Kalung Bintang

12 Mei 2013 17:22:13 Dibaca :

Ketika kau tertawa kulihat dengan pasti Oh dirimu menarik hatiku Dan biarkan aku menatapmu Dengan perasaanku yang menggebu tiada henti.. *** Pertunjukan pensi itu riuh oleh teriakan-teriakan penonton. Diantara kerumunan orang-orang yang menyemut itu, aku terhipnotis oleh penampilannya. Terpesona akan kemahiran jemarinya yang menari diantara senar-senar gitar. “Hoi, kantin yuk bang” sapa Via sahabatku, mengacau kosentrasiku sambil menarik tanganku “Apaan sih loe, gangguin gue aja, duluan deh sana, nanti gue nyusul” balasku tetap fokus menikmati kepiawaian Rendi memetik gitarnya. “tahu deh, tahu, lagi ngelihat penampilan pujaan hatinya ya?. Oke deh, gue duluan ya? ” Via pergi meninggalkanku. Udara siang yang terasa makin menyengat tak menyurutkan niatku untuk menyaksikan pertunjukan band sekolah kami sampai selesai. Begitu tabuhan dram terakhir usai, baru aku beranjak menyusul Via di kantin sekolah. "Hallo bang,, " teriak anak-anak cowok dari sekolahku yang ngumpul bergerombol diantara kerumunan penonton, aku hanya melambaikan tangan kepada mereka sambil terus berlalu. Kadang risih juga aku dipanggil abang oleh mereka, masa cewek dipanggil abang?, tapi semua itu akibat dari penampilanku yang tomboy seperti cowok maka gelar itu melekat sampai sekarang, padahal aku asli seratus persen cewek."Ah sudahlah" pikirku "Gimana? Udah bubaran?" Tanya Via saat aku tiba dikantin. Pertanyaan itu aku jawab dengan anggukan, sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah sedang mengikuti irama musik. Aku sengaja ngeledekin Via. "Hey,, loe dengar gak pertanyaan gue!" Sergah via sewot. "Asiiiiiiik..." Teriakku sambil terus bergoyang dan tidak memperdulikan "Pantasan loe mendapat julukan abang" sungut Via lagi. "buk,, mie rebus satu " ucapku pada ibuk pemilik kantin sambil terus menggoda Via dengan menari patah-patah ala breakdance. "Loe kesambet dimana sih?" Tanya Via makin kesal "Eeee,,, Via, rugi banget loe gak lihat terakhir, seru habis" "Alah.. Pasti loe cuma lihat si Rendi doang, bukan nikmati musiknya" tebak Via sangat benar. Dengan lenggang lenggok versi emak-emak, Ibu kantin datang membawakan mie rebus kesukaanku "Terima kasih Ibuk," Aku mulai menyantapnya. Suasana kantin mulai ramai didatangi anak-anak yang baru siap menyaksikan pertunjukan festival band antar sekolah. Kebetulan sekolah kami yang menjadi tuan rumah acara kali ini. "Abang,, Makan nya ngajak-ngajak donk" "Eeee,, iya ni,, ayo makan semua" sambutku pada anak-anak cowok yang baru masuk kantin “Serius kali si abang!!” sapa seseorang sambil menepuk pundakku dari belakang "Fuuuhhh" aku kaget, mie yang sedang aku makan muncrat keluar dari tenggorokanku. Aku tersedak. “maaf ya bang” ucap cowok itu sambil mengulurkan segelas air putih. Aku menoleh kearah suara itu. Seketika aku tersentak menyadari cowok yang menepuk pundakku adalah Rendi sang gitaris idolaku. Tapi aku cepat menguasai diri. “ya ampun Rendi rupanya, loe mau bunuh gue ya Ren?” ucapku pura-pura jutek, padahal jantungku berdetak kencang karena kehadirannya “Maaf gue gak sengaja Mikha, idih serem banget muka loe saat kaget begitu” goda Rendi sambil nyengir “Seram mana gue ama si Via?" Ledekku sambil melirik Via. "Seram loe lagi" balas Via "Sebagai permintaan maaf, loe harus teraktir gue ya” ucapku berusaha menutupi rasa gugupku “siap bang!, ayo tambah lagi??” Katanya