HIGHLIGHT

Bagaimana Agar Birokrat Bernilai Plus?

02 April 2012 05:35:32 Dibaca :
Bagaimana Agar Birokrat Bernilai Plus?

Melirik sejarah kepegawaian pemerintahan, PNS dinilai sebagai kaum penghuni zona nyaman. Itu merupakan pengakuan akan manifestasi mental “bukan seorang petarung” yang tidak mustahil dapat mengantarkan pemiliknya ke gerbang kekayaan. Dalam zona itu berarti dia tak miskin, tak juga kaya raya. Hanya berjalan pada jalur hidup linier karena sudah dapat ditebak berapa penghasilannya. Imbasnya berujung pada kinerja yang ala kadarnya. Hingga tak jarang ia divonis bermental penakut dan membosankan ritme hidupnya.

Berangkat jam 7, KERJA 0, pulang jam 2 atau berangkat telat tapi pulang cepat. Senang nge-game, hobi browsing dan baca koran saat bekerja. Sering mbolos atau ngobrol pada jam sibuk kerja. Semua itu adalah deretan stigma negatif pada pelaku birokrasi negeri ini.

Namun siapa bilang semua PNS demikian? Kalaupun mayoritas begitu, sampai kapan hal itu berlaku? Nyatanya, tidak semua pegawai pemerintah berperilaku menyedihkan. Banyak birokrat berjiwa muda yang menorehkan tinta emas dalam sejarah kepegawaian pemerintahan. Apalagi iklim kerja PNS kini kian membawa angin segar bagi tumbuhnya budaya profesionalisme.

Okelah jika antara PNS yang beretos kerja tinggi dengan yang tidak, toh gajinya sama. Tetapi lingkungan tidaklah buta. Mereka para atasan, para rekan sejawat, para bawahan dan para partner kerja memiliki mata, telinga dan hati yang dapat menilai. Maka tak heran jika peran strategis sering diamanahkan kepada pegawai yang dianggap kompeten, siapapun atasannya, siapapun pemimpinnya.

Lebih kreatif dan inovatif dalam bekerja juga memberi nilai plus pada diri seorang pegawai. Sehingga jangan kaget jika tiba-tiba atasan meminta pandangan pegawai yang dinilai cerdas, kreatif dan inovatif.

Beretos kerja tinggi dan kreatif bisa menjadi modal awal kepercayaan atasan pada bawahan. Saat proses regenerasi bergulir, bukan sesuatu yang tak mungkin terjadi jika posisi penting diberikan pada birokrat bernilai plus.

Pilihannya adalah menjadi birokrat bernilai plus karena hebat dalam bekerja atau menjadi birokrat standar bahkan di bawah garis kepatutan karena loyo dalam mengabdi pada negara dan melayani masyarakat. Mari para birokrat, kita jawab dengan pilihan yang terbaik.

Bunda Azza

/bundaindah

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Saya adalah seorang Ibu RT yg "nyambi" jd abdi negara & pelayan masyarakat di sebuah Kota Kecil yang Indah di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Mencoba belajar menjadi manusia seutuhnya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?