HIGHLIGHT

Malaikat Tanpa Sayap 17: Jennifer Adrian

10 April 2013 07:25:53 Dibaca :
Malaikat Tanpa Sayap 17: Jennifer Adrian
-

'' When you're standing at the crossroads And don't know which path to choose Let me come along Cause even if you're wrong I’ll stand by you I’ll stand by you Won’t let nobody hurt you I’ll stand by you Take me in into you darkest hour And I’ll never desert you I’ll stand by you''

Carrie Underwoood - I Stand By You ( Original song by The Door )

Malaikat Tanpa Sayap 17 : Jennifer Adrian 1#

“ Bodoh !!! BODOH !!!!! BODOOOOOHHHHHHHHHHHHHH “ aku menangis sejadi-jadinya.. semua terjadi begitu saja, semua keangkuhanku runtuh.. kutatap foto Ryan yang masih terpajang di meja kecil disamping tempat tidurku.. “ Ryan.. you are so stupid.. really stupid.. “ aku mencacinya,.. begitu kesal sementara air mata terus menetes di wajahku. “ Kenapa Ry ? Kenapa kamu melompat masuk dalam hidupku lagi ? kenapa ?? disaat aku berusaha melepaskan kamu ? “ , “ Aku cape Ry.. aku cape dengan semua kepengecutan kamu.. aku lelah dengan semua ini.. “ Kuambil foto itu, bukan untuk membantingnya, namun memeluknya begitu erat.. “ Aku sayang sama kamu Ry, sayang sayang sayang bangettttttttttttttt “ aku terus membisik, mengulang kata itu berkali-kali.. Aku menatap foto itu, foto dimana Ryan tengah tersenyum konyol sambil membentuk tanda V dengan tangan kanannya. Dia terlihat begitu manis di foto itu. “ Kamu tahu Ry, aku benar-benar merindukan kamu, aku tahu kamu akan datang tadi.. aku tahu.. dan kamu tahu betapa aku berharap bisa ketemu kamu, aku ga nyangka kamu akan berdiri di depan aku tadi, aku ga nyangka.. aku juga ga nyangka kamu akan ada di kost lama kamu, kamu selalu ada di depan aku hari ini.. kamu tahu betapa senangnya aku ?? aku bener-bener senang,, andai aku bisa.. aku pasti akan melompat kegirangan tadi.. tapi aku ga bisa.. maafin aku “ “ Tadi Cheryl nemuin aku, sama Rey.. mereka cerita banyak tentang kamu dan Cheryl.. kamu tahu.. aku tahu kamu ga akan pernah bisa mencintai Cheryl,, karena sejak dulu dari mata Cheryl pun terlihat betapa dia mencintai Rey.. aku cemburu memang dengan kedekatan kamu dulu.. tapi tiap aku melihat mata Cheryl aku selalu tahu.. karena mata Cheryl sama dengan aku.. hanya bisa mencintai satu orang.. “ “ Ryan.. aku tahu betapa kamu mencintai aku.. tapi kamu ga pernah sedikitpun keluar dari kepengecutan kamu itu, dan maafin aku, aku yang sekarang ga bisa lagi jadi Jenny yang dulu, ga bisa lagi jadi Jenny yang kamu sayangin.. aku ga pantas buat kamu.. maafin aku Ryan.. “ Aku menangis sejadi-jadinya.. meluapkan semua kesedihanku selama ini.. aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang..benar-benar kehilangan arah dalam jejak perjalanan ini..