dengan gaya memberi hormat kepadaku, aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya “oh ya bang gimana tadi penampilanku?” “biasa aja tu” ucapku berbohong “yeee abang niii, bagus la ya?" Harapnya “iya deh bagus pake banget deh” “Sipppp... makasih banget bang ” Melihat dirinya tersenyum hatiku makin dag dig dug der. Pesona Senyuman yang biasanya dia tebarkan di atas panggung itu, kini merasuk dihatiku dan bertebaran di sekeliling kantin, hari itu senyumannya terasa semakin menawan. Semoga senyuman itu akan menjadi milikku. Ucap batinku penuh harap. *** Sejak pertemuan dikantin itu aku semakin dekat sama Rendi. Hari-hariku selalu menyenangkan ketika bersamanya. Via, Rini, Dicky dan Robby selalu menjodoh kan kami, teman-teman ngeband nya pun seperti setuju. Tapi aku pura-pura acuh tak acuh. “halo bang,” suara yang sudah tak asing itu terdengar lagi. "Halo juga Ren" “loe hari ini ada kegiatan apa?" “gak ada tuh, emangnya kenapa?”Tanyaku sambil berharap sesuatu. “gue pengen ngajak loe tanding main PS” ucapnya, “woiii.... Asik juga tuh, ayo main dimana?” Tanyaku. Penasaran "Dirumahku " "Oke,, oke siapa takut" Rendi memacu motornya dengan kecepatan sedang, tidak pelan juga tidak terlalu kencang. Memasuki komplek perumahannya mata seakan terasa sejuk oleh pemandangan pepohonan asri yang tumbuh rindang. Rumah Rendi persis berasa dipojok hook. Motornya diparkir persih didepan pintu masuk rumah. "Assalamualaikum” uca­p rendi sambil memasuki rumahnya “”waalaikum salam” sambut kedua orang tuanya "Ayo masuk bang" Aku mengikuti aba-aba Rendi masuk dan menyalami kedua orang tua Rendi “siapa gadis cantik ini Ren? tumben kamu bawa cewek ke rumah?. Pasti pacar kamu ya?” Goda ayah Rendi “Namanya Mikha, teman Rendi Pa, kami mau tandingan mai game" jelas Rendi “Baiklah kalau begitu" Tanpa membuang waktu Rendi langsung mengambil disk sepak bola dan menyetelnya di ruang keluarga yang hanya disekat oleh lemari panjang sebagai pemisah dengan ruang tamu. “bang,, kita taruhan coret pipi pake spidol ya” katanya bersemangat "Gak mau ah, pasti aku yang kalah" Lagi seru-serunya aku menendang bola, tiba-tiba aku dikagetkan oleh ibu Rendi yang ternyata memperhatikan kami bermain. "Wah,, pintar juga anak gadis main sepak bola ya?" Sapa ibu Rendi "Eee ibu, ini kalah terus bu sama Rendi, sudah kalah 7-1" jawabku. "Baiklah lanjut aja ya nak, ibu mau kedapur" Melihat ibu Rendi mau kedapur naluri perempuan ku terpanggil untuk membantu dia memasak, apalagi aku sudah bosan main PS karena kalah terus sama Rendi. “Udah nak Mikha biar aja ibu sendiri, kamu temani Rendi main game aja” “Biarlah bu, daripada saya di ketawain sama rendi, mending saya bantu ibu, boleh ya bu” pintaku “ya sudah kalau gitu, “abang, oiii abang” teriak rendi memanggilku “Rendi ,,kok kamu manggil Mikha abang sih” tanya ibu nya heran “Mikha itu tomboi bu, coba lihat kan potongan cowok dia, makanya dia di panggil abang” ejek Rendi padaku “ahh,, mana ada seperti cowok, gadis manis seperti ini kok dibilang mirip cowok, ngaco kamu.” bela ibunya, membuat hatiku berbunga-bunga atas pujian itu. “bu, Rendi mau bantuin bikin kue juga ya” “ya udah, kamu adon tepung dan telor ini sampai pulen." Perintah ibunya Bukannya bantuin dengan serius, Rendi malah usilin aku dengan mencolek pipiku dengan tepung, tak mau kalah aku pun membalas perbuatannya. Ketika ibunya tahu, Rendi dipecat dari pekerjaan