PILIHAN HEADLINE

Kisah Si Cantik dan Si Buruk Rupa

17 Maret 2017 23:56:24 Diperbarui: 18 Maret 2017 09:18:31 Dibaca : 702 Komentar : 6 Nilai : 12 Durasi Baca :
Kisah Si Cantik dan Si Buruk Rupa
Beauty and The Beast yang saat ini sedang tayang di bioskop Indonesia, aslinya adalah kisah roman klasik asal Prancis. (foto sumber: movies.disney.co.uk)

Berbagai versi kisah Si Cantik dan Si Buruk Rupa, atau lebih dikenal dengan Beauty and The Beast, telah diangkat menjadi film baik itu berdurasi panjang maupun serial. Saya sendiri pertama kali menonton film yang berangkat dari roman klasik Perancis ini melalui tayangan di televisi sewaktu saya masih duduk di bangku SD, berupa sebuah film durasi panjang yang dibintangi oleh aktor dan aktris Amerika Serikat. Berhubung sudah lama sekali, saya sudah tidak terlalu ingat kecuali wajah buruk rupa sang pangeran dan ajakan makan malamnya kepada sang Puteri berulang-ulang setiap malam, « would you come to dinner with me? ». 

Selain itu, ada pula versi serialnya yang juga diproduksi di Amerika Serikat, dengan pemain wanita dibintangi Linda Hamilton, mantan istri James Cameron yang sering menyutradarai film box office. Digambarkan bak superman, The Beast atau si pangeran buruk rupa selalu menyelamatkan sang tokoh wanita dari berbagai ancaman berkat wajah buruk rupa dan tenaganya yang luar biasa sehingga sanggup membuat orang takut (kecuali ya Belle sendiri).

Beauty and The Beast versi serial televisi Amerika sepanjang akhir tahun 1980-an, dibintangi oleh Linda Hamilton. (foto sumber: imdb.com)
Beauty and The Beast versi serial televisi Amerika sepanjang akhir tahun 1980-an, dibintangi oleh Linda Hamilton. (foto sumber: imdb.com)

Kemudian, pada awal tahun 1990-an, muncullah film animasi yang digubah secara apik oleh Disney. Dilengkapi nyanyian hampir di sepanjang film, dengan logat dialog dan guyonan khas Disney yang sudah akrab di penonton Indonesia (dan seluruh dunia), membuat film animasi pertama versi modern ini banyak diganjar penghargaan dan laris manis di pasaran. Saya bilang pertama karena sebelumnya Disney hanya membuat kartun-kartun klasik macam Mickey Mouse dan Donald Duck

Bisa saya sebut juga itu merupakan debut film animasi kartun pertama Disney di layar lebar, yang pada tahun-tahun berikutnya disusul dengan kesuksesan film Aladdin, The Lion King, The Little Mermaid, dan lain-lain. Jujur, film kartun Beauty and The Beast merupakan film yang juga sanggup merebut hati saya berkat lagu-lagunya yang indah dan keajaiban ceritanya sehingga saya masih hafal adegan per adegan plus lirik serta melodi lagunya hingga kini.

Beauty and The Beast versi Prancis, atau La Belle et La Bete, yang dibuat sesuai cerita aslinya. Belle putri bungsu dari seorang saudagar yang terlilit hutang dengan saudara-saudari kandung yang tamak dan egois. (foto sumber: frenchculturalcenter.org)
Beauty and The Beast versi Prancis, atau La Belle et La Bete, yang dibuat sesuai cerita aslinya. Belle putri bungsu dari seorang saudagar yang terlilit hutang dengan saudara-saudari kandung yang tamak dan egois. (foto sumber: frenchculturalcenter.org)

Kemudian, pada milennium baru, tepatnya sekitar tahun 2014, seolah hendak menunjukkan bahwa Beauty and The Beast itu aslinya dari Perancis, maka negeri ini pun membuat film versi layar lebarnya (walaupun bukan untuk pertama kali). Dibintangi Vincent Cassel sebagai pangeran buruk rupa dan Lea Seydoux sebagai Belle, film ini juga ingin menunjukkan cerita asli dongeng tersebut, bahwa Belle merupakan putri bungsu dari seorang ayah pedagang dengan saudara-saudari kandung yang serakah dan cenderung egois. Selain itu, para pelayan sang pangeran tidaklah seperti rekaan film versi Hollywood dengan tokoh Lumiere dan Congsworth, melainkan berupa makhluk-makhluk mungil nyaris tidak terlihat. 

Sang pangeran sendiri pun dulunya ternyata pernah mempunyai seorang istri, namun mati dikutuk. Sayangnya, mungkin karena terlalu surealis (dan terlalu ingin mengikuti Hollywood), film ini tidak terlalu diminati di pasaran Asia, meskipun banyak mendapat penghargaan di festival film internasional di Eropa: Best European Film untuk European Film Awards, tiga nominasi di Cesar Awards, dan diputar juga di Berlin Internaitonal Film Festival.

