Mohon tunggu...
Dhanang DhaVe
Dhanang DhaVe Mohon Tunggu... Dosen - www.dhave.id

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat bercengkrama dengan alam bebas www.dhave.net

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Merenungi Filosofi Kehidupan di Sanctuary of Truth - Thailand

6 Oktober 2014   18:31 Diperbarui: 17 Juni 2015   22:11 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_364240" align="aligncenter" width="576" caption="Megahnya Sanctuary of Truth, sebuah mahakarya penuh makna filosofi kehidupan (dok.pri)."][/caption]

Menerawang dongeng tentang kisah Bandung Bondowoso yang hendak mempersunting Roro Jonggrang. Sebuah syarat agar pinangan diterima maka harus membuat 1.000 candi dalam waktu semalam. Tinggal tersisa sebuah candi dan waktu dipaksa berhenti. Amarah Bandung Bondowoso menjadi kutukan pada Roro Jonggrang untuk menggenapi seribu candi. Lain kisah di Negeri Gajah Putih, Thailand. Sudah 33 tahun lebih, mahakarya ini belum selesai. Mana kala Bandung Bondowoso dalam membuat Prambanan menggunakan makhluk halus untuk mengerjakannya, namun Khun Lek menggunakan gadis-gadis bertangan halus sebagai pemahat Sanctuary of Truth. Tempat inilah yang memaksa saya untuk mendalami kisah Mahabarata dan Ramayana.

Pattaya, yang terlintas di benak saya adalah pantai dengan pasir putih, gadis-gadis seksi dan para pelancong yang berjemur di bawah terik matari. Setiba di pantai yang menjadi salah satu ikon Thailand, bayangan saya sirna dan tak seperti yang saya pikirkan. Saya sama sekali menyentuh air asin Pattaya, bahkan pasir putihnya pun tak menginjak. Saya hanya memandang dari balkon hotel di lantai 15 yang menghadap langsung ke pantai tersebut. Tak lama berselang, panggilan pun datang dan entah mau ke mana kaki ini akan diajak melangkah.

[caption id="attachment_364241" align="aligncenter" width="512" caption="Kayu gelondongan yang didatangkan dari Indonesia dan Kamboja menjadi nampak berserakan di piintu masuk Sanctuary of Truth (dok.pri)."]

1412568671853011166
1412568671853011166
[/caption]

Bus yang saya tumpang masuk dalam jalanan yang sempit usai melaju bebas di jalan yang lengang. Pepohonan berjenis tumbuhan hutan pantai menutupi sisi kanan-kiri jalan. Timbunan gelondongan dan balok-balok kayu berada di sudut hutan. Angan saya yang tak sampai terus menebak-nebak saya hendak dibawa ke mana. Nampak bakau Avicennia mucronata begitu mendominasi tempat ini dan menjadi hutan yang lebat. Biawak (Varanus salvator) lari terbirit-birit mendengar deru kendaraan.

Di sebuah parkiran di tepi pantai, mata saya baru terbuka manakala ada bangunan megah berdiri dengan gagah. Perempuan cantik bernama Sally Suen dan dia adalah Assistant International Marketing Manager, The Ancient City Co.,Ltd menyambut kami dengan bahasa Inggris dengan pengucapan yang jelas layaknya lidah Asia Tenggara. Dengan menyematkan kartu tanda pengunjung, saya langsung blusukan. Arloji saya menunjukkan pukul empat sore namun rasanya masih seperti pukul 2 siang.

[caption id="attachment_364244" align="aligncenter" width="512" caption="Berbincang dengan gadis pemahat yang terampil memainkan palu dan menata tatahnya untuk mengukir kisah-kisah kehidupan (dok.pri)."]

14125687571898160081
14125687571898160081
[/caption]

Saya masuk di sebuah bengkel kayu dan itulah yang membuat saya betah di sana. Puluhan gadis cantik bekerja di sana, bukan sebagai pelayan atau penerima tamu, tetapi sebagai pemahat kayu. Saya merasakan halusnya tangan mereka manakala berjabat tangan dengannya. Sangat sayang tangan sehalus ini memegang pahat dan palu. Pipi mereka nampak merona alamia manakala menahan hawa panas dalam bengkel kerja mereka.

[caption id="attachment_364245" align="aligncenter" width="512" caption="Patung sudah selesai pengerjaan dan siap untuk di pasang di salah satu bagian Sanctuary of Truth (dok.pri)."]

1412568833700624047
1412568833700624047
[/caption]

Mereka tak canggung untuk diajak berbincang atau diambil gambarnya, mungkin sudah terbiasa didatangi para pelancong. Yang pasti saya jatuh hati pada apa yang mereka kerjakan. Selembar papan dari jati (Tectona grandis) yang sudah berpola mereka pahat dengan penuh ketelitian. Nuansa ini biasanya hanya saya dapatkan manakala berkunjung di Jepara, namun pemahatnya adalah lelaki dengan otot kekar dan kaum hawa hanya bertugas mengampelas atau melapisi cat saja.

Sepintas saya paham apa tentang motif yang merek pahat. Spontan saya berkata, "Hanoman" dan dia pun tersenyum sambil mengangguk membenarkan tebakan saya. Sebenarnya saya juga tidak yakin itu gambar Hanoman atau Sugriwa, sebab warnanya cokelat kayu, sedangkan Hanoman berbulu putih dan Sugriwa berbulu hitam. Yang mereka kerjakan saat ini adalah membuat patung dan relief untuk bangunan Sanctuary of Truth.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun