Indahnya Forum Dialog Beragama di Kompasiana

06 Agustus 2012 17:04:38 Dibaca :

Saya seorang muslim, dan saya cukup senang bila ada dari agama lain mau mengajak dialog antar ummat beragama. Walaupun kita tahu, di Kompasiana ini tidak ada kolom agama. Dialog antar ummat beragama tentu saja positif bila bertujuan untuk bisa saling memahami pandangan masing-masing pemeluk agama, sehingga tercipta suasana yang semakin kondusif dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu jua. Dialog menjadi bencana bila model komunikasi yang dilakukan bertujuan menyamakan pandangan. Sesuatu yang berbeda, biarlah berbeda dan kita tidak perlu memperdebatkan perbedaan tersebut. Perbedaan menjadi bencana bila kemudian ada pihak-pihak yang ingin menyamakan perbedaan.

Pengalaman saya berdialog dengan seorang ibu dari Katolik yang bertanya tentang Islam, membuat saya tergugah betapa ada banyak non-muslim yang tidak mengetahui ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka memiliki pandangan yang tidak tepat menurut saya. Hal tersebut didasarkan atas ketidaktahuan saja, dan bukan karena ingin mencari kelemahan dan memojokkan Islam. Saya ambil contoh pertanyaan si Ibu yang membuat saya tersenyum adalah, "Mengapa orang Islam sembahyang justru menyembah dan menghadap Ka'bah?", "Apakah Islam itu mencontoh agama katolik?" dan ada pertanyaan dangkal lainnya yang membuat saya sangat yakin bahwa saya perlu memberikan informasi tentang akidah Islam dari tingkat yang paling dasar hingga esensial. Bisa saja di Kompasiana ini, ada banyak non-muslim yang sebenarnya ingin mengetahui apa dan bagaimana ajaran Islam, diluar informasi yang diberikan oleh pendeta, father, romo, atau pemimpin agama mereka. Sehingga mereka bisa mendapatkan informasi positif.

Di Kompasiana sendiri, justru lebih banyak non-muslim yang menulis tentang Islam. Atau setidaknya kompasianer ini cukup sering memberikan kritik baik secara halus maupun yang vulgar. Sedangkan hingga saat ini, saya jarang menemukan artikel tentang agama lain yang ditulis oleh seorang muslim. Jika ada artikel yang menguliti agama lain di Kompasiana ini tanpa sepengetahuan saya, pasti saya khilaf dan tertidur saat itu.

Hebatnya lagi ada beberapa romo, pastur dan penginjil yang sering menulis tentang Islam atau konflik seputar orang Islam. Sebut saja Romo Setiawan Triatmojo dari Keuskupan Palembang, Romo Antonius Afrianto Budi Purnomo dari Keuskupan Purwokerto, dan Pdt Jappy M Pellokila -- dosen pada sekolah tinggi theologi. Kehadiran mereka di Kompasiana ini saya harapkan bisa memberikan pencerahan dengan memberikan pandangan iman katolik/kristen mereka terhadap kasus yang menimpa bangsa ini tanpa memojokkan agama lain. Namun pertanyaannya, apakah etis bila seorang pemeluk sebuah agama mengkritisi iman agama lain? Apakah etis bila misal seorang romo mengkritisi MUI dan sebaliknya seorang ustad mengkritisi sistem kepausan. Terus terang, saya tidak suka mencampuri agama lain. "lakum dinukum waliyadin" yang disampaikan dalam Al-Quran sudah cukup bagi saya untuk tidak perlu menyibukkan diri untuk membahas agama lain, dan lebih senang berlelah-lelah untuk mempelajari dan memperdalam Islam.

Pesan saya untuk para pemuka agama yang ada di Kompasiana ini. Mari kira bangun dialog yang sehat, beretika  dan saling menghargai.   Silahkan berdakwah untuk memperkenalkan konsep iman kalian yang kalian anggap baik, namun tidak perlu pula mencari kelemahan dan keburukan agama lain menurut versi kalian. Biarkan perbedaan warna pelangi menjadikan kehidupan ini menjadi lebih indah.

Untuk saudara-saudaraku sesama muslim, Allah melarang kita untuk merendahkan dan menghina agama lain sesuai firman Allah:

Dan janganlah kamu menghina sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan menghina Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan …” (QS. Al-An'am [06]:108)

Sibukkan diri dengan mengamalkan Islam secara benar dan dengan ilmu. Perbesar manfaat agar kita menjadi orang yang mulia dan utama sesuai sabda Rasulullah Muhammad SAW, ” Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).

Mau?

____________

Artikel ini ditulis untuk menanggapi: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/08/06/percuma-mengkritik-kehidupan-beragama-di-indonesia/

Choiron

/choiron

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Guru Ngaji. Tinggal di desa.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPASIANAA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?