Aktor-aktris Inggris dilibatkan untuk Beauty and The Beast garapan Disney versi teranyar tahun 2017. (foto sumber: youtube.com)
Aktor-aktris Inggris dilibatkan untuk Beauty and The Beast garapan Disney versi teranyar tahun 2017. (foto sumber: youtube.com)

Lalu, mungkin karena ingin mengulang kesuksesan Beauty and The Beast versi animasi tahun 90-an, Disney pun kembali menggarap film berjudul sama namun versi manusia (maksudnya bukan kartun) yang hari Sabtu kemarin mulai tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Untungnya, promosi yang dilakukan sangat gencar bahkan sejak setahun sebelumnya melalui berbagai preview di Youtube. Kemudian menjelang akhir tahun mulai dimunculkan trailer versi lengkap, lalu sebulan hingga beberapa minggu sebelum tanggal rilis film ditampilkan berbagai cuplikan adegan, plus lagu soundtrack versi terbaru, juga lagu-lagu yang dinyanyikan di sepanjang film, yang bisa kita akses dengan mudah di kanal YouTube juga. 

Entah mengapa Beauty and The Beast terbaru malah menampilkan aktor-aktris Inggris dengan logat British yang kental, ketimbang menggunakan aktor-aktris Amerika Serikat seperti film pendahulunya di tahun 1990-an. Mungkin supaya terdengar dan terlihat lebih aristokrat, karena imej kerajaan yang populer untuk masyarakat dunia saat ini ya Inggris? Untungnya, yang bermain memang aktor-aktris Inggris kawakan yang juga bisa menyanyi seperti Ewan McGregor (masih ingat dia bernyanyi dan berakting untuk film Moulin Rouge?), Emma Thompson, bahkan saya juga takjub mengetahui Luke Evans pemeran Gaston juga bisa bernyanyi dengan baik. Kecuali ya Emma Watson sendiri sebagai Belle yang lebih banyak terbantu auto-tune untuk memperhalus suaranya.  

Gaston dan Le Fou, perwira tentara dan abdinya yang juga sudah ada di film versi animasinya. Le Fou adalah abdi setia Gaston meskipun Gaston hanya memanfaatkan kebaikan Le Fou (foto sumber: pinterest.com)
Gaston dan Le Fou, perwira tentara dan abdinya yang juga sudah ada di film versi animasinya. Le Fou adalah abdi setia Gaston meskipun Gaston hanya memanfaatkan kebaikan Le Fou (foto sumber: pinterest.com)

Bagaimana dengan gosip bahwa film Beauty and The Beast juga secara terselubung mempromosikan cinta sesama jenis, yang direpresentasikan oleh Le Fou terhadap Gaston? Sang sutradara, Bill Condon, berkilah bahwa film ini adalah perayaan tentang cinta secara universal, rasa cinta terhadap siapa saja yang layak diakui oleh siapa pun. Persepsi saya sendiri setelah menonton film ini sih, aman, tidak ada adegan yang aneh-aneh seperti yang diperkirakan banyak orang. 

Bahwa Le Fou menjadi abdi setia Gaston walaupun dikhianati sendiri oleh majikannya, hal itu juga ada di Beauty and The Beast versi animasi Hollywood tahun 1990-an. Jika membayangkan kita berada di abad lampau, di mana unsur aristokrasi mewarnai setiap lapisan kehidupan, ada yang namanya seorang majikan dan seorang pelayan yang memang tugasnya adalah mengabdi seumur hidup kepada majikannya. Gaston adalah seorang perwira tentara yang baru pulang dari medan perang, dan Le Fou adalah cecunguknya.

Petrus Gonsalvus, konon pangeran dari Spanyol yang menderita hipertrikosis dan memperistri seorang gadis rakyat jelata yang cantik jelita dari Paris. (foto sumber:https://en.wikipedia.org/wiki/Beauty_and_the_Beast )
Petrus Gonsalvus, konon pangeran dari Spanyol yang menderita hipertrikosis dan memperistri seorang gadis rakyat jelata yang cantik jelita dari Paris. (foto sumber:https://en.wikipedia.org/wiki/Beauty_and_the_Beast )

Yang menarik, saya baru mengetahui bahwa cerita klasik Beauty and The Beast konon diangkat dari kisah nyata di masa lalu. Jadi, kabarnya memang ada seorang pangeran dari Spanyol yang menjadi buruk rupa akibat penyakit hipertrikosis yang dideritanya, lalu dibawa oleh Raja Henri ke Perancis, dan di sana ia menikahi seorang gadis biasa asal Paris yang cantik jelita. Love conquers all, cinta memang sanggup mengalahkan semua tantangan dan rintangan, begitulah kira-kira pesan yang ingin diusungnya. ***

Dina Mardiana

/dinamars

TERVERIFIKASI

Saya seorang penulis dan penerjemah, juga pengamat gaya hidup. Blog saya yang lainnya dapat dikunjungi di www.dinamars.net, www.travelkulinerdina.net
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana