HIGHLIGHT

Sinetron Tukang Bubur Naik Haji, Antara Salah Fokus dan Konflik Klise

07 September 2012 17:00:40 Dibaca :
Sinetron Tukang Bubur Naik Haji, Antara Salah Fokus dan Konflik Klise
foto Wikipedia

Apa yang ditunggu para penikmat/pecandu sinetron seri Tukang Bubur Naik Haji? cerita yang yang inspiratif.... Atau "tingkah konyol" sang Haji (dua kali) Muhidin dan istri, saat memusuhi keluarga Haji Sulam sang tukang bubur yang berhasil naik haji? Sadar atau tidak sadar sutradara sinetron produksi Sinemart ini telah menggiring pemirsa agar lebih fokus pada hal yang kedua, kesombongan dan kemunafikan H Muhidin dan istrinya. Dari episode ke episode pemirsa hanya disuguhi usaha tanpa henti H Muhidin dan Hj Maemunah untuk menjatuhkan dan mendeskriditkan keluarga H Sulam, dalam berbagai modus. Diselingi cerita cinta dan kehidupan tokoh lain yang terkesan hanya sebagai penyela untuk memperpanjang waktu tayang. Dan belakangan, ketika tokoh Hj Maemunah "dihilangkan" dengan cara yang konyol, dimunculkan tokoh Umi Enok, dengan karakter kurang lebih sama dengan Hj Maemunah, yang sepertinya hendak dijadikan partner H Muhidin untuk mengusik kehidupan keluarga sang tukang bubur. Sebagai sebuah tontonan, sebagaimana sinetron produksi Sinemart lain yang tayang di RCTI, sepertinya sangat menghibur para pecandunya. Namun sebagai sebuah tuntunan, sebagaimana yang diharapkan dari sebuah karya sinema berlatar belakang kehidupan religi seperti yang hendak ditunjukkan dalam Tukang Bubur Naik Haji The Series, nampaknya "masih jauh panggang dari api". Memang benar jika dikatakan bahwa cerita dalam sinetron yang tayang setiap hari pukul 20:00 WIB tersebut, merupakan potret perilaku kita sehari-hari, yang kadang penuh kepalsuan dan kemunafikan. Namun jika perilaku buruk dari seorang Haji dan Hajah dalam beragam modus dijadikan fokus cerita....? Sebenarnya ada dua hal dalam cerita sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series yang dapat dieksplorasi, dan diharapkan dapat menjadi inspirasi positif bagi pemirsa. Pertama, adalah pahit getir perjuangan keras sang tukang bubur, mulai dari nol hingga sukses mengembangkan usaha, dan berhasil naik haji dengan hasil memeras keringat sendiri. Serta bagaimana dia "mengelola" kalbunya, sehingga kehidupannya bisa lebih religius paska berhaji. Kedua, adalah latar belakang kehidupan masa lalu H Muhidin dan Hj Maemunah, sehingga membentuk karakter buruk seperti yang digambarkan dalam sinetron ini. Bagaimana ibadah akbar bagi seorang Muslim/muslimah yang mampu, alih-alih mengubah perilaku dan sikap seseorang menjadi lebih baik, justru membuat yang bersangkutan menjadi semakin sombong, iri, pendengki, munafik dan penuh kepalsuan! Akan tetapi mengapa penulis cerita/skenario, sutradara dan pihak produser tidak tertarik untuk mengeksplorasi dengan apik kedua hal seperti tersebut di atas? Mengapa mereka lebih suka mengulang-ulang "konflik klise" seperti yang dapat disaksikan pada tayangan sinetron yang dibintangi Mat Solar dkk. itu? Apakah ini terkait dengan masalah kualitas dan kreativitas sinematografi mereka yang terlibat dalam produksi, atau faktor kemudahan serta hitungan untung-rugi sebuah produksi? (E. SUDARYANTO, KOMPASIANA - 07092012)

Eko Sudaryanto

/e.sudaryanto

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Awam yang beropini!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?