Benarkah Kita Telah Menuhankan Agama?

30 Mei 2012 06:06:50 Dibaca :

Saya akan buka artikel ini dengan satu kisah seputar wafatnya Nabi Saww. Dan artikel saya ini adalah sebagai hidangan pembuka dari artikel2 lainnya yang nanti akan publish.

Jadi saya sangat berharap agar kita merenungkan isi dari artikel. Mencoba menangkap esensi yang ingin saya sampaikan, untuk kemudian kita diskusikan. Baiklah, saya mulai.

Ketika Nabi Saww wafat, banyak sahabat yang tak mempercayainya. Mereka sangat terpukul hingga seakan tak bisa menerima kenyataan. Hiruk pikuk pendapat saling bertebaran seiring dengan hilir mudiknya para sahabat ketika itu.

Kondisi ini berlanjut demikian, hingga datanglah sahabat Umar Ibn Khatab Ra. Beliau berkata: "Barang siapa yang me-Nuhan-kan Nabi, Ketahuilah bahwa Ia telah wafat. Tetapi barang siapa yang me-Nuhan-kan Allah, sesungguhnya Allah tidak akan pernah mati". Kurang lebih demikian pernyataan Umar Ra.

Pernyataan Umar ini selaras dengan pernyataan seorang sufi besar, Ibrahim Ibn Adham yang menyatakan, bahwa siapa saja yang bertuhan selain kepada Allah, sesungguhnya ia telah lepas dari tauhid".

Kita tidak cukup gila untuk menyembah kepada selain Tuhan. Tetapi, bagaimana bila kita me-Nuhan-kan agama?.

Ada kecenderungan sebagian individu yang me-Nuhan-kan agama. Mereka biasanya berpegang teguh kepada penafsirannya terhadap teks agama. Sehingga terciptalah dikotomi hitam-putih bagi mereka. Tentu saja ia dan kelompoknya yang putih, sementara kelompok lainnya ialah hitam.

Bagi saya, mereka telah me-Nuhan-kan teks (baca: agama). Andaikata mereka tidak me-Nuhan-kan teks, tentu mereka akan menghargai serta menerima perbedaan pendapat di luar pendapat mereka.

Coba cermati bagaimana perkataan Umar yang memberi indikasi bahwa Beliau tak ingin me-Nuhan-kan Nabi Saww. Sahabat Umar merujuk kepada ayat Alquran yang lainnya, yaitu bahwa Nabi ialah manusia biasa. Ia bukan Tuhan yang tak pernah wafat.

Teks agama-pun demikian. Ia bukanlah Tuhan. Sehingga jika kita bertemu satu ayat, kita langsung hantam kromo terhadap pihak yang tak sependapat dengan kita.

Bagi saya, teks kitab suci itu fleksibel, dan ia saling berkaitan, Jika kita berpegang kepada satu teks tanpa memperhatikan teks lainnya, maka inilah yang saya maksud dengan: kita telah me-Nuhan-kan agama.

Kita lupa bahwa Tuhan memang berkehendak kita beda. Dalam Alquran sendiri, Allah berfirman: " Wa Law Sya Allah La Ja'alakum Ummah Wahidah". Jika Allah berkehendak, niscaya kita akan dijadikan satu umat. Tentu makna umat ini sangat luas sekali.

Umat bisa dimaknai dengan satu agama, ras dan suku bangsa. Umat juga bisa dimaknai dengan pemikiran atau pemahaman kita terhadap agama.

Jadi jika ada kelompok yang memaksakan pendapat, atau ingin umat ini seragam dengan mereka. Ketahuilah mereka tidak me-Nuhan-kan Tuhan. Tetapi mereka me-Nuhan-kan agama.

Sebab anadai mereka me-Nuhan-kan Tuhan, niscaya mereka akan menghargai kehendak Tuhan yang ingin kita berbeda. Dengan tujuan agar kita bisa mengambil hikmah dari seluruh perbedaan yang ada sehingga kita bisa me-Nuhan-kan Tuhan dengan arti yang hakiki dan bukan semu.

Selamat menikmati hidangan.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?