dadakannya itu. Aku tertawa geli melihatnya *** “ehem,,, senyum-senyum sendiri ni, senang kok gak bagi-bagi, kasi tahu dong penyebabnya” Via menggodaku “loe mau tahunya pake aja atau pake banget?" “pake bangetttttt deh” jawabnya penasaran “gue lagi senang aja, sekarang gue makin dekat sama Rendi” "Oo itu penyebabnya? Kalau gitu, Selamat deh ya?" "Terima kasih Vi. Oh iya Vi, loe mau dengar gak? Gue ada buat lirik lagu" "Mana? Sini gue dengar" Aku raih tas sekolahku, aku ambil buku diari dari dalamnya, aku eja bait-bait lagu itu, sengaja aku buat khusus untuk Rendi dan aku berharap nanti Rendi bisa memasukkan nada-nadanya : 'hatiku berkata, ingin ucapkan cinta, namun aku malu untuk memulainya. Jantungku berdebar saat kau tatap mataku, aku jadi salah tingkah bicara dengan mu, bibirku bungkam melihat tatapmu, aku tak berdaya saat di depanmu, sebenarnya aku ingin ungkapkan rasa, tapi aku tak bisa, bagaimana caranya, agar kamu tau aku suka... suka... suka padamu' “hebat, bagus banget bang liriknya” ucap Via “lebih bagus lagi kalau Rendi yang mainin gitarnya ya" "Gampang biar gue panggil si Rendi ya" Akhirnya kami menyanyikan lagu itu sambil Rendi memasukkan nada-nada yang ternyata pas banget dikupingku, "dasar jagoan main gitar" bisa aja Rendi mengolah nada-nadanya diantara bait-bait syair itu menjadi sebuat lagu yang indah. *** To Rendi 0809071238** "Ren, gue sangat tersentuh dengan irama musik yang loe mainkan pada bait-bait yang gue tuliskan semalam. Sebenarnya sair itu adalah mewakili perasaan hatiku kepadamu, gimana kalau kita kita rekam lagu itu buat kenang-kenangan untuk kita, lo e setuju gak?" Aku kirim sms itu pada Rendi, aku pegang HP ku untuk menunggu jawaban sambil berharap-harap cemas akan balasan darinya, tapi satu menit, dua menit. Satu jam pun berlalu, tak ada tanda-tanda sms masuk di HP ku. Belum ada kabar, aku langsung merebahkan tubuhku ditempat tidur doraemonku. Saat bangun pagi, yang teringat adalah sms semalam. Aku ambil hp, aku lihat masih belum ada pesan masuk. Aku mulai gelisah, dilanda rasa malu, jangan-jangan di meremehkan perasaan hatiku. Tapi sudah lah, aku buang jauh-jauh perasaan itu, aku pun bergegas mandi, selanjutnya buru-buru menuju sekolah. Disekolah aku juga tidak menemukan Rendi. Aku semakin cemas, kemana ya dia? Pikirku dalam hati “Bang!” sapa Via menghampiriku “kok pagi-pagi udah murung sih? Ada apa? Loe sakit?” tanya Via seraya menempelkan tangannya di jidatku “gue udah nyatain perasaan gue ke Rendi?" Ucapku tak bersemangat “loe di tolak dia?” “kayaknya sih gitu, dia gak balas sms gue” “sabar ya, yang penting loe udah berusaha ngungkapinnya” Via menyemangatiku “ Ucapan Via membuat aku mengangguk lesu “udah jangan sedih lagi masa cewe tomboy super, perpaduan antara cowok dan cewe bisa cengeng kayak gini sih” canda Via sambil menghibur. “emang ada larangan, cewek tomboy gak boleh sedih?” tanyaku manyun “gak ada sih, tapi gak cocok sama loe” katanya nyengir “rese lo, tapi vi, loe tau gak kenapa Rendi gak masuk? “gak tau tuh, emangnya gue emaknya apa?” Canda Via dengan gaya yang membuatku tersenyum, aku senang banget bisa punya sahabat sebaik Via *** Dua minggu sudah dia tidak ada kabar beritanya. Dalam kegalauan hati, tiba-tiba HP ku berbunyi menandakan ada SMS masuk, dengan sedikit cemas aku lirik layarnya, benar saja ada sms. Aku buka, ternyata sms dari Rendi, isinya sangat singkat ; "Gue