##

Aku memasuki butikku mendorong pintu bergaya eropa sementara beberapa pegawaiku langsung terlihat menyibukkan diri untuk membersihkan beberapa display serta gaun dan jas yang terpajang disana. “ Ferny sudah datang ? “ tanyaku pada salah satu pelayan, Ferny adalah nama desainer di tempatku, aku tidak gila membuka sebuah usaha tanpa memiliki orang yang sudah bergelut lama di bidang ini. “ Sudah bu, tapi tadi pergi lagi katanya ada janji dengan klien untuk pameran minggu depan itu “ jawab salah satu dari mereka. “ Oh yawda, ada fax masuk ? “ tanyaku sambil mendorong pintu ruang kerjaku. “ Ada bu, sudah saya taruh di meja ibu. “ “ Ok.. oh itu ada tamu, tolong dilayanin ya.. “ kataku saat seseorang mendorong pintu masuk, sementara aku memasuki ruanganku, dan duduk di kursiku. Aku mengambil kertas fax yang berisi rincian biaya fix untuk pameran minggu depan, serta membuka beberapa lembar kertas dari dalam mapku, memberikan beberapa kode pada kertas fax itu, merinci beberapa bagian yang over budget, sebelum menghitung totalnya.. ternyata hanya berbeda beberapa juta rupiah dengan konsep baru ini, dibanding dengan konsep lama yang menurutku memang kurang greget. Aku meraih gagang telepon, teringat saat melirik sebuah map lain dan juga teringat janjiku hari ini. “ Din.. kalau ada tamu untuk saya, suru masuk aja namanya Vina.. “ kataku pada kasir di depan. “ Sudah ada bu, saya persilahkan masuk sekarang ya bu.. “ jawabnya “ Iya suru masuk aja, dan tolong telepon Ferny ya, saya mau ke venue sejam lagi, kasih tau dia untuk ketemu saya disana.. “ Aku menutup telepon itu, tak lama Vina mengetuk pintu dan aku menyuruhnya masuk dan duduk di sofa dalam ruanganku. “ Jadi.. loe temennya Peter kan ? “ tanyaku meyakinkan saat duduk di sofa di hadapan Vina Dia tersenyum kecil, “ Bukan temen sih sebenernya, sekedar memanfaatkan aja .. “ jawabnya datar, “ Oh.. gitu ya.. tapi gw ga akan segampang Peter loh untuk dimanfaatkan.. “ jawabku tenang, sambil melirik ke biodata di surat lamarannya untuk menjadi salah satu model dalam pameranku. “ Hmm...gw tetep manfaatin loe kok, gw manfaatin untuk memperkuat posisi tawar gw di depan cowo..“ “ Ok.. kalau cuma sekedar itu,.. “ . “ Sory kalau gw pake gw loe, padahal loe lebih tua dari gw.. “ “ No prob.. iya sekedar itu, dan gw dah kasih semua resume gw ke loe sesuai persyaratan yang loe minta.. “ Vina terlihat begitu percaya diri, aku melirik dan memperhatikannya dengan seksama, dengan kecantikan dan proporsi tubuhnya, ditambah dengan pengalaman dan pendidikan kepribadiannya sebenarnya, sangat kecil resiko mengunakannya dalam pameran ini, ditambah aku memang membutuhkan bentuk tubuhnya untuk satu branding pakaian import yang bisa dibilang membutuhkan jenis proporsi tubuh seperti Vina yang lebih mirip bentuk tubuh orang barat. Namun ada sesuatu dari hatiku yang sepertinya ingin menolak menggunakan dirinya, meski saat ini aku memang membutuhkan satu orang lagi untuk menggantikan salah satu model yang tiba-tiba mengundurkan diri. “ Hmm.. gw sebenernya ga punya alasan buat nolak loe, you’re beyond my expectation .. tapi loe tau Peter kan, dan gw rasa loe tau masalah gw sama Peter.. “ tanyaku memancing, kalau dia tidak tahu berarti dia berbohong sekarang. Vina tersenyum. “ Hmmm.. bohong kalau gw bilang ga tau, gw sedikit tahu terutama obsesi Peter ke loe.. tapi sebatas itu aja.. karena jujur itu bukan urusan gw, dan gw juga ga perlu tahu banyak soal hal itu kan.. “ getir suaranya menandakan dia tidak berbohong. Aku mengangguk kecil, sebelum berdiri dan menyodorkan tanganku pada Vina “ Ok, selamat bergabung, besok loe tolong datang kesini lagi.. kita tanda tangan kontrak standard sama seperti yang lain.. loe boleh bawa lawyer loe juga kalau mau.. “ Vina membalas jabatan tanganku dan tersenyum “ Loe tau, nominal di sini bukan prioritas buat gw, gw lebih berharap show loe ini berhasil dan mampu meningkatkan nilai jual gw.. “ Jawabnya terdengar sedikit sombong tapi masuk akal dengan kepribadian dan segala yang dimilikinya. Aku hanya tersenyum. “ Ok.. kalau ga ada lagi yang mau diomongin, berarti sudah selesai semua kan ? “ tanyaku Vina mengambil tasnya dan beranjak keluar dari ruanganku sesaat kemudian, aku kembali ke meja-ku mempersiapkan beberapa berkas seraya bersiap untuk pergi ke tempat pameran. “ Din.. tolong bilang pak Panjaitan untuk siapin kontrak dengan nama ini.. besok ya. Saya sudah Ok dengan model yang tadi. “ kataku pada Dina kasir sekaligus asistenku sambil memberikan secarik kertas berisi nama lengkap Vina dan nomor identitasnya. “ Baik bu… segera saya telepon.. “ “ Oh iya, habis ini saya ke venue dan langsung ke kampus jadi ga kembali ke sini sepertinya, tolong diawasin ya anak-anak.. “ Ingatku, sambil melirik ke sekeliling dan tertahan di satu sudut butik-ku. Punggung yang begitu ku kenal.. aku tertahan saat orang itu membalik melirik deretan jas yang berada disampingnya, sementara salah satu pelayan terlihat cukup sibuk menemaninya. “ Ibu, sepertinya ibu harus nemuin tamu itu.. dia meminta pendapat untuk beberapa paduan tapi sepertinya kurang puas dengan pelayanan kita, sementara orang itu tampak berkicau pada salah satu pelayanku itu. Aku menaruh tasku di meja kasir dan berjalan mendekat, atas nama profesionalisme sambil berusaha menahan emosiku yang mungkin bisa meluap kapan saja. “ Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu ? “ tanyaku berusaha sopan Orang itu berbalik menghadapku ada guratan senyum kecil di wajahnya yang tak bisa dia sembunyikan. “ Hmm.. terima kasih saya butuh satu stel pakaian untuk pertunangan teman saya 3 bulan lagi.. “ jawabnya dengan suara yang agak bergetar. Aku melirik pada pelayanku memintanya pergi, “ Boleh pak, kalau boleh saya tahu apa tema pertunangannya ? “ tanyaku masih berusaha tenang. “ Itu yang saya ga tahu, jadi saya butuh jas dengan tema yang bisa masuk ke semua acara.. “ “ Ok, bagaimana dengan yang ini ? “ tanyaku memberikan satu masukan sebuah Jas sedikit santai yang dengan sedikit ornament bisa berubah menjadi jas resmi. Aku menerangkan sementara orang itu mengangguk setuju. Aku tahu orang ini tidak memiliki selera yang terlampau tinggi tentang fashion. Jadi sebenarnya yang dia harapkan adalah bertemu dan berbicara denganku. Dia mengangguk setuju, dan kamipun beralih ke setelan kemeja dan celana panjangnya, beberapa kali dia tidak menyukai pilihanku dan sedikit berdebat dengan pilihannya yang menurutku konyol karena tidak cocok dengan warna jas yang dipilihnya, sebelum akhirnya dia mencoba pakaian yang aku sarankan, Aku membantunya merapikan pakaiannya itu, yang terpantul di cermin aku menarik nafas panjang, menahan sedikit derai emosiku yang kian memuncak.. senyumannya yang begitu lembut, guratan lelah di wajahnya. Aku membantunya menyisir rambutnya, beberapa helai rambut yang memutih, senada dengan guratan lelah yang terpancar dimatanya, aku menatap pantulan wajahnya di cermin, aku berdiri di belakangnya sementara dia duduk di belakangku, sedikit berbincang tentang dasi yang cocok untuk dipakainya. Sementara beberapa pelayan membawakan koleksi dasi untuk kucocokkan dengan dirinya, dia sedikit lebih tinggi sepertinya sekarang, aku hanya setinggi dagunya sehingga cukup mudah untuk-ku menaruh dasi itu di lehernya dan mencoba mencocokkannya, tubuhnya yang sedikit lebih kurus namun lebih lebar, sebuah dada bidang yang begitu menggoda untuk kudekap sekarang. Ya, akhirnya satu stel pakaiannya lengkap sudah, aku berdiri di sampingnya merapikan beberapa detail dan mengambil sebuah pengukur untuk membuat pakaian yang akan dibelinya lebih body fit nantinya dan mencatatnya ke notes kecil Tangannya yang mengangkat memberikan kesempatan aku mengukur tubuhnya, tangan yang merentang seolah siap memeluk-ku kapanpun dia mau, aku menarik nafas berusaha menahan agar tak menubruk tubuh itu, memeluknya di depan semua orang di butik-ku ini. Nyaris aku tak mampu melakukannya, kupercepat pengukuran itu agar semua cepat selesai. “ Sudah,.. terima kasih,. Ada lagi yang bisa saya bantu ? “ tanyaku sopan. Dia berfikir sejenak kehabisan akal untuk memperpanjang semua ini, sebelum akhirnya menggeleng. “ Baik, mungkin 3 hari lagi sudah bisa diambil pakaiannya, mungkin bapak bisa mengisi daftar tamu kami sehingga akan diprioritaskan untuk penyelesaian pakaiannya. “ aku tersenyum sedikit menunduk, sebelum mengantarnya ke kasir, kulihat dia mengeluarkan dompetnya, dompet yang sama dengan yang pernah kubelikan 3 tahun yang lalu dan aku tersadar berapa lama dia tertahan di masa lalu, sementara aku mengambil tasku, bergegas keluar. Orang itu terlihat sedikit tergesa menyelesaikan pembayarannya hendak mengejarku, untung Dina menghentikannya untuk mengisi daftar tamu lebih dahulu. Aku berjalan cepat menuju parkiran sebelum akhirnya dia berhasil mengejarku dengan menahan pintu mobil yang hendak kubuka “ Jenn… “ Dia memelukku.. juga. Aku terdiam sesaat membelakanginya menangis untuk kesekian kalinya untuk pria ini. Kuhapus air mataku yang menetes sebelum berbalik memintanya melepas pelukannya. “ Maaf pak, ada lagi yang bisa saya bantu ? “ tanyaku “ Lihat aku.. lihat aku.. “ dia menundukkan wajahnya tepat dihadapanku. Aku memalingkan wajahku tak mampu melirik wajahnya terlalu lama. “ Maafin aku Jenn.. aku menghilang gitu aja. Aku berjuang selama ini, untuk bisa kaya sekarang untuk mampu membelikan kamu apapun yang kamu mau, aku mampu sekarang.. “ “ Ryan.. “ plakk!! Aku menamparnya. “ Kamu pikir aku butuh itu !!? kamu pikir itu sesuatu yang penting buat aku !!? “ aku membentaknya benar-benar kecewa dengan alasannya itu “ Ok, kamu hebat bisa beli satu stel pakaian seharga 6 juta hari ini! “ , “ kamu sama sekali ga ragu untuk mengeluarkan uang sebesar itu, tapi apa artinya buat aku !!? semua terlambat Ry.. terlambat.. “ aku mendorong dan memukul-mukul dadanya Dia tak menghentikanku memukul dadanya, sementara derai air mata terus mengalir di wajahku. Sampai akhirnya aku lelah. “ Kamu ga perlu bohong lagi Jenn.. aku tahu kamu ga pernah bisa melupakan aku, sama seperti aku yang ga akan pernah bisa melupakan kamu, sedetik saja. Kamu ga pernah pergi dari sini, ga pernah.. “ Dia memelukku membiarkanku menaruh wajahku di dadanya.. Aku menggeleng kecil.. perdebatan batin bergejolak dalam diriku. “ Sampai kapan Ry ? aku lelah.. “ tanyaku berbisik “ Aku juga, aku lelah.. “ , “ kamu mau kan kembali ke pelukanku ? “ tanyanya yakin Aku terdiam.. berusaha menghentikan tangisanku, juga berusaha berada dalam pelukan ini sedikit lebih lama lagi.. sedikit lebih lama.. Tiap detik yang begitu kurindukan, tiap detik yang begitu penuh haru, seolah menghapus rasa sakit yang selama ini begitu menyakitiku.. sesaat untuk menghapus semua kerinduan ini, dia sendiri sepertinya sengaja menggunakan lagi aroma parfum yang aku sukai, aroma parfum yang aku pernah berikan untuknya. “ Aku ga bisa Ryan.. aku ga bisaa… “ aku bergumam berulang-ulang, mengucap kata itu sekaligus meyakinkan hatiku. “ Kenapa Jenn.. kenapa ? “ tanyanya sedikit gusar, Gurat kekecewaan terpancar di matanya. Kulepas pelukannya dan mengangkat tanganku. Memperlihatkan sebuah cincin bermata berlian di jari manis tangan kiriku.. Aku berusaha tersenyum dalam tangisanku “ Mudah-mudahan ini menjawab semuanya.. “ Aku berusaha tersenyum, berusaha tersenyum selebar mungkin, aku tak tahu kenapa sebuah senyuman bisa meninggalkan rasa sakit seperti ini. Ryan hanya terdiam menatapku, dia tak lagi mampu berkata apapun, sementara aku langsung beranjak, masuk ke dalam mobilku, menyalakan mobilku dan secepatnya meninggalkan tempat itu. Kulirik dari spion ku, Ryan yang masih terpaku diam di tempatnya berdiri, tak bergerak sedikitpun.. “ I’m sorry Ry.. “ aku menangis sejadi-jadinya..

