Menelisik Makam Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah

16 Mei 2014 06:43:53 Diperbarui: 23 Juni 2015 22:29:15 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Menelisik Makam Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah
Kampung Adat Pasunga, Anakalang, Sumba Tengah

Kampung Adat Pasunga, Anakalang, Sumba Tengah
Empat kali sudah kaki ini menjejak Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur, namun masih banyak misteri, keindahan, serta keeksotisan Pulau Sumba yang belum terkuak dan terekplorasi dengan baik. Masih banyak destinasi yang belum terkunjungi dan masih banyak pula budaya yang belum tersingkap. Di setiap kunjungan, kekaguman senantiasa membuncah lalu mengerucut pada kesan eksotis yang tersemat. Selain memiliki alam elok nan murni dan belum banyak terjamah tangan-tangan kotor, pemandangan padang rumput nan luas, pantai yang indah, hamparan lahan yang berbukit dan bergelombang, keistimewaan Pulau Sumba terletak pada kekayaan budaya yang tinggi. Sumba masih menyimpan gaya hidup dan adat istiadat yang tetap terpelihara hingga kini. Walau sudah mulai sedikit mengalami penyesuaian jaman, jejak asli kebudayaan yang masih murni tetap tampak dengan jelas. Salah satunya terekam dengan baik di Kampung Adat Pasunga, Kota Waibakul, Kabupaten Sumba Tengah. Untuk menjangkau Kota Waibakul sebagai Ibukota Kabupaten Sumba Tengah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui Bandara Tambolaka di Kabupaten Sumba Barat Daya, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 2 jam. Atau melalui Bandara Umbu Mehang Kunda di Kabupaten Sumba Timur, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 3 jam. Saat ini, armada Garuda Indonesia pun sudah memiliki penerbangan Jakarta – Bali – Tambolaka, atau dapat pula menggunakan pesawat Nam Air dan Lion Air dari Bali atau Kupang. Masyarakat di Pulau Sumba memiliki satu kepercayaan yang sampai saat ini masih banyak dianut, yaitu Marapu. Marapu merupakan inti dari kebudayaan masyarakat Sumba dan sumber nilai yang memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Orang Sumba memegang teguh kepercayaan bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta dan tidak terpisahkan. Marapu dianggap sebagai media atau perantara yang dapat menjadi penghubung antara manusia dengan Sang Pencipta. Masyarakat Sumba memiliki keyakinan bahwa manusia harus memelihara hubungan yang baik dengan sesama manusia, hubungan antara manusia dengan alam, juga hubungan antara manusia dengan arwah-arwah yang telah meninggal. Manusia yang masih hidup harus memiliki hubungan dengan arwah leluhurnya bila tidak ingin mengalami penghukuman.
Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah
Kuburan Batu Megalitik di Kampung Adat Pasunga, Sumba Tengah
Kepercayaan untuk memelihara hubungan dengan arwah leluhur ini pula yang seakan memberi nafas pada permukiman mereka, seperti halnya di Kampung Adat Pasunga. Kampung Adat Pasunga seperti kampung adat lainnya di Pulau Sumba berbentuk cluster dengan lokasi pemakaman yang berada di bagian depan dan tengah permukiman. Memasuki kawasan Kampung Adat Pasunga, Desa Anakalang, kabupaten Sumba Tengah, kita seakan disambut oleh beberapa makam/kuburan yang diletakkan pada bagian depan dan tengah perkampungan. Makam leluhur seakan menjadi fokus dan pusat dari kawasan permukiman. Perhatian pertama pasti akan tertuju pada kuburan megalitik di bagian depan Kampung.
Deretan rumah mengelilingi kuburan batu megalitik
Rumah utama di depan lahan terbuka tempat pertemuan atau upacara keagamaan
Deretan tulang hewan babi di depan rumah warga sebagai bukti dan status mereka
Kampung Adat Pasunga masih dihuni hingga sekarang. Pada bagian depan kita akan menemukan batu kuburan megalitik terbesar di Pulau Sumba. Batu kuburan megalitik tersebut masih tetap utuh terjaga. Terdapat sekitar 30 rumah yang ada di sana. Rumahnya memiliki bentuk khas Sumba dengan atap yang menjulang tinggi. Dinding terbuat dari kayu dengan atap dari seng. Bentuk rumahnya nyaris serupa dan seragam. Pada bagian tengah kampung terdapat lahan yang dikelilingi oleh kuburan tempat para warga berkumpul atau mengadakan upacara keagamaan. Suasana Kampung Adat Pasunga siang itu cukup sepi. Hanya terdapat beberapa anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya. Para penghuninya kebanyakan tengah pergi bekerja atau sekedar mengurus ternaknya. Untuk menghidari kesulitan dengan penerimaan penduduk kampung adat yang mungkin saja tersinggung dengan kedatangan kita atau wisatawan, pengantar kami yang kebetulan merupakan penduduk Sumba Tengah menyarankan agar memberikan sumbangan uang dan mencatat nama pada buku tamu. Semua dilakukan agar dapat dengan leluasa memasuki perkampungan mereka atau sekedar mengambil foto.
Parabola di depan rumah Kampung Adat Pasunga
Ada hal yang menarik. Walau mereka masih tetap menjaga teguh tradisi dan budaya yang mereka miliki, sentuhan modernisasi sudah mulai nampak. Terlihat beberapa rumah telah memasang parabola. Semua semata agar warga di sana dapat menikmati siaran televisi.
Kuburan warga Kristen dengan sentuhan budaya Sumba
Kuburan warga penganut Kristen dengan bentuk khas Sumba
Pada bagian belakang kampung adat, terdapat pula kuburan dengan bentuk yang sama namun terbuat dari bahan yang lebih modern. Terlihat bahwa yang terkubur di sana bukan penganut Marapu, namun telah menjadi penganut Kristen. Itulah Sumba. Pulau yang sarat dengan budaya dan mulai sedikit demi sedikit berdamai dengan perubahan jaman. Tradisi leluhur yang telah diwariskan selama berabad-abad lamanya sudah mulai dipengaruhi oleh gaya hidup dan budaya yang berasal dari luar kehidupan mereka. Generasi muda Sumba mungkin ada yang telah memiliki cara pandang baru dan berbeda dengan tradisi serta ajaran leluhur mereka. Namun, tetap menyimpan hormat dan menyimpan erat nilai-nilai kepercayaan Marapu dalam kehidupannya. Semoga budaya mereka tetap terjaga di tengah gempuran budaya luar.  Salam. (Del)

Deliana Setia

/delianasetia

TERVERIFIKASI

I'm just an ordinary person, living this beautiful life that God gave me www.kitadankota.wordpress.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana