Tekno

Mahasiswa UB Temukan Inovasi Aerator Beraerasi Ganda dengan Tenaga AnginBagi Petambak Udang

17 Juli 2017   16:53 Diperbarui: 17 Juli 2017   17:10 109 3 1
Mahasiswa UB Temukan Inovasi Aerator Beraerasi Ganda dengan Tenaga AnginBagi Petambak Udang
1499927839758-596c889c656a85103d7f0274.jpg

Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun 2014, udang merupakan komoditas eksporandalan Indonesia.Namun, industri udang di Indonesia mengalami masalah besar salah satunya yaitutingkat penerapan teknologi yang masih rendah. Hal ini mengakibatkanpenurunan keberhasilan hidup (survival rate) dan pertumbuhan (growth rate)udang serta ketidakstabilan produksi akibatkualitas air tambak yang buruk.

Selama ini, petani udang di Indonesia menggunakan aerator listrik untuk memperbaiki kualitas air tambak. Namun, mereka harus mengeluarkan biaya untukmendapatkan listrik tersebut. Selain itu, penggunaan energi listrik menjadi tidak hemat. Hal ini mendorong Yuliani Widiastutik (TEP 2014) mahasiswa bimbingan Dr.Ir. Gunomo Djoyowasito, MSbersama dengan empat rekannya yaitu Ahmad Abdul Muklis (TEP 2014), Dewi Ermawati (THP 2015), Af'idatul Lutfita Shofiatur Rizka (2015), dan Satrio Pandunusawan (TIP 2014) menginovasikan aerator tambak udang berbasis spiral pump tanpa menggunakan listrik untuk mengatasi rendahnya kualitas air tambak udang.

"Alat yang kami sebut S'PIPE ini bekerja dengan memanfaatkan tenaga angin di daerah tambak. Bahan yang digunakan mudah diperoleh serta prinsip kerjanya sederhana yaitu angin mengenai baling-baling yang terhubung dengan as vertikal sehingga as bergerak. Pada ujung bawah as dipasang bevel gearyang terhubung dengan as kincir horisontal sehingga as kincir ikut bergerak. 

Pergerakan as kincir ini mengakibatkan selang yang dililitkan pada as tersebut berputar, kemudian ujung selang yang terbuka menyendok air. Air yang masuk ke dalam selang akan memperoleh tekanan dari perputaran selang sehingga bergerak ke ujung lain yang telah dipasang nozzle. Dari nozzle inilah air tersembur ke udara.  Alat ini tidak membutuhkan listrik sehingga sangat potensial diaplikasikan di daerah terpencil," ujar Muklis selaku teknisi.

"Kontak antara air dengan udara terjadi secara ganda yaitu melalui nozzle dan perputaran kincir sehingga akan semakin banyak oksigen terlarut dalam air. Oksigen sangat dibutuhkan oleh udang untuk bertahan hidup karena rendahnya oksigen memicu akumulasigas beracun dalam air sehingga udang stress dan imunitasnya menurun. S'PIPE diharapkan mampu mengatasi kegagalan produksi udang akibat kualitas lingkungan yang rendah," ungkap Yuli ketua tim S'PIPE.

"Sebagai mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, terciptanya Shrimp's Spiral Pump Aerator ini bisa dijadikan pertanggungjawaban ilmu yang dipelajari dan pada akhirnya nanti alat ini bisa diaplikasikan para petambak udang di Indonesia" tambah Pandu.

"Pada Era SDG's ini, kita harus memaksimalkan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi lokal Indonesia. Melalui S'PIPE, diharapkan mampu memaksimalkan kuantitas ekspor udang sehingga petambak udang lebih sejahtera. Kedepannya, kami berharap pihak pemerintah maupun pelaku industri tertarik untuk bekerja sama dengan kami guna mengembangkan alat aerator dengan aerasi ganda berbasis renewable energy" tutup Dewi.

Tim akan melakukan pengujian efektifitas dari alat ini dilihat dengan mengukur debit air yang mengalir serta berapa banyak peningkatan kadar oksigen terlarut (DO) pada air sebagai efek pengaplikasian S'PIPE pada tambak udang. Harapannya, S'PIPE dapat membantu para petani udang untuk meningkatkan produktivitasnya tanpa mengeluarkan biaya lebih untuk penggunaan listrik sehingga tingkat ekspor udang Indonesia dapat meningkat pula.

Penulis: Af'idatu

1499736347085-596c87ea4fc4aa12882c90d2.jpg
1499736347085-596c87ea4fc4aa12882c90d2.jpg