##

“ Kamu dah pulang Jenn ?? “ tanya Mama di ruang tamu bersama papa dan dua orang tamu yang aku tahu siapa. “ Udah mah, aku langsung naik ya.. “ jawabku malas menemui dua orang itu “ Kamu sapa aja mereka ya, kan ga enak juga kalau terlalu dingin sama mereka.. “ Mama sedikit memaksaku, aku mengangguk malas untuk berdebat “ Malam om, tante.. “ aku menyodorkan tanganku menyalami kedua orang tua Peter yang selalu memaksa membahas tentang pernikahan aku dan Peter yang sangat tidak aku setujui, begitu juga Mama, hanya Papa yang belum bisa menolak secara tegas. “ Malam Jennifer, tambah cantik aja kamu.. “ puji Mama Peter berbasa-basi.. “ Makasih tante, yawda Jenny naik dulu ya, baru pulang harus bersih-bersih dulu.. “ aku memotong cepat malas berlama-lama “ Iya, silahkan, oh iya gimana persiapan pamerannya ? tante diundang kan ? “ dia masih berusaha mengajak-ku berbicara panjang lebar. “ Oh baik tante, undangannya juga besok dikirim, makanya saya harus istirahat capek banget harus bagi waktu pekerjaan dan kuliah, jadi kayanya soal Peter lupain aja ya tante saya ga minat sama sekali.. “ Aku kehilangan kesabaranku sama sekali, setelah semua yang kualami hari ini. “ Jenny.. “ Mama melirikku.. Aku hanya menganguk dan bergegas naik. “ Maaf loh.. mungkin kecapean jadi begitu “ Mama beralasan melindungiku Sementara aku berlalu dan naik ke atas menuju kamarku, aku langsung menuju kamar mandi menyalakan air hangat yang menyiram diriku, dan menangis sejadi-jadinya.