tunggu loe di taman biasa" Tanpa membuang waktu aku pergi menemui Rendi di Taman tempat kami biasa nongkrong. Dengan perasaan penuh kecemasan aku beranikan diri menyapanya."Selamat siang Ren" "Siang juga Mikha" "Kemana aja selama 2 minggu gak keliatan Ren!?" Tanyaku membuka percakapan Rendi tak langsung menjawab, dia berdiri sambil memberi aba-aba mengajak aku berjalan menyusuri rimbunnya pohon-pohon akasia ditaman itu. “Mikha maafin gue ya, gue gak jawab SMS loe kemaren” ucapnya sambil menggenggam tanganku “sebenarnya gue juga cinta sama elo, tapi....tapi,,,.” Rendi seakan tak mampu melanjutkan kalimatnya “tapi kenapa Ren?" Kejarku sambil menatap matanya yang seakan meredup “Mikha, selama dua minggu ini gue sakit" Aku tersentak, "sakit apa Ren?" "Kata dokter aku terserang kanker otak, dokter juga bilang bahwa umur gue udah gak lama lagi” Terang Rendi tanpa ekspresi Bumi yang aku pijak seakan berputar, aku benar-benar limbung, aku genggam erat jemari Rendi yang aku dambakan untuk dapat mengisi hari indah ku, tak sadar air mataku menetes membasahi pipi. “Rendi,, semoga apa yang barusan gue dengar hanya guyonan loe" “Gue serius Mikha, sebenarnya gue juga gak mau lihat loe sedih, makanya gue menjauh dari loe supaya loe bisa lupain gue, maafin gue” ujarnya membenamkan kepalaku di dadanya. Mendengar keterangan itu, aku tidak bisa menahan derasnya air mataku yang mengalir deras, menetes dibajunya. “jujur gue tak akan bisa ngelupain loe” ucapku menangis sejadi-jadinya. “gue tau itu, gue juga gak bisa lupain loe semudah itu” ucapnya sambil menyeka air mata yang mengalir di pipiku “Mikha gue punya hadiah permintaan maaf buat loe” katanya sambil memberikan sebuah kotak berukuran sedang yang dihiasi pita “nanti loe bukanya pas dirumah aja ya, dan aku ingin mengucapkan terima kasih atas kebersamaan kita yang menyenangkan selama ini.” ucapnya lagi­, kali ini dia merebahkan kepalanya di pangkuanku dengan manja “he... hei,, ngapain,, loe apa-apaan ini?” Aku kaget dan gugup karena aksinya “Ren, Rendi, hei ini gak lucu tau, Rendi!!!” Teriakku mengoncang-goncangka­n tubuhnya, tapi tubuhnya tetap tak bergeming, air mataku makin deras menitik jatuh dipipinya. Cepat-cepat aku buka kado pemberiannya sambil tak menyeka air mata, ternyata isinya adalah foto-foto kenangan kami, sebuah kalung dengan gambar bintang dan sebuah surat To Mikha Aku bahagia banget saat kamu menyatakan perasaan isi hatimu dalam bait lagu itu. Perasaan hatiku pun sama dengan apa yang kamu rasa bang Mikha. Andaikan aku bisa menyambung hidup ini lebih lama lagi, aku ingin hidup bahagia bersamamu selamanya. Penyakit ini telah merusak semua angan kita bang Mikha, tapi aku tetap bersyukur karena : Tuhan telah memberi aku kesempatan yang sangat indah selama mengenalmu, dan aku tak akan melupakannya. Oh ya,, semoga kamu suka dengan kalung itu. Nanti, walaupun aku sudah tak disisimu. Aku akan tetap selalu menjaga mu dari atas sana sebagai bintang, jika kamu kangen, kamu bisa menatap aku sebagai bintang itu?, Walaupun aku akan merasa cemburu di alam sana, tapi aku akan bahagia disaat kamu dapat mencari penggantiku. Aku selalu mencintaimu abang mikha. Hehehe,,, Rendi “Rendi!! Teriakku sekeras-kerasnya sambil memeluk tubuhnya yang kaku, THE END

Chiesa Aquinita Putri

/ceceputrie

Pekerja, hobi membaca, suka menulis, pecinta keadilan,
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?