mohammad mustain
mohammad mustain wartawan

Memotret dan menulis itu panggilan hati. Kalau tak ada panggilan, ya melihat dan membaca saja.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Lucunya Anies Baswedan, Sebuah Kesalahan Berpikir

21 Maret 2017   00:52 Diperbarui: 21 Maret 2017   01:09 2431 24 53
Lucunya Anies Baswedan, Sebuah Kesalahan Berpikir
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES

Rupanya Anies Baswedan sedang senang-senangnya menggunakan kata 'lucu' dalam momen pillkada DKI Jakarta putaran kedua ini. Tetapi, sayangnya penggunaan kata lucu itu justru malah mempertontonkan kesalahan berpikir yang serius dari cagub nomor 3 ini. Dulu saat dilaporkan ke KPK, dia menyebut hal itu hanya lucu-lucuan dalam pilkada; kini dia juga menyebut lucu perolehan suara pesaingnya, paslon Ahok-Djarot.

Mulanya saya mencoba memahami kata lucu yang diungkapkan Anies dalam pengertian baku seperti yang dijelaskan dalam kbbi.web.id, yang bermakna menggelikan hati; menimbulkan tertawa; dan jenaka. Tetapi ketiga makna itu ternyata tidak mewakili makna kata lucu seperti yang diungkapkan Anies.

Supaya jelas saya kutipkan pernyataan Anies yang menggunakan kata lucu ini, mengenai data 480 TPS di mana Ahok mendapat suara di atas 90 persen. "Ada jumlahnya di atas 480 yang kemenangannya di atas 90 persen. Ini yang kemarin saya bilang ada yang lucu-lucu. Paling tidak hari ini saya belum mengatakan apa-apa, kecuali lucu saja. Ini tidak biasa." (kompas.com, 20/3/2017)

Jelas kan, tidak ada yang cocok makna kata lucu di Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan ucapan Anies itu. Kalau makna "menggelikan hati" yang dipakai, apakah Anies merasa geli dengan hasil penghitungan KPU yang disaksikan banyak pihak, pemungutan suara juga dikawal banyak pihak, termasuk saksi dari paslon nomor 3? Itu sama saja Anies menuduh saksinya di 480 TPS itu "pada ngorok semua" saat pemungutan suara.

Kalau makna "menimbulkan tertawa" yang dimaksudkan, apa yang membuat Anies tertawa? Apakah penghitungan suara di KPU, pencoblosan di TPS itu semua dagelan sebuah grup lawak. Ah, kasihan sekali kalau semua yang terlibat dalam perhitungan dan pencoblosan di 480 TPS itu dianggap grup lawak. Apanya yang lucu, ya?

Terakhir, kalau makna "jenaka" yang dipakai, apa ada kisah jenaka dibalik penghitungan dan pencoblosan di 480 TPS itu? Kalau ada biasanya kan dengan cepat menyebar sebagai kisah serba-serbi pilkada. Tapi, kok tidak pernah ada kisah jenaka semacam itu.

Jadi jelas ketiga makna kata 'lucu' dalam KBBI itu tidak mewakili pengertian kata 'lucu' yang digunakan Anies Baswedan. Jika yang dimaksud pernyataannya itu ada "hal yang tidak biasa" maka Anies tidak tepat menggunakan kata 'lucu' itu, atau telah terjadi kesalahan berpikir yang cukup serius karena menempatkan kata 'lucu' semakna dengan 'hal yang tidak biasa'.

Bisa saja dipaksakan seperti itu. Tetapi konsekuensinya kita akan memandang hal yang tidak biasa sebagai hal lucu. Jadi, kata lucu tidak lagi mewakili suatu perasaan humor di dalam diri manusua. Ia telah dimatikan rasanya dengan dipaksa untuk menggambarkan suatu hal yang tak biasa atau yang biasa diwakili kata 'anomali'. Kalau masih juga dipaksakan sebagai bentuk rasa humor, rasanya rasa humor Anies ini berasa aneh dan "garing" seperti padang pasir.

Tetapi, tidak putus asa, saya mencoba memahami kata lucu itu dari perspektif lain. Mungkin kata 'lucu' yang dimaksudkan Anies ini sebagai akronim atau singkatan dari frase kata. Misalnya, kata "lugu" bisa berasal dari singkatan frase kata "lucu dan gundek". Ungkapan ini biasanya untuk menggambarkan fisik seseorang yang pendek tapi bulat baik cewek atau cowok, di kalangan ABG.

Yang juga lagi ngetren di medsos, kata "kafir" itu ternyata juga tidak bermakna kafir sebagaimana definisi dalam pemahaman agama. Kata kafir ternyata juga telah dipahami sebagai singkatan dari frase kata "kangen fir'aun", "kangen firdaus", atau yang paling ngepop "kangen firza". Jadi suka-suka saja.

Mengacu pada akronim itu, saya mencoba memahami singkatan frase kata apa yang diinginkan Anies dari kata "lucu" ini. Misalnya lucu bisa berasal dari frase kata "lu culun", "lu curigaan", "lu curang", tapi yang jelas bukan "lucunya aniesku" karena gak nyambung.

Ternyata akronim seperti itu kurang pas juga, kecuali singkatan dari frase kata "lu curang" yang mungkin agak cocok dengan paparan Anies.

Namun, jika lucu itu merupakan akronim dari frase kata "lu curang", berarti Anies telah menuduh ada kecurangan di 480 TPS itu tanpa bukti apa pun kecuali hanya karena Ahok bisa memperoleh suara 90 persen. Lagi-lagi jika ini yang jadi pengertian lata 'lucu' itu, jelas sebuah kesalahan berpikir serius. Perolehan suara 90 persen itu tidak identik dengan kecurangan, terlebih jika pemungutan suaranya diawasi secara ketat.

Yang jelas aneh dan identik dengan kecurangan itu kalau suara Anies atau Ahok atau Agus di TPS bisa mencapai 130 persen, 300 persen, terlebih lagi kalau 1300 persen. Kalau itu yang terjadi, namanya konyol. Bukan lucu lagi.

Salam-salaman

Bacaan pendukung:

megapolitan.kompas.com