Jiwa Besar

14 Februari 2014 18:10:33 Dibaca :

Setelah lama berendam dalam kubangan lumpur, seekor celeng akhirnya memutuskan untuk mentas dan menantang singa sang raja hutan. Dengan tubuh masih berlumuran lumpur, dia pun mendatangi singa dan berteriak menantangnya untuk berkelahi dan siapa yang menang maka dia-lah yang berhak menjadi raja rimba.

Sang raja hutan bangkit menegakkan badannya, memandang sekilas pada si penantangnya yang bau itu, lalu tanpa berkata sepatah pun dia mengibaskan ekor dan membalikkan punggungnya, pergi menjauh dari si penantang tanpa merasa perlu mempedulikannya barang sedikit pun.

Di masa Cina kuno ada seorang pendekar yang terkenal akan keperkasaannya. Suatu kali, sang pendekar hebat pergi ke sebuah pasar dan di sana, tanpa diduga, bersua dengan seorang begundal pasar. Si begundal menantang sang pendekar untuk bertarung sampai mati. Sang pendekar menapik halus tantangan itu, tetapi si begundal salah mengerti. Dia mengira sang pendekar takut terhadapnya, karena itu dia pun melunjak dengan mengatakan bahwa, jika sang pendekar tetap tak mau meladeninya. maka sang pendekar harus bersedia berjalan merangkak seperti anjing melewati selangkangan si begundal. Menyuruh seseorang merangkak seperti anjing adalah sebuah penghinaan yang luar biasa, jadi semua orang di pasar tertegun dan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tanpa diduga, sang pendekar lebih bersedia berjalan merangkak seperti anjing untuk melewati selangkangan si begundal ketimbang meladeni tantangannya untuk bertarung sampai mati. Si begundal tertawa terbahak-bahak menyaksikan seorang pendekar hebat merangkak-rangkak seperti anjing. Dia puas dan merasa menang.
Sang pendekar tak tertarik meladeni pertarungan tanpa makna seperti itu, dan dia tahu bahwa seandainya dia mau dia bisa mengalahkan si begundal dalam satu jurus. Karena kewelasannya atas nyawa si begundal yang bisa tercabut dalam pertarungan itu, sang pendekar lebih menerima hinaan si begundal ketimbang meladeninya dalam perkelahian konyol.

Jiwa besar jiwa yang mampu menerima segala hinaan, caci-maki, atau tekanan demi tujuan yang lebih besar dan mulia atas dasar kewelasan dan kebijaksanaan. Jiwa besar tak merasa perlu meladeni jiwa dengki, serakah, sombong, dan gelap batin. Mereka-lah yang hidupnya senantiasa dipandu kewelasan bagi semua makhluk dan kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus bertindak dan sebaliknya.

140214

Chuang Bali

/chuangbali

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Anggota klub JoJoBa (Jomblo-Jomblo Bahagia :D ) Penerjemah buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya" (Ajahn Brahm, Awareness Publication), "LIngkaran Keindahan (Master Cheng Yen, Tzu Chi Indonesia), "Superpower Mindfulness (Ajahn Brahm, Ehipassiko Foundation) Penulis buku: Senyum, dong! Dunia Belum KIamat Lho, Berbuat Baik Itu Mudah, Bajik+Bijak=Bahagia, Mati Itu Pasti (Ehipassiko Foundation, Seri Dharma Putra Indonesia) dan Novel Trio RaTaNa: Bidadari (Penerbit Karaniya)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?