.00 kereta kembali bergerak, namun ternyata bergerak mundur menuju ke Cirebon. Ah ternyata perjalanan tidak mungkin dilanjutkan menuju ke Jakarta. Namun sekalipun terlambat, saya patut angkat topi pada PT KAI yang cukup bertanggung jawab menyediakan bus, sebagai transportasi lanjutan menuju ke Jakarta dari Cirebon. Dengan wajah kuyu, satu demi satu penumpang menaiki bus AC yang telah tersedia, dan pada akhirnya kami menuju ke Jakarta juga.

Lampu-lampu telah menyala saat kami memasuki kota Jakarta. Tepat pukul 18.00 kami memasuki stasiun Gambir, langsung menuju tempat menginap. Tepat pukul 19.00 air hangat telah menanti di kamar mandi, menyapu lelah 24 jam sejak keluar dari rumah pukul 19.00 kemarin. Ah... untung kawan-kawan di Jakarta cukup mengerti, sehingga pertemuan yang seharusnya berjalan siang itu digantikan dengan suasana makan malam yang penuh dengan cerita seru dan melelahkan, sambil membayangkan perjalanan pulang yang harus dijalani keesokan harinya.

Sungguh 24 jam yang seru !

Edhi Setiawan

/edhisetiawan

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Tadinya hanya suka membaca, lama-lama jadi ingin menulis. Semoga bermanfaat.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?