##

Entah sudah berapa lama kedua orang itu berbincang dengan kedua orangtuaku, aku hanya duduk di sebuah kursi taman di luar memandangi langit malam yang berbintang, tiupan angin panas khas malam Jakarta dengan bulan sabit yang tersenyum melengkung seolah menggambar suasana hatiku. Entah berapa lama aku diluar hingga akhirnya kedua orang itu keluar diantar oleh kedua orangtuaku, sementara papa membawa remote pintu yang membuka pintu pagar untuk keluarnya mobil, kedua orangtua Peter berpamitan, sementara keduanya berjalan turun menyusuri tangga menuju carport, aku bersembunyi dibalik pohon cemara mini, malas menemui mereka. “ Jenny makin lama makin sulit kita dapetin kayanya pah. “ Celoteh mama Peter “ Yawda biarin lah, yang penting begitu Merry teken kontrak pabrik di cikarang, sebagian besar hartanya berpindah ke kita.. “ Papa Peter tertawa dan masuk ke dalam mobilnya Aku tercekat tak percaya dengan apa yang kudengar, benar firasatku kalau kedua orang itu bukan ingin Peter menikah denganku, ada motif uang yang mereka kejar.. Peter si penipu dan penjudi itu.. aku harus melakukan sesuatu untuk membalasnya. Sesaat mereka keluar dan melambaikan tangan, Papa menutup pintu itu dengan remote dan aku pun keluar dari tempatku bersembunyi tadi, naik dan mengejar kedua orangtuaku. “ Mah.. Pah.. kalian mau buka pabrik baru di cikarang ? “ tanyaku tergesa “ Kenapa Jenny, kan Mama pernah cerita… “ Mama kaget melihatku ternyata berada di bawah. “ Aku tadi denger dari mereka, jangan Mah Pah, mereka mempersiapkan sesuatu, begitu Mama tanda tangan maka semuanya akan jadi milik mereka.. hati-hati Mah, ada yang mereka persiapkan.. “ aku mengingatkan dengan bersungguh-sungguh Kedua orangtuaku menatapku lama. “ Jenn,.. Papa juga ga setuju kamu nikah sama Peter kok.. enggak setuju tapi kamu ga bisa bicara tanpa bukti seperti itu.. “ Papa malah menjawab seperti itu “ Pah.. percaya sama aku, Papa pikir Peter bener-bener suka sama aku ? dia cuma mau uang Mama dan Papa.. “ aku tetap teguh dengan pendirianku. “ Udahlah Jenny, kamu jangan memfitnah orang seperti itu.. “ Papa berlalu membuatku sedikit kesal. Sementara aku menggelengkan kepala kesal dan kembali naik ke kamarku. “ Jenny.. Mama boleh masuk ? “ ketuk Mama sesaat kemudian “ Iya Ma, masuk aja.. aku ga kunci.. “ Aku berbaring terbalik di atas ranjangku. Mama duduk di sampingku, sambil membelai rambutku. “ Jenny.. biarin aja Papa begitu ya.. dia mungkin sekedar ga enak saja sama orangtua Peter.. “ “ Iya Mah, aku tahu, tapi aku bener ga bohong Mah.. “ aku menjelaskan lagi, semua yang kudengar sekilas tadi. “ Iya mama janji akan lebih hati-hati.. satu hal sampai kapanpun Mama ga akan setuju pernikahan kamu dan Peter.. “ mama tersenyum mencium keningku “ Kenapa Mah, mama ga setuju ? “ aku penasaran karena selama ini aku ga pernah mendengar alasan mama menolak pinangan mereka. “ Karena .. “ Mama diam sesaat.. “ Karena Ryan Jenn.. “ Mama tersenyum “ Ryan ? memang kenapa dengan dia ? apa urusannya sama dia Mah ? dia juga ga tau ada dimana sekarang.. “ aku sedikit berbohong “ Ryan ? ya karena dia pernah nemuin mama,. Dan Mama mengikari janji Mama untuk menjaga kamu, maafin Mama ya Jenn.. Mama ga sanggup menjaga kamu seperti Ryan melindungi kamu dulu.. “ Mama memeluk-ku begitu erat “ Jadi dulu Ryan pernah ngomong gitu ? Ryan pernah nemuin Mama ? “ Aku bingung, benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dulu. “ Iya, Mama yang minta Ryan menjadi orang yang lebih baik, salah Mama juga hingga dia salah mengartikan semuanya.. maafin Mama ya Jenn.. “ Mama membisik.. “ Mama tahu, Ryan sudah kembali sekarang, dia nemuin Mama minggu lalu, mungkin itu juga yang membuat kamu lebih banyak diam sekarang.. “ “ Jadi Ryan nemuin Mama lagi ? “ tanyaku bertambah bingung Mama mengangguk.. “ Ryan dah nemuin kamu ? “ tanya Mama Aku balas mengangguk “ Lalu ?? “ Aku menggeleng.. “ Aku ga bisa..Ma maaf.. “ aku bangun dari tempat tidurku, mengambil pakaian dan menuju kamar mandi “ Kamu mau kemana sayang ? “ tanya Mama cepat.. “ Mama tahu kok aku kemana.. “ jawabku setengah berteriak dari dalam kamar mandi “ Kamu ga boleh pergi sayang.. “ Mama mengetuk pintu kamar mandi “ Mah, Mama dah janji kan soal hal ini.. “ jawabku keluar dari kamar mandi, mengambil tasku dan merapikan rambut dan wajahku dengan riasan ringan. Gaun hitam dengan belahan V yang cukup rendah ditambah bagian bawahnya yang berbentuk garis melintang hingga paha sebelah kiriku lebih nyata terlihat dibanding sebelah kanan. “ Tenang aja Mah, aku pergi sama Vic koq.. “ aku setengah berbohong. Meninggalkan Mama di kamarku setelah aku menciumnya.

