Stop Cyberbullying di Hari Suci!

14 Agustus 2012 20:43:08 Diperbarui: 25 Juni 2015 01:46:12 Dibaca : Komentar : Nilai :
Stop Cyberbullying di Hari Suci!
13449768352053139164

Seorang teman yang juga sekretaris RW di salah satu kelurahan Kota Bandung bergegas berpamitan saat saya temui di rumahnya (20/07/2012). Ia mengatakan bahwa harus segera mengurusi warganya yang terkena kasus. Warga yang masih remaja tersebut mendapatkan pelecehan seksual oleh teman prianya melalui dunia maya. Ia mendapatkan kekerasan secara psikologis karena dilecehkan dan diancam melalui media jejaring sosial. Kasus yang terjadi secare daring tersebut diketahui oleh orang tua korban. Bahkan menurut penuturan sekretaris RW tersebut, sang korban akan segera divisum karena apa yang distatuskan temannya dalam dinding jejaring sosialnya takut terjadi dalam kenyataan.

Kejadian tersebut dalam dunia digital dikenal dengan istilah Cyberbullying. John M. Echols mengartikan bullyingsebagai menggertak atau mengganggu orang yang lemah. Cyberbullying sendiri merupakan bentuk pelecehan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain di dalam dunia maya. Dalam kehidupan actual, mem-bully dapat dimaknai sebagai perbuatan merendahkan, menghina, mengancam, meledek baik secara fisik ataupun psikis. Sementara menurut ictwatch.com cyberbullying merupakan aksi pelecehan atau mengolok-olok via internet dan media teknologi lain, baik melalui komentar, foto, dan materi lainnya.

Cyberbullying telah merembet ke dalam kehidupan nyata yang diaktualkan juga dalam bentuk pelecehan lain seperti perkosaan dan penculikan. Bulan lalu seperti diberitakan “PR” (03/06/2012) terjadi kembali penculikan terhadap seorang remaja di salah satu daerah Jawa Barat. Penculikan dalam dunia nyata yang dimediasi oleh media jejaring sosial merupakan dampak dari cyberbullying yang actual. Cyberbullying seperti dicatat oleh Ipsos, sebuah lembaga survei internet, dilakukan oleh remaja (18) terhadap remaja/ orang dewasa lain. Cyberbullying dalam media sosial juga ditunjukan dengan status-status sumpah serapah terhadap orang lain. Sehingga tidak heran, bila beberapa yang lalu ada seorang remaja di daerah Bogor yang membullydiperiksa kepolisian karena dilaporkan temannya yang merasa telah dicemarkan nama baiknya.

Jika dicermati, sejak boomingnya media sosial, Kasus Cyberbullying dapat dikatakan sebagai fenomenal, banyak kasus-kasus yang muncul diakibatkan oleh perilaku tidak patut manusia digital di dunia maya. Indonesia sendiri menjadi salah satu Negara yang cukup banyak kasus berkaitan dengan perilaku tersebut. Menurut data yang dihimpun oleh Antarnews (13/012012) dari 18 ribu para orang tua dari 24 negara yang disurvei mengenai pelecehan anak di internet, orang Indonesia memiliki tingkat kepedulian paling tinggi. Sekitar 91 persen orang tua asal Indonesia memiliki kepedulian terhadap cyberbullying, disusul Australia, Polandia, Swedia, Amerika Serikat dan Jerman.

Cyberbullying sendiri biasanya menimpa pada usia-usia remaja, mereka yang sedang mencari jati diri dan mentalnya masih labil. Bahkan remaja tersebut tidak hanya mem-bully sesama yang masih remaja, guru pun biasanya sering kena bully anak muridnya yang nakal.

Ramadhan, Saatnya menahan diri.

Perilaku cyberbullying dalam Islam dapat dikategorikan sebagai penyakit hati atau perbuatan tercela, sebuah perilaku dengki dan zalim yang merugikan dan mencelakakan dirinya sendiri dan orang lain. Ia berada dalam emosi seseorang. Seorang yang tidak bisa menahan bully-annya berarti ia tidak mampu menahan emosinya. Walaupun tidak diaktualkan dalam kehidupan nyata, tetapi dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari seperti terjadi pada kasus di atas.

Dalam kehidupan digital, perilaku dengki dan dzalim tersebut dapat diaktualisasikan ke dalam media sosial melalui bentuk status. Seperti sudah mafhum, media sosial kini menjadi tempat tumpleknya berbagai kehidupan, tak terkecuali untuk nyampah alias sumpah serapah yang dapat dikategorikan sebagai bullying. Pada kasus tersebut, maka status-status media sosial menjadi kepanjangtanganan dari perkataan seseorang, ia adalah lidah dalam bentuk digital. Jika ada pepatah bahwa luka karena pedang dapat diobati, maka luka karena lidah akan terus membekas. Pepatah tersebut menemukan pijakannya dalam dunia maya, jika luka karena pedang dapat dengan mudah diobati, tapi luka karena status dapat berakhir di penjara.

Barangkali hal inilah apa yang disebut oleh Peneliti Komunikasi, Idi Subandy Ibrahim sebagai hilangnya komunikasi secara empatik, sebuah bentuk dari Patologi Komunikasi Modern. Ia merupakan bentuk lain dari kekerasan, kekerasan simbolik yang menjadi bagian dari budaya manusia digital. Kekerasan bentuk ini juga dianggap sebagai hiburan belaka oleh para pem-bully.

Untuk mengatur kehidupan yang harmonis tanpa dipenuhi oleh kekerasan simbolik tersebut, Al-Qur’an menegaskan tentang pentingnya menjalankankomunikasi sosial yang baik, jujur, arif, bijak, dan benar sesama manusia agar terhindar dari celaka. Prinsip-prinsip komunikasi Qur’ani tersebut antara lain berkaitan dengan keharusan komunikasi dengan menggunakan kata-kata yang jujur atau Qoulan Syadidan. Qoulan Syadidan berarti berkata jujur dan benar, Qoulan Maysuran yang berarti berkata arif dan bijak. Kata-kata tersebut menjadi prinsip dalam membina hubungan komunikasi sosial yang harmonis.

Melalui kata-kata yang bijak, jujur, dan mencerahkan alih-alih meretakan hubungan justeru menjadikan kata-kata menjadi silaturahim. Dalam kehidupan digital, kata-kata bijak tersebut dapat diaktualisasikan dalam penulisan status-status yang inspiratif dan mencerahkan teman dalam jejaringnya, bukan malah melecehkan, menghina, merendahkan, atau sumpah serapah belaka. Ia juga bisa diaktualkan dalam bentuk artikel yang bermanfaat bagi orang lain dalam sebuah blog.

Sebagai sebuah perilaku yang menyakiti diri sendiri dan orang lain, cyberbullying harus dihindari karena akan berdampak buruk terhadap hubungan sosial kita selanjutnya walaupun dilakukan di dunia maya. Karena pada dasarnya, kehidupan dunia maya hari ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita yang nyata. Apalagi pada bulan suci yang harus menahan segala nafsu, perilaku cyberbullying dapat mengurangi nilai pahala dari puasa ramadhan. Stop Cyberbullying pada bulan ramadhan. Mari raih nilai puasa, agar dahaga kita tidak sia-sia. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain, karena manusia seperti itulah sebaik-baiknyamanusia. Semoga.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article