Djulianto Susantio
Djulianto Susantio

Arkeolog, pekerja lepas mandiri, penulis artikel, kolektor uang kuno (numismatis), serta konsultan tertulis astrologi dan palmistri. Memiliki beberapa blog pribadi tentang sepurmu daya (sejarah, purbakala, museum, budaya) dan numismatik, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora headline

Gajah Mada Diganti Gaj Ahmada, Nama yang Kearab-araban

17 Juni 2017   13:51 Diperbarui: 17 Juni 2017   20:27 189 10 13
Gajah Mada Diganti Gaj Ahmada, Nama yang Kearab-araban
Prasasti Gajah Mada menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno (Foto: Prasasti Batu, 2016)

Beberapa hari terakhir ini pengguna media sosial ramai membicarakan soal Kerajaan Majapahit dan Gajah Mada hasil kajian sebuah organisasi massa di Yogyakarta. Menurut penelitian itu Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Islam, bukan kerajaan Hindu yang selama ini dituliskan buku-buku sejarah. Dikatakan patihnya bukan Gajah Mada tetapi Gaj Ahmada, nama yang kearab-araban. Arab dan Islam memang hampir selalu diidentikkan.

Terus terang saya bukanlah ilmuwan yang kerap meneliti situs-situs Majapahit. Saya pun tidak bekerja di instansi arkeologi. Namun saya tetap tertarik berceloteh tentang pengalaman dan apa yang saya tahu tentang Gajah Mada.

Patung

Setahu saya nama Gajah Mada sudah demikian besar. Untuk menghormati beliau, sejumlah instansi kemiliteran dan kepolisian, membuatkan patung Gajah Mada. Di Jakarta patung Gajah Mada ada di halaman Mabes Polri. Jelas ini dikaitkan dengan nama pasukan Bhayangkara yang dipimpin Gajah Mada. Ada juga di instansi milik TNI AD di Jalan Gunung Sahari dan di bilangan Manggarai. Saya tidak tahu ujud Gajah Mada yang benar karena semua tampilan berbeda-beda.

Wajah Gajah Mada yang saya tahu merupakan rekaan Moh. Yamin berdasarkan temuan pecahan terakota dari situs Trowulan, yang diduga merupakan bekas ibu kota Kerajaan Majapahit. Sesuai namanya, Gajah Mada dinilai berwajah tegap dan tambun laksana seekor gajah.

Patung, monumen, dan nama jalan juga ada di luar Jakarta. Bahkan ada Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Pokoknya nama Gajah Mada sudah top-markotop.

Sumber sejarah

Nama Gajah Mada dikenal luas berkat buku karya Moh. Yamin, Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara (1945). Kajian Moh. Yamin menjadi langkah awal untuk memahami tokoh Gajah Mada. Setelah itu banyak ilmuwan, termasuk penulis fiksi memanfaatkan nama Gajah Mada. Berbagai novel sejarah laku keras di pasaran. Padahal isinya mencakup dialog panjang lebar antara Gajah Mada dengan raja-raja Majapahit dan kesaktian ajaib yang dimiliki Gajah Mada. Mana ada karya ilmiah membualseperti itu. Dialog panjang lebar dan kesaktian Gajah Mada jelas tidak pernah ada dalam sumber-sumber sejarah.

Selama ini kita mengenal sumber sejarah tertulis dan sumber sejarah tidak tertulis. Yang termasuk sumber sejarah tertulis adalah prasasti dan karya sastra yang sezaman. Contohnya Prasasti Gajah Mada, naskah Nagarakretagama, Pararaton, Tantu Panggelaran,BabadArung Bondan, dan Kisah Panji. Sementara yang termasuk sumber sejarah tidak tertulis adalah benda-benda arkeologi, seperti arca, relief, dan candi.

Memang sebagian pekerjaan ilmiah harus dilakukan dengan tafsiran. Bukan berarti tafsiran tersebut harus pasti atau benar. Selama belum ada temuan baru, tafsiran itulah yang dipakai. Barulah kalau ada sumber tertulis baru, misalnya yang memperjelas jati diri Gajah Mada, tafsiran terakhirlah yang dipakai.

Prasasti Gajah Mada

Di Museum Nasional Jakarta saya pernah melihat Prasasti Gajah Mada. Prasasti ini ditandai dengan nomor inventaris D.111. Dulu ditemukan di daerah Singosari, Malang.

Menurut buku Prasasti Batu, Pembacaan Ulang dan Alih Aksara (2016), prasasti ini dikeluarkan oleh Sang Mahamantri Mukya Rakryan Mapatih Mpu Mada pada 1273 Saka (27 April 1351 Masehi) dalam rangka pendirian sebuah bangunan caitya untuk memperingati gugurnya Paduka Bhatara Sang lumah ri Siwabuddha (Raja Kertanegara) bersama para pendeta dan pejabat tinggi kerajaan pada 1213 Saka (18 Mei---15 Juni 1291 Masehi).

Prasasti Gajah Mada (Foto: Prasasti Batu, 2016)
Prasasti Gajah Mada (Foto: Prasasti Batu, 2016)

Nah, begitulah yang saya tahu. Entahlah sumber apa yang digunakan penulis tadi untuk menghubungkan Gajah Mada dengan Arab dan Islam. Saya jadi teringat buku tentang Candi Borobudur yang didirikan oleh Nabi Sulaiman, yang saya anggap menyesatkan. Mungkinkah ini pandangan yang terlalu fanatik? Ataukah fenomena baru penelitian? Yang jelas ini disebut pseudo-sains, ilmu semu. Bisa jadi si penulis mencari sensasi.

Semoga masyarakat tidak menelan mentah-mentah informasi yang terkesan baru atau fenomenal. Jika ingin tahu Kerajaan Majapahit dan Gajah Mada silakan baca buku Masa Akhir Majapahit tulisan Hasan Djafar dan Gajah Mada, Biografi Politik tulisan Agus Aris Munandar.***