##

Vic keluar dari mobilnya sebelum masuk ke dalam mobilku, menyerahkan sebuah amplop padaku. “ Pergi lagi ? “ tanyanya sambil menyerahkan amplop itu. “ Gimana ? “ tanyaku tanpa membukanya dan menaruh amplop itu di belakang “ Worst.. memburuk.. “ Jawabnya sambil membuka dashboardku mencari sesuatu dari tumpukan CD. Aku mengangguk “ Memburuk.. “ aku tersenyum sentimental “ Mau kemana ? “ tanyanya sambil mengangguk “ Biasa heheeee.. jadi harus gimana sekarang ? “ dia menjawabnya dengan menaikkan bahunya. “ Udahlah Jenn.. udah saatnya berhenti.. “ Vic berucap “ Berhenti apa Vic ? ngaco dech.. “ “ Berhenti nyakitin diri loe.. sampai loe harus pakai cincin itu.. “ dia menunjuk cincinku “ Ini kan buat iseng aja.. “ jawabku sambil tersenyum “ Mainan ?? udah bukan saatnya main-main Jenn sekarang.. “ , “ Loe tau apa yang loe lakukan itu berbahaya, loe harus jaga kondisi loe Jenn.. “ Vic terdengar sedikit marah “ Hehe.. iya dech yang mau tunangan 4 bulan lagi, jadi ga mau main-main lagi sekarang.. “ aku mengalihkan pembicaraan “ Jangan bercanda sama gw sekarang Jenn.. “ “ Gw ga bercanda koq, mungkin loe yang terlalu realistis makanya jadi begini.. loe juga kan ninggalin gw dulu karena terlalu realistis, jadi sekarang loe mau tunangan karena realistis juga Vic ? “ godaku. “ Gw ga serealisitis dulu Jenn.. “ Jawabnya “ Tapi gw masih cukup perhitungan untuk ga bermain-main seperti loe.. “ “ Ini kan hal sepele Victory.. “ aku menepuk bahunya Dia menepis tepukanku itu “ Sepele Jen ? Sepele ?? jadi menurut loe AIDS itu sepele !!!!!!! “ dia membentak-ku “ Loe sakit Jenn.. “ Dia keluar dari pintu mobilku dengan gusar. Sedangkan aku hanya tersenyum, meliriknya yang masuk ke dalam mobil dan pergi menjauh meninggalkanku terpaku dari balik kemudi mobilku, tersenyum dan meneteskan airmata.

##

Kubiarkan tangan-tangan yang menyentuh tubuh mabukku, tangan yang menyepi menelusup mencari ruang menuju buah dadaku, tangan yang meremasnya cukup kasar, sementara aku masih mencium seorang lagi yang berdiri di depanku, kubiarkan mulutnya dengan nakal menciumi leherku.. Aku tersenyum, di dalam pikirku yang tengah membohong kalau Ryan yang tengah melakukan semua ini. Aku meracau.. “ Terus sayang.. “ bisikku penuh desahan Dan.. Entah suara apa, kegaduhan apa hanya ada suara benturan dan suara pecahan kaca, teriakan-teriakan dan jeritan kesakitan, sebelum kemudian seseorang menarikku keluar, memakaikan lagi gaunku dan menggendongku.. Siapa ? siapa yang melakukan ini ?? Aku bingung dengan apa yang terjadi sebelum dia memasukkanku kedalam mobil. “ Vic ?? “ tanyaku Iya sepertinya Vic, siapa lagi yang tahu aku disini.. Aku membaringkan tubuhku di bangku belakang mobilnya. “ Gw tolol ya Vic.. “ aku tertawa mabuk.. pikiranku melayang entah kemana.. Dia diam tak menjawab membawaku pergi “ Vic.. tolong Vic.. kasih tahu Ryan.. kasih tahu dia.. kalau gw masih sayang.. “ aku tertawa sendiri.. “ Kalau gw masih sayang sama dia.. tapi gw ga bisa sama dia lagi.. gw ga bisa.. “ aku melempar bantal kecil yang menopang kepalaku tadi entah kemana.. “ Maafin gw Ryann,.. maafin gw.. “ aku meracau tak jelas, Aku sadar, tapi tak mampu menghentikan kata-kataku sendiri.. “ Gw ga mau bikin loe nunggu, ga mau… “ “ Gw tahu gimana sakitnya selama ini gw nunggu loe.. “ “ Makanya gw ga bisa Ry.. ga bisaaaaa!!!! “ Aku berteriak lagi dan lagi. Entah kenapa aku menangis sekarang, sementara mobil itu berhenti dan kembali orang itu, maksudku Vic membawaku naik.. entah kemana..

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?