HIGHLIGHT

Kisah Mereka yang Hidup dengan Diabetes

20 September 2012 03:13:38 Dibaca :

Budhe Ali, saya menyebutnya. Usianya sekarang empat puluh enam tahun. Dua belas tahun yang lalu, ketika pertama kali ia divonis menderita penyakit diabetes, sama sekali tak ada rasa terkejut dalam benaknya. Ibunya baru saja meninggal dunia karena komplikasi penyakit diabetes dan darah tinggi.  Ia memang sudah merasa akan mendapatkan warisan penyakit ini dari sang ibu, karena memang salah satu penyebab diabetes adalah karena faktor genetik.

Namun, mendapatkan vonis diabetes tak membuatnya menyerah. Meskipun berat badannya menurun drastis usai divonis diabetes, ia tetap bekerja sebagaimana mestinya. Tak hanya itu, ia pun lalu mencari pengobatan alternatif untuk membantu meringankan deritanya. Senam tenaga dalam dipilihnya sebagai upaya agar tubuhnya tetap bugar. Selain itu, ia juga mengontrol makanan dan minuman yang diasupnya. Pemakaian gula dalam kesehariannya dikurangi sampai sedemikian rupa sehingga setiap hari ia hanya mengonsumsi gula dalam jumlah yang sangat sedikit. Tubuhnya yang sekarang menjadi mudah lelah, dienakkan dengan mengurangi sebagian kegiatan hariannya. Pikirannya pun selalu dibuat adem ayem, sehingga masalah-masalah yang menghampirinya tak sampai membuatnya stres berlarut-larut.

Syukurlah, kesehatannya tetap terjaga.  Sampai hari ini, ia tetap sehat-sehat saja. Semua aktivitas hariannya tetap terlaksana. Terkadang, jika aktivitasnya sedang agak banyak, sang gula darah naik sehingga tubuhnya menjadi terasa lemah. Namun, dengan gaya hidup sehat dan mematuhi anjuran dokter, sang glukosa pun bisa dikendalikan lagi.

Beda halnya dengan Pak Gi (bukan nama sebenarnya). Ia divonis menderita kencing manis sekira lima tahun yang lalu. Dulu, ketika pertama kali bertemu dengan beliau, tubuhnya tampak begitu gagah, tinggi, besar, dan tampan. Memang, beliau ini tak pernah punya masalah dengan nafsu makan. Nafsu makannya sangat bagus sehingga apa saja dilahapnya. Sungguh menyenangkan melihat selera makannya. Namun, karena selera makan inilah, beliau akhirnya terdeteksi terkena diabetes. Kadar gula dalam darahnya terlalu tinggi.

Komplikasi diabetesnya  menyerang bagian kaki. Luka sedikit saja, sudah meruak dan bernanah. Pernah, beliau dirawat di rumah sakit karena luka ini. Untunglah, luka ini bisa mengering dan beliau pun bisa beraktivitas kembali.

Namun, kejadian ini ternyata tak cukup menjadi bahan pembelajaran baginya. Beliau masih belum bisa mengontrol  asupan makanannya sehingga gula darahnya selalu tinggi. Suntikan insulin yang setiap saat diterimanya tak mampu membendung beliau untuk mengurangi makanan manis yang menjadi pemicu tingginya kadar gula dalam darah ini. Alhasil, beberapa waktu kemudian, lukanya bernanah lagi. Tubuhnya makin lama makin kurus. Tak lagi tersisa gagah dan tampan yang terkesan ketika pertama kali kami bertemu sepuluh tahun yang lalu. Di depan saya sekarang, adalah lelaki tua, kurus, keriput, kuyu, yang setiap kali terhenti dari aktivitas geraknya selalu tertidur. Sungguh memprihatinkan keadaannya. Bahkan, kakinya pun kini kembali membengkak dan meradang. Jalannya tertatih, membuat prihatin semua orang yang melihatnya.

***



Hidup dengan diabetes, bukanlah pilihan bagi kita. Namun, kita harus cerdas menyikapinya sehingga semuanya tak berakhir dengan fatal. Hidup ini pilihan. Gaya hidup juga pilihan. Efek dari gaya hidup, kita juga yang merasakannya.

Salam sehat,

Dian

Tulisan sebelumnya tentang diabetes ada  di sini

Dianingtyas Kh.

/diankhristiyanti

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Biasa saja, tak ada yang istimewa. http://khristiyanti.blogspot